Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Awal Tumbuh Benih Cinta


__ADS_3

Setelah menjadi orang bodoh beberapa menit karena pria dinging itu, aku kembali ke stasiun bis untuk segera pulang. Sialnya aku ... bisnya udah berangkat. Ya Tuhan! Hari ini aku harus jalan kaki, sabar himeka, sabar!


Aku berjalan kaki menuju rumah sambil mengawasi sekitar, takut kejadian beberapa hari lalu terulang lagil. Ya Tuhan! Jangan sampai.


***


Alhamdulillah, aku sampai rumah dengan selamat. Kubuka sepatuku dengan cepat, agar bisa merenggangkan otot-otot yang sudah mulai kaku karena berjalan.


"Kok keringatan begitu, Nak?" tanya Ibu sambil mengusap keningku yang terlihat bulir-bulir airnya.


"Himai, jalan kaki, Bu," jawabku sambil membuka kerudung yang basah.


"Kan ada bis sekolah, kenapa kamu jalan kaki?" tanya Ibu lagi.


"Itu karena dia." Refleks kumenjawab.


"Dia siapa?" tanya Ibu dengan tatapan curiga.

__ADS_1


Ah, kok sampai kecoplosan sih. Kalau aku bilang, nanti panjang urusannya. Aku nggak mau Ibu dan Bapak khawatir nanti. Kasihan beliau sudah capek bekerja.


"Eh, itu karena aku terlambat masuk bis, Bu, jadi aku nggak kebagian tempat," jawabku.


Ya Tuhan! Maafkan aku, aku tidak berniat sama sekali untuk berbohong, tapi kalau aku bilang sejujurnya aku kasihan sama Ibu Bapak. Pasti mereka khawatir.


"Astaghfirullah, kamu kurang cepat berarti, Nak. Sabar, ya! Nanti kalau Bapak dam ibu ada rezeki. Ibu belikan sepeda, ya," ucap ibu membuatku terharu lalu memeluknya.


***


Setelah bersih-bersih badan dan shalat ashar, aku langsung baring di atas kasur tipisku.Nikmatnya tempat tidur ini! Walaupun bukan sprimbed, tapi aku tetap nyaman dan bisa tidur lelap, alhamdulillah.


***


Setiap harinya aku menambah rutinitas sepulang sekolah iaitu, duduk di stasiun bis sambil melihat ke arah perusahaan mewah. Menunggu sang pemilik mobil mewah berwarna merah itu memasukinya. Entah kenapa dia itu bagaikan candu bagiku. Walaupun dia dingin dan tidak mau berbicara kepadaku, tapi aku suka ... yah, aku suka.


Kalau aku ditanya, "apa yang aku suka dari dia? Karena dia itu lelaki pertama yang aku kenal dan sangat dingin." yah jawabanku, "tidak tahu."

__ADS_1


Mungkin karena satu minggu-an ini aku terus saja melihatnya. Sampai uang jajanku tidak aku belanjakan agar aku bisa naik ojek untuk pulang ke rumah.


Himeka! Kau boleh saja mengaguminya, tapi jangan sampai melewati batas. Dia dan kamu itu beda! Bagaikan langit dan bumi. Astaghfirullah! Kuusap kasar wajahku, jangan sampai benih terlarang itu tumbuh dan membuatku sakit hati saja.


POV Azril Musyary


"Azril, kamu kapan nikahnya, Nak?" tanya Ibu saat perayaan ulang tahunku yang ke-tiga puluh.


"Entarlah, Bu," jawabku malas.


Karena bagiku semua wanita itu sama. Luarnya saja yang mencintai kita, padahal hatinya hanya mencintai uang saja. Aku bukan soal cantik jeleknya, miskin kayanya. Namun, kesetiaannya yang lebih penting. Roda kehidupan tidak ada yang tahu, oke aku sekarang orang yang sukses uang banyak. Namun, apakah aku bisa menjamin kekayaan itu akan setia bersamaku hingga anak cucuku besar? Hanya Tuhan yang tahu.


Aku tidak mau jikalau aku suatu saat, Tuhan takdirkan untuk berada di titik susah, pasanganku juga akan berpaling meninggalkanku yang dalam keadaan miskin. Apalagi umurku sekarang sudah tiga puluh tahun, sudah tidak muda lagi.


"Azril Musyary! Kamu itu anak tunggal di keluarga ini. Ibu sudah tua, ibu pengen cucu. Apalagi yang kamu cari? Rumah, ada. Uang, ada. Mobil, ada. Semuanya sudah ada."


Bersambung....

__ADS_1


ikuti terus ceritanya agar tak penasaran.


__ADS_2