
Setelah itu Rena meletakkan kepalanya di bahu David dan memeluknya.
"Sejujurnya aku merasa khawatir dengan apa yang terjadi hari ini," ucap Rena mengutarakan perasaannya.
"Dengan Malvin, maksudmu?" tanya David dan Rena mengangguk.
"Aku sangat berharap dia benar - benar bisa melupakan aku. Aku benar - benar tidak ingin hal buruk tidak terjadi lagi pada orang - orang yang aku sayangi," tutur Rena masih dalam pelukkan David.
"Menikahlah dengan ku, Ren. Aku yakin dia tidak akan berani untuk menganggumu lagi," ujar David sambil mengelus lembut rambut Rena.
Rena bangkit dari sandarannya pada bahu David.
"Aku tidak ingin menikah denganmu hanya karena ingin menghindari Malvin." ujar Rena sambil menatap mata David.
"Itu hanya salah satu jalan Rena, dan aku tidak akan keberatan. Karena aku tahu kamu mencintai aku dan aku pun sama seperti aku mencintaimu," ujar David.
Mereka berdua saling pandang dan saling mengaitkan jari jemari mereka berdua.
"Pak, kita sudah sampai di rumah keluarga Alfaro," ujar Eddy dengan menggunakan interkom dari ruang pengemudi.
Rena membenahi pakaiannya yang berantakan karena pelukkan dari David tadi dan mengambil tasnya.
"Ren..." panggil David saat Rena akan keluar dari pintu mobil yang di bukakan Eddy.
Rena mendekati David dan berkata, "Mungkin kalau kamu menanyakannya di saat dan tempat yang tepat, aku akan mengatakan 'Ya' ".
Kemudian Rena mencium bibir David dengan lembut beberapa saat, dan tersenyum sebelum keluar dari mobil David.
"Di saat dan tempat yang tepat? " Batin David sambil tertegun memandang Rena.
Di depan pintu rumah, Austin berdiri menunggu Rena.
Rena pun menyalami tangan Austin seperti biasanya.
"Masuklah Ren, Abang ingin bicara sebentar dengan David." ujar Austin dan Rena pun mengangguk. Ia pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan Austin dan David berbicara.
David yang telah keluar dari mobil pun berjalan ke arah Austin.
"David, ada yang ingin aku bicarakan." ujar Austin saat jarak mereka sudah dekat.
"Kebetulan, ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu," ujar David dan mereka pun berjalan ke arah taman di teras depan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang telah Malvin Dirgantara akan lakukan. Tetapi ia sangat geram melihat dirimu bersama dengan Rena. Dan itu membutku khawatir," ujar Austin.
"Aku tahu. Kalau boleh dan kau mengijinkan, aku akan mengirim orang untuk melindungi Rena. Dan jika kau mau aku akan mengirim beberapa orang untuk membantumu," ujar David.
"Aku tidak keberatan dan mengizinkan jika kamu ingin menyuruh seseorang untuk melindungi Rena. Sementara untuk yang lainnya aku belum memerlukannya untuk saat ini. Sebaikanya kamu pun bersiaga, karena bisa saja Malvin akan menyerangmu dan bukan aku," ujar Austin memperingatkan David.
David mengangguk.
"Baiklah, aku akan kirimkan seseorang besok pagi," ujar David.
"Sebaiknya aku pulang, kalau ada apa - apa kau bisa hubungi aku." tambah David sembari berpamitan.
Austin mengangguk dan David pun berbalik ke arah mobilnya.
...*******...
Mira tidak bisa tidur tadi malam, matanya juga sembab karena menangis semalaman. Ia sangat sedih dengan apa yang telah terjadi.
Setelah apa yang terjadi di ruang perawatan medis. Malvin sama sekali tidak kembali lagi untuk menjemputnya. Mira pun harus memanggil Trismo, supir keluarganya untuk menjemputnya pulang ke Apartemennya.
Mira tidak pulang ke rumahnya karena tidak ingin keluarganya tahu jika ia dan Malvin sedang bertengkar. Papanya pasti akan sangat marah sekali jika tahu apa yang akan terjadi. Perusahaan Papanya yang sedang kesulitan keuangan sangat bergantung sekali pada perusahaan Malvin Dirgantara, sehingga jika memberitahu Papanya akan apa yang terjadi bukanlah jalan yang terbaik.
Pagi ini pun Mira tidak enak badan dan ia merasa sedikit demam, tak nafsu makan dan juga mual serta pusing.
"Apa saja yang kau rasakan?" tanya Lusi padanya.
