
Rasa Penasaran Haifa
Tempat itu sepi, tapi, beberapa pernah pernik serta hiasan yang diciptakan di dalamnya sangat meriah bahkan terkesan begitu mewah juga ramai.
Lintani turun dengan ragu, mengingat betapa sepinya tempat itu, tapi, Mo meyakinkannya dan mengajaknya langsung ke sebuah kamar yang sudah di siapkan untuk sang pengantin mengadakan bulan madunya.
Askelan datang beberapa saat kemudian dengan mendorong kursi roda Elliyat, ada seorang dokter menyertai mereka. Pria itu memakai setelan jas pengantin yang tanpa disadari Lintani memiliki warna yang sama dengan baju pengantinnya.
Setelah menempatkan Elliyat di dekat altar, Askelan berdiri di sana dengan gagah, dia sudah menginstruksikan pada Mo, untuk mengarahkan Lintani begitu ibu dan dirinya tiba.
Musik lembut khas pernikahan pun terdengar, pertanda Lintani harus berjalan mendekati Askelan. Langkah kaki dan debaran jantungnya tidak seiram dengan musik yang berputar. Tatapan mereka tidak pernah lepas begitu begitu Lintani keluar dari salah satu sudut dekat pintu masuk hotel.
Askelan terpesona melihat Lintani begitu mirip dengan malaikat kecil dalam mimpinya. Sedangkan hati Lintani berulang kali merutuki perasaannya sendiri, yang tidak mau menurut pada otaknya agar tidak jatuh cinta pada pria di depan sana. Sepertinya laki-laki itu adalah orang yang mudah membuat wanita menangis karena tidak setia.
“Lin ....!” pekik Elliyat dengan lirih, wanita itu menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, sedangkan dia menangis bahagia karena mimpinya menjadi kenyataan, ada seorang wanita yang memakai gaun rancangannya, berjalan menuju Altar dengan anggun. Itu adalah menantunya sendiri.
Sebelum mendekati Askelan, Lintani menghampiri Bibj Elle-nya, lalu meraih tangan, lalu menciumnya.
“Terima kasih Ibu, sudah memilihkan suami untukku, anakmu luar biasa!” bisik Lintani lembut.
__ADS_1
“Kau ini bicara apa, Lin ... aku yang harus berterima kasih padamu karena kau sudah mewujudkan mimpiku satu persatu.”
Elliyat menepuk punggung tangan menantunya agar segera bersanding dengan putranya. Dia wanita itu tidak tahu bahwa Askelan menatap mereka penuh kecemburuan. Dia jarang melihat ibunya tersenyum bahagia seperti itu kecuali dengan Lintani!
Gadis itu berdiri dengan canggung di samping Askelan, pria itu mengulurkan tangannya dengan lembut saat Lintani mendekat, lalu, dia pun tampak bersungguh-sungguh ketika mengucapkan semuanya dengan lancar tanpa kesalahan. Lintani menganggap memang aktingnya sangat bagus sebab mereka berada di hadapan ibunya.
“Kedua mempelai boleh berciuman!” kata seseorang yang membawakan acaranya setelah proses pengesahan selesai.
Lama tidak ada reaksi dari keduanya hingga Elliyat berteriak.
“Ayolah, Lin! Cium saja anak bodoh itu, ini adalah acara yang paling aku tunggu!”
Begitu Elliyat selesai bicara, Askelan dengan cepat mengulurkan tangannya ke belakang kepala Lintani dan mencium bibirnya setelah kepala mereka saling berdekatan.
Namun, kali ini mereka berciuman dengan intens, sampai beberapa saat lamanya. Askelan seperti menghisap semua energi gadis itu dan enggan melepaskan.
Sementara dalam benak Lintani semakin heran, mengapa pria itu mau menciumnya, apakah ini karena ibunya? Begitu pikirnya.
Sementara acara itu berlangsung, di luar hotel ada sesuatu yang terjadi, tampak seorang wanita datang dengan rasa penasaran, sebab dia ingin memastikan beberapa informasi yang dia dapatkan, bahwa, Lintani berada di hotel itu sebagai seorang pengantin.
__ADS_1
Wanita itu adalah Haifa, dia membayar seseorang untuk menyelidiki tentang Lintani. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Askel, sebab laki-laki itu selalu muncul saat Lintani pun muncul di hadapannya.
Ditambah lagi dengan rasa curiganya kali ini karena dia ingin tahu dengan siapa Lintani menikah saat ini.
Sesaat kemudian dia memberanikan diri untuk masuk lewat pintu samping hotel, dan menemukan Mo yang menatap pasangan itu dengan penuh rasa syukur.
“Apa kau tahu, siapa yang menikah itu?” tanya Haifa.
“Dia tuan Askelan dan perempuan yang dijodohkan oleh ibunya bernama Lintani Syahrain.” Jawab Mo tanpa melihat ke arah si penanya. Saat itu Askelan yang masih berciuman dengan Lintani dalam posisi membelakangi mereka.
Walaupun hotel itu sudah dipesan dan tidak ada pengunjung lain, tapi masih ada juga beberapa orang lain di sana, seperti para penjaga, asisten, pembawa acara dan juga dokter serta seorang perawat, membuat Mo tidak menaruh curiga.
Haifa tersedak ludahnya sendiri dan tiba-tiba napasnya sesak. Lalu, setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya, dia kembali mendekati Mo.
“Benarkah Tuan Askel dijodohkan?”
“Ya!”
Kemudian, Mo pun menceritakan mengapa kedua orang berlawanan jenis itu, di jodohkan hingga Haifa menjadi maklum dan kemarahan di benaknya mereda. Dia tahu hal ini tidak akan lama, karena setelah Elliyat meninggal, maka mereka akan segera bercerai dan Askelan akan menjadi miliknya seorang.
__ADS_1
Sekarang gadis itu punya satu jawaban mengapa Askelan tidak segera menikahinya walaupun, tahu kalau dirinya hamil. Semua karena ibunya.
Bersambung