Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 115 Adu Kekuatan 2


__ADS_3

Adu Kekuatan


Gerakan Askelan sangat cepat mendorong tubuh Marka yang duduk di kursi, hingga terjangkang ke belakang dan kepala bagian belakangnya membentur lantai kapal. Akh! Itu pasti sakit sekali. Pistol di tangannya pun terlepas.


Gerakan mendadak itu diikuti semua kawanan Askelan dengan memilih lawan yang terdekat.


Masing-masing orang berduel satu lawan satu.


Marka segera menyadari keadaan, hingga dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Askelan, dengan meninju rahangnya sekuat tenaga. Posisinya yang berada di bawah, membuatnya kesulitan bergerak. Dalam hati dia merutuk dirinya sendiri. Walaupun, dia berhasil memukul, tapi, hasilnya tidak sebanding dengan apa yang dia dapatkan kemudian.


Askelan yang berada di atas, tentu saja lebih unggul, hingga dia lebih mudah membalas pukulan.


Marka tidak kehabisan akal, dia membenturkan kepalanya sekuat tenaga ke dahi Askelan, hingga otomatis dia kesakitan, cengkeramannya sedikit mengendur, dan memungkinkan Marka bisa membebaskan diri.


Namun, belum sempat pria tua itu sempat berdiri dari kursi yang terjungkir, Askelan merik tubuhnya kembali. Dan kini dia berada di atas tubuh Marka yang terjerembap secara mengenaskan.


Dia tidak bisa bergerak karena masih dalam posisi duduk, saat kursi terbalik ke belakang dan dirinya berada di atasnya. Askelan segera meraih pistol itu dan menodongkan di leher Marka. Sementara satu tangannya yang lain, menekan dada pria tua itu hingga tidak bisa bergerak.


“Katakan, sekarang apa kau masih bisa meremehkan aku, Pak Tua?” tanya Askelan dengan jarak yang sangat dekat dan suara yang rendah, membuat suasana semakin menegangkan.


Marka memalingkan wajahnya sambil menyeringai, kalau soal tenaga, umur dan stamina, tentu mereka sangat jauh berbeda, Askelan lebih segalanya, tetapi, dari segi kelicikan dan tipu daya, tentu saja pria tua itu lebih banyak pengalamannya.


“Apa kau pikir bisa mengalahkan aku semudah ini? Kau salah anak muda. Aku tidak bodoh!”


“Aku tidak pernah menganggapmu bodoh, aku tahu kau licik!”


“Kalau begitu, bunuh aku sekarang juga, ayo! Bunuh aku!”


“Tidak, bukan aku yang akan membunuhmu, kau harus merasakan seperti apa yang dirasakan semua orang di Rasevan!”

__ADS_1


“Memangnya, apa yang aku lakukan pada mereka, aku tidak melakukan apa-apa!”


“Kau bohong!”


“Kalaupun aku berbohong, itu tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Kau tidak memiliki hubungan apa-apa, kan? Mereka semua tewas sebelum kau menikahi perempuan itu! Jadi, untuk apa kau repot-repot? Hah!”


Mendengar ucapan tidak berperikemanusiaan itu, Askelan mengangkat sedikit gagang pistol dan memukulkannya pada Marka berulang kali, tanpa perlawanan berarti. Setelah puas, dia mendudukinya, dengan kedua tangan mencengkeram kerah kemeja mahal Marka. Napasnya terengah-engah, akibat perkelahian itu.


Di saat yang bersamaan, beberapa orang pemanah masuk dan membantu perkelahian mereka.


Setelah Askelan bisa sedikit bernapas lega, dia bangkit dengan cekatan sambil menarik tubuh Marka berdiri, tanpa melepaskan tekanan pistol di lehernya. Setelah dia berdiri tegak, Askelan menyeretnya hingga ke sisi pagar. Seorang anak buahnya datang dan membantunya mengikat tubuh Marka dengan tali jangkar yang cukup besar kuat dan besar.


Sementara semua orang sedang bergumul dengan lawannya masing-masing.


Jordan berhasil membuat hidung lawannya patah, Greg berhasil membuat lawannya muntah darah, dan temannya yang lain pun kurang lebih sama, berhasil melumpuhkan lawan, meskipun, diri mereka sendiri babak belur. Lawan mereka harus mereka hadapi adalah laki-laki yang mendampingi Marka, tentu saja bukan amatiran seperti yang diberikan tugas menembaki kapal tadi.


Jordan hanya melihat tingkah temannya itu sambil menggelengkan kepala dan menyeka darah di ujung bibirnya.


“Jabie!” tiba-tiba dia berteriak karena baru teringat adik perempuannya yang berada di kapal sebelah dan menyamar sebagai Lintani.


Dia segera menyambar senjata laras panjangnya, berlari dan melompat menyeberang, untuk sampai ke kapal di mana Jabie mungkin tengah berduel.


Saat sampai di sana, dia bernapas lega dan segera menghampiri Jabie dan memeluknya.


“Apa kau baik-baik saja?” katanya.


“Ya!” sahut Jabie sambil melepaskan pelukannya.


Saat Jordan masuk tadi, dia melihat semua orang yang tadi diperintahkan oleh Marka untuk memeriksa kapal, tengah diikat oleh dua orang kaki tangannya. Mereka adalah teman-teman yang tadi bersembunyi dengan cara menyelam. Kalau mereka tidak bersembunyi, dan memakai trik ini, mungkin akan lebih merepotkan sebab bisa saja, Marka meminta bala bantuan, karena mengetahui jumlah pasukan Askelan yang terlihat banyak.

__ADS_1


“Apa kau tidak marah?” tanya Jabie, dia khawatir kalau caranya bergabung dengan pasukan Askelan secara diam-diam, tidak disukai kakaknya.


“Aku tidak marah, hanya kuatir saja, kamu tahu kan kenapa aku kuatir padamu?”


Mendengar ucapan Jordan, Jabie mencium pipi kakak lelakinya itu dengan lembut.


“Terima kasih, tapi ... jangan kuatir, aku bisa jaga diri baik-baik, jangan pikirkan kakiku ... tidak masalah!” kata Jabie saat melihat Jordan yang memandang bagian kakinya, “Kalau terjadi apa-apa aku tidak akan mengeluh padamu!”


Mendengar semua itu, Jordan mencibir, biar bagaimanapun juga dia adalah adiknya, satu-satunya keluarga yang ada, mana bisa tidak kuatir, ada-ada saja.


“Apa ada temanmu yang terluka?”


“Ada, dua orang, dia Meili dan Rose, ada laki-laki yang sangat mahir memainkan belati!”


“Oh ya? Lalu, bagaimana keadaannya?”


“Tidak apa, itu luka kecil bagi mereka!”


Jabie pun bercerita, saat beberapa orang yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu masuk, keadaan benar-benar menegangkan. Semua dalam keadaan penuh waspada, baik pihak Jabie maupun pihak lawan.


Mereka sempat diberi berbagai macam pertanyaan tentang sakitnya Lintani, dan para pria yang memegang senjatanya masing-masing itu, menggoda dengan rayuan dan belaian. Tentu saja mereka melakukan itu, karena mengetahui semua orang yang ada di sekitarnya adalah wanita. Mereka meremehkannya, apalagi semua wanita itu tidak bersenjata dan berpakaian dokter.


Sementara Jabie yang tangannya dalam keadaan di infus, terlihat sangat lemah serta terus merintih. Lengkap sudah sandiwara mereka, hingga para pria melepaskan senjata, ada dua orang yang melepas ikat pinggang dan mengajak beberapa wanita di sana untuk melayaninya.


Saat aksi rayu merayu tengah berlangsung dan dua orang teman Jabie setuju untuk melayani mereka bercinta, membuat pria itu pun melepaskan pakaiannya sendiri. Di saat yang bersamaan, suara siulan seperti burung pun terdengar, menunjukkan tanda jika musuh sudah berkurang karena yang ada di daratan berhasil dilumpuhkan.


Setelah Jabie memberi tanda, maka secara bersamaan mereka melakukan serangan. Para rekan mereka yang bersembunyi di dalam air pun keluar. Pihak lawan yang tidak siap dengan senjata mereka sudah diletakkan, membuat mereka dengan mudah dilumpuhkan. Apalagi beberapa di antara mereka ada yang sudah melepaskan pakaian, hal itu membuat mereka lebih kerepotan saat melawan para wanita yang tiba-tiba menyerang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2