
"Abang makasih ya," ujar Rena pada Austin, saat mereka telah sampai kembali di apartemen Rena.
Seharian ini Austin telah mengajak Rena untuk mengunjungi makam kedua orang tua mereka, kemudian makan siang bersama dan nonton bioskop berdua.
"Ren, tolong kamu pertimbangkan lagi apa yang Abang bicarakan tadi. Abang akan senang kalau kamu mau tinggal bersama dengan Abang lagi. Rumah itu terlalu besar untuk Abang tinggali sendiri," ujar Rena.
Austin memang meminta Rena untuk tinggal kembali di rumah orang tua mereka, yang sampai saat ini masih di tinggali oleh oleh Austin.
"Makanya Abang cari Istri dong jadi ada yang menemani," gurau Rena.
"Rena, Abang serius!" Ujar Austin dengan wajah yang serius.
"Kamu akan lebih aman dan nyaman jika tinggal di sana bersama Abang. Setelah Om Jason pergi, Abang tidak ada yang menemani lagi!" Ujar Austin.
Om Jason, adalah adik dari pihak Ibunya Rena dan Austin, yang menjadi wali Austin setelah kedua orang tua mereka meninggal. Namun Jason Iskandar sudah meninggal setahun yang lalu dan sejak saat itu, Austin tinggal sendiri di sana dengan beberapa orang pelayan dan petugas keamanan rumahnya.
"Abang, Rena belum bisa kembali ke sana. Rena belum siap!" Jawab Rena jujur.
"Kalau Rena kembali ke sana orang - orang akan tahu siapa Rena yang sebenarnya," tambah Rena.
"Kapan kamu siap, Ren? Kamu nggak usah khawatir, Abang akan berusaha melindungi kamu. Malvin pun akan segera menikah bulan depan, jadi kamu tidak usah khawatir mengenai dia!" Ujar Austin lagi.
"Kalau sudah waktunya Bang," jawab Rena diplomatis.
"Rena masuk dulu ya. Abang mau mampir?" tanya Rena, menawarkan Kakaknya untuk ikut ke apartemennya.
"Lain kali ya, Na. Abang harus pergi. Ada yang harus Abang kerjakan sore hari ini," ujar Austin.
Rena mengangguk dan Austin mengecup kening adik kesayangannya itu.
Setelah kepergian Austin, Rena segera masuk ke dalam Apartemennya. Ia membersihkan dulu ruangan Apartemennya yang berantakan karena tidak sempat ia bersihkan selama tiga hari.
Setelah membersihkan Apartemennya, ia pun tertidur karena lelah.
Rena pun kemudian terbangun setelah beberapa jam ia tertidur.
__ADS_1
"Aohaeemmm..." Rena menguap saat terbangun.
Ia melihat jam dindingnya dan tertegun, berpikir sesaat, seperti ada yang harus ia lakukan. Tapi apa?
Rena seperti tidak ingat janjinya kepada David untuk datang ke rumahnya sore tadi untuk membicarakan masalah ganti rugi mobil David. Ia pun dengan santainya bangun dan berjalan ke arah dapur. Perut keroncongan memanggilnya untuk memulai bertempur di meja dapur dan membuat makan malam.
Setelah melihat keadaan stok bahan makanan yang ada di kulkas. Rena pun mulai membuat mie goreng, mengulek bumbunya, menyiangi sayuran, dan memotong - motong bahan pelengkap lainnya. Rena hampir selesai memasak saat terdengar suara dari bel pintu Apartemennya itu berbunyi. Rena pun mengerutkan keningnya menerka siapa yang datang.
Setelah mematikan kompornya, ia berjalan keluar pintu apartemennya dan membuka pintu.
"Pak David?!" Seru Rena dengan heran, melihat David sudah berdiri di depan pintu apartemennya itu dengan wajah yang kesal.
"Adrena Clarissa Putri! Aku sudah menunggu lama! Dari mana saja kamu? Dan kenapa telepon dari ku tidak kau angkat?" ujar David dengan kesal dan langsung masuk ke dalam apartemen Rena tanpa di suruh. David pun menatap tajam Rena meminta penjelasan.
