
POV Azril Musyary
"Azril, kamu kapan nikahnya, Nak?" tanya Ibu saat perayaan ulang tahunku yang ke-tiga puluh.
"Entarlah, Bu," jawabku malas.
Karena bagiku semua wanita itu sama. Luarnya saja yang mencintai kita, padahal hatinya hanya mencintai uang saja. Aku bukan soal cantik jeleknya, miskin kayanya. Namun, kesetiaannya yang lebih penting. Roda kehidupan tidak ada yang tahu, oke aku sekarang orang yang sukses uang banyak. Namun, apakah aku bisa menjamin kekayaan itu akan setia bersamaku hingga anak cucuku besar? Hanya Tuhan yang tahu.
Aku tidak mau jikalau aku suatu saat, Tuhan takdirkan untuk berada di titik susah, pasanganku juga akan berpaling meninggalkanku yang dalam keadaan miskin. Apalagi umurku sekarang sudah tiga puluh tahun, sudah tidak muda lagi.
"Azril Musyary! Kamu itu anak tunggal di keluarga ini. Ibu sudah tua, ibu pengen cucu. Apalagi yang kamu cari? Rumah, ada. Uang, ada. Mobil, ada. Semuanya sudah ada."
"Pokoknya ibu nggak mau tahu, ibu sudah siapkan calon untukmu. Anak dari sahabat ibu, anaknya baik sopan. Besok dia akan datang dalam pesta ulang tahun perusahaan ki--"
"Nggak! Aku sudah punya calon sendiri. Aku akan membawanya besok dalam pesta ulang tahun perusahaan kita," selaku.
Aku tidak akan lagi kenalan dengan wanita pilihan Ibu. Semua wanita yang Ibu kenalkan padaku matre! Hanya mau uang saja. Seperti salah satu dari wanita pilihan ibu, saat dia menelpon tidak sengaja aku mendengarkan percakapan mereka, yang intinya. Saat dia berhasil menikah denganku, dia akan diam-diam memasuki obat yang bisa membuat orang lumpuh. Kalau lumpuh ada yang rawat ya, tidak apa-apa. Ini mau kuasai hartaku saja.
"Ha! Awas saja kamu, kalau kamu sampai bawa wanita murahan yang tidak berkelas! Yang tidak sepadan dengan ekonomi kita!" ucapnya dengan penuh penekanan lalu pergi begitu saja.
Wanita? Wanita yang mana harus aku bawa?
__ADS_1
***
Setelah meeting aku segera ke mobil, seperti biasa pergi makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan danau. Udara di sana sejuk lumayanlah untuk menghirup udara segar.
Namun, saat aku ingin membuka pintu mobil. Aku tak sengaja melihat ke arah stasiun bis anak sekolah. Kulihat ada seorang wanita yang duduk dan melihat ke arahku, sepertinya aku pernah melihatnya.
"Pak Slamet!" panggilku kepada sopirku setelah masuk ke dalam mobil.
"Ya, Tuan!"
"Bapak lihat nggak, wanita yang duduk di stasiun bis itu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah wanita tersebut.
"Lupa? Memangnya saya pernah ketemu?" jawabku sambil mengingat-ngingat.
"Iya dia itu, wanita yang Tuan tolong yang hampir diperk**a. Dan yang datang menghampiri Tuan, pas mau pergi makan siang. Yang berterima kasih itu tapi, Tuan tidak menghiraukannya. Setelah itu, saya perhatikan sudah satu mingguan dia duduk di stasiun dan melihat ke arah sini," jelas Pak Slamet.
" Ya ya, saya ingat."
Ternyata dia, ya. Gadis polos dan bodoh itu. Tapi matanya memang polos kayaknya dia cocok. Aku harus telfon Ezar untuk menyelidiki statusnya.
***
__ADS_1
"Dia betul wanita berapa minggu lalu yang kamu tolong dan ... yang berani datang berterima kasih langsung kepadamu. Sudah satu mingguan ini dia melihatmu dari stasiun bis itu, sampai-sampai dia ketinggalan bis. Dan setelah dia sudah melihatmu dia pulang dengan berjalan kaki. Sekitar jarak lima ratus meter dari rumahnya, dia baru naik ojek karena uang yang dia punya hanya bisa membayar untuk jarak lima ratus meter saja. Sedangkan jarak sekolah ke rumahnya itu sekitar satu setengah kilo meter," jelas Ezar saksama.
"Sepertinya dia menyukaimu, Azril Musyary. Lelaki kaya raya dan gagah yang sangat terkenal kedinginannya terhadap wanita," ejek Ezar. Sialan!
"Sialan, Lu! Kayak nggak jomblo saja!" cercaku sambil melemparinya sendok.
Setelah mendengar laporan Ezar, aku sangat yakin dialah wanita yang kupilih. Namun, menikah tanpa cinta apakah bisa bertahan? Ah, sudahlah yang terpenting pernikahan itu dulu, dari pada aku harus menikah dengan wanita pilihan Ibu yang mata duitan.
"Aku belum selesai ngomong, Zril!"
"Wanita ini sangat bertentangan dengan keluargamu," ucap Ezar lagi.
"Kenapa?" tanyaku.
"Dia wanita miskin. Kedua orang tuanya hanya petani, itu pun bukan tanah mereka. Mereka hanya kerja untuk orang saja. Pasti ibumu ngamuk deh."
Pasti ... pasti Ibu membuat kehebohan lagi kalau dia tahu, tidak akan menerima kehadiran wanita itu.
"Biarin aja, aku bukan anak kecil lagi yang kehidupannya diatur-atur terus," jawabku santai lalu melenggang pergi.
bersambung.
__ADS_1