"Aku merasa tidak enak badan, mual dan badan ku meriang pagi ini," tutur Mira sambil berbaring di ranjangnya.
"Sudah berapa lama gejala yang kau rasakan ini?" tanya Lusi sambil mengecek kondisi badan Mira dengan stateskop.
"Sepertinya beberapa minggu lalu aku sempat merasakan mual dan pusing tetapi baru pagi ini aku demam dan meriang," jawab Mira.
"Mira, kalau boleh aku tahu apakah kamu pernah berhubungan intim dalam 1 - 2 bulan belakangan ini?" tanya Lusi dengan hati - hati.
"Apa maksudmu Lisa?! Apa kamu mengira kalau aku itu sedang hamil?! Dengar Lusi, aku tidak hamil!" Ucap Mira penuh dengan kekesalan.
"Maaf, Mira. Tapi gejala awal yang kamu rasakan hampir sama dengan gejala awal kehamilan, oleh sebab itu aku menanyakannya. Tapi kalau kau belum pernah melakukannya, berarti tidak masalah, mungkin hanya gejala masuk angin atau flu. Tetapi kalau sekiranya kamu sudah melakukan hal itu sebaiknya, kau segera mengecek ke dokter kandungan, atau kita bisa mengeceknya sekarang juga." terang Lusi.
Mira tahu ia tidak bisa 100 persen yakin jika ia tidak hamil, sebab ia dan Malvin sering kali melakukannya.
"Baik Lusi, aku.... ingin mengeceknya sekarang" ujar Mira akhirnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku pikir itu pun yang terbaik, karena semakin cepat maka akan semakin baik," ujar Lusi sambil tersenyum kemudian ia mengeluarkan alat test pack dari dalam tasnya.
Mira dan Lusi pun berjalan menuju ke arah kamar mandi, dan tak lama kemudian mereka pun mendapatkan hasilnya.
Setelah kepergian Lusi, Mira merenung di kamarnya di tangannya ia memegang strip dengan dua garis merah.
Apa yang harus ia lakukan? Walaupun ia dan Malvin akan menikah minggu depan. Tetapi ia sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Malvin.
Kini Malvin sama sekali tidak perduli padanya. Karena Sejak semalam Malvin pun tidak pernah menanyakan kabarnya, tidak perduli bagaimana ia pulang tadi malam atau dengan siapa.
Tetapi bagaiamana pun Malvin harus mengetahuinya. Akhirnya Mira pun memutuskan untuk menemui Malvin siang ini di kantornya.
...*****...
Di kantor Malvin Dirgantara yang berada di pusat kota, Malvin Dirgantara tampak sangat gusar. Segala sesuatu yang di lakukan anak buahnya tampak salah di matanya. Semua orang yang ada di sekitarnya tak ayal terkena dampaknya juga.
"Apa ini?! Saya minta semuanya untuk direvisi! Saya tidak ingin ada kesalahan! Cepat, baea semua berkas - berkas ini dari hadapan saya!" Bentak Malvin pada para karyawannya yang ada di ruang kantornya.
Semua ketakutan dan langsung mengerjakan apa yang Malvin Dirgantara perintahkan dan segera beranjak dari ruang kantor Malvin.
"Maaf Pak," ujar Darwin yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa lagi Darwin?" tanya Malvin dengan kesal.
"Ibu Mira ada di depan pintu, dan ingin berbicara dengan Bapak." jawab Darwin dengan was - was.
" Mau apalagi Mira datang kesini?" batin Malvin.
"Kamu bilang padanya saya sedang sibuk." cetus Malvin dengan cueknya. Ia benar - benar sedang kesal di sebabkan apa yang terjadi tadi malam.
Bagaimana tidak, Gadis yang selama ini di tunggunya ternyata telah bersama dengan Alexander David Mahendra. Dan David bukanlah sembarangan orang yang bisa ia anggap remeh, namun ia pun tidak bisa tinggal diam melihat Renatta di rebut darinya.
"Tapi Pak, Ibu Mira bilang ini sangat penting sekali dan ia harus segera berbicara dengan Bapak," ucap Darwin.
"Apalagi ini? Apalagi yang amat penting?"
"Darwin, kau lihat kan. Aku sedang tidak ingin di ganggu? Terserah apa yang mau kau katakan kepada Mira, karena aku tidak ingin menemuinya!" Ujar Malvin sambil menyentak - nyentakkan tangannya mengusir Darwin dari hadapannya.
Darwin pun langsung undur diri.
Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih saudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.