Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 49. Kelompok Tak Dikenal


__ADS_3

Kelompok Tak Dikenal


Suara tembakan itu terdengar begitu keras dan peluru memantul di dinding, tepat ketika Askelan yang sedari tadi berlutut menghangatkan wajah Lintani, membungkuk hendak mengangkat tubuhnya.


Seketika Askelan dan Jordan membungkuk lalu dengan sigap Askelan meraih tubuh lemah gadis itu dalam dekapannya sementara Jordan sudah mengeluarkan pistol dari balik jasnya.


Jordan secepat kilat menutup semua jendela dan pintu, lalu mengintip keluar.


“Tuan, mereka tidak saya kenal!”


“Bukan anak buah Dex?”


“Bukan! Mereka memakai mobil yang tidak biasa!”


“Suruh Pit dan anak buahnya ke atas biar mereka mengalihkan perhatian!”


Jordan berpikir, apakah terjadi sesuatu pada mereka, bukankah mereka tadi mengikuti di belakangnya? Namun, mereka tidak ada. Jordan mengaktifkan earphone untuk bicara dengan anak buah setia mereka.


Terdengar suara yang tidak jelas dari alat itu, “Bos, kami masih dalam perjalanan, sebagian dari kami terpaksa jalan kaki, Bos! Hati-hati, ada Van yang mengikutimu Bos!”


“Sekarang aku sedang di tembaki, bodoh!”


“Baik, kami sudah dekat!”


Anak buah Askelan yang berjalan di belakang mobil bos mereka, menyadari jika diikuti, hingga mereka membuat rencana memecah kekuatan lawan yang terlihat lebih profesional dari anak buah Dex. Mereka diikuti oleh tiga mobil Van berwarna biru dengan pita kuning di spion mereka, menandakan mereka sudah merencanakan penyerangan ini sebelumnya.


Anak buah yang sudah terlatih itu sepakat untuk mengecoh dengan satu mobil memutar arah dan satu mobil lagi berhenti seolah-olah macet. Masing-masing mobil diikuti oleh sebuah mobil Van.


Di saat mobil yang macet berhenti, mereka yang di dalam sudah bersiap-siap. Hanya ada satu orang yang turun seakan-akan melihat mesin mobil yang tiba-tiba mati. Mobil Van yang mengikutinya pun berhenti, hingga hanya satu mobil Van yang mengikuti Askelan.


Di saat para penumpang yang ada di dalam mobil Van turun, di saat itu pula anak buah Askelan memberondong mereka dengan senapan, yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Mereka sempat mendapat perlawanan sebentar hingga mobil mereka jadi korban tembakan dan tidak bisa berjalan. Karena jumlah musuh lebih banyak, Pit yang kebetulan ada di mobil itu, mengeluarkan Tomahawk andalannya dan hasilnya, bum! Mobil musuh pun hangus terbakar.


“Lindungi aku, kalau Pit sudah datang! kita keluar sekarang, dan selamatkan istriku!” Ini sudah yang ke sekian kali Askelan menyebut istriku, pada Lintani, membuat bibir Jordan seperti berkedut karena ingin tertawa.

__ADS_1


“Baik, Tuan!”


Askelan dan Jordan tidak membuat pergerakan di dalam gubuk, sehingga musuh menduga jika mereka tewas karena banyaknya peluru yang tadi ditembakkan. Mereka tahu jika saat ini kalah jumlah hingga tidak memberikan serangan balik.


Sekitar enam orang turun dari Van dan berjalan mendekati pondok karena ingin memastikan jika musuh mereka benar-benar mati. Namun, anak buah Askelan yang berjalan melewati kebun, tiba tepat waktu sebelum kelima orang yang semuanya bersenjata itu, baru berjalan beberapa langkah dari mobilnya mencapai anak tangga.


Sadar ada musuh di belakangnya, kelima orang menunduk, membalas tembakan.


Sementara di luar sedang berbaku tembak, Askelan sibuk menyadarkan Lintani dengan memberinya ciuman. Ini cara yang tidak biasa tapi, dia enggan memberikan napas buatan.


“Eum ....” gumam Lintani.


“Kau sudah sadar? Ayo bangunlah, aku tidak bisa melindungimu kalau kau tidur!”


“Siapa yang tidur?” Lintani masih belum sadar, tapi beberapa detik kemudian dia melihat sekeliling dan langsung berdiri dengan mata terbelalak.


Dia langsung berlari menuju pintu, tapi, sesampainya di sana dia mendengar suara tembakan hingga dia menjerit sambil menutup telinga dan menundukkan kepalanya.


