Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 85. Kenapa Kau Bertanya


__ADS_3

Kenapa Kau Bertanya


“Kenapa kau bertanya seperti itu, apa kau pernah berselingkuh dariku, dan sekarang kau ragu itu anakku atau bukan?” Askelan balik bertanya, membuat Lintani memalingkan muka sambil tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


“Tidak, aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain, setelah pria yang ... itu ... kecuali, denganmu!” Lintani menyahut dengan wajah yang memerah dan pipinya menghangat, perasaannya berada dalam dua sisi antara sebal dan malu.


“Jadi, kau hamil anak siapa?”


“Tentu ini anakmu!” Kata Lintani sambil mengusap perutnya yang masih rata.


“Kalau begitu, kemarilah ...!” kata Askelan kembali bernada lembut, sambil merentangkan kedua tangannya.


Lintani melihat dengan ragu, Askelan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lembut, membuat gadis itu menggeser badannya mendekat dan kemudian, bersandar di dadanya.


Askelan merapatkan pelukan, lalu membenamkan wajah di leher Lintani, seraya berkata dengan suara sedikit bergetar.


“Aku tahu, bayi itu anakku, kan? Jangan berkhianat padaku, atau kau akan melihatku mati dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan!”


Lintani merasa aneh, sebab biasanya orang yang diancam dengan kematian, adalah orang yang berkhianat. Namun, Askelan mengatakan dengan jelas bahwa dia justru mengancam akan membunuh dirinya sendiri, menunjukkan rasa bersalah dan penyesalan yang begitu dalam.


‘Kenapa dia bicara seperti itu, apakah karena ibunya pernah dikhianati sebelumnya? Begitu besarkah luka dihatimu karena laki-laki yang disebut Ayah?’ batin Lintani.


“Tuan Askel, biasanya kata setia atau berkhianat itu hanya pantas untuk dua orang yang saling mencintai, kau jangan terlalu berlebihan!”


Askelan mengendurkan pelukan, menatap lekat tepat di bola matanya sambil mengusap pipi Lintani dengan lembut.


“Apa kau tidak mencintaiku?” Askelan bertanya dengan serius. Namun, Lintani kembali diam, dia enggan menjawab karena khawatir jika perasaannya, hanya bertepuk sebelah tangan.


“Aku mencintaimu, Lintani Syahrain dari Rasevan!” Lalu dia mencium bibir mungil sedikit tebal milik Lintani, sekilas. Pria itu sepertinya tidak membutuhkan jawaban, dia memang tidak peduli Lintani akan membalas cintanya atau tidak.


Mereka masih saling bertukar pandangan.


“Jadi, kau mencintaiku walau aku pernah tidur dengan laki-laki lain?”


“Ya, itu ... karena kau melakukannya atas dasar paksaan, bukankah begitu?”


“Ya, aku tidak akan berkhianat padamu, Tuan!”

__ADS_1


Askelan kembali menarik tubuh Lintani dalam pangkuan dan memeluknya seraya berkata, “Panggil namaku, dan ... jangan panggil Tuan, oke?”


Lintani masih terdiam, dia masih waspada jika suatu saat akan dihempaskan, setelah dibuat sebahagia ini oleh Askelan.


Pria itu hendak mencium bibir Lintani kembali, saat tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dan, beranjak dari pangkuan suaminya. Dia dengan cepat berlari ke kamar mandi, untuk muntah. Lintani sengaja menyalakan shower agar suara yang keluar dari mulutnya, terdengar tidak begitu jelas.


Askelan dengan cepat turun, melangkah perlahan menuju kursi rodanya dan, menunggu Lintani di depan pintu sampai selesai.


Wajah Askelan terlihat keruh karena kuatir bila hal buruk terjadi. Walaupun, jarang bergaul dengan para wanita, tapi setidaknya dia tahu jika wanita hamil, akan mengalami mual dan muntah di beberapa kondisi. Memang tidak semuanya, tapi, rata-rata demikian adanya.


Sementara kakinya sebenarnya sudah kuat untuk berdiri beberapa jam, dalam sehari. Akan tetapi, dokter melarangnya dengan keras agar pulih dengan cepat dan sempurna.


Seandainya dia terus memaksakan diri, kemungkinan tulang akan retak kembali. Retakan tulang di mata kakinya memang kecil, tapi, tetap saja sakit dan apabila tidak diobati, imbasnya akan terasa di kemudian hari.


Dokter ahli Tulang, sudah memberi obat dan suntikan kalsium dengan dosis tinggi, pada Askelan. Namun, tetap saja setiap obat harus menyesuaikan jumlah dosis dengan kekuatan fisik si penerimanya. Sebab ada kalanya sebuah obat tidak bisa ditolerir oleh tubuh dalam dosis tertentu. Kekuatan menerima pada setiap manusia pun berbeda-beda pula.


