
Para penjaga itu pun akhirnya tidak punya pilihan lain lagi selain membukakan gerbang rumah dan membiarkan iring - iringan mobil itu masuk ke dalam halaman rumah Malvin Dirgantara yang luas itu.
Mobil rombongan David tepat berhenti di depan pintu masuk rumah Malvin Dirgantara.
David dengan di temani oleh Austin, masuk ke dalam rumah setelah di buka paksa oleh anak buah Gilang.
"Malvin!" Teriak David memanggil - manggil nama Malvin dengan keras dan menggelegar di segala penjuru rumah itu.
Para pelayan yang baru saja terbangun dan memulai akitivitasnya di pagi buta itu, di buat terkejut. Apalagi dengan datangnya pria - pria yang bersenjata dari berbagai penjuru ruangan di rumah itu yang mengumpulkan mereka ke satu ruangan yang sama.
Mira sendiri yang masih terlelap di kagetkan oleh bunyi suara keras saat anak buah Gilang mendobrak masuk pintu rumah itu. Dan tak lama muncul Gilang di depan kamar Mira. Wajah Mira mulai menegang karena ia mengenali Gilang, yang dulu pernah menyuruh orang untuk menampar dirinya berkali - kali.
"Bangun!!" Teriak Gilang sambil menodongkan senjatanya.
"Dimana Malvin?!" Tanya Gilang sambil memandang sekeliling kamar tidur di kamar itu.
Gilang kemudian menyuruh anak buahnya untuk berkeliling menyusuri ruangan kamar itu sampai ke closet dan kamar mandi, juga balkon. Namun, tidak juga menemui Malvin.
"Dimana Malvin?" tanya Gilang sekali lagi pada Mira.
"A...aku tidak tahu, di mana dia," jawab Mira dengan ketakutan.
"Malvin, keluar kau!" Terdengar suara David yang menggelegar dari lantai dasar rumahnya.Seketika itu juga Mira tahu, bahwa Malvin telah melakukan sesuatu yang membuat Alexander David Mahendra begitu murka.
"Cepat katakan dimana dia!" Teriak Gilang pada Mira sambil mencengkram lengannya dengan keras.
"Aku tidak tahu.... aku benar - benar tidak tahu." ujar Mira sambil menangis.
"Malvin.... pergi sejak semalam," ujar Mira dengan ketakutan.
Austin masuk ke dalam kamar itu dan mendengar Mira berbicara.
"Sudah kau sisir ruangan ini?" tanya Austin pada Gilang.
"Sudah Pak, tetapi Malvin tidak ada." jawab Gilang.
"Bastian cepat sisir semua area di seluruh rumah ini dan segera temukan adikku!" Perintah Austin pada Bastian.
Bastian pun mengangguk dan segera membawa beberapa anak buahnya untuk menyisir rumah besar Malvin Dirgantara.
__ADS_1
"Bawa dia ke bawah dan kumpulkan dia dengan yang lain," perintah Austin pada Gilang, dan Gilang pun membawa Mira ke lantai dasar.
Mira memandang dengan ngeri pemandangan yang terjadi di ruang keluarga yang penuh dengan pelayan dan para penjaga di rumah mereka yang sudah tidak berdaya menghadapi beberapa pria yang bersenjata. Dan David berdiri di tengah - tengah ruangan itu, dan terlihat sangat murka.
"Dimana Malvin?" tanya David pada Mira yang baru saja turun bersama dengan Gilang.
"Dia tidak tahu dimana Malvin, David." ujar Austin sambil menepuk pundak David.
"Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahui keberadaan Malvin?! Dimana dia menyembunyikan Istriku?" tanya David pada Mira.
"A...aku benar - benar tidak tahu dimana dia... dia... karena dia tidak mengatakannya kepadaku..." jawab Mira dengan terbata - bata.
Mira bukan hanya ketakutan, tetapi hatinya pun hancur mengetahui Suaminya telah berani menculik Renatta. Malvin, Suaminya ternyata masih mencintai Renatta Azaria melebihi dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya.
Austin menepuk pundak David untuk menangkannya. Ia menunjuk dengan matanya ke arah perut Mira yang sedikit menonjol. David pun kemudian menahan dirinya.
