Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Taman Bermain


__ADS_3

Suasana ruang keluarga itu tampak ramai dan hangat oleh celotehan dan tawa dari Audrey, David, Rena, Rico, Oma dan Opa. David sedang duduk di sofa merangkul Rena. Sementara Oma dan Opanya berada di sofa tak jauh dari mereka. Mereka berenam sedang berbincang santai setelah makan malam bersama.


"Audrey, kapan kamu balik lagi ke Korea?" tanya Rena yang menganggap ucapan Audrey yang mengatakan bahwa ia akan pergi ke Korea besok pagi.


"Tergantung, kalau tidak ada hal yang mendadak. Sepertinya dua minggu lagi. Kuliahku sudah hampir selesai, hanya menunggu hasil tesis saja," ujar Audrey.


"Apa kamu mau ikut? Kamu bisa tinggal di Apartemenku dan kita bisa jalan - jalan di sana," ajak Audrey.


"Pasti menyenangkan. Tapi mungkin lain waktu, besok aku harus menemani Abangku menghadiri acara amal," ujar Rena.


"Kamu besok datang juga? Apa besok mau datang bareng sama aku?" tanya David.


"Aku sudah berjanji pada Abang untuk menemaninya. Kita ketemu di sana saja ya, Yang," ujar Rena yang sedikit merasa menyesal. Akan tetapi ia sudah berjanji pada Kakaknya.


"Besok David bareng saja bersama Oma dan Opa. Opa dan Oma juga di undang untuk acara amal besok," ujar Oma.


"Oke, Oma." jawab David.


"Ya sudah, Oma sudah mengantuk. Opa dan Oma tidur dulu ya," ujar Oma sambil beranjak bersama Opa.


"Kita keluar yuk, Yang" ajak David saat Opa dan Oma masuk ke dalam kamar.


"Keluar kemana?" tanya balik Rena.


"Kemana aja yang kamu suka. Kamu ada ide?"


"Sepertinya... tapi, aku nggak tau kamu akan suka atau tidak," ujar Rena kemudian menggigit bibir bawahnya.


"Kita lihat saja nanti, Ayo!" Ajak David sambil menarik tangan Rena dan berjalan ke arah garasi rumah.


"Dek, Kakak pergi dulu ya!" Seru David setengah berteriak.


"Iya Kak, have fun yah!" Jawab Audrey.


David langsung mengambil salah satu kunci mobil mewahnya, namun Rena menghentikannya dan menggelengkan kepalanya.


"Kita naik mobilku malam ini," ujar Rena sambil tersenyum


"Oke, ucap David sambil mengernyitkan matanya seperti menduga sesuatu. Ia pun mengambil kunci BMW 3 series Rena. Namun lagi - lagi Rena menggeleng.


"Kita naik ini malam ini," ujar Rena, sambil mengambil kunci mobil hatchback silvernya dan memberikannya pada David.


"Tadi kamu bilang mau kemana kita malam inii?" tanya David sambil mengerlingkan matanya.


"Aku belum bilang." ujar Rena sambil tersenyum dan melangkah menuju ke mobil hatchback miliknya dan menunggu David membukakan pintu kunci mobil untuknya.

__ADS_1


"Baiklah, malam ini milik kamu sayang," ujar David lalu membukakan pintu mobil untuk Rena.


"Jadi, kemana kita akan pergi malam ini?" tanya David saat mengendari mobil melewati pos penjaga rumahnya.


"Aku tunjukkan jalannya," ujar Rena sengaja tidak memberitahu tujuan mereka.


Rena pun menunjukkan arah jalan yang mereka tuju. Setelah 15 menit berkendara, sampailah mereka di depan sebuah taman bermain.


David tertawa menyadari tempat tujuan mereka.


"Jadi, kamu mau kita berkencan di taman bermain?" tanya David dan Rena pun mengangguk dengan penuh semangat dan mata yang berbinar - binar.


"Ayolah, kamu pasti belum pernah kesini seumur hidupmu!" Ujar Rena menebak.


"Siapa bilang? Aku pernah... ke Jepang dan LA!" Ujar David.


Rena tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Dasar orang kaya!" Batin Rena.


"Kamu harus coba yang ini. Walaupun bukan di Jepang dan LA, tapi permainan di sini juga cukup seru," ujar Rena.


"Oke, tapi ada dua syaratnya," ujar David.


Syarat? Rena memutar kedua bola matanya malas.


"Katamu malam ini milikku. Kenapa tiba - tiba kamu meminta syarat?" tanya Rena tidak rela harus menjalankan syarat dari David.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Rena.


