Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Sebuah Kenangan


__ADS_3

Rena menggeleng ia tidak mau meninggalkan David dan ingin selalu berada di sisinya.


Audreya dan Austin sama - sama menghela nafas karena Rena memang terlalu keras kepala dan mereka mengkhawatirkannya.


David sendiri di tangani oleh seorang dokter bedah yang sangat ahli dan di temani oleh Pak Arya Syahlendra, suami dari Ibu Andini, seorang dokter sekaligus direktur rumah sakit itu.


Setelah menunggu lagi selama sekitar setengah jam, pintu ruang operasi pun di buka dan dua orang dokter keluar dari sana.


Rena langsung berdiri dan menanyakan kedaan David padanya.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Rena pad dokter itu dan yang lainnya pun ikut mendekat untuk mengetahui kondisi David.


"Peluru itu hampir saja mengenai jantung beliau, namun sudah berhasil kami keluarkan. Saat ini Pak David masih belum sadarkan diri dan kami masih menunggu hingga kondisi Pak David bisa stabil," ujar dokter itu menerangkan kondisi David.


"Tapi dia akan baik - baik saja kan?" tanya Rena pada dokter itu lagi.


Dokter itu menoleh pada Pak Arya yang berdiri di sampingnya.


"Untuk saat ini Pak David, masih berada dalam masa kritisnya dan kami telah memindahkan Pak David dalam kamar perawatan intensif. Banyak - banyak berdoa, agar Pak David bisa segera melewati masa kritisnya," ujar Dokter Arya sekaligus memberikan semangat kepada keluarga pasiennya.


Rena menutup matanya. Ia masih belum bisa menarik nafas lega, namun paling tidak peluru itu sudah berhasil di keluarkan dari tubuh David.


"Bisa saya melihatnya?" tanya Rena dengan penuh harap.


"Mbak Rena untuk sementara ini hanya bisa melihat dari ruangan kaca, nanti setelah melewati masa kritis dan kondisinya sudah lebih stabil, baru boleh mengunjunginya satu - persatu," ujar Pak Arya Syahlendra.


Dokter bedah itu pun undur diri dan mereka semua berjalan menuju ruangan kaca untuk melihat kondisi David.


Tirai kaca ruang perawatan intensif di buka dan mereka melihat David yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit memejamkan matanya. Dengan bantuan masker oksigen, David bernafas dengan tenang.


"Yang, bertahanlah kamu pasti bisa," ucap Rena dalam batin.


Tak terasa air mata menetes di pipinya dan Austin pun memeluknya.


"Sabar Dek, David adalah seseorang yang kuat. Ia pasti bisa melewati ini." ujar Austin menguatkannya. " Dan kamu pun harus kuat untuknya,"


...**********...


Rena sudah menunggu selama 4 jam di ruang tunggu VIP rumah sakit itu bersama Austin dan Audrey. Ibu Andini dan Abian sudah pulang terlebih dahulu dan menunggu di rumah.

__ADS_1


Rena sempat tertidur di ruang tunggu VIP itu setelah Austin memaksanya untuk beristirahat, dengan mengancam akan membawa Rena pulang jika ia tidak mau makan dan beristirahat. Tentu saja Rena akhirnya memilih untuk beristirahat di rumah sakit sambil menunggu David daripada harus beristirahat di rumah.


Pak Arya Sayhlendra mengetuk ruang tunggu VIP tempat mereka menunggu.


"Bagaimana kabarmu, Rena? Apa kamu sudah beristirahat?" tanya Pak Arya padanya.


"Saya baik - baik saja, Pak." jawab Rena pelan.


"Ada kabar apa Pak, mengenai David?" tanya Rena dengan penuh harap sambil memandang Pak Arya.


"Saat ini, kondisi David sudah jauh lebih stabil. Tetapi ia masih harus tetap di rawat di ruang perawatan intensif. Namun, jika Rena ingin menjenguknya sudah di perbolehkan," ujar Pak Arya sambil tersenyum.


"Benarkah Pak? Bolehkah saya menemuinya sekarang?" tanya Rena dengan penuh antusias.Ia sangat senang mendengar kabar itu, dan berharap bisa berada di samping David.


