
Kelopak Mawar
“Baklah, aku akan menunggu kabar darimu, kuharap berita itu akan datang secepatnya!” kata Yasmin sambil berdiri dan mendorong kursi roda Aston perlahan meninggalkan rumah Askelan.
Askelan menatap kepergian dua orang yang masih memiliki hubungan darah dengan istrinya itu dengan pandangan kosong, dia bisa saja memaksakan diri untuk bertemu Lintani. Mengajak Aston serta Yasmin ke sana, tapi, dia tidak bisa seenaknya saja, sebelum meminta izin kepadanya. Pria itu mengingat pesan Mo, bahwa Lintani suatu saat akan menemuinya bila saatnya tiba.
Mo memang tidak bertanya pada Lintani waktu dirinya diminta pergi secara diam-diam dan meminta sopir yang biasa mengantarnya ke pasar untuk pergi ke pantai Loyola. Wanita itu merasa tidak enak hingga dia hanya menulis sebuah surat, sebab kalau menghubungi Askelan melalui ponselnya sangatlah tidak mungkin. Dia hanya melihat Lintani begitu sedih walaupun tidak menangis.
Jadi, begitulah sekarang, Mo selalu menghubungi Askelan, saat Lintani berdiam diri di pantai, di temani Pinot, yang begitu senang saat wanita itu memintanya untuk, menceritakan tentang ibunya.
Askelan segera menerima panggilan dari Mo saat kedua tamunya sudah menjauh dari rumahnya.
“Halo! Bagaimana kabar Nona sekarang?” tanya Askelan terlihat tidak sabar.
“Nona baik-baik saja, Tuan. Masih menghancurkan bunga kiriman Tuan seperti biasanya. Tunggulah, dia masih belum mau melihatmu!” kata Mo di teras vila sambil melihat ke arah Lintani yang menyebarkan kelopak mawar di pantai.
“Katakan padanya, kalau Aston mencarinya!”
“Baiklah, tapi, siapa Aston? Apa dia sainganmu, yang bisa meluluhkan hati Nona?”
“Bukan! Dia Kakeknya!”
“Aatagah, Nona masih memiliki seorang Kakek? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku, Tuan?”
“Dia baru menemukannya, belum lama ini?”
“Menemukan? Kau bicara seperti dia barang yang hilang saja!”
“Aku berkata benar, dia Kakeknya ... apa kau tahu cerita tentang Bukit Shaw yang tidak boleh di sentuh karena di pagar listrik?”
“Ya!”
“Istriku adalah pewarsnya!”
“Apa?” Mo bagai di sambar petir begitu mendengar ucapan Askelan, dia tidak habis pikir bagaimana Lintani menyimpan rahasia sebesar ini, padahal dia hanya di kenal sebagai residivis wanita, bahkan dianggap tidak berarti.
__ADS_1
“Tuan, kalau begitu. Kau adalah orang yang tepat menjadi pendamping di sisinya, seperti kata Elle waktu itu!”
Askelan pun mengingat bagaimana Elliyat sering sekali mengatakan bahwa, Lintani orang yang paling tepat untuk dirinya, begitu juga sebaliknya.
“Ya aku ingat.”
“Kalau begitu Nona harus kembali secepatnya pada Tuan!”
“Itu tugasmu!”
“Ya! Aku tahu, tapi, kau juga tidak mengabaikannya, kan?”
Mo semakin mengerti kondisi tuan dan nonanya sekarang, hingga ia punya inisiatif untuk meluluhkan Lintani agar mau kembali pada Askelan secepatnya. Dia membutuhkan pendamping di sisinya. Apalagi berada di dekat suami adalah hal terbaik bagi seorang istri.
“Tentu saja tidak, ada banyak pasukanku di sekitarmu, kalau kau menyadarinya?”
“Oh ya, Tuan. Apa kau yang meminta Nona tinggal di tempat ini? Sebenarnya tempat ini agak sulit untuk menjaga keamanan karena terlalu luas dan tidak berbatas pagar.”
“Ya! Kau benar ... tapi, aku tidak pernah meminta istriku tinggal di sana tanpa aku, dia masih marah dan butuh suasana segar, jadi biarkan saja. Sebenarnya aku mempersiapkan apartemen kalau dia tidak mau bertemu, aku tidak ingin dia pergi.”