Askelan ingin masuk dan melihat seburuk apa mual yang di alami kekasihnya, tapi, Lintani mengunci pintunya. Sementara menunggu, dia menghubungi Jordan untuk memastikan jika Haifa tidak lagi muncul di sekitar dirinya. Lalu, meminta Mo untuk membawakan sarapan mereka ke kamar.


Lintani keluar setelah selesai membersihkan diri, dengan keadaan segar dan tubuh yang berbalut bathrobe.


“Sudah selesai?” tanya Askelan tepat di depan pintu, hingga menghalangi jalan.


“Apa kau lemas atau masih mual?” tanyanya lagi.


“Aku baik-baik saja, jangan kuatir.” Padahal jelas sekali wajah Lintani pucat pasi.


“Ayo! Duduk di sini sini!” kata Askelan begitu mengiba. Seandainya kakinya tidak terluka dia pasti akan menggendong Lintani sampai ke tempat tidur, tapi, dia tidak bisa, hingga meminta gadis itu untuk duduk di atas pangkuannya.


“Untuk apa? Aku bisa jalan sendiri,” sahut Lintani hampir melangkah tapi, Askelan menarik pinggangnya hingga dia pun terduduk di sana.


“Ah! Turunkan aku!”


“Rasakan!” kata Askelan sambil tersenyum dan kembali berkata, “Aku yakin kau belum pernah merasakannya!”


Kursi roda sudah berjalan secara otomatis, dengan Lintani dalam pangkuannya.


“Merasakan apa?”

__ADS_1


“Berjalan dengan kursi roda!”


Askelan membawa Lintani keliling kamar dengan kursi itu, sementara kedua mata mereka terus saja saling menatap, hingga Askelan menghentikan laju kursinya.


“Sudah puas berkeliling, Elan?” tanya Lintani.


Saat itu, Askelan sempat menautkan alis karena berpikir tentang panggilan Lintani pada dirinya, tapi, sejenak kemudian dia mengangguk sambil tersenyum. Sementara Lintani turun dari pangkuannya.


“Kau sudah tidak pusing lagi, kan?”


Lintani menggeleng, sementara Askelan menjalankan kursi ke arah meja kecil dan mengambil remot, menekan salah satu tombol hingga terbukalah, sebuah dinding di dekat pintu kamar, dengan cara bergeser.


“Kemarilah, di sini pakaianmu!” Askelan mengajak Lintani ke sebuah ruangan yang tidak terlihat dan pintunya mirip dengan tembok. Di sana berjajar beberapa lemari pakaian yang transparan, penuh dengan bermacam perlengkapan, mirip seperti toko serba ada. Lebar ruangan itu hampir sama dengan ruang tempat tidur mereka dan terletak tidak jauh dari kamar mandi.


Lintani tertegun sejenak, pantas saja semalam, dia tidak tahu dari mana Mo membawakan ganti piama saat mengganti baju yang terkenal kotoran dari isi perutnya.


“Apa lagi yang kau rahasiakan, selain lemari pakaian ini, Elan?”


“Yang aku rahasiakan? Dirimu!”


“Aku? Kenapa aku harus kau rahasiakan?”


“Karena kau kekasihku dan tidak ada seorang pun yang boleh memilikimu selain aku!”


Lintani tertawa kecil, hatinya berbunga-bunga, tapi, sejenak kemudian kembali mode waspada. Orang seperti Askelan bisa memiliki wanita di mana saja dan kapan saja.


“Apa kau menyimpan senjata juga di sini?” Lintani berkata sambil memilih pakaian dalam dan memakinya, dia sebenarnya hanya bercanda.


“Ya!” Askelan menyahut sambil membuka laci di balik pakaian yang tergantung secara rapi, mengambil satu senjata dan memperlihatkannya, “Kalau kau mau, kau boleh memiliki satu saja, saat kalau kau ingin membunuh seseorang!”


Lintani kembali tersenyum pada pria itu, dia merasa tidak memiliki seorang pun musuh dalam hidupnya. Kalaupun keluarga Lux jahat dan keterlaluan, dia sama sekali tidak menaruh dendam pada mereka. Tanpa Lintani tahu, keluarga itu sudah dipaksa pergi oleh Jordan. Kalaupun mereka tetap kukuh untuk tinggal, maka mereka harus menghindar saat bertemu dengan Lintani atau Askelan, di mana pun berada.


“Aku tidak mau membunuh seseorang, memangnya siapa yang harus ku-bunuh?”


“Mungkin, aku!”


Lintani yang kini masih mengancingkan kemejanya pun, menatap Askelan penuh tanda tanya, dia pikir, kenapa harus membunuh Askelan?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2