Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Usaha David


__ADS_3

Sementara itu, Ricky dan Gilang masih berkelahi dengan menggunakan benda apa pun yang dapat di gunakan untuk membela diri. Mereka saling hantam dan memukul dengan susah payah. Sampai akhirnya Gilang bisa melumpuhkan Ricky dan membuatnya pingsan.Akan tetapi Gilang pun mengalami luka yang cukup parah.


David mengendap - endap dan menunggu tompel dengan sebilah kayu di tangannya. Saat Tompel sudah berada di jarak yang cukup, ia pun melayangkan kayu itu ke arah tompel, membuat Tompel kembali terhuyung dan mejatuhkan senjatanya.


David dan Tompel berusaha memperebutkan senjata api yang jatuh ke lantai dengan cara menahan satu sama lain. Mereka berdua pun berkelahi dengan tangan kosong.


Bag! Bug! Bag! Bug!


Hingga akhirnya David bisa melumpuhkan Tompel dan membuatnya tak sadarkan diri. Setelah yakin Tompel tak sadarkan diri, David lalu pergi ke tempat persembunyian Rena.


"Yang!" Seru Rena dengan penuh rasa khawatir saat melihat David datang dan wajahnya lebam karena berkelahi dengan Tompel.


"Aku nggak apa - apa, sayang." ujar David sambil memeluk Rena.


"Tenang sayang, kamu sudah aman sekarang, aku di sini," ujar David sambil mengecup kepala Rena dengan lembut.


Rena mengangguk dan melepaskan pelukkannya.


"Kita pulang sekarang," ucap David sambil memandang wajah Istri yang sangat di cintainya dengan merangkul Rena, David pun keluar dari tempat persembunyian Rena.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara Aleta berteriak.


"David! Lepaskan dia!"


Rena dan David pun menoleh ke arah asal suara melihat Aleta sedang mengenggam pistol di tangannya yang di arahkan kepada mereka berdua.


"Aleta! Jangan gegabah. Turunkan pistol itu," ujar David sambil melepaskan pelukkannya kepada Rena dan memposisikan Rena ke belakangnya.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya. Karena dia sudah merebutmu dariku, David!" Teriak Aleta.


"Aleta sadarlah! Rena sama sekali tidak ada hubungannya dengan berakhirnya hubungan kita," ujar David sambil berjalan mendekati Aleta perlahan.


David memberi kode pada Rena untuk tetap di tempat sementara ia menghampiri Aleta perlahan. David yakin bisa merebut senjata api yang di pegang Aleta dari jarak dekat.


Ya Tuhan tolong lindungi David. Doa Rena. Ia sangat takut jika Aleta akan menembak David.


"Kalau dia tidak ada. Kamu pasti akan memilih aku David!" Teriak Aleta sambil menggeser arah pistolnya ke arah Rena. Membuat Rena pucat pasi.


Melihat hal itu, David merubah strateginya. Ia tahu pikiran Aleta sedang kacau saat ia dan dia tidak bisa di ajak bicara yang rasional.

__ADS_1



"Aleta, turunkan senjatamu dan aku akan pergi bersama mu," ujar David perlahan mencoba membujuk Aleta. Iya tidak ingin Aleta kehilangan kendali atas dirinya yang akan menembak Rena.


"Benarkah?" tanya Aleta dengan suara yang melembut sambil memandang David.


"Ya, kita berdua bisa pergi hanya kamu dan aku!" Bujuk David sambil berjalan mendekat.


Jaraknya dengan Aleta sekarang hanya dua meter lagi dan beberapa langkah lagi ia bisa melumpuhkan Aleta.


"Bohong!" Teriak Aleta sambil menodongkan senjata ke arah David, membuat David menghentikkan langkahnya.


"Aleta, aku tidak berbohong." bujuk David.


"Kamu benar Aleta. Aku memang masih menyayangimu. Aku hanya tidak menyadarinya." ujar David berusaha melunakkan hati Aleta.


"Sekarang kita pergi dari sini dan lupakan apa yang telah terjadi." bujuk David lagi.


