Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 97. Hancur


__ADS_3

Hancur


“Aku tidak ingin kau sedih, maaf ... aku sengaja tidak ingin kau tahu karena aku tidak ingin melihatmu menangis!” Askelan berkata sambil memeluk dan menciumi wajah Lintani. Membuat gadis itu berpikir buruk. Dia mendorong dada Askelan agar menjauh.


“Cepat katakan, baik atau buruk, aku harus tahu kan?”


“Ah! Tidak! Kau tidak perlu tahu! Kau cukup hidup tenang di sini bersamaku, itu saja cukup.”


“Jadi, kau menghalangi keinginanku?”


“Tidak!” Askelan mengulurkan tangan, meraih bahu Lintani dan memintanya duduk kembali. Dia menarik satu kursi lipat yang tadi di duduki Pit. Entah ke mana dua orang tadi pergi, setelah menyingkir dari sana.


Askelan dan Lintani duduk berhadapan dengan lutut yang saling beradu


“Apa kau siap mendengarnya, sebab yang akan aku katakan adalah sesuatu yang tidak bagus untuk pendengaranmu, Sayang!”


“Apa itu?”


“Tentang Rasevan, kau menyukai tempat itu bukan?”


“Ya! Ada apa dengan tempat itu, apa mengalami kekeringan setelah kemarau kemarin?”


“Bukan, lebih buruk dari kemarau!”


“Lalu apa?”


“Tempat itu sudah hancur, Sayang. Ada seseorang yang menghancurkan pulau kecil itu, sampai semua keluargamu pun tidak ada lagi!” Askelan berkata sambil memegang tangan Istrinya mencoba memberinya kekuatan.


“Kau bohong, kan?”


“Apa yang lebih kau sukai, kebohongan atau kebenaran? Kalau kau anggap ceritaku bohong, artinya kau tidak siap mendengar sebuah kebenaran!”


Lintani berdiri, dia berjalan ke sana ke sini sambil menggigit ujung kuku telunjuknya. Matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


“Jadi, semua yang kau katakan itu benar, dan kau sudah mengetahuinya sejak lama?”


“Ya. Itu benar, tapi aku mengetahuinya belum lama, semua data tentang keluargamu lenyap, dab aku butuh waktu sampai dua bulan untuk membuktikannya!”


“Jadi, Kakek sudah tidak ada, lalu bagaimana dengan Milo, Deka, dan Pipi, apa Joan juga tidak ada, dia laki-laki terkuat di Rasevan, apa artinya aku tidak bisa bertemu Deede dan Deedo ... dia berhutang kelereng padaku! Bagaimana dengan Ibu? Aku harus bertanya padanya, mengapa dia menjualku pada Tuan Lux?”


Gadis itu menyebut beberapa nama teman-teman dan Joan saudara laki-lakinya, semua nama yang disebut tadi, sama sekali tidak dikenal oleh Askelan, yang kini ikut berdiri. Lintani tidak menangis tapi lebih terlihat seperti kebingungan.


Lalu, Askelan menghentikan kebingungan dengan memegang pangkal lengannya. Menatap Lintani yang juga menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, hingga kedua orang itu duduk kembali.


“Dengar, karena itu aku tidak ingin mengatakannya, aku tidak mau melihatmu seperti ini ....” Askelan berkata sambil menarik Lintani dalam pelukannya, hingga tangis Lintani pun tumpah di dadanya. Dia membiarkan sampai istrinya puas dan melepaskan ssak di dadanya.


“Tenanglah, aku ada di sini, aku yang akan menjadi teman, sekaligus suami bagimu, aku mencintaimu, Sayang.”


Askelan kembali berkata sambil mengusap kepala Lintani dengan lembut. Sampai beberapa saat berlalu, akhirnya, Lintani menghentikan tangisannya, lalu mendongak melihat ke wajah suaminya.


“Kau tidak bisa menggantikan mereka, Elan ...,” kata Lintani sambil sesenggukan, “Kau tahu ... mereka semua lucu dan menyenangkan. Aku selalu ingat bagaimana Dee mencari bunga kamemaild di pinggir danau. Do, dia ahli main kelereng. Milo, suka memberiku susu kambing, Joan suka menggendongku sambil berlari menuruni bukit ke mata air Lintania dan kami bernyanyi. Pipi dan Deka, merekalah yang membuatkan aku boneka kayu. Dan Ibu, dialah orang yang paling menyayangiku!”


“Ada sedikit yang bisa menghibur ... mungkin, Ibumu tidak pernah menjualmu pada siapa pun, tapi, dia hanya berusaha melindungimu!”


“Ya. Itu berdasarkan pemikiranku, kalau Ibumu terlambat sedikit saja, mungkin, kau akan tewas bersama mereka semua dan aku tidak akan pernah menikah denganmu.”


Lintani diam, dan menunduk, ada kesejukan yang tiba-tiba mengalir di hatinya, tapi, kenapa ibunya tidak mengatakan apa pun padanya? Belum sempat dia bertanya, Askelan sudah kembali membuatnya heran.


“Luxor itu Pamanmu, jadi, kau tidak perlu memanggilnya Tuan! dia adik Ibumu satu-satunya yang tinggal di luar Rasevan dan memiliki kehidupan yang mapan, oleh karena itu Ibumu menitipkanmu padanya! Bahkan semua uang dan harta yang diberikan Ibumu, habis oleh mereka!”


“Lalu, kenapa dia selalu bilang kalau Ibuku menjual anaknya yang di buang demi uang?”


“Aku tidak tahu ... dan kau tidak perlu tahu. Lupakan masa lalumu, lupakan keluarga Lux, mulailah hidup baru bersamaku.”


Askelan memang sengaja tidak mengatakan alasan Lux yang menilai Viana telah menjual Lintani padanya, sebab jika dia mengatakannya, maka hati Lintani akan lebih terluka. Bagaimana tidak, Lux mengatakan semua itu agar bebas memperdaya dan mengeksploitasinya.


Lintani tiba-tiba ingat ucapan Elliyat yang begitu yakin, jika putra tunggalnya itu bisa membahagiakannya. Bahkan wanita itu jelas-jelas mengatakan Askelan adalah pria yang tepat untuk dirinya.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita itu, Lintani mengerti jika Askelan selama ini menutupinya hanya karena tidak ingin melihat dirinya terluka. Namun, dia tetap harus melihat bagaimana pun hancurnya Rasevan selama dia tinggalkan.


Cukup lama gadis itu terdiam, menghapus sendiri air matanya yang masih menetes, menenangkan hatinya sendiri, hingga kemudian dia berdiri dari duduknya. Sementara Askelan hanya mampu membantu dengan sesekali menghapus air mata Lintani dengan jari.


“Ayo! Kita ke sana, aku ingin melihat keadaannya!”


“Jangan sekarang, kau harus menguatkan hatimu dulu, dan berjanjilah kau tidak akan menangis saat melihat kampung halamanmu!”


“Apa pun itu, aku harus tahu! Walaupun, aku sedih ....”


“Baiklah, kita pergi beberapa hari lagi!” Askelan hendak melangkah masuk, karena dia mulai lapar.


“Elan, kau akan selalu di sampingku, kan?” Tanya Lintani tiba-tiba.


“Tentu,” jawab Askelan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Lintani.


“Apa pun yang terjadi?”


“Ya!”


“Ayo! Kita makan malam sekarang.” Lintani berkata sambil bergelayut manja di lengan suaminya, tapi, raut wajah pias dan tanpa ekspresi.


Mereka makan malam dalam diam, Lintani masih terlihat syok dengan apa yang baru saja didengarnya. Pandangan matanya kosong ke arah dinding, sementara mulutnya mengunyah dengan malas.


Kalau saja tidak hamil dan memikirkan bayinya, mungkin Lintani enggan sekali makan, sebab makanannya pun terasa hambar dan susah sekali ditelan.


Makanan sudah hampir habis, di piring Askelan yang digunakan untuk menyuapi Lintani makan. Pria itu hanya sesekali saja menyuapi dirinya sendiri. Melihat istrinya cukup tenang pun sudah sangat mengenyangkan.


Bagi Lintani, mengetahui berita tentang keluarganya adalah pelengkap dari penderitaan yang harus diterimanya. Dia sudah mendapat kabar yang paling sedih, yaitu menerima kenyataan jika dirinya harus di penjara dan kehilangan bayinya.


Jadi, tidak ada lagi kesedihan yang bisa melampauinya kali ini. Oleh karena itu dia bisa terlihat tenang, walaupun, tetap ada kesedihan yang belum juga hilang.


“Apa kau tahu, siapa yang sudah melakukannya?” Lintani tiba-tiba bertanya setelah dia merasa kenyang dan menyudahi makan malamnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2