
Wanita Yang Tidak Ternilai 2
Askelan mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, saat dia meninggalkan toko Shane, seolah tidak bertenaga. Pikirannya masih tertuju pada pengakuan pemilik toko. Walaupun, wanita itu mengatakan tujuan kepergian istrinya, dia tetap tidak percaya.
Dia tahu daerah Rasevan, danau yang diakui Lintani sebagai tanah kelahirannya. Tempat itu, sebenarnya hampir tidak berbentuk lagi. Setelah terjadi ledakan besar sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Jadi, untuk apa Lintani pergi ke sana? Pikir Askelan, sebab dia tidak akan menemukan satu pun dari keluarganya yang masih hidup. Mungkin dirinyalah satu-satunya keturunan Syahrain yang ada.
Kini Askelan memutuskan kembali pulang dan untuk sementara waktu, dia hanya mengandalkan Jordan serta, anak buah lainnya.
Dia bukannya menyerah atau tidak mampu untuk mencarinya, tapi, hatinya masa membutuhkan jeda dan tubuhnya terlalu lelah karena sudah berhari-hari tidak tidur. Jadi, dia masih butuh istirahat. Baru kali ini dia merasakan dari sesaknya rasa kehilangan.
“Di mana kau, hadis bodoh? Awas kalau aku menemukanmu!” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Jadi, ini yang kau bilang menghormati Ibuku? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku?” Askelan memukul setirnya saat bicara.
Sesampainya di rumah, Askelan duduk di ruang tamu sambil mengamati kotak kecil hadiah dari Lintani. Dia membuka bungkusnya perlahan dengan perasaan tidak menentu, yang dia sendiri tidak tahu dinamakan apa perasaan seperti itu.
Hadiah itu dibungkus dengan kertas jagung polos yang bagus, kotaknya bergambar dan ternyata isinya adalah ikat pinggang yang sama persis dengan gambarnya. Ada selembar kertas yang sepertinya sebuah surat dengan tulisan tangan.
“Tuan, hadiah ini mungkin tidak berarti karena kau memiliki barang yang jauh lebih bagus, tapi, ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku dan memberiku 50 ribu dolar. Lintani Syahrain”
Askelan membaca sambil tersenyum, tiba-tiba saja dia merindukan kehadiran Lintani. Dia membolak-balikkan bungkus kotak dan ada tulisan lain di sana yang sepertinya sudah di coret, dia meneliti dengan hati-hati tulisan yang tidak jelas.
Namun, dia berhasil membacanya yang kurang lebih berisi, “Tuan, hadiah ini aku beli dengan uangku sendiri”
Kali ini wajahnya menggelap dan masam, tiba-tiba saja ada rasa sakit di jantungnya, menimpa rasa sakit yang diakibatkan kematian ibunya. Askelan pikir gadis itu lucu, menggemaskan, sekaligus melukai harga dirinya.
__ADS_1
Seharusnya Lintani tahu kalau pria itu begitu menyesali dirinya, yang tidak sempat memberikan uang kompensasi dan mengusirnya di rumah sakit. Askelan menganggap Lintani tidak menghargai dirinya, karena menolak uang sebanyak itu dengan alasan ketulusan, padahal dia sendiri sedang tidak mempunyai uang.
Ditambah lagi saat pria itu mengetahui sebuah kebenaran. Memang, dia awalnya menganggap Lintani sebagai wanita yang suka bersenang-senang, bahkan rela menjadi wanita malam, hanya demi uang.
Namun, di saat yang sama dia mengetahui dengan mata kepalanya sendiri jika uang yang dia minta dari sebagian kompensasinya itu, ternyata untuk memenuhi keinginan Rauja. Kini dia benar-benar ingin memeluknya lagi.
“Ada apa dengan diriku, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini, bahkan kepada Haifa!” gumamnya sambil merentangkan ikat pinggang. Dia memakainya. Setelah itu, melipat surat dan menyimpannya di meja kecil dalam kamar lalu, dia tertidur.
\*\*\*\*\*\*
Lintani berdiri di sebuah ruangan besar berbentuk kubah bercat putih yang bagus. Dindingnya sebagian terbuat dari kaca tebal dan bersih hingga bisa digunakan untuk melihat pemandangan laut yang cukup indah.
Deburan ombaknya keras dan tinggi, menunjukkan jika bibir pantai itu curam. Hampir tidak ada tempat untuk melarikan diri. Dindingnya anti peluru serta memiliki sistem buka tutup memakai komputer sensor yang memindai retina mata.
Jarak bangunan berbentuk kubah besar itu dari jalan raya sungguh jauh, bisa di katakan tak terjangkau teropong atau kamera pengawas keamanan, meski masih berada di kawasan pesisir pantai, di sebelah barat daya Kota Hil.