"Ya, tapi tidak boleh terlalu lama karena David harus beristirahat dan begitu pula kamu Rena, kamu juga membutuhkan istirahat yang cukup," ujar Pak Arya padanya.


Rena mengangguk dan tersenyum sambil mengenggam tangan Austin yang sedari tadi sudah mengenggamnya.


"Ingat! David membutuhkan kamu untuk menyemangatinya, dan kamu harus kuat untuk melakukan itu dan jangan lupa untuk beristirahat dan makan yang cukup," ujar Pak Arya mengingatkan kembali.


"Baik Pak. Tetapi saya ingin menemuinya sekarang, apa boleh?" ujar Rena sambil beranjak dari duduknya.


Rena pun berjalan dengan di antar oleh Austin menuju ruang perawatan intensif di sana dan ia harus segera di sterilkan terlebih dahulu dan menggunakan pakaian khusus untuk memasuki ruangan itu.


Rena pun berjalan perlahan mengikuti perawat yang masuk, memandunya masuk ruang perawatan David. Sesampainya disana, Rena mendekati tempati David yang sedang terbaring dan memandangi wajah suami yang di cintainya itu.


"Yang...." panggilnya kemudian di kecupnya kening David perlahan agar tidak menganggu alat - alat medis yang ada di sekitarnya.


Perawat yang mengantarnya tersenyum melihat hal itu dan memberinya kursi untuk duduk di sebelah David.


Rena meraih tangan David dan menggenggamnya.


"Yang, aku tahu kamu pasti bisa mendengar aku. Kamu harus bertahan, Yang.Aku tahu kamu bisa, kamu kuat," ujar Rena menguatkan David seakan - akan ia bisa mendengarnya, sambil menggenggam tangan David, mengecupnya dan menempelkannya di pipinya.


"Kamu berjanji akan selalu bersama dengan ku, Yang. Aku sangat membutuhkanmu, Yang... jangan tinggalkan aku...." ujar Rena lagi sambil mengecup tangan David hingga air mata Rena yang menetes membasahi punggung tangan David.


"Bertahanlah Yang. Aku akan menunggumu selalu di sini, hingga kamu pulih dan kita bisa bersama lagi." ucap Rena di iringi dengan isak tangisnya.


"Aku sangat merindukanmu... segeralah pulih," ucap Rena perlahan.

__ADS_1


Rena sangat merindukan David dan ia tidak ingin kehilangan David. Ia baru saja memeluk David sesaat dan ia masih merindukannya.


...********...


David tersadar dan berjalan di taman yang berumput dan melihat bayangan gadis kecil yang sedang menangis di bawah pohon angsana di pekarangan di sebuah rumah yang sangat ia kenal dengan baik .


"Kenapa menangis?" tanya David pada gadis itu.


"Sakit," gadis kecil itu menjawab dengan wajah sendunya. Matanya menatap luka di lututnya yang mengeluarkan darah. Mata sendu itu kembali menatap David dan suasana berubah menjadi hingar bingar.


"Pak, anda mau pesan apa?" tanya pemilik mata sendu itu padanya. Kali ini sosoknya berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dengan di kuncir pony tail.


Pemilik mata sendu menunggu jawabannya, dan hanya berkata - kata, " Saya minta menunya," yang keluar dari mulut David.


Dan sebuah kenangan itu berputar kembali, kini penglihatannya berganti lagi kali ini ia melihat gadis yang sama sedang bermandikan hujan malam itu.


"David, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya gadis itu sambil memeluknya.


"Aku menunggumu sayang," David pun menjawab dan memeluk gadis itu dengan erat, sangat merindukannya.


Kabut pun datang dan ia pun terbawa ke tempat lain, di sebuah kantor yang sangat familiar baginya. Di kolong meja besar itu, dua insan, dirinya dan gadis itu sedang berbaring berhadapan dan saling menatap satu sama lain.


"Yang, apa kamu baru saja mengatakan 'Ya'?" tanya David pada gadis itu. Dan gadis itu menjawab " Ya, aku ingin menjadi Istrimu, Alexander David Mahendra"


"Adrena Clarissa Putri, kau membuatku menjadi pria yang paling berbahagia di muka bumi ini!"


Kemudian ia dan gadis itu, saling berciuman menyalurkan rasa cinta mereka satu sama lain.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2