
Di Depan Pusara 1
Saat itu semua orang menyingkir dan memberi ruang bagi Askelan untuk menyendiri dengan jenazah ibunya, dia duduk dengan lemas di sisi tubuh yang sudah tak bernyawa. Hatinya sakit seolah sedang dipotong kecil-kecil. Baru kali ini dia kehilangan orang yang paling dia cintai.
“Apa tidak apa-apa meninggalkan dia sendiri di sana?” Tanya Lintani prihatin padanya.
“Tidak apa-apa, Nona ... beri Tuan kesempatan sebentar saja!” Sahut Jordan tanpa mengalihkan perhatiannya pada Askelan, yang bahunya mulai terguncang. Dia menampakkan kerapuhannya, setelah semua orang pergi dari sana kecuali Jordan dan Lintani saja.
“Tuan seperti baru pertama kali mengalaminya, bukankah dulu dia pernah kehilangan Ayahnya?” tanya Lintani, tapi Jordan tidak tahu harus menjawab apa.
Askelan tampak begitu terpukul. Walaupun, dahulu dia pernah kehilangan ayahnya tetapi, sejak dari lahir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan dia tidak pernah tahu sosoknya seperti apa. Jadi, ketika dia sudah dewasa dan mengetahui apabila suami Elliyat sudah meninggal dunia, dia tidak tahu apakah dia harus bersedih atau tidak.
Elliyat selalu memberikan harapan bagus jika ayahnya masih hidup dan mau bertemu dengan putarannya suatu hari nanti. Namun, harapan mereka ternyata tinggallah impian saat keluarga Harrad datang menjemputnya, dan mengatakan jika pria yang ikut andil dalam kehadirannya di dunia itu, sudah tiada. Bahkan, ibunya masih berada dalam penjara.
Seandainya bukan karena surat wasiat yang ditulis oleh Hardo melalui pengacaranya yang sah, mungkin Askelan tidak akan pernah diakui untuk selamanya.
Pria itu sudah berjuang sendiri sejak kecil, hanya untuk bertahan hidup dengan cara yang baik. Dia selalu bekerja keras melakukan pekerjaan kasar atau paruh waktu. Bahkan, tanpa sepengetahuan ibunya, dia berhasil menjalani pendidikan militer dengan baik, bahkan ahli dalam penggunaan beberapa senjata.
Namun, Askelan tidak pernah membolos sekolah, karena Elliyat sangat ketat dalam pendidikan anaknya, karena dia suatu saat akan mewarisi perusahaan Harrad. Tidak sedikit pun dia bersantai setelah dewasa, apalagi saat ibunya di penjara, pengorbanan Elliyat terlalu berat untuk dipikul oleh seorang wanita.
Ayahnya selalu tinggal di tengah-tengah keluarga Harrad, hingga tidak tahu bagaimana kehidupan mereka sebelumnya, sedangkan saat Askelan mulai bergabung dalam keluarganya, mereka hanya menunjukkan di mana makam pria itu berada.
Saat itu dia hanya melihat nama Hardo Harrad tertulis dengan jelas di batu nisannya. Semua saudara Hardo, tidak ada yang memberitahu Askelan bagaimana pria yang menjadi bapaknya itu meninggal dan sepak terjangnya ketika masih hidup. Bahkan ibunya pun tidak tahu.
Saat dia diberi tahu jika ayahnya sudah tiada, dia tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Walaupun, ibunya selalu berkata hal yang baik-baik saja tentang diri laki-laki itu, tetapi, dia sama sekali tidak pernah melihat sosoknya, hingga tidak punya rasa cinta sedikit pun padanya. Hal ini membuat Askelan merasakan kehilangan untuk pertama kalinya, ketika ibunya tiada.
__ADS_1
Hampir satu jam lamanya Askelan menangisi kepergian ibunya dan dia bangkit saat punggungnya terasa dibelai seseorang. Dia menghapus bersih sisa air matanya sebelum menoleh. Lintani ada di sana, dia menerobos masuk karena tidak tega melihat betapa rapuhnya pria yang, sebelum ini tampak begitu mengintimidasi semua orang.
“Pergilah, sebelum para Tetua datang ke mari atau mereka memastikan kepergian Ibuku!”
“Tapi, Tuan ....” ucapan Lintani terjeda.
Lintani hampir saja menangis saat pria itu mengusirnya, dia ingin tetap berada di sana, untuk memberikan hadiah yang belum sempat dia berikan kepada Elliyat sebagai tanda cinta. Napasnya tiba-tiba sesak saat menyadari dirinya kini bukan siapa-siapa lagi di tempat itu.
“Apakah aku boleh datang ke rumah duka nanti?” tanya Lintani.
“Terserah!” jawab Askelan ketus. Dia pergi keluar ruangan dan membiarkan Jordan, mengintruksikan kepada para perawat untuk mengurus jenazah Ibunya dan dibawa ke rumah duka.
Lintani menyembunyikan diri, di suatu tempat, menunggu dengan sabar di sana agar tidak terlihat semua orang, hingga mobil jenazah yang membawa mayat Elliyat keluar dari rumah sakit dan, pergi ke rumah duka. Lintani mengikuti dengan menggunakan taxi.