“Kenapa?” tanya pria itu sambil mencolek dagu Lintani. “Apa aku menyeramkan?”
Lintani diam, sudah lebih dari seminggu dia di sekap oleh Dex. Di tempat itu dia tidak kekurangan apa pun, semua makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya bisa dia dapatkan dengan mudah, dia bisa menikmatinya kalau dia mau, bahkan berjemur di tepi pantai. Namun, yang tidak dia dapatkan adalah kebebasan. Ke mana pun dia melangkah pasti ada pengawal menemaninya, walaupun itu ke kamar mandi. Ada pengawal di luar pintunya. Dia memang diperlukan bak putri raja, tapi, dia tidak suka.
Lintani telah kehilangan sesuatu yang paling penting di dunia bagi semua mahkluk Tuhan yaitu, kebebasan. Bukankah kebebasan itu hak asasi, kalau tidak penting mengapa kebanyakan manusia menyuarakan dan memperjuangkan kebebasannya di mana-mana? Seperti kebebasan memilih, bekerja atau bepergian dan lain sebagainya.
“Aku hanya lebih tua beberapa tahun lebih tua dari Askelan!” kata Dex lagi sambil mengusap rambutnya.
Dex kini duduk di sofa yang mengarah ke jendela, seraya berkata, “Lagi pula aku tidak jelek!”
Lintani tetap diam, dia jijik dengan pria ini, yang terlihat jelas berusaha merayu dirinya.
__ADS_1
Dex ingin menikah dan menikmati tubuh Lintani. Baginya gadis itu menarik dan seksi. Dia seharusnya bisa menggunakan cara paksa atau mengancamnya, dengan sesuatu yang bisa menghancurkan hidupnya tapi, tidak bisa.
Lintani bersih dan tidak punya keluarga, sehingga Dex tidak tahu, harus menggunakan ancaman seperti apa agar gadis itu mau melayani napsunya, dengan sukarela.
Pria itu ingin bercinta dengan indah dan penuh kesenangan, bukan dengan paksaan. Selain itu, dia memang memiliki tujuan. Dia tidak tahu, kenapa Si Tua Marka memintanya menahan gadis ini untuk beberapa lama, sampai dia datang berkunjung dengan catatan, Dex sudah bisa menaklukkannya.
Ah! Yang benar saja, mau sampai kapan? Gadis ini keras kepala! Padahal jelas-jelas dia sudah tidak suci lagi. Dia pasti sudah pernah melakukannya dengan Askelan selama ini, tapi, lihat! Dia tetap sok mempertahankan harga dirinya, yang sudah tidak berharga lagi! Pikir Dex.
Marka akan mengatakan alasannya dan akan membuat Dex lebih bahagia, asalkan dia bisa membuat Lintani dengan suka rela menyerahkan tubuhnya atau setidak-tidaknya menjadi istrinya.
“Ingat Tuan, kau sudah memiliki istri! Bahkan Nyonya Nazaret jauh lebih cantik dariku!” kata Lintani.
Saat ini, di ruangan yang besar dan memilik sedikit perabotan itu, hanya mereka berdua. Tidak ada pengawal di dalam kalau Dex sedang ada di sana.
“Oh, dia memang cantik, tapi aku mencintaimu, sungguh, aku tidak bohong!”
Dex tentu berpikir dengan otaknya, dia tidak bodoh, meski tidak bisa menyamai kepintaran Askelan. Setidaknya-setidaknya dia tahu kalau ada sesuatu dalam diri gadis itu, sehingga Marka pernah berusaha menculiknya, bahkan dia tidak peduli walau harus membunuh Askelan sekalipun. Namun, usaha penculikan itu gagal total oleh kepiawaian anak buah Askelan.
Selama ini Dex dalam kekuasaan Marka, hingga dia tidak punya kebebasan untuk mengekspresikan diri. Dia anak yang dididik dan diberi pekerjaan oleh pria itu dengan penuh kasih sayang. Bisa dikatakan kalau bukan karena Marka, Dex tidak akan bisa sekaya sekarang.
Dalam pikiran Dex, Marka tidak akan memberi perintah seperti ini kalau Lintani hanya wanita biasa. Tentunya dia adalah wanita yang tidak ternilai hingga tidak boleh di paksa dan, harus diperlakukan dengan lemah lembut sampai dia jatuh cinta.
“Mau sampai kapan Anda menyekap saya di sini?” tanya Lintani, ikut duduk di sofa, dengan jarak yang cukup jauh.
“Itu, tergantung!”
“Maksudnya?”
__ADS_1
Bersambung