"Memulai hidup kita bersama? Seperti dulu lagi?" tanya Aleta sambil menatap David.


"Ya Aleta, seperti dulu lagi. Hanya kamu dan aku," ujar David sambil merentangkan tangannya.


Aleta terisak. Sepertinya ia mulai terpengaruh oleh bujukkan dari David.


Gilang dengan susah payah keluar dari gudang tong dan melihat apa yang terjadi. Ia pun berjalan pelan ke arah Aleta dari belakang. Dan David pun melihat kedatangan Gilang, dan ia tetap berusaha untuk membujuk Aleta agar mau menurunkan senjatanya.



"David, apa kau pikir aku akan percaya?" ujar Aleta tiba - tiba sambil menatap David dan tersenyum padanya.


"Kamu menikahinya David, sedangkan kamu tidak pernah meminta aku untuk menikahimu!" ujar Aleta.


"Aku selalu menunggumu David untuk melamar aku, tapi tidak pernah kau lakukan!" Teriak Aleta dengan emosi.


"Saat itu aku masih muda Aleta dan aku belum siap untuk menikah dengan siapapun." ujar David.


Aleta menggelengkan kepalanya.


"Baiklah.... kalau aku tidak bisa mendapatkanmu...." ujar Aleta sambil memandang David.

__ADS_1


"Jagan Aleta! Jangan lakukan!" Pinta David sambil memandang balik wajah Aleta dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu juga tidak akan bisa mendapatkannya!" ujar Aleta kemudian mengarahkan pistolnya ke arah Rena dan menarik pelatuknya.


Dor!


David melompat menghalangi arah tembakan Aleta dan begitu pula dengan Gilang. Gilang melompat menyergap Aleta dari belakang. Namun, ia terlambat Aleta telah menembakkan pistolnya.


"David!" Teriak Rena sambil berlari ke arah David yang berbaring di tanah.


"Yang, bertahanlah!" Teriak Rena sambil memangku David dan mengenggam tangannya. Rupanya tembakan Aleta mengenai dada kiri David.


Gilang masih berusaha melumpuhkan Aleta saat Austin dan beberapa anak buahnya sampai di tempat itu. Austin kemudian menyurun Bastian untuk membawa Aleta, Tompel dan Ricky ke kantor polisi. Kemudian Austin segera menuju ke arah David dan juga Rena.


"David, bertahanlah!" Ujar Austin saat melihat terluka tembak.


...********...


Rena menunggu dengan gelisah. Dua jam sudah David berada di dalam ruangan operasi itu. Namun, operasi juga belum kunjung selesai.


"Dek, minumlah." ujar Austin yang mendaratkan dirinya di kursi di sebelah Rena, menawarkan sebotol air putih padanya.


Rena perlahan mengambil air putih itu. Kemudian meneguknya. Wajah Rena tampak lelah, namun ia tidak mau beranjak dari kursinya dan tetap mau menunggu David.


"Bersabarlah, David pasti akan baik - baik saja," ucap Austin berusaha menenagkan Rena yang tampak sangat gelisah.


Rena pun mengangguk.


Di sebelah kanan Rena duduk Audrey dan di depan Rena ada Ibu Andini dan juga Abian yang menunggu operasi David bersama dirinya dan juga Austin.


"Rena, bagaimana kalau kamu beristirahat. Biar kami yang menunggu di sini?" ujar Audrey yang merasa prihatin melihat kondisi Rena. Audrey pun gelisah, akan tetapi ia tidak mengalami apa yang baru saja di alami Rena, sehingga ia masih - masih baik saja.


Walupun luka - luka Rena sudah di obati. Namun, wajah Rena masih tampak sangat lelah setelah apa yang di alaminya selama dua hari terakhir ini. Dan Rena belum beristirahat sejak mereka sampai di rumah sakit.


Rena menggeleng ia tidak mau meninggalkan David dan ingin selalu berada di sisinya.


Audreya dan Austin sama - sama menghela nafas karena Rena memang terlalu keras kepala dan mereka mengkhawatirkannya.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2