Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Lampu Hijau


__ADS_3

Austin masih memandang David dengan tajam sambil melipat tangannya di depan dada.


"Bagaimana dengan Aleta? Jika benar dia itu adalah anakmu?" tanya Austin.


"Aku sudah tidak ada perasaan apapun pada Aleta saat ini. Aku hanya akan bertanggung jawab saja pada anak itu jika memang dia adalah anakku, tetapi aku tidak akan menikahi Aleta," jawab David.


"Austin, aku jatuh cinta pada Rena, jauh sebelum aku mengetahui siapa dia sebenarnya. Dan aku akan menikahi Rena, dengan izin darimu," ujar David.


"Aku merasa bahwa aku dan Rena di takdirkan untuk bersama. Aku pun tidak menpercayainya sebelum ini, tetapi ini benar - benar terjadi," ujar David sambil mengambil sesuatu dari dompetnya kemudian di serahkannya pada Austin.


Austin mengambil apa yang di sodorkan David dan melihatnya. Foto saat ia masih kecil saat kelahiran Rena. Austin tidak terlalu ingat kejadiannya. Tetapi ia mengenali wajah anak kecil yang mirip dengan David, dan juga wajah kedua orang tuanya.


David memberikannya foto lain. Foto David kecil dan bayi Rena yang di dapatnya dari Oma dan Opanya.


Austin memperhatikan foto itu, sesaat kemudian mengembalikannya pada David.


"Ini tidak berarti apa - apa. Hanya bukti bahwa keluarga kita saling mengenal sebelumnya. Tidak membuktikan jika kamu tidak mengambil manfaat dari Rena," ujar Austin sambil berdiri.


Austin menghela nafas panjang lalu berbalik menatap David.


"Aku akan memberimu satu kesempatan karena adikku Rena, tetapi kalau sampai kamu menyakitinya, siapa pun kau Alexander David Mahendra, aku tidak akan gentar untuk menghabisimu!" Ujar Austin sambil menatap David dengan tajam.


"Kalau aku sampai menyakitinya, kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau Austin," janji David.


"Tunggulah di sini," ujar Austin. Kemudian ia meninggalkan David di gazebo itu.


...****...


Malvin sangat bosan menemani Mira berbelanja. Jika bukan karena Alexa, yang memintanya sudah pasti akan ia tinggalkan Mira di sana.


Tadi pagi mereka baru saja fitting baju pengantin di sebuah butik desainer ternama di kota itu, dan setelah Mira meminta Malvin menemaninya berbelanja.


Ia tidak mengerti kenapa Mira harus memaksanya untuk menemaninya berbelanja? Bukan kah ia biasa berbelanja bersama dengan Vanila? Toh ia juga sudah memberikan uang yang cukup untuk Mira berbelanja.


"Malvin, tolong bawa ini aku capek sekali," ujar Mira dengan manjanya.


"Kamu ini manja sekali! Kalau tidak ingin membawanya sendiri, tidak usah sampai belanja banyak - banyak seperti ini! Menyusahkan saja!" Umpat Malvin pada Mira yang berbelanja begitu banyak siang itu.


"Tolonglah Malvin! Kenapa kamu itu jahat sekali?!" Ujar Mira sambil merengek. Ia kesal karena Malvin tidak perduli melihatnya membawa beberapa shoping bag di tangannya.


Malvin berdecak, kemudian ia menelefon, Bobby supirnya.


"Bobby cepat kamu kesini!" Perintah Malvin lalu mengirimkan share loc tempatnya dan Mira. Tak lama Bobby datang.


"Kamu bawa semua belanjaan ini ke mobil!" Perintah Malvin.

__ADS_1


Mira pun tersenyum dan memberikan shoping bagnya pada Bobby.


"Ayo, aku masih ada barang yang harus aku cari," ujar Mira sambil merangkul lengan Malvin dan menariknya pergi.


"Mira, tidak bisakkah kamu berbelanja sendiri?" tanya Malvin yang enggan untuk berbelanja lebih lama lagi.


"Tidak, aku tidak bisa!" Ujar Mira tidak memperdulikan wajah kusut Malvin.


"Aku lapar, ayo kita makan!" Ujar Mira sambil memegang perutnya.


"Kamu mau belanja atau mau makan? Kalau mau makan, makan saja di rumah. Aku tidak lapar," ujar Malvin sambil berhenti berjalan.


"Malvin aku sangat lapar, kamu tidak mau aku pingsan kan?" ujar Mira sambil memegang perutnya.


"Ya sudah, kita makan setelah itu pulang. Aku tidak bisa mengantarmu berbelanja lagi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan,"


"Tapi aku belum menemukan tas yang cocok untuk acara amal besok?" ujar Mira sambil menggerutu.


"Pakai saja tas yang ada. Atau pesan tas online di butik," ujar Malvin. Ia tahu hal itu, karena Darwin sering melakukannya, membelikan barang - barang online yang ia berikan untuk wanita - wanita yang pernah bersamanya.


Mira pun akhirnya tidak membantah dan mengikuti Malvin ke dalam restoran, seorang pelayan restoran menyambut mereka dan mencarikan tempat duduk.


