Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 100. Gudang Senjata


__ADS_3

Markas Dan Gudang Senjata


Markas lainnya adalah yang dijaga keempat teman lainnya, di sanalah Askelan menyimpan beberapa kendaraan yang sudah dimodifikasi dengan senjata.


Termasuk Rumah Kayu, rumah unik yang dijadikan peristirahatan peninggalan ayahnya di atas bukit itu, pun kini menjadi salah satu markasnya yang dibangun untuk menyimpan senjata dan kendaraan juga.


Awalnya, Askelan sama sekali tidak berniat membuat banyak markas, tapi, mengingat musuh di belakang Dex yang juga kuat, membuatnya berpikir menggunakan cara bergerilya dalam menyusun kekuatannya.


Dia mencari dan menemukan orang-orang yang memiliki musuh yang sama, dan pernah dirugikan oleh Marka dalam bisnis, politik dan keluarga. Dia baru berhasil membangun semua kekuatan itu, setelah lebih dari enam tahun usahanya. Bersamaan dengan bisnis Harrad yang semakin maju di tangannya.


Dex, Mork, adalah anak buah Marka yang sudah tewas karena Askelan, walaupun bukan di tangannya secara langsung, tapi tetap saja semua karena pria itu.


Sementara Marka dan anak buahnya, yang berurusan dengan keempat temannya, masih berkeliaran dengan bebas. Seperti Pit, yang berurusan dengan Marka setelah pria itu membakar toko miliknya, dengan istri dan anak yang masih bayi ada di dalamnya.


Padahal, Pit tidak bersalah, dia hanya membentak Marka karena berkendara secara ugal-ugalan dan hampir menabrak toko, membuat pria itu tersinggung dan melakukan perbuatan keji, tanpa tersentuh hukum. Menurut penyidik, kebakaran terjadi bukan karena disengaja melainkan karena korsleting listrik.


Max, berurusan dengan Marka karena mobilnya ditabrak dengan sengaja, hingga hancur dan meledak, padahal mobil itu dikumpulkan dengan susah payah, dari uang hasil pekerjaan kasarnya selama bertahun-tahun. Dia berniat untuk membahagiakan ibunya dengan mobil itu. Namun, lagi-lagi Marka tidak tersentuh hukum.


Mat dan Greg pun memiliki kisah yang hampir sama dengan Pit, di mana rumah mereka hancur hanya karena kesalahan kecil yang dilakukannya pada Marka.


Namun, Leo lebih mengenaskan, di mana kekasih yang akan dinikahi harus tewas tertembak di tangan Marka, tanpa alasan jelas. Kekasih Leo pergi sia-sia dan pria itu, dengan lantangnya mengatakan jika hanya salah sasaran tembak saja. Sekali lagi, Marka tidak tersentuh hukum.


Sesampainya di rumah Jordan, Lintani diperkenalkan pada Jabie, saat itu dia tengah memasak di dapur, dan bersikap seolah-olah tidak pernah mengenal Lintani sebelumnya.


“Hai, Nona Lin, senang berkenalan denganmu!” kata Jabie ramah, sikapnya tampak begitu alami padahal dia sudah tahu siapa Lintani bagi Askelan dan kelompok kakaknya itu.


“Aku juga, Jabie!” Lintani menjawab sambil menjabat tangan gadis itu erat.


Jabie sudah bersepakat dengan Askelan untuk merahasiakan kejadian di atas atap gedung waktu itu. Jadi, setelah mengetahui jika Lintani akan berlatih menembak, gadis itu protes dan cemberut pada Jordan.

__ADS_1


“Nona boleh berlatih di sini, kenapa aku tidak?” bentaknya pada Jordan.


“Tidak perlu, aku sudah cukup melindungimu!” sahut Jordan.


“Apa mengurungku di rumah, adalah sama dengan melindungi menurutmu? Hah!”


“Ya! Kau tidak perlu berlatih menembak! Di sini tempat paling aman buatmu!” Jordan berkata sambil berkacak pinggang. Dia tidak ingin terjadi apa pun pada Jabie, sebab, kalau adiknya tiada, maka, dia akan hidup sebatang kara.


“Kau curang, aku tahu gudang senjata itu ada di rumah kita, Kak!” kata Jabie lagi, dan Jordan tidak menggubrisnya. Gadis itu boleh saja tahu, tapi, tidak akan bisa membukanya, kan?


Askelan menengahi pertengkaran kedua Kakak beradik itu, “Cukup, biarkan dia menemani istriku berlatih!” katanya dan Jordan akhirnya mengalah, dengan keputusan Askelan.


“Terima kasih Tuan!” kata Jabie setengah berbisik pada Askelan.


Pria itu mengangguk, “Sama-sama, terima kasih sudah menyelamatkan istriku waktu itu!” katanya.


“Tuan, jangan katakan lagi, anggap aku tidak pernah melakukan apa pun pada Nona, kau sudah banyak membantu!”


Lintani tercengang, melihat ruang kecil yang digunakan sebagai tempat menumpuk kayu perapian itu. Ternyata, di sana ada sebuah pintu rahasia yang mengarah ke gudang senjata dan tempat latihan tembak.


Mereka memasuki sebuah lorong pendek, menuruni tangga, dan menyusuri ruang yang sedikit gelap. Jaraknya agak jauh karena berada di bawah tanah, lalu, naik lagi melalui tangga yang lain, dan muncul pada sebuah bangunan luas, lebih lebar dari lapangan bola voli. Dari luar, bangunan itu mirip pabrik yang terbengkalai.


Askelan mengenalkan senjata yang cocok untuk Lintani, mengajarkan bagaimana memasukkan peluru, merangkainya dan cara memegang saat hendak membidik. Semua dilakukan secara berulang-ulang agar gadis itu bisa melakukannya dengan cepat tanpa melakukan kesalahan.


Jabie berada di samping Lintani saat Askelan menunjukkan pelajaran itu, memperhatikan dengan antusias, seolah dia baru pertama kali melihat senjata-senjata itu.


Setelah pelajaran pertama selesai, dan Lintani berhasil melakukannya dengan baik, barulah masuk pada cara menembak, tapi, belum juga dilakukan, dia sudah terlihat lelah.


“Aku haus, dan aku lapar lagi ...” kata Lintani manja.

__ADS_1


Askelan menatap wajah wanita hamil itu dengan lembut, dia pikir akan selesai melakukan tahnik dasar dalam sehari, nyatanya baru belajar merakit senjata saja dia sudah kelelahan.


“Ya sudah. Ayo pulang.” Kata Askelan sambil berlutut, dan menepuk pundaknya memberi isyarat pada Lintani agar naik, karena dia akan menggendongnya.


Sementara Jordan membereskan bekas latihan dengan cekatan, rapi dan menutup semua lemari senjata dengan baik, seolah tidak ada apa pun di balik tembok itu karena tertutup oleh tumpukan jerami kering yang cukup banyak.


Lintani menurut, naik ke punggung Askelan, melingkarkan tangannya di pundak dan meletakkan dagunya di pundak suaminya, saat mereka sudah berjalan menyusuri lorong.


“Apa aku berat?” tanyanya, matanya hampir saja menutup, dia menikmati saat berada dalam gendongan suaminya.


“Tidak berat sama sekali ..., kau terlihat sangat kurus saat pertama kali aku melihatmu, sekarang pun, kau hanya bertambah sedikit.”


“Tidak, aku sudah mulai gemuk waktu kau memaksaku tunggal di rumah sakit. Setelah selesai masalah di kubah putih waktu itu.”


“Oh ya, tapi, kau sama sekali tidak berat.”


“Oh, ya. Aku tidak tahu kenapa Dex bisa jatuh waktu itu, siapa yang menembak? Aku tidak ingat, setahuku kau tidak memegang senjata waktu itu!” Lintani berkata dengan lugas, karena dia tiba-tiba ingat kejadian di atas atap mal.


“Benarkah seperti itu, bukankah Tuan yang menembak Dex?” Jordan ingat cerita dan kesaksian Askelan saat di rumah sakit, setidaknya itulah yang diakuinya. Namun, kini Lintani mengatakan hal yang berbeda.


Dia sudah ada di antara mereka setelah selesai melakukan tugas membereskan tempat latihan. “Oh ya! Setau saya, Tuan juga belum bisa menerbangkan helikopter, bukankah pilotnya tewas?”


“Ya! Sebenarnya ada yang menolongku waktu itu, sayang sekali dia tidak mau disebutkan namanya! Makanya, aku mengarang cerita seperti yang kau dengar dulu.” jawab Askelan.


“Sayang sekali, bukankah dia bisa menjadi anggota kita, Tuan?”


“Kurasa juga begitu!” Askelan menyahut sambil melirik Jabie.


“Baiklah, aku akan menunggunya bergabung suatu saat nanti!” ucap Jordan antusias.

__ADS_1


Bersambung


❤️ Jangan lupa like dan hadiahnya, dukungan kalian adalah semangatku bercerita, terima kasih 🙏❤️


__ADS_2