
Mobil berhenti di bassement Mahendra Tower.
Rena tambah heran saat mengetahui. Mereka ada di gedung itu. Mau apa mereka berdua ada di kantor? Rena tidak habis pikir namun ia mengikuti saja kemauan David yang membawanya.
Mereka menaiki lift bersama dengan Alvin yang membawa sebuah tas kecil di tangannya.
David ingin tertawa melihat ekspresi bingung dari Rena saat mereka menaiki lift VIP langsung ke roftoop gedung itu.
Keluar dari lift, angin kencang menerpa mereka. Sebuah helikopter telah menunggu mereka di atas helipad yang ada di atas gedung itu.
Rena berusaha berjalan, namun sulit dengan pakaian kebaya dan kain batik yang di pakainya, sehingga David pun menggendongnya di depan.
Rena melingkarakan lengannya di leher David dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher David untuk mencegah angin kencang menerpa wajahnya.
Alvin segera menyusul langkah David dan membuka pintu helikopter untuk mereka. David pun menurunkan Rena di bangku penumpang helikopter.
"Selamat siang Bapak dan Ibu David!" Sapa pilot helikopter dan co - pilotnya dengan sopan saat David masuk dan duduk di dalam helikopter.
"Selamat siang," sapa David balik.
Alvin menaruh tas kecil yang di bawanya ke dalam helikopter.
"Saya tinggal ya Pak, Bu! Selamat bersenang - senang!" Teriak Alvin sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Ia memang harus berteriak, karena suara keras dari baling baling dan mesin helikopter.
"Ya Alvin, terima kasih!" Seru David padanya.
Alvin pun mengangguk dan menutup pintu helikopter, dan membuat suasana di dalam helikopter sedikit lebih tenang.
"David, kita mau kemana?" tanya Rena sekali lagi, karena ia sama sekali tidak mempunyai ide kemana David membawanya.
"Aku membawamu ke suatu tempat yang istimewa, istriku sayang," jawab David sambil mengerlingkan matanya.
"Kamu akan lihat nanti. Sekarang nikmati perjalanannya," ujar David sambil merangkul bahu Rena.
Helikopter mulai take off dan terbang di atas gedung - gedung bertingkat di kota itu, semakin jauh meninggalkan daerah perkotaan ke arah pesisir.
Rena menoleh ke arah David, masih tidak tahu kemana mereka akan pergi dan helikopter terus pergi melewati perairan, berada di atas laut.
"Yang, kita mau kemana? Aku nggak bawa apa - apa loh, nggak bawa baju dan surat - surat indentitas," ujar Rena yang mulai khawatir.
"Kamu tidak membutuhkannya di sana, Sayang." jawab David dengan mudahnya.
"Yang, kamu itu!" Seru Rena, sambil mencubit dada David dengan kesal. " Masa nggak butuh baju?" tanya Rena yang masih kesal.
David mengaduh dan tertawa.
"Tenang sayang, aku sudah menyiapakan pakaianmu di sana. Sedangkan identitas kita ada di koper itu," ujar David sambil menunjuk sebuah tas kecil yang tadi di bawa oleh Alvin.
Rena tampak agak sedikit lega. David memang seseorang yang penuh dengan kejutan dan Rena sadar itu.
Helikopter terus terbang di atas laut dan akhirnya mulai menurunkan ketinggian saat mendekati sebuah pulau. Pulau itu tidak terlalu besar, dengan pasir putih yang mengitari seluruh tepiannya.
Di tengah - tengah pulau tersebut terdapat sebuah bangunan besar bertingkat dan beberapa buah bangunan kecil yang berjarak beberapa puluh meter dari bangunan besar itu. Sebuah helipad terdapat tak jauh dari rumah yang besar itu dan terdapat sebuah plang dengan tulisan yang besar 'Pulau Songong'.
__ADS_1
Rena langsung menoleh ke arah David, yang menahan tawanya melihat ekspresi wajah Rena.
"Yang, itu... nama itu..." ucap Rena terbata - bata.
"Teringat sesuatu?" tanya David sambil mengerling menggod Rena.
"Kita sudah sampai Pak, Bu." ujar sang pilot helikopter itu saat ia sudah mendaratkan helikopternya di helipad dengan sempurna.
Ia pun mematikan mesin helikopter dan baling - baling helikopter perlahan - lahan berhenti berputar.
Seorang laki - laki dan seorang perempuan berjalan mendekati mendekati helikopter dan membuka pintu heli.
"Selamat siang Bapak, Ibu David." sapa seorang laki - laki yang berpakaian safari berwarna biru muda.
"Selamat siang, Yanuar." sapa David sambil tersenyum kemudian keluar dari helikopter.
"Ayo sayang, aku bantu." ujar David setelah ia berada di luar helikopter hendak membantu Rena yang masih memakai kebaya pengantinnya.
Rena pun meraih tangan David, namun lagi - lagi David menggendongnya, dan berjalan masuk menuju bangunan besar yang ada di sana, di ikuti oleh Yanuar membawakan tas yang tadi di bawa oleh Alvin ke dalam rumah.