Askelan merentangkan tangan untuk mendekap Lintani antara lengan dan dada dan melindungi kepalanya dengan tangan agar kepala gadis itu tetap menunduk. Sementara tangan yang lain sudah mengeluarkan senjata.


Dia heran sendiri dengan perasaannya, karena dia tidak memiliki rasa ingin melindungi sebesar ini pada Haifa. Semua karena Ibunya, dia takut kalau wanita itu marah dan menanyakan di mana istrinya.


Jordan berjalan keluar lebih dulu dengan pistol di tangannya, Askelan mengikuti dengan Lintani dalam dekapannya. Musuh ada di bawah dan demi melihat incaran mereka ternyata baik-baik saja, salah satu di antara mereka segera mengalihkan sasaran pada Askelan.


Namun, Jordan lebih gesit dengan menembakkan pistol ke arahnya dengan cepat, hingga sebelum sempat menembak, dia sudah tewas di tempat.


Askelan berjalan dengan cepat mendekati mobil dan di sekitarnya masih terjadi baku tembak. Jordan segera memasuki lebih dulu, begitu kedua majikannya sudah aman di dalam, dia pun segera menekan gas dan melarikannya kembali ke jalanan.


Tiga orang si antara musuh yang masih hidup memasuki mobil dengan cepat lalu bertindak mengejar Askelan.


Anak buah Jordan yang masih tertinggal karena mobil mereka rusak mengumpat kesal , menghubungi anak buahnya di mobil yang lain dan masih kejar-kejaran, mereka harus kembali.


Pit segera berlari ke gudang bawah tanah, membuka gembok besarnya dan mengeluarkan mobil Hammer koleksi lama majikannya dari sana.

__ADS_1


Semua anak buahnya yang terdiri dari tiga orang berloncatan dengan cepat ke arah mobil yang berjalan keluar gudang.


“Maaf Bos! Koleksimu terpaksa aku bawa!” Gumamnya sambil menyeringai dan menekan pedal gas dalam-dalam mengejar ketinggalan mereka yang sudah cukup jauh.


“Mungkin kita akan kena tampar setelah ini!” kata anak buah yang lain.


“Atau kita akan habis dipukuli!” kata yang lain lagi.


“Aku rasa tidak kali ini!” sahut Pit, sementara mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi.


“Apa alasannya?”


“Terpaksa, demi melindungi Nona!”


“Apa kau yakin itu akan berhasil?”


“Ya!”


Sementara itu di dalam mobil, Askelan tetap mendekap Lintani dengan sebelah lengannya sambil menutupi telinga gadis itu untuk melindunginya dari kerasnya suara tembakan. Sementara sebelah pipinya menempel di dadanya dengan matanya yang terpejam.


Ternyata musuh bisa menyusul mobil yang dikendarai Jordan itu hingga ke samping untuk mendesak mereka. Askelan meraih pistol dengan cepat lalu, membidikkan senjata ke samping sebelum mobil sempat berada pada posisi sejajar.


Beberapa kali baku tembak terjadi, dengan sigap pria itu menembakkan pistolnya hingga musuh akhirnya bisa di atasi setelah Askelan menembak roda mobil mereka.


Jordan tetap fokus mengemudi karena berkendara dengan kecepatan tinggi tidak bisa sambil menembak. Dia tidak boleh mencelakai Lintani. Setelah Jordan melihat dari kaca spion, ada mobil Hammer mendekati mobil musuh dan mencegatnya, dia menjadi lebih tenang, karena anak buah sudah mengatasi keadaan.


Kini anak buah itu yang harus berhadapan dengan musuh yang ada di dalam Van dan orang-orang yang tersisa di dalamnya.


Setelah jauh dari lokasi berbahaya dan berhasil menghindari musuh, Askelan masih memeluk Lintani dengan posisi yang sama di dalam mobil. Perempuan itu mencoba mengintip sedikit, apa yang terjadi di luar sana. Dia takut membuka mata karena Askelan memintanya untuk tetap memejamkannya dan menunduk.


Dia melihat bagaimana Pria itu menembak lawan yang ada di dalam mobil yang tengah mencoba menabrakkan mobil mereka, dengan tepat, hingga orang itu tewas seketika, lalu, menembak ban mobil hingga tidak bisa menyusul dalam keadaan tetap memeluk dirinya.


Setelah tidak lagi terdengar suara tembakan, Lintani mulai berani mendongak dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, yang tampak pertama kali di matanya adalah wajah Askelan. Pria itu terlihat serius dengan rahang yang mengeras, seolah beban barat menggantung di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2