Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Biarkan Kami Lewat


__ADS_3

Jefri pun langsung berlari ke arah ruang baca di lantai dua.


"Austin, kamu salah paham. Saya tidak pernah menahan Rena di sini. Rena di sini atas kemauannya. Turunkan senjatamu," ujar David berusaha membujuk Austin agar menurunkan senjatanya.


David memberi tanda pada pengawalnya untuk menurunkan senjatanya terlebih dahulu. Ia tidak ingin terjadi baku tembak karena kesalahpahaman Austin. David yakin Austin tidak akan memulai menembak jika ia tidak merasa terancam.



"Aku tahu apa yang kamu lakukan! Kamu menjebak Rena agar mengikuti kemauanmu! Tapi Rena adalah adikku, dan kau menghadapi orang yang salah!" Ujar Austin dengan geram.


Tak seberapa lama, Rena yang baru terbangun dari tidurnya turun bersama dengan Jefri. Ia terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


"Abang Austin?!" Panggilnya terkejut dengan apa yang terjadi, apalagi melihat Kakaknya itu sedang berada di rumah David dan menodongkan senjata ke arah David. Ekspresi ketakutan terlihat jelas di wajahnya.



"Rena!" Panggil Austin, saat ia melihat adiknya masuk ke dalam ruangan itu.


Ia pun menarik tangan Rena dan memegangnya erat saat jaraknya sudah dekat.


"Kamu nggak apa - apa, Dek?" tanyanya dengan khawatir, sambil tangannya masih menodongkan senjata ke arah David.


"Abang, ada apa ini?" tanya Rena dengan ekspresi wajah takut melihat benda yang ada di tangan Kakaknya itu.


"Kamu, akan pulang bersama dengan Abang, Dek," ucap Austin lalu menatap David yang menatapnya tajam

__ADS_1


"David, suruh penjagamu membiarkan kami lewat!" Ujar Austin yang masih menodongkan senjatanya ke arah David.


David tidak ingin terjadi hal - hal yang tidak di inginkan, apalagi saat Rena berada di tengah - tengah situasi itu. David pun menyuruh pengawalnya untuk mundur.


"Turuti perkataannya, biarkan mereka lewat!" Perintah David pada para penjaganya.


Para penjaga David pun mundur, dan mereka memberi jalan bagi David, Bastian dan Rena untuk lewat.


"Abang, turunkan senjata Abang," pinta Rena pada Kakaknya untuk menurunkan senjatanya.


"Tenang Rena, Abang akan selalu melindungimu," ujar Austin sambil mengambil sesuatu dari saku jasnya, kemudian ia lemparkan ke arah David dan jatuh ke lantai.


"Lunas sudah hutang Rena! Jangan pernah kau dekati adikku lagi, atau kau akan tahu akibatnya!" Ujar Austin sambil berjalan mundur menuju pintu keluar dan menarik lengan Rena bersamanya.



"Abang hentikan! Abang tidak tahu apa yang terjadi!" Ujar Rena ia ingin mengatakan kepada Abangnya itu yang sebenarnya terjadi.


"Rena, ada apa denganmu? Abang kesini untuk menyelamatkanmu!" Seru Austin pada adiknya itu.


Rena hendak berkata lagi, namun David memotongnya.



"Rena, pergilah bersama Abangmu," ujar David dan memberi isyarat pada Rena dengan matanya agar tidak membantah.

__ADS_1


David berpikir lebih baik berbicara jika Austin sudah lebih tenang. Orang yang emosional dan mengenggam senjata di tangannya tidak akan bisa di ajak bicara dan David tidak akan mengambil resiko saat Rena ada di sana, jika salah satu pihak terpicu untuk menembakkan senjatanya, baku tembak tidak bisa di hindari. David sadar betul itu. Dan ia tidak akan mengambil resiko dengan kehadiran Rena yang di sana.


Rena pun mengangguk dan kemudian mengikuti Austin dan Bastian keluar dari rumah David dan masuk ke mobil Austin.


Penjaga rumah David tidak ada yang berani menghentikkan mereka, karena David sudah melarang mereka dengan keras.


Selepas kepergian Rena dan Austin. David mengambil kertas yang di lemparkan Austin padanya. Sebuah cek dengan nilai 100 juta rupiah.


Bastian mengendarai mobil yang di tumpangi oleh Austin dan Rena kembali ke rumah Almarhum Alfaro yang selama ini telah di huni oleh Austin.


Selama perjalanan Rena tidak banyak bicara, ia tidak ingin bicara saat Abangnya itu sedang dalam kondisi emosional. Rena tidak pernah melihat Austin begitu marah seperti yang tadi di lakukannya di rumah David.


Rena sangat takut jika David dan Kakaknya saling bersiteru. Rena tidak bisa membayangkan, karena ia sangat menyayangi Kakanya, namun ia pun tidak ingin David terluka. Bagaimana pun ia dan David, sudah sangat dekat beberapa minggu ini.


Selama perjalanan Austin pun tidak banyak bicara. Walaupun ia ingin memarahi adiknya itu karena tidak bercerita dengan jujur mengenai apa yang terjadi, ia menahannya hingga ia sampai di rumah dan bisa berbicara empat mata.


"Cepat turun! Abang mau berbicara denganmu!" Ujar Austin pada Rena dengan nada tegas saat mereka sampai di halaman rumah.


Rena hanya terdiam dan turun dari kendaraan dan berjalan perlahan menuju ke pintu rumah peninggalan orang tuanya.


Bersambung.....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2