Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Sangat Frustasi


__ADS_3

Di depan kantor Malvin, Darwin berusaha menerangkan kepada Mira bahwa Malvin sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa di ganggu.


"Maaf Ibu Mira, Bapak sedang tidak bisa untuk menemui Ibu, mungkin nanti sore atau besok pagi saja saat tidak terlalu sibuk," ujar Darwin berusaha sopan pada Mira.


"Tidak bisa Darwin, aku harus berbicara padanya sekarang!" Seru Mira. Ia pun sangat frustasi, karena Darwin sama sekali tidak mengijinkannya masuk untuk menemui Malvin.


"Maaf Bu, tidak bisa." ujar Darwin. Darwin merasa tak tega melarang Mira yang tampak frustasi, namun apa daya, Malvin Dirgantara sudah mengatakan tidak.


"Baiklah aku akan ke toilet dulu," ujar Mira kemudian melangkah ke arah toilet beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Darwin pun segera kembali ke ruangannya dan sibuk dengan berkas - berkas kerjanya. Tidak ada hari yang menyibukkannya dari pada saat Bossnya sedang bad mood.


Mira yang hanya mengakali Darwin, mengintip dari depan pintu toilet. Saat melihat Darwin sudah tidak ada lagi di depan pintu ruang kantor Malvin, ia pun keluar dan bergegas masuk ke dalam ruang kerja Malvin.


Malvin sedang melihat - lihat berkas - berkas aset Austin Leonard Alfaro saat Mira masuk ke dalam ruangan kantornya.


"Mau apa kesini? Sudah aku bilang, aku sibuk!" Tandas Malvin dengan kesal. Kemudian berteriak memanggil Darwin " Darwin!!"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" Ujar Mira sambil berjalan mendekati Malvin.


Darwin yang mendengarkan panggilan dari Malvin pun langsung bergegas untuk segera masuk ke dalam ruang kantor Malvin. Dan ia sangat terkejut melihat Mira yang sudah ada di dalam ruang kantor Malvin.


"Sial! Bagaiamana Mira bisa masuk kesini?" ucap Darwin dalam batin.


"Kau tidak lihat, aku sedang sibuk? Nanti saja kau datang lagi!" Bentak Malvin pada Mira.


"Bu Mira, maaf Bu, Ibu tidak bisa ada di sini," pinta Darwin pada Mira sambil menarik lengan Mira menuju pintu keluar.


Mira menepis tangan Darwin dan membelalakkan matanya.


"Jangan sentuh aku!" Bentak Mira pada Darwin, kemudian ia mendekati Malvin dan memberikan Malvin strip test pack yang di bungkusnya dengan plastik bening.


Malvin melihat apa yang di berikan oleh Mira pun terkejut. Ia terkejut melihat dua strip merah di test pack itu.


"Apa? Mira hamil? Sial!" Ucap Malvin dalam batin, yang tidak menginginkan kehamilan Mira.


"Pulanglah, aku akan bicara denganmu nanti," ujar Malvin datar.


"Malvin? Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Mira pada Malvin sambil memandang Malvin dengan tidak percaya.


"Aku bilang pulang!" Bentak Malvin pada Mira.


Darwin pun menarik Mira keluar dari ruang kantor Malvin. Sebenarnya, ia iba pada Mira, namun sebaiknya Mira harus segera keluar dari kantor Malvin dari pada nanti Malvin akan bertambah murka lagi.


"Lepaskan Darwin! Biarkan aku berbicara dengan Malvin!" Tukas Mira sambil menepis tangan Darwin.

__ADS_1


Mira kemudian mendatangi Malvin dengan marah. Ia sangat kesal dengan perlakuan Malvin.


"Malvin, kenapa kamu seperti ini? Apa semua ini karena Renatta?" tanya Mira dengan mata yang berkaca - kaca.


"Itu bukan urusanmu Mira!" Bentak Malvin.


"Apa kamu lupa? Kita akan menikah minggu depan, dan sekarang aku sedang hamil anakmu , Malvin!" Seru Mira sambil menatap mata Malvin.


"Lalu? Bukankah dulu aku sudah pernah bilang, bahwa aku akan menikahimu, tapi tidak akan pernah mencintaimu?" ujar Malvin sambil tersenyum sinis.


"Aku sangat mencintai Renatta dan sekarang dia ada di depan mataku. Apa kau berharap aku akan melupakan dia?" tanya Malvin tanpa memperdulikan perasaan Mira.


"Tapi dia sudah milik orang lain, Malvin! Sadarlah!" Teriak Mira.


"Kurang ajar! Jaga mulutmu!" Seru Malvin dengan sangat marah sambil menunjuk wajah Mira.


