Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Hanya Masalah Waktu


__ADS_3

Hai... hai para readerku! Ingat ya jangan pelit - pelit kasih likenya hehehe...


Sajen vote, komentar dan hadiahnya juga jangan lupa ya. Biar author lebih semangat lagi buat nulis.


Makasih...


Happy Reading semuanya....🤗


"Ayo.... ayo masuk ke ruang keluarga, kita bisa langsung mengobrol di sana," ujar Oma sambil mengarahkan Rena menuju ke ruang keluarga.


Ruang keluarga di sana adalah sebuah ruangan yang terlihat sangat nyaman dan hangat, penuh hiasan foto, keluarga dan rak buku, sebuah televisi besar dan soffa letter L yang cukup besar.



"Tas kalian mana? Bukankah kalian berdua akan menginap di sini?" tanya Oma heran melihat David tidak membawa apapun.


"Ada di mobil Oma?" jawab David.


"Biar Bejo yang ambilkan," ujar Opa dan ia memanggil Bejo, asisten rumah tangga di rumah Opa dan Oma.


"Jo, Bejo...."


"Iya Pak. Seorang laki - laki berusia sekitar 25 tahunan datang menghampiri Opa.


"David sudah datang. Kamu masukkan mobilnya ke garasi, sekalian ambilkan tasnya di mobil!" Perintah Opa David.



Rena tersenyum melihat Opa David yang memerintah Bejo. Sekarang ia tahu dari mana David mendapatkan sikap arogan dan suka memerintah.


"Baik Pak." jawab Bejo kemudian mendekati David dan berkata, "Mas David saya bisa pinjam kuncinya,"


Dan David pun memberikan kunci mobilnya kepada Bejo.


"Duduk sini, Yang." ajak David merangkul Rena untuk duduk di sofa bersamanya.


Opa dan Oma tersenyum melihat perlakuan David pada Rena. Karena sudah lama cucu laki - laki satu - satunya itu tidak membawa pulang seorang wanita untuk di perkenalkan padanya. Bahkan Oma sudah mulai khawatir jika David sudah tidak mulai tertarik lagi pada wanita.


Sudah beberapa kali ia mencoba menjodohkan David dan memperkenalkan David pada cucu dan teman - temannya, baik di kota C maupun di kota B. Namun David sama sekali tidak tertarik. Tetapi pada gadis ini? David bukan hanya tertarik, ia bahkan memperlakukannya dengan sangat manis.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Oma begitu mereka duduk dan seorang pelayan wanita telah membawakan David dan Rena teh hangat.


"Belum lama Oma," jawab David sambil melirik ke arah Rena.

__ADS_1


"Belum lama saja David sudah seperti ini," Batin Oma.


Oma memperhatikan wajah Rena. Ia merasa familiar pada wajah gadis yang ada di depannya.


"Rena, siapa nama lengkapmu?" tanya Oma penasaran dengan asal usul Rena.


"Adrena Clarissa Putri, Oma," jawab Rena.


"Adrena Clarissa Putri, Opa. Siapa nama kenalan kita yang bernama belakang Clarissa?" tanya Oma pada Opa, karena ia merasa mengenal seseorang bernama Clarissa, tapi lupa siapa namanya.


Opa berpikir sebentar lalu menggeleng.


Rena menoleh ke arah David, seperti meminta pertimbangannya apakah akan memberitahu siapa dirinya atau tidak.


"Oma, Opa, Rena ini sebenarnya sudah pernah bertemu dengan David saat dia masih kecil," ujar David mengambil inisiatif memberitahukan Opa dan Omanya.


"Oya? Kamu pernah tinggal di kota ini Rena?" tanya Oma masih belum ingat siapa gadis itu.


"Tidak Oma, saya tidak tinggal di kota ini. Tetapi saya pernah berkunjung kesini," jawab Rena.


"Oma dan Opa ingat gadis kecil yang di bawa oleh teman Oma dan Opa waktu David remaja?" tanya David.


"Tunggu.... Clarissa, bukankah anak mantu Burhan bernama Clarissa? Siapa namanya?" tanya Oma pada Opa.