Askelan menutup telepon, dan dia kembali ke ruang kerja, dia memikirkan Lintani di sana dan mengirimkan pesan pada toko bunga langganannya untuk kembali mengirimkan bunga sebanyak tiga kali dalam sehari ke vila-nya di Loyola.
Di lain tempat, pemilik toko bunga kegirangan sekaligus kebingungan, bunga apa lagi yang akan dia kirimkan ke sana. Diam-diam dia kagum dengan usaha pria yang misterius itu, dalam meminta maaf pada kekasihnya. Sangat beruntung wanita yang memiliki pria seperti itu dalam hidupnya, terus memikirkan wanitanya yang marah.
********
Di tempat lain, Lintani tengah berjalan mendekati villa setelah puas menatap laut dan menebarkan kelopak mawar. Perasaannya berkecamuk setiap selesai melakukannya, antara kecewa, marah, sedih, dan juga rindu.
Dia menginginkan semua yang sering dilakukan Askelan padanya, pelukan, sentuhan di seluruh kulitnya, ciuman bibirnya yang kuat, serta dipangku di atas pahanya yang kokoh. Dia ingin semua itu.
Seperti inikah rasanya rindu pada kekasih? Pikirnya.
Dia pernah merindukan ibunya sejak awal perpisahan mereka, tapi, dia menjadi patah hati dan kemudian membenci, hilang sudah kerinduan itu, bahkan dia begitu bersedih saat mengingatnya.
Namun, kerinduan pada Askelan berbeda, awalnya dia benci dan marah, karena pria yang mengaku cinta itu melakukan kebohongan yang begitu besar padanya.
__ADS_1
Bagaimana tidak marah kalau melihat kenyataan bahwa pria yang sebenarnya begitu dibencinya selama sekian tahun itu adalah orang yang sama yang saat ini sangat dicintainya.
Dia butuh waktu untuk menerima semua kenyataan seperti itu, sungguh kenyataan yang sangat tidak enak setelah mengetahui semuanya begini, dia harus benar-benar bisa menetralisir hati jika melihat Askelan nanti bukanlah pria di atas bukit melainkan pria yang dicintai.
“Bukankah tidak ada yang datang secara tiba-tiba di dunia ini, bahkan bayi pun harus melalui fase hidup, di mana dia tidak bisa langsung dewasa saat lahir?” hiburnya dalam hati.
“Apa Nona mau mandi?” tanya Mo saat melihat Lintani berjalan memasuki villa. Untung saja dia sudah selesai menelepon Askelan tadi.
Padahal, Lintani sudah tahu, bahwa Mo dan semua pelayan di sana bagaikan mata-mata dan menghubungi Askelan untuk melaporkan apa pun yang dialukannya.
Lintani mengangguk pelan, begitulah wanita itu sejak keluar dari rumah, dia menjadi sangat pendiam dan lebih banyak mengangguk atau menggelengkan kepala saat menjawab.
Lintani berjalan ke kamar yang dulu pernah dia tempati bersama Askelan. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Bibi, apa kau bisa memotong rambutku?”
“Tentu, Nona!”
Tanpa menunggu perintah dua kali, Mo segera mempersiapkan alat potong rambut yang tentu saja sudah tersedia di sana, dia menarik kursi pada sebuah karpet dari plastik sebagai alasnya.
“Kau ingin rambutmu di potong sampai mana, Nona?” tanya Mo sambil melepaskan untaian yang masih rapi itu dan menyisirnya.
Lintani diam, dia membayangkan wajah anak perempuannya sambil memejamkan mata, mencoba memasuki mimpinya, lalu menebak apa yang akan dikatakan putrinya itu jika bertemu.
Dalam pikirannya terbayang seorang anak kecil berlari sambil menggoyangkan rambut sebahu dan tersenyum padanya sambil melambaikan tangan. Itulah yang dia mimpikan terakhir kali, beberapa hari yang lalu.
“Potong sampai bahuku!”
Mo tercengang sejenak, sebelum kemudian menyahut, “Ya, baiklah!”
“Sayang sekali rambut sepanjang ini harus dipotong menjadi begitu pendek! Apa benar mitos memotong rambut untuk buang sial atau menandakan jika seseorang sudah bangkit dari kesedihan? Ah, yang benar saja!” kata Mo dalam hati.
“Bibi, kau tahu rumah sakit di pinggir kota dekat penjara?” tanya Lintani saat Mo mulai menggerakkan gunting.
Bersambung
__ADS_1
❤️❤️❤️ jangan lupa tinggalkan jejak👍❤️❤️❤️