Mira melihat - lihat menu yang ada dan merasa tidak ada yang menggugah seleranya. Ia bingung harus memesan apa. Malvin sudah memesan makanan dan minumannya pada pelayan restoran itu.


"Mira, kamu mau pesan apa?" tanya Malvin melihat beberapa menit sudah Mira hanya membolak - balikkan menu di tangannya.


"Pesanlah kira - kira yang kau suka. Semua makanan di sini enak," ujar Malvin yang merasa tidak sabar menanti Mira yang memesan makanan. Pelayan yang mencatat orderan mereka pun tampak menunggu dengan canggung.


Mira mendesah dengan berat. Ia tidak terlalu menyukai menu yang ada di sana. Namun, karena ia tidak ingin Malvin kesal kepadanya. Ia pun memesan sebuah rice bowl dengab beef teriyaki dan telur dan es jeruk nipis dan es krim stroberi.


Saat pesanan tiba dan mereka baru saja memakan makanan yang mereka pesan, Darwin menelepon Malvin dan Malvin pun mengangkatnya.


"Ya?" tanya Malvin sambil mengunyah makanannya.


"Pak, ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Bapak," ujar Darwin dengan hati - hati.


"Ada apa?" tanya Malvin.


"Saya tidak bisa bicara di telefon Pak. Bapak sedang ada di mana?" tanya Darwin.


"Saya sedang di mall, Darwin. Kamu bisa mengatakannya langsung. Ada apa?" tanya Malvin yang heran dengan sikap Darwin.


"Maaf Pak, ini tentang Renatta Azaria. Kalau bisa biar saya yang menemui Bapak langsung."


Malvin langsung terduduk tegak dan langsung menghentikkan makannya saat ia mendengar bahwa Darwin menyebutkan nama gadis yang sudah di carinya selama ini.

__ADS_1


Mira melihat perubahan sikap Malvin dan merasa heran. Namun, ia tidak berpikir macam - macam, di pikirannya hanya masalah pekerjaan saja.


"Segera temui aku di rumah, Darwin." ujar Malvin lalu menutup percakapan telefonnya.


Mira langsung menghentikkan makanannya saat mendengar Malvin mengatakan itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Mira yang melihat Malvin mengemasi barang - barangnya yang ada di atas meja.


"Maaf. Aku harus segera pulang. Ada hal penting yang harus aku lakukan," ujar Malvin.


"Tapi bagaimana dengan aku? Tidak bisakah hal itu menunggu?" tanya Mira dengan cemas. Ia tidak ingin Malvin pulang.


"Pulanglah bersama dengan Bobby. Aku akan naik taksi," ujar Malvin langsung beranjak dari meja mereka.


"Malvin!" Panggil Mira dengan kesal, karena lagi - lagi Malvin meninggalkannya begitu saja.


Malvin langsung menaiki taksi kosong pertama yang melewati drive way mall tersebut. Ia segera pulang ke rumahnya. Berbagai pikiran berseliweran di benaknya.


Apa Darwin sudah menemukan Renatta? Ada di mana dia?


Perjalanan pulang Malvin tidak berjalan dengan lancar. Sabtu siang seperti ini.arah dari mall menuju ke rumahnya sangatlah padat. Sehingga ia harus bersabar agar bisa sampai ke rumah secepatnya.


Sial! Kenapa Darwin tidak mengatakannya langsung saja! Apa yang sebenarnya terjadi?! Gerutu Malvin dengan tidak sabar.


Akhirnya sampai juga Malvin ke rumahnya. Darwin telah menunggunya dan Malvin segera menyuruh Darwin untuk mengikutinya ke ruang kerja.


"Sebaiknya ini benar - benar penting Darwin!" Ujarnya kepada Darwin kemudian duduk di kursinya.


"Iya Pak." jawab Darwin. Ia yakin bahwa berita yang di bawanya valid dan sangat penting bagi Bosnya itu.


"Apa kamu menemukan Renatta Azaria?" tanya Malvin langsung sambil menatap mata Darwin.


"Ya Pak. Sudah beberapa hari ini Austin Leonard Alfaro melakukan bisnis dengan seseorang yang di perkenalkannya sebagai adiknya," ujar Darwin.


"Apa kau yakin itu Renatta?" tanya Malvin sambil duduk tegak di kursinya. Ia ingin kepastian jika orang itu adalah benar - benar Renatta Azaria. Karena beberapa kali Darwin hanyalah menemukan orang yang mirip dengan Renatta tetapi ternyata bukan.


"Ya Pak. Saya cukup yakin. Siapa lagi yang di perkenalkan Austin sebagai adiknya, jika bukan Renatta Azaria." ujar Darwin sambil meletakkan sebuah foto. Austin Leonard Alfaro dengan seorang wanita berambut panjang dan berkulit putih yang sangat cantik, yang mengingatkan Malvin pada sosok Renatta.


"Renatta," panggil Malvin pelan, sambil jemarinya memegang wajah wanita yang ada di dalam foto itu.



Wajah wanita itu memang terlihat lebih matang, tetapi mata, hidung, bibir dan senyum wanita itu memang milik Renatta. Ya, tak salah lagi wanita itu memang Renatta Azaria.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2