"Maksudmu.... Syahnaz?" tanya Opa balik sambil mengingat - ingat.


"Apa kamu anak Syahnaz dan juga Alfaro?" tanya Oma langsung dengan wajah yang terkejut.


"Ya Oma. Saya anak Alfaro dan Syahnaz," jawab Rena dengan jujur.


"Ya ampun! Dunia memang kecil!" Seru Oma sambil menepuk telapak tangannya. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan pindah duduk di sebelah Rena, kemudian memeluknya.


"Jadi kamu cucunya Burhan dan juga Shella?" tanya Oma sekali lagi dan Rena mengangguk.



"Pantas saja wajahmu seperti Oma kenal," ujar Oma sambil menangkup kedua pipi Rena.


"Tapi, bukankah kamu di kabarkan menghilang?" tanya Oma heran seperti teringat sesuatu.


"Iya, terakhir kali kami mendengar kamu menghilang setelah Syahnaz meninggal," ujar Opa menambahkan.


Rena menunduk mendengar meninggalnya Bunda. David langsung mengenggam tangan Rena dan mengecup kepalanya untuk menenangkan Rena.

__ADS_1


"Maafkan kami, kami mengungkit masa lalumu," ujar Oma menyadari perubahan raut wajah Rena.


"Tidak apa," ujar Rena sambil tersenyum pada Oma.


"Selama ini Rena harus bersembunyi dan mengganti namanya karena keselamatannya terancam, Oma," ujar David menerangkan.



"David pun baru mengetahui identitas Rena yang sesungguhnya belakangan ini," tambahnya lagi.


"David berjanji akan melindungi Rena apa pun yang terjadi," ujar David sambil memandang Rena.


Oma dan Opa David saling pandang dan tersenyum. Mereka tahu seberapa keras cucunya. Dan jika ia sudah mengatakan seperti itu, artinya David sangat mencintai gadis itu.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Oma yang sudah tidak sabar ingin melihat cucu - cucunya menikah. Karena Audrey sendiri pun sebenarnya sudah cukup umur untuk menikah, namun sepertinya ia masih menunggu sang Kakak.


"Kapan Yang?" tanya David sambil memandang Rena penuh arti.


"Itu...mmm..." jawab Rena gugup karena David menanyakannya langsung di depan Oma dan Opanya.


David tersenyum melihat ke gugupan Rena. David yakin Rena akan mengatkan 'Ya' suatu hari nanti. David juga yakin Rena sudah memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Hanya saja Rena masih membutuhkan waktu untuk bergulat dengan ketakutannya sendiri, apapun itu.


"Dalam waktu dekat Oma, nanti David kabari," ujar David menjawab pertanyaannya sendiri dengan penuh percaya diri.


Dalam waktu dekat? Rona merah menghiasi wajah Rena.


Oma menggelengkan kepalanya.


"Kalian ini anak muda! Dalam waktu dekat? Memangnya kalian tidak pakai persiapan?" tanya Oma kembali menggelengkan kepalanya.


"Sekarang pun David dan juga Rena sedang mempersiapkannya Oma, bukankah yang paling penting dalam mempersiapkan pernikahan adalah mempersiapkan mental kami?" ujar David.


Bukan cuma Rena saja yang tertegun mendengar jawaban dari David, tetapi Opa dan Omanya juga ikut tertegun.


Memang benar apa yang di katakan oleh David. Uang tidaklah masalah baginya, tetapi mempersiapkan mental mereka berdua yang akan mengarungi mahligai pernikahan adalah yang paling penting.


"Nanti kalau Rena sudah siap. David bisa saja langsung menikahi Rena hari ini, tidak masalah," ujar David sambil melirik ke arah Rena dan mengedipkan sebelah matanya. David tidak akan memaksa Rena untuk menjawab lamarannya hari ini. Toh, ia akan menanyakannya lagi sampai Rena mengatakan 'Ya' hanya masalah waktu saja.


Bersambung...


Natikan kisah mereka selanjutnya ya...!


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.


...**** Selamat menunaikan Ibadah Puasa ****...


__ADS_2