Menunggu? Memangnya ada apa? Pikir Rena. ia mencoba mengingat - ngingat apa yang terjadi dan ia pun langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat teringat tabrakan mobil dan janjinya untuk menemui David!
"Maaf Pak, saya... saya.... tertidur," ujar Rena berusaha untuk menjelaskan.
"Dan saya benar - benar lupa!" Tambahnya lagi.
"Rena, kamu tahu kan! Kamu sudah membuat kesalahan yang fatal?" ujar David sengaja menyudutkan Rena.
Rena pun langsung memutar otak memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan hati David, dan ia teringat masakannya.
"Pak, bagaimana kalau Bapak makan dulu?" ujar Rena sambil menarik tubuh David menuju meja makan dan mendudukkannya di kursi.
"Rena, kamu jangan coba merayu saya, ya?" ujar David berpura - pura marah. Padahal ia atusias sekali dengan sikap Rena yang mencoba membuatnya senang.
"Tidak Pak. Saya sedang tidak merayu Bapak! Kebetulan saja saya baru selesai memasak! Bapak pasti lapar!" Jawab Rena sambil tersenyum kikuk.
"Bapak tunggu di sini ya?" ujar Rena lalu berjalan cepat menuju ke arah dapur mengambil, gelas, saus, dan kecap kemudian meletakkannya di atas meja makan. Setelah itu ia balik kembali ke dapur mengambil mie goreng yang tadi di masakknya dan meletakkannya di dua bua piring yang ia siapkan, menaburkan bawang goreng dan menggoreng dua buah telor mata sapi. Setelah itu menghindangkan dua buah piring mie goreng itu ke atas meja makan dan menaruh piring satunya di depan David.
"Pak, saya memasak ini khusus untuk Bapak," ujar Rena dengan tersenyum sambil mengisi gelas David dengan air putih dingin yang ia ambil dari kulkas. Ia berharap David tidak memarahinya karena lupa datang ke rumahnya tadi sore.
__ADS_1
David yang sejak tadi memperhatikan Rena yang sudah bersusah payah menyiapkan makanan itu pun menahan senyumnya.
Sepiring mie goreng yang terlihat indah ada di matanya. Makanan terindah yang pernah ia lihat karena Rena yang telah memasaknya dan telah menyajikan untukknya.
"Ayo Pak di makan," ujar Rena sambil memandang David yang sedang meminum air putih yang tadi di tuangnya.
David mengambil sejumput mie dengan garpunya dan memutarnya di piring sebelum akhirnya ia menikmati mie buatan Rena di mulutnya.
Rena memanglah bukanlah seorang koki yamg terkenal atau pun chef yang ia bayar untuk menghidangkan makanan enak di dapurnya, tetapi masakan Rena pun tidak kalah enaknya bagi David. David sangat menikmati mie goreng buatan Rena.
Rena melihat David memakan masakannya dengan lahap dan Ia pun tersenyum. Padahal ia sendiri belum mencicipi masakannya itu.
"Masakanmu enak, Na." Ujar David saat tengah menyantap makanannya.
"Makasih Pak. Bapak mau lagi?" tanya Rena yang melihat mie goreng di piring David yang hampir habis.
Rena sebenarnya tidak membuat banyak, tapi kalau David mau meminta tambah, ya apa boleh buat, ia akan memasaknya lagi.
"Sudah Na, sudah cukup," ujar David.
"Pak David kelihatannya sudah tidak sekesal tadi," batin Rena merasa lega sambil memakan mie di piringnya sendiri.
"Bapak santai saja dulu, biar saya bereskan sebentar," ujar Rena sambil mengambil piring makan David dan membawanya ke dapur, ia mencuci piring itu sebentar, kemudian mengambil dua buah skup es krim dari dalam kulkas.
"Biar dingin hatinya! Mudah - mudahan nggak di suruh ganti rugi!" Harapannya dalam hati sambil terkekikik.
"Es krim Pak?" ujar Rena sambil menyodorkan semangkok kecil es krim pada David yang sedang duduk di sofa.
"Kamu tidak sedang menyogok saya, kan?" tanya David dengan pandangan yang menyelidik.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.