Malvin tidak bisa menerima perkataan Mira, karena ia tidak akan pernah rela jika Renatta akan di miliki oleh orang lain.


Darwin yang sudah melihat kemurkaan Malvin pun segera menarik Mira keluar dari ruangan itu. Ia benar - benar tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi, apalagi sekarang Mira sedang mengandung


Darwin segera menutup pintu dan menahan Mira di luar ruangan kantor Malvin.


"Bu Mira, Bapak sedang banyak pekerjaan saat ini, mungkin bukan waktu yang tepat untuk berbicara hal yang pribadi. Ibu pulang saja dulu, nanti kalau pekerjaan Bapak sudah selesai, pasti Bapak akan langsung menemui Ibu," bujuk Darwin agar Mira mau pulang.


Mira pun meneteskan air mata. Ia tahu, bukan itu yang Malvin akan lakukan padanya.


"Kemana Mbak?" tanya Trismo, supirnya.


"Jalan saja Pak," jawab Mira pelan. Air mata menetes di pipinya.


Trismo yang mulai kebingungan melajukkan mobilnya keluar dari area gedung itu, tidak yakin mau ke arah yang mana.


Mira pun tidak tahu harus kemana lagi. Melihat sikap Malvin ia tidak yakin lagi dengan pernikahannya.


"Ini semua gara - gara Renatta Azaria! Seandainya dia tidak muncul, semua ini pasti tidak akan terjadi!" Geram Mira sambil mengepalkan tangannya.


Seandainya ada yang bisa membantunya untuk bicara pada Mavin, pikir Mira.


Tapi siapa?


Tiba - tiba Mira teringat Alexa, calon Ibu Mertuanya.


Ya, Alexa! Pikirnya.


Alexa adalah seseorang yang lemah lembut, dan ia selalu berlaku baik pada Mira.

__ADS_1


Aku akan menemuinya, siapa tahu dia bisa membantuku bicara baik - baik pada Malvin, batin Mira.


"Ke rumah Ibu Alexa, Trismo," titah Mira dan Trismo pun mengangguk, mengikuti perintah anak Bosnya itu.


Akhirnya Mira pun sampai di kediaman keluarga Dirgantara dan seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


"Bisa saya bicara dengan Ibu Alexa?" tanya Mira pada Ani, pelayan yang telah di kenalnya karena ia sering bertandang ke rumah itu untuk bermain bersama dengan Vanila.


"Tunggu di sini sebentar, Mbak." ujar Ani kemudian masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian, Alexa pun keluar. Ia tersenyum menyapa Mira.


"Mira ada apa? Kok tumben datang ingin menemui, Tante? Biasanya cari Vanila," ujar Alexa sambil menyalami Mira. Mira pun mencium tangan Alexa sebagai penghormatannya kepada yang lebih tua.


"Iya Tante, ada yang ingin saya bicarakan dengan Tante. Tante ada waktu?" tanya Mira dengan penuh harap.


"Ada, ayo kita bicara di taman saja." ujar Alexa sambil menggiring Mira berjalan ke arah taman


yang ada di belakang rumahnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Mira? Apa ada masalah?" tanya Alexa.


Mira pu mulai menceritakan apa yang telah terjadi dan Alexa pun sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi.


"Apa kamu yakin itu Renatta?" tanya Alexa ingin memastikan.


"Iya Tante, itu memang Renatta Azaria dan sekarang Renatta adalah kekasih dari Alexander David Mahendra."


Alexa tentu saja sangat senang mendengar kabar bahwa Renatta telah kembali dan dalam kedaan yang baik - baik saja, dan bahwa sekarang ia telah berhubungan dengan seorang Alexander David Mahendra.


Akan tetapi ia pun memiliki kekhawatiran akan apa yang telah terjadi. Akankah kejadian yang terjadi 7 tahun yang lalu akan kembali terulang?


jika itu terjadi lawan Malvin bukanlah Alfaro yang terkenal lembut dan ramah pada semua orang. Alexa pun yakin jika Alexander David Mahendra tidak akan tinggal diam jika Malvin mengusik kekasihnya.


"Apa Malvin mengatakan sesuatu tentang Renatta padamu?" tanya Alexa.


Mira menghela nafas.


"Malvin mengatakan bahwa ia sangat mencintai Renatta....." ujar Mira sambil menangis.


Alexa pun memeluk Mira.


Alexa pun sebenarnya sudah mengetahui bahwa Malvin, anak tirinya itu tidak benar - benar mencintai Mira dan sering tidak memperdulikkan Mira. Namun ia melihat bahwa Mira sangat mencintai Malvin dan merupakan calon istri yang terbaik bagi Malvin, agar bisa melupakan Renatta Azaria Putri Alfaro.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2