"Pak. Kami sudah menyisir seluruh rumah tetapi memang benar tidak ada Malvin Dirgantara di rumah ini. Seperti yang Gilang sampaikan, penjaga pun mengatakan bahwa Malvin meninggalkan rumah sekitar pukul 11 malam dan belum kembali juga," lapor Bastian pada Austin dan juga David.
"Hubungi dia!" Perintah David pada Mira.
...**********...
Arka membawa masuk Rena ke dalam mobil yang di kendarai oleh Diki.
"Oke Pak," jawab Ricky.
Diki pun mulai mengendarai mobil itu dan menjauhi rumah sewaan mereka.
Rena yang masih tidak meyangka bahwa Malvin akan melepaskannya begitu saja merasa bersyukur dan lega akhirnya ia bisa kembali ke rumah dan bertemu dengan David, Suaminya.
Sekilas di pandanginya Arka yang sedang duduk di sebelahnya.
Ia ingat pernah bertemu Arka di Mall, di suatu sore belum lama ini. Apakah ia yang mengikutiku waktu itu? Dan ia ingat kehilangan dompetnya saat itu.
"Apa aku mengenalmu sebelumnya?" tanya Rena pada Arka
Arka menoleh dan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kau mungkin tidak mengingat aku!" Jawab Arka.
"Berarti memang benar. Aku dan dia pernah kenal dan bertemu sebelumnya. Tapi, dimana?" ucap Rena dalam batin.
Bekas luka di pipi laki - laki yang sedang duduk di sebelahnya mengingatkan Rena pad seseorang.Seseorang yang pernah di temuinya di masa lalu.
"Apa kau... pernah bekerja pada...Ayahku?" tanya Rena dengan ragu.
Arka tidak menjawab, ia hanya memandang keluar jendela.
"Ayahmu, adalah seseorang yang sangat baik." gumam Arka.
Rena pun sangat yakin, jika laki - laki ini dulu pernah bekerja pada Ayahnya. Dan samar - samar ia teringat pernah melihat Gilang bersamanya.
"Apa kamu bersama Gilang sore itu," ujar Rena perlahan. Ingatannya kembali pada kejadian saat Ayahnya terkena serangan jantung setelah bertemu dengan Malvin Dirgantara sore itu. Ia ingat dua orang penjaga membawa Ayahnya, ke dalam mobil, Gilang dan laki - laki yang ada di sampingnya itu.
Arka menghela nafas. Alfaro adalah seseorang yang sangat baik, dan ia hampir saja mengingkari janjinya dan mencelakai putrinya. Dan tugasnnya sekarang adalah mengembalikkan Renatta Azaria kepada suaminya dengan selamat.
"Boleh aku pinjam teleponmu? Aku ingin memberitahu David, bahwa aku akan pulang." pinta Rena pada Arka.
Arka mengambil telepon genggam dari sakunya dan memberikannya pada Rena. Rena hendak mendial nomor telepon David, saat tiba - tiba sebuah mobil menyalip mobil yang mereka tumpangi dan terdengar suara letusan senjata api.
Dor!
Rena dan Arka terperangah saat melihat darah memuncrat dari arah depan dan Diki yang mengedari mobil sudah terkulai. Seketika itu juga mobil hilang kendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan.
Rena dan Arka berteriak saat mobil terguling - guling ke sisi jalan yang berumput.
"Renatta! Apa kamu baik - baik saja?" tanya Arka pada Renatta yang terkulai di sisinya.
Rena membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur, namun ia masih bisa mendengar suara laki - laki yang ada di sebelahnya itu memanggil namanya.
Laki - laki itu berusaha membuka pintu mobil yang tersangkut untuk membebaskan mereka dalam kondisi mobil yang terbalik. Akhirnya Arka pun bisa membuka pintu mobil itu,setelah menendangnya beberapa kali dan ia pun langsung menarik Rena ke luar dari mobil dan melihat sekilas ke arah Diki yang sudah tidak bisa di selamatkan.
"Renatta, ayo cepat bangun kita harus segera pergi dari sini secepatnya," ucap Arka dengan berbisik.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika madih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.