Seperti sebelumnya saat di rumah sakit, Lintani hanya bersembunyi di suatu tempat menghindari pertemuan dengan banyak orang. Dia melihat beberapa orang yang dia temui dipesta, satu-persatu datang ke sana. Dan, dia tetap bersabar di tempatnya sampai malam tiba.
Gadis itu melangkah mendekati pintu rumah duka sambil mengeluarkan hadiah guci kecil dari dalam tasnya. Dia sengaja membeli untuk Eliat dan akan disimpan di peti mati agar bisa ikut terkubur bersama ibunya nanti.
Namun ternyata nasibnya sungguh tidak baik karena di saat itu pula, Petra turun dari mobilnya bersama dengan Yasmin menuju ke tempat yang sama. Hal ini membuat Lintani heran bagaimana mungkin mereka bisa datang di hari yang selarut itu.
“Hai! Lin, menyedihkan sekali. Apa kau baru datang bersama kami? Bukankah kau seharusnya menjadi pihak keluarga yang, menyambut para tamu dan memberi penghormatan pada mereka? Kau sungguh terlalu!” Kata Yasmin begitu berpapasan dengan Lintani, yang terlihat dengan jelas berjalan menuju pintu masuk ke rumah duka.
“Mungkin dia enggan, kau tahu, kan sekarang kontraknya sudah berakhir?” kata Petra benar-benar meruntuhkan harga diri Lintani.
“Ah, iya ... aku hampir lupa, dia hanya istri boneka tapi, boleh juga dia terlalu kuat untuk bertahan hidup dengan orang yang tidak mencintainya, kalau aku mungkin sudah membunuhnya!” kata Yasmin lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia memakai pakaian hitam yang elegan, wajahnya mengguratkan ketenangan dan sepertinya wanita itu selalu tampak anggun apa pun pakaiannya.
__ADS_1
“Aku tidak percaya wanita sepertimu tega membunuh laki-laki yang hidup denganmu, tapi, tidak mencintaimu?” kata Petra.
“Ya! Kenapa tidak? Jangan samakan aku dengan perempuan lemah itu!” kata Yasmin sambil menunjuk Lintani yang belum berhasil masuk ke tempat itu.
"Iya, iya ... aku percaya tapi, kasihan dia .... masih ingin mendapatkan kompensasi hingga dia datang ke sini untuk melihat temannya semasa di penjara untuk terakhir kali!” sahut Petra sambil melangkah lebih dekat ke arah Lintani yang pucat.
Lintani begitu kesal dan marah karena Petra benar-benar menjatuhkan harga dirinya begitu rendah, dia pikir pria itu benar-benar ingin menjadi sahabatnya.
Bahkan, beberapa pekan yang lalu dia mengatakan akan menjadikan Lintani pasangan, jika ada kesempatan saat berpisah dengan Askelan. Lalu, sekarang di hadapan Yasmin dia berkata hal yang berbeda. Ternyata dia hanya dijadikan lelucon saja, pikir Lintani.
Namun, Lintani tidak menggubris pasangan itu dia membiarkan mereka berceloteh buruk, tentang dirinya toh setelah ini mereka tidak akan bertemu.
Lintani pergi menerobos para penjaga yang ada di sana dan mengatakan jika dia adalah teman Elliyat, lalu, lagi-lagi Petra membantu dengan memberikan isyarat pada penjaga untuk membiarkannya.
Lintani kembali berterima kasih pada Petra, hatinya begitu lembut hingga untuk kebaikan yang kecil saja dia selalu bersyukur padahal, pria itu baru saja menghinanya mati-matian.
Setelah sampai di dalam, Lintani berdiri di samping peti mati setelah Petra dan Yasmin selasai, memberi penghormatan terakhir mereka. Dia melihat Elliyat di dalam peti dengan wajah yang pucat namun, cukup cantik. Dia menyelipkan hadiah guci kecil yang dibungkus dengan cantik itu dibalik pakaian, sehingga tidak terlihat.
“Ibu, kuharap kau suka hadiahku, maaf ... aku tidak bisa memberi sesuatu yang bagus, ah ya ... kupikir kau sudah tenang sekarang, Tuhan sudah membebaskanmu dari penyakit itu. Ibu, aku merindukanmu!” kata Lintani sambil membelai pipi dingin milik Elliyat.
Dia sengaja menyembunyikan hadiahnya, karena khawatir orang lain akan membuangnya, mereka tidak tahu betapa besar ketulusan di dalam hadiah sekecil itu.
Gadis itu melihat Askelan mendekat ke peti mati, lalu, berdiri di sisinya seperti patung. Dia tidak lepas menatap wajah ibunya.
Ingin sekali Lintani membelai ataupun memberi pelukan hangat sekedar untuk memberi kekuatan. Atau memberinya semangat dan berkata bahwa, “semua akan baik-baik saja setelah kepergian ibunya” tetapi, dia tidak sanggup untuk selangkah lebih dekat. Kalau saja ini kesempatan yang tepat, maka, dia akan memberikan hadiah juga kepada pria di sampingnya itu.
__ADS_1
Bersambung