
Marka Dan Masa Lalunya
Dahulu, dia pernah diam-diam mengamati perkembangan hubungan Elliyat dengan Hardo, karena ingin menikahinya, walaupun wanita itu sudah hamil. Dia akan mencintai anak itu seperti anaknya sendiri, tapi kemudian dia kehilangan Elliyat selama kurun waktu beberapa tahun.
Namun, dia mengurungkan niat menikahi setelah tahu, ternyata wanita itu mengucilkan diri di sebuah rumah ibadah yang tertutup, karena terletak di pinggiran desa kecil, orang harus melalui sebuah sungai untuk mencapainya. Di sanalah Elliyat tinggal dan mengurus banyak anak terlantar, yang senasib dengan anaknya.
Setelah dia tahu bahwa Askelanlah yang menikah dengan Lintani, gadis yang dicarinya itu, dia pun menghentikan pencarian, dia hendak merelakan bukit Shaw kepadanya.
Namun, setelah kematian Elliyat, dia menerima informasi bahwa Askelan menelantarkan Lintani, hingga dia berusaha mencari cara agar gadis itu bisa jatuh dalam genggaman, tanpa menyentuhnya.
Sebab bila Aston Shaw mengetahui jika dirinya yang berada di balik semuanya, maka pria tua itu tidak akan memberikan surat wasiat pada Lintani sampai kapan pun juga. Kalau itu terjadi, gunung emas otomatis akan jatuh ke tangan Yasmin, cucu terakhir dari anak tunggalnya, setelah dia tiada.
Namun, di tengah perjalanan, Marka kemudian kesal karena telah meremehkan pemuda itu.
Ya, Askelan berhasil membunuh Dex, juga kembali memiliki Lintani. Apalagi setelah menyadari gudang senjata dan amunisi miliknya di kubah putih dihancurkan tanpa ampun. Dia jadi berubah pikiran lagi, dan ingin menghancurkan Askelan walau, apa pun yang terjadi.
Dia menyusun sebuah rencana, jika benar-benar Askelan pergi ke bukit incarannya, biar bagaimanapun juga, pewaris itu harus lenyap sebelum mengambil semuanya. Bagi Marka, kalau hanya menguasai anak keturunan Shaw, itu sangat mudah. Dia hanya perlu mengancam dengan menghancurkan satu perusahaan mereka, maka, keluarga terakhir Aston Shaw akan bangkrut seketika.
Aston selama ini tidak berani melakukan apa pun pada bukit itu selain, membuat pagar pembatas yang cukup kuat, tapi di dalamnya di biarkan terlantar hanya karena surat perjanjian yang terikat dengan nyawa, kalau satu saudaranya tidak bisa menikmati kekayaan, maka dirinya dan juga Syahrain juga tidak.
Marka berjalan dengan tegap menuju kamarnya, setelah anak buahnya pergi. Dia harus istirahat dan tinggal sendiri, dalam markas itu. Istrinya memilih tinggal di rumah orang tuanya di kota Mortal, dan baru akan di jemput setelah semua masalah selesai.
Malam itu, dia mengundang seorang artis yang tengah naik daun. Sebenarnya mereka sudah beberapa kali bertemu dan bekerja sama, karena gadis itu mau tidur dengan siapa saja, dialah Haifa, yang akan menemaninya malam ini.
Wanita itu datang, saat hampir tengah malam, di antar anak buahnya ke kamar pribadinya.
“Kau sudah datang?” tanya Marka sambil membuka kemejanya. Dia pria tua yang masih kuat dan berperawakan bagus walaupun, wajahnya sedikit sangar karena dipenuhi cambang dan kumis.
“Hmm ....” sahut Haifa sambil menyimpan tasnya di meja dan menutup pintunya rapat-rapat, lalu berkata, “Kau pria tua yang memiliki selera yang bagus!” dia berkata sambil mengedarkan pandangan, ini pertama kalinya dia diundang ke markas, sebab biasanya mereka bertemu di hotel.
“Kemarilah, puaskan aku malam ini!” Berkata sambil menepuk dadanya yang berbentuk rata.
“Ah! Apa kau mau langsung saja? Masih ada yang ingin aku bicarakan, karena laki-laki biasanya akan lemas setelah selesai bertarung dan mengeluarkan isi kejantanannya!”
Marka tertawa lebar mendengar ucapan Haifa. Lalu, menarik gadis yang berpakaian terbuka dan ketat itu dengan kasar, mendudukkan di atas pahanya dan menciumi bibirnya. Wanita itu membalas ciuman sambil melingkarkan kedua tangannya di leher kekar Marka.
__ADS_1
Mereka menumpukan bibir dengan rakus sampai merubah posisi kepala untuk saling memberi kepuasan berciuman. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka melepaskan pagutan.
“Apa kau membawanya?” tanya Marka sambil menggerakkan jari-jari tangan di dada Haifa yang sudah terbuka dan memperlihatkan isinya.
“Ahk!” Haifa tidak segera menjawab tapi, matanya terpejam disertai suara khasnya, karena mulai bergairah, apalagi saat Marka mempermainkan lidahnya di sana.
“Ada, aku membawanya!” kata Haifa setelah pria lebih dari paruh baya itu, menghentikan perbuatannya.
“Tunjukkan semua barang yang kau janjikan padaku!”
Haifa melangkah menuju tