
Aku Dan Ibuku
Lintani masih ingat ukuran perahu penduduk Rasevan memang kecil, hanya cukup untuk dua sampai tiga orang saja. Jadi, ada kemungkinan Milo—kakaknya, memang menghilang juga dan kemungkinan Marka yang telah melenyapkannya.
Lintani berdiri di depan cermin, meletakkan pistol dan meraih ponselnya. Dia mencari sebuah nama pada situs pencarian, tapi, melihat nama Marka ternyata tidak hanya satu orang, membuatnya menghela napas panjang. Nama mereka semua tidak bisa di tebak apakah Marka itulah yang terlibat atau bukan.
Dia melihat lebih teliti pada ponsel yang kini berhiaskan berlian kecil di keempat sudutnya. Askelan yang sudah menempelkan berlian itu, hingga terlihat begitu cantik dan berkilauan, Lintani menyukainya. Kalau bukan karena suaminya, dia mungkin tidak akan pernah mendapat hal seindah itu. Ada senyum kecil saat melihat handphone-nya yang berkelap-kelip di keempat sudutnya.
“Apa yang harus dia buktikan pada Aston kalau aku mencari dan menemuinya?” tanya Lintani, pada dirinya sendiri. Dia masih berdiri di depan meja rias, dan menatap wajahnya di depan cermin lalu, melatakkan ponselnya kembali.
Lintani tidak akan mengatakan soal pembuktian cinta yang harus ditunjukkan Askelan pada Aston. Sebab kalau pria itu tahu, maka dia tentu akan bersiap-siap. Dia juga ingin tahu apakah Askelan seperti yang ada dalam pikirannya atau tidak.
Lintani meraih pistolnya kembali, berjalan cepat ke luar kamar dan pergi ke teras belakang di mana Pinot kini sudah terikat dengan sempurna pada sebatang pohon.
“Viana ... Viana ...! Lepaskan aku, maafkan aku!” kata Pinot Menghiba.
Lintani menoleh pada semua anak buahnya dan meminta mereka untuk menutup telinga. Semua pengawal pun menurut.
Lintani sedikit membungkuk, lalu berkata pada Pinot, “Dengar! Aku bukan Viana, tapi aku adalah anak kecil yang ditato oleh Kakekku!”
Ucapan Lintani itu secara spontan membuat Pinot menajamkan pandangan matanya dan melihat kedua tangan Lintani yang memegang senjata. Dia sadar kalau di salah satu tangan wanita itu tidak ada sebuah tato seperti di tangan Viana dalam ingatannya.
“Ingat! Kalau ada suamiku bertanya, jangan kau katakan bahwa dia harus membuktikan kejujuran perasaan cintanya padaku, apakah dia tulus atau tidak! Apa kau mengerti?” Lintani berhenti sejenak untuk menarik napas.
“Kalau kau tidak mengerti sekarang, aku akan mengadu pada Ibuku kalau kau adalah seorang yang sudah membunuh semua anaknya!” katanya lagi.
“Jangan! Jangan! Kumohon ....!” Pinot memohon, tapi Lintani tidak peduli dan tetap menodongkan pistol itu ke arah kepalanya.
“Aku tidak peduli walau kau memohon ribuan kali, aku akan tetap melenyapkanmu!”
“Baiklah, aku berjanji!”
Setelah itu Lintani meninggalkan pria yang masih menangis dalam keadaan terikat itu.
Saat Lintani sampai di ruang tamu, Askelan baru saja tiba dan turun dari mobilnya. Dia langsung mendekati dan saling berpelukan dengan pelukan erat seperti biasanya, seolah ingin menyatukan tubuh Lintani pada dirinya.
Askelan membungkuk lalu mengangkat Lintani dalam gendongan ala bridal style, lalu menciuminya sambil berjalan masuk ke kamar. Semua tontonan gratis menunjukkan kemesraan di depan banyak orang kembali terjadi. Baik Jordan, Mo dan semua pengawal harus lebih menyiapkan mental untuk hal ini. Apalagi mereka yang masih hidup sendiri, setidaknya mereka harus terbiasa bila kemesraan seperti itu terulang lagi.
Askelan melepaskan pagutan bibirnya setelah pintu kamar tertutup, lalu duduk di sofa dan menurunkan Lintani pada pangkuannya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Askelan sambil mencium punggung tangan Lintani, dan gadis itu mengangguk.
“Apa ada orang yang mengganggu?” tanya Askelan lagi.
__ADS_1
“Tidak! Hanya sedikit gangguan, mereka menjagaku dengan baik, terima kasih.” Lintani menyahut setelah mengecup pipi kiri Askelan.
“Kenapa kau ada di luar, tadi ... apa kau menungguku untuk makan malam?”
“Ya! Ayo kita makan malam!” Lintani berkata sambil beranjak dari pangkuan Askelan, tapi, pria itu menahannya dengan kedua tangannya yang melingkari pinggangnya.
“Apa tidak ada yang mau kau ceritakan padaku?”
Lintani menatap suaminya dengan alis yang berkerut, dia tahu suaminya itu pasti sudah tahu soal Pinot.
Mengingat semua cerita tadi, membuat Lintani begitu terharu dan merasakan kehadiran Askelan adalah hal terbaik dalam hidupnya. Dia yakin jika pria yang tengah memeluk pinggangnya itu tidak akan menyakitinya.
Tangan Lintani terulur untuk mengusap wajah Askelan, dengan lembut, berhenti di bawah rahangnya yang kokoh, lalu, mencium bibirnya dan memberikan pagutan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Askelan melayani ciuman itu dengan semangat, dia merasakan ciuman berbeda dari istrinya, hingga beberapa saat berlalu sampai Lintani merasa cukup.
“Aku mau bercerita soal laki-laki di teras belakang, apa kau akan menemuinya sekarang?” kata Lintani setelah melepaskan pagutan bibirnya.
“Tidak, ayo kita makan malam dulu!”
Setelah makan malam, Askelan mendatangi Pinot dan memberikan beberapa pertanyaan padanya. Pria itu sama sekali tidak menanyakan soal tanda di tubuh Lintani, atau kebenaran bukit Shaw melainkan, tentang Marka. Apa saja sepak terjangnya selam mereka berkawan dan juga siapa saja yang menjadi temannya selain Pinot.
“Selama di Rasevan, dia tidak memiliki teman lain selain aku, dan dia tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan. Dia mulai terlihat aneh setelah hampir lima bulan berteman denganku, dia mulai bertanya-tanya soal Keluarga Syahrain.” Kata Pinot dengan gemetar.
“Sejak kapan kau mulai curiga Marka pelakunya?” tanya Askelan lagi, sementara Lintani yang ikut duduk di sebelahnya, tetap diam menyimak proses interogasi dengan tenang.
“Sejak dia mengancam akan membunuh Viana. Aku mencintainya maka aku tidak menceritakan jika anak perempuan Viana yang masih kecil itulah, yang mendapatkan tato di tubuhnya. Marka mencari anak itu. Aku tidak bisa membayangkan jika anak itu hilang ... Viana pasti akan sangat terluka.” Pinot menghentikan ucapannya untuk sekedar menarik napas.
“Aku hanya berusaha mencuri benda yang diinginkan Marka, tapi, aku gagal. Lalu, dia tidak lagi datang padaku.”
“Apa yang terjadi setelah itu?”
“Satu persatu keluarga Syahrain hilang, dicari ke mana pun tidak ada. Lalu, Kakek menemukan surat ancaman yang sama seperti yang aku dapatkan. Dari situ aku yakin kalau Marka yang telah melakukan penculikan.”
“Apa yang Kakek lakukan?”
“Kakek menyerahkan diri, dan aku tidak tahu ke mana dia membawanya, mereka semua seperti hilang ditelan bumi. Aku kira Marka meminta dua benda yang diinginkannya dari Kakek, tapi, karena tidak mendapat apa yang di inginkan, makanya dia menghancurkan Rasevan.”
Askelan mengambil kesimpulan bila maksud Marka meledakkan pulau kecil itu untuk memastikan bahwa, tidak ada lagi keturunan Syahrain yang masih hidup, menghancurkan jejak kejahatannya dan juga untuk melenyapkan dua benda yang masih tersisa. Jadi, bisa dipastikan jika suatu saat nanti Aston Shaw sudah wafat, maka dia lah yang akan mendapatkan warisannya.
Takdir sepertinya tengah mempermainkan Marka, dia sama sekali tidak tahu kalau ternyata pewaris yang sesungguhnya masih hidup, yang membawa stempel itu di tubuhnya. Walaupun benda itu hilang sekalipun, tidak akan mengurangi keabsahan dari pemilik bukit Shaw dengan bagian yang lebih besar.
Askelan meninggalkan Pinot begitu saja, dia berjalan sambil menggandeng tangan Lintani.
__ADS_1
“Tuan, apa yang akan kita lakukan padanya?” tanya Jordan setengah berbisik, khawatir jika didengar Lintani.
“Terserah istriku saja!” Sambil mencium punggung tangan Lintani yang ada dalam genggamannya, “Dia yang berhak untuk melakukan apa pun pada orang gila itu!”
“Sepertinya dia tidak gila!” sahut Lintani datar.
“Aku setuju!” kata Askelan, sambil tersenyum pada wanita di sampingnya.
Jordan memalingkan wajahnya sambil mengedikkan bahunya, “Ya, baiklah! Terserah Nona saja!”
“Aku akan bertanya padanya tentang satu hal lagi padanya, barulah akan aku menentukan cara terbaiknya untuk mati!”
Jawaban Lintani, membuat Askelan dan Jordan saling bertukar pandangan lalu sama-sama menyunggingkan senyum tipis disalah satu sudut bibir.
Lintani berbalik, untuk kembali mendatangi Pinot, Askelan dan Jordan membiarkannya.
Setelah sampai di hadapan Pinot, dia bertanya mengapa pria itu mencintai ibunya.
“Aku selalu bergairah jika melihatnya!” Jawabnya, dan spontan membuat Lintani mencabut pistol yang selalu ada di saku celananya, sejak dia mulai mahir menembak.
“Apa kau akan mencintai anaknya juga kalau Viana mau menikahimu?” tanya Lintani lagi.
“Tentu saja, bukankah dia pewaris Cemiton Shaw yang sesungguhnya?”
Dor! Suara tembakan terdengar memecah kesunyian pantai Loyola. Beberapa burung dan kelelawar yang bertengger di pepohonan sekitar pun beterbangan karenanya.
Askelan dan Jordan segera melangkah ke teras belakang, mereka melihat Lintani yang mengarahkan pistol ke kaki Pinot. Pria yang dalam keadaan terikat itu meraung kesakitan karena tangannya berlumuran darah, rupanya tadi, Lintani menembakkan pelurunya ke sana.
Dor! Sekali lagi peluru meluncur ke arah kaki dan, raungan memilukan kembali terdengar dari mulut pria yang sungguh membuat Lintani marah.
“Aku tidak melakukan apa pun pada Viana dan anaknya, aku melindungi Ibumu dan membantu menyelamatkanmu!”
“Tapi, karena kamu semua saudaraku tewas dan aku hidup tanpa Ibu!”
“Aku sama sekali tidak tahu kalau Marka akan melakukan kejahatan, tolong ampuni aku! Kau tidak seharusnya membalas dendam pada orang yang salah, Nak ... Maaf ... aku lupa siapa namamu ... Tapi, kalau memang membunuhku membuatmu tenang, maka lakukan sekarang juga, aku akan menyusul Viana dan minta maaf padanya!”
Lintani membuang pistolnya lalu dia melangkah mendekati Askelan, tubuhnya bergetar karena menahan emosi yang begitu besar.
Askelan membopong Lintani, setelah memberi isyarat pada para pengawal, untuk membereskan pria yang kini tengah sekarat antara hidup dan mati di teras belakang rumahnya.
Bersambung
❤️Jangan lupa Like, komen dan hadiahnya 👍🙏❤️
__ADS_1