"Ya, kita tetap di mobil ini saja atau kita cari tempat lain," ujar David tidak mau mengalah.


"Aku tidak mau tempat lain. Aku mau di sini," ujar Rena.


"Ya penuhi dulu syarat dariku," ujar David sambil mengerling.


"Ya sudah, apa syaratmu?" tanya Rena pada akhirnya.


"Yang pertama kamu harus mau naik semua permainan yang aku tunjuk," ujar David.


"Cuma itu?" batin Rena. Rena termasuk berani menaiki semua wahana permainan itu, kecuali satu wahana yang belum pernah ia naiki.


"Oke, tidak masalah," jawab Rena.


Semudah itu? Pikir David heran.


"Lalu apa syarat yang kedua?" tanya Rena.

__ADS_1


"Yang kedua, karena aku akan menaiki semua wahana itu...," ujar David sambil menunjuk wahana - wahana yang nampak di depan mereka. "Aku juga mau di naiki," ujar David sambil tersenyum penuh arti.


Rena mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?" tanya Rena.


David menepuk kedua pahanya dan mengerling nakal.


"Ya ampun Alexander David Mahendra!" Pekik Rena dengan wajah yang memerah. "Dasar mesum!"


"Apa yang kamu pikirkan Sayang? Aku hanya minta kamu duduk di pangkuanku dan memelukku, kamu jangan berpikiran macam - macam!" Ujar David sambil tertawa melihat ekspresi Rena.


"Ayo cepat, mau atau tidak? Waktuku sudah semakin malam, Sayang?" tanya David dengan senyum penuh kemenangan.


"Ta..tapi, be..benar yah, hanya duduk saja?" tanya Rena dengan gugup dan memastikan.


"Iya sayangku. Cepatlah, aku sudah tidak sabar ingin naik wahana," ujar David meledek Rena. Ia pun memundurkan kursinya untuk memberi ruangan lebih.


Perlahan Rena beranjak dari duduknya dan menyamping di paha David, akan tetapi langsung di protes oleh David.


"Bagaimana kamu akan memelukku? Sekarang putar, menghadapku!" Ujar David. Rena memutar bola matanya kemudian menrubah posisi tubuhnya menghadap David dengan kedua kaki di sisi samping kaki David.


"Sudah, kan? Jadi ayo sekarang kita keluar!" Ajak Rena hendak beranjak.


"Eit tunggu dulu! Kamu belum peluk aku, Sayang," ujar David.


Rena pun akhirnya memeluk David. David membalas memeluk Rena dan meletakan kepalanya di ceruk leher Rena, mencium aroma vanila stroberi di tubuh Rena.


David menghisap lembut kulit leher jenjang Rena, hingga tadinya Rena yang hendak beranjak pun menjadi mendesah, membuat David semakin erat memeluk Rena dan membiarkan tangannya mengembara di tubuh sintal Rena yang terbalut baju terusan yang pas melekat di tubuhnya. Ia pun tidak ragu untuk mendaratkan ciuman di sekitar leher dan telinga Rena.


"Yang...." desah Rena tanpa di sadari olehnya sambil memejamkan mata menikmati apa yang David lakukan pada tubuhnya.


"Sayang..." panggil David dengan suara beratnya, seraya mendongak ke arah wajah Rena yang berada di atasnya.


Rena membuka matanya mendengar panggilan dari David dan melihat bola mata David yang menggelap seraya menaik turunkan jankunnya. Entah mengapa, bukan beranjak dari tubuh David, Rena malah menunduk dan Rena meraih bibir David, hingga mereka terlibat dalam sesi ciuman yang sangat panas, membuat David melenguh nikmat.


"Aku sungguh sangat tidak sabar menanti malam pertama kita," desah David saat mereka telah berhenti memagut satu sama lain, dan berusaha untuk bernafas dengan wajar.


Rena tersenyum malu dan memalingkan wajahnya. Ia segera beranjak dari pangkuan David saat pikiran liarnya kembali datang.


"Ya ampun, apa yang terjadi padaku?" batin Rena heran. Ia merasa sangat malu, merasa tidak bisa mengendalikan dirinya terhadap David.


"Tidak apa Ren. Aku sangat senang sekali, ternyata kamu menginginkan aku juga," ujar David sambil mengerling nakal, kemudian membuka pintu mobil dan keluar.Ia membukakan pintu mobil Rena dan mengajak Rena keluar untuk menikmati wahana permainan seperti janjinya itu.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2