Selama dalam gendongan David, Rena memandangi sekelilingi pulau.
Pulau songong? Ya Rena ingat pernah menamakan David di handphonenya dengan sebuatan 'Songong'. "Apakah David yang mempunyai pulau ini?" batin Rena.
Yanuar berjalan cepat dan segera membukakan pintu saat mereka sudah mendekati pintu rumah besar itu.
Rumah besar itu adalah sebuah rumah pantai yang di desain modern dengan dinding - dinding kaca yang dapat melihat ke segala arah di pulau itu. Dan di dalamnya sudah berisi perabotan yang sangat lengkap, dari mulai ruang keluarga, dapur, dan kamar - kamar.
"Ini tempat kita, sayang," ujar David sambil menurunkan Rena.
"Perkenalkan Bu David. Nama saya Yanuar, Kepala Asisten Rumah Tangga yang ada di sini. Dan Yuli, salah satu asisten rumah tangga yang ada di sini.Kalau Bapak dan Ibu membutuhkan sesuatu, tinggal hubungi kami melalui interkom, dan kami akan segera datang ujar Yanuar sambil menunjukkan interkom yang terletak di dinding.
"Baik Yanuar. Memangnya Pak Yanuar tidak tinggal di sini?" tanya Rena heran karena ia harus menggunakan interkom untuk memanggil mereka.
"Kami tinggal di pavilliun sebelah sana," jawab Yanuar sambil menunjuk beberapa rumah kecil yang terlihat dari jendela di samping mereka. Cukup jauh sekitar 20 meter dari rumah utama.
Rena menoleh ke arah David dan mendapati David yang hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah, terima kasih.Nanti kalau ada apa - apa akan saya panggil," ujar Rena sambil mengangguk.
Yanuar dan Yuli pun pamit dan undur diri meninggalkan David dan juga Rena.
"Yang," panggil Rena saat Yanuar telah pergi dan David mengajak Rena berkeliling rumah dan menunjukkan kamar mereka.
"Hm? Kenapa sayang?" tanya David sambil menoleh ke arah istrinya yang sedang melihat ' lihat isi kamar mereka.
"Ini punyamu?" tanya Rena.
"Iya, ini punyaku," jawab David sambil mengecup leher Rena dari belakang seraya memeluknya.
"Bukan itu maksudku, Yang," ujar Rena sambil meringis kegelian.
"Maksudku pulau ini. Apa pulau ini punya mu?" tanya Rena sambil menghadap David.
__ADS_1
"Bukan. Punya kamu," jawab David sambil menyentuh ujung hidung Rena dengan jari telunjuknya.
"Punya...ku?" ucap Rena heran.
"Iya. Aku membelikannya untukmu sebagai hadiah pernikahan kita," jawab David.
"Yang bener?" tanya Rena hampir tidak percaya.
"Iya bener. Kapan sih aku pernah bohong sama kamu, sayang," ujar David sambil menempelkannya keningnya di kening Rena.
Rena melepaskan dirinya dari David dab berjalan keluar jendela. Ia melihat hamparan pasir yang ada di luar rumah besar itu.
"Kamu suka, Ren?" tanya David. Tahu - tahu sudah berada di belakangnya.
"Suka. Maksih ya, Yang," jawab Rena.
Lalu, tiba - tiba Rena bertanya, " Kenapa kamu namai pulau ini dengan nama 'pulau songong' ?"
"Biar kamu selalu ingat dengan suamimu, yang angkuh dan sombong ini." jawab David sambil memeluk Rena dan mengecup pipinya.
"Pastinya...." jawab Rena sambil tertawa kecil.
"Apa kamu bilang?" tanya David berpura - pura marah dan mendekap erat Rena.
Rena tertawa dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan erat David.
"Coba bilang sekali lagi!" Seru David sambil menggelitiki Rena dan Rena pun berteriak kegelian dan meminta David untuk berhenti menggelitikinya.
David pun berhenti dan mengatur nafasnya setelah tertawa geli.
"Renatta Azaria, istriku," gumam David sambil memandang wajah wanita yang ada di pelukannya.
Rena tersenyum mendengar panggilan David untuknya.
David pun mendekati wajah Rena dan mendaratakan kecupan manis di bibir Rena.
Rena pun membalas kecupan dari David. Menautkan bibir mereka berdua dan melepasnya.
David hendak meraih candunya kembali, namun Rena mencegahnya.
"Aku mau ganti baju dulu, Yang." ucap Rena sambil melepaskan diri dari pelukkan David.
"Aku juga bisa membantumu, Ren." ucap David sambil menyeringai dan mulai membuka kancing kebaya Rena.
...***********...
HUH.... Author SKIP dulu ah, di lanjutnya besok lagi😃 olah oleng lah pokoknya😂😂😂
Yuk, kasih author sajen vote, hadiah 🌷 dan ☕ author nungguin loh😁
Ingat para readerku, jangan pelit dong kasih tombol likenya dan selalu tinggalkan jejak komentar kalian.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.