Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Austin VS Malvin


__ADS_3

Malvin yang telah mengetahui kembalinya Renatta Azaria. Ia ingin segera memastikannya.


Ia pun berencana mengunjungi kediaman Alfaro yang sekarang telah di huni oleh Austin. Ia sangat yakin jika Renatta pun ada di sana.


Sabtu sore itu, ia berdandan rapi, dan mengendarai mobil sport nya seorang diri menuju ke kediaman Austin. Ia berencana mengunjungi Austin untuk mengembalikan hubungan baik dan bertemu dengan Renatta.


Di depan pintu gerbang rumah Austin, penjaga menanyakan identitas dan keperluannya datang ke rumah itu.


Penjaga pintu yang berjumlah dua orang itu tidak mengenal Malvin. Terakhir kali Malvin ke rumah itu adalah tujuh tahun yang lalu, saat ia menghadiri pemakaman Syahnaz.


"Saya Malvin Dirgantara dan saya ingin bertemu dengan Austin Leonard Alfaro," ujar Malvin pada para penjaga pintu.


Agus yang mendapat kabar dari para penjaga pintu, segera meyampaikannya kepada Austin.


Agus tahu siapa itu Malvin Dirgantara dan kisah yang terjadi tujuh tahun yang lalu. Karena ia termasuk salah satu pelayan yang bekerja pada keluarga Alfaro sejak Alfaro masih hidup.


"Kamu bilang Malvin?" tanya Austin dengan terkejut.


Austin sudah mengetahui jika Malvin pasti akan menemuinya untuk menanyakan mengenai Rena.Namun, ia tidak pernah menyangka jika Malvin akan datang secepat itu. Baru hitungan jari saja ia memperkenalkan Rena sebagai adiknya pada klien - klien bisnisnya, dan sekarang Malvin sudah berada di depan gerbang.


Ternyata memang benar apa yang di katakan oleh Bastian bahwa Malvin Dirgantara masih mencari adiknya.


"Bajingan itu sudah mau menikah saja masih mencari adikku!" Geram Austin.


"Apakah dia datang sendiri?" tanya Austin.


"Ya Pak. Malvin datang seorang diri," ujar Agus.


"Biarkan dia masuk, dan suruh dia menunggu di ruang tamu." ujar Austin lalu membereskan laptopnya.


"Perlu saya panggilkan Bastian, Pak?" tanya Agus yang sedikit khawatir.


"Tidak perlu. Aku masih bisa menghadapinya, Gus." ucap Austin yang paham akan kekhawatiran Agus. Agus bukan hanya asisten kepala rumah tangga di rumah ini, tetapi ia juga orang yang sudah menjaga dan melayani kebutuhan sehari - harinya selama ini dengan baik, semenjak kedua orang tuanya telah tiada, Maupun saat ia tinggal bersama dengan Paman Jason di rumah itu.

__ADS_1


Agus pun mengangguk dan keluar dari ruang kerja Austin, untuk menghubungi penjaga agar memperbolehkan Malvin Dirgantara untuk masuk.


Namun Agus juga meminta beberapa penjaga, untuk bersiaga di dalam rumah, tanpa sepengetahuan dari Austin. Karena ia tidak mau kejadian yang sama akan terulang kembali. Malvin adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya itu.


Malvin memarkir mobil di depan rumah Alfaro. Rumah lama itu terlihat terawat dan seperti belum lama ini di cat ulang. Harus ia akui, jika Alfaro memang orang yang mementingkan kualitas dan desain yang bagus. Sehingga bangunan dan gaedung - gedung yang di milikinya selalu tampak indah dan bertahan lama, Seperti juga gedung Mahendra Tower yang dulu adalah Alfaro Enterprise Tower yang sampai saat ini masih berdiri dengan megah di antara bangunan - banguna yang lainnya.


Malvin segera turun dari kendaraannya dan berjalan menuju pintu rumah itu. Pikirannya tidak hanya melayang di masa lalu, tetapi juga keinginannya untuk bertemu dengan Renatta Azaria yang membuat jantungnya selalu berdebar dengan kencang.


Ia sudah melihat sosok cantik Renatta, melalui foto yang di bawa Darwin, tetapi ia juga sangat ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok Renatta saat ini.


Malvin membunyikan bel rumah itu, tak lama Agus membukanya. Malvin tentu saja tidak mengenal Agus, tetapi Agus masih ingat dengan jelas orang yang telah menghancurkan keluarga Bosnya itu.


"Selamat sore, saya Malvin Dirgantara. Austin telah berjanji untuk menemui saya," ujar Malvin.


"Selamat sore, silahkan Bapak tunggu disini." ujar Agus berusaha bersikap ramah sambil menunjuk sofa di ruang tamu.


"Malvin, mau apa kau datang kesini?!" Tanya Austin dengan suara keras sebelum Malvin duduk di sofa yang di tunjuk oleh Agus.


"Austin, apa kabar?" tanya Malvin, sambil berjalan mendekati Austin dan mengelurkan tangannya.


"Austin, kenapa kamu berkata seperti itu? Aku datang dengan niat baik. Kita masih keluarga dan aku ingin bersilahturahmi saja," ujar Malvin beralasan.


"Kamu bukan keluarga ku Malvin, dan kamu tidak akan pernah menjadi keluargaku!" Ujar Austin dengan tatapan tajam.


Malvin tertawa.


"Austin.. Austin.. masih sebegitu bencinya kah kau padaku? Apakah kau masih menyalahkanku atas kematian kedua orang tuamu itu?" ujar Malvin sambil tertawa kecil, seperti menganggap peristiwa yang terjadi di masa lalu adalah hal yang sepele.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Atas apa yang telah kau lakukan pada keluargaku! Kalau tidak hal lain lagi yang ingin kau sampaikan, lebih baik kau tinggalkan rumah ini!"" Ujar Austin dengan geram.


Ia tidak takut pada Malvin. Walaupun usia Malvin 9 tahun lebih tua darinya.


"Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Malvin sambil tersenyum.

__ADS_1


Austin tidak berkomentar, dan hanya memandang Malvin. Ia tahu apa yang akan Malvin tanyakan padanya.


"Renatta, adikmu apa dia telah kembali?' tanya Malvin. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.


"Bukan urusanmu juga, jika dia telah kembali!" Seru Austin.


Malvin tertawa lagi.


"Tentu saja itu sudah menjadi urusanku juga Austin. Apakah kau sudah lupa, apa saja yang sudah aku lakukan demi mendapatkan adikmu itu?" tanya Malvin sambil tertawa sinis.


"Tentu saja aku ingat! Aku pun selalu ingat akan perbuatan jahatmu! Tapi, apapun yang telah kau lakukan, kau tidak pernah berhasil mendapatkannya, bukan?" tanya Austin tidak mau kalah, balas tertawa sinis.


Malvin gusar dengan perkataan Austin, karena apa yang di katakan Austin memang benar. Apa pun yang telah ia lakukan tidak bisa membuat Rena jatuh ke dalam pelukannya. Ya, tidak pernah berhasil. Bahkan Gadis itu, dengan keras kepala terus menolaknya.


"Dengarkan aku baik - baik Malvin Dirgantara! Renatta, adikku, tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi milikmu! Sekarang kau keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali!" Seru Austin sekaligus mengusir Malvin.


Malvin hendak maju dan melawan Austin, namun para penjaga yang Agus perintahkan sudah berjaga di dalam rumah dan telah berdiri di belakang Austin.


Malvin pun menahan dirinya dan segera pergi dengan gusar. Ia bukan saja gagal menemui Renatta, tetapi telah gagal juga meyakinkan Austin untuk menerima niat baiknya.


Malvin membanting pintu mobilnya dengan kencang dan mengendarai mobilnya dengan emosi. Suara mobil yang di gasnya dengan kencang bergema di pekarangan rumah Austin.


Austin menghela nafas berat. Ia tahu Malvin tidak akan pernah menerima begitu saja apa yang telah ia katakan. Ia dapat melihaf bahwa Malvin akan berusaha untuk mendapatkan Renatta kembali.


"Agus, telepon Bastian. Suruh dia untuk ke rumah malam ini," ujar Austin.


"Baik Pak." ujar Agus. Kemudian membungkuk hendak mohon diri.


"Gus, terima kasih." ujar Austin. Sebelum Agus meninggalkan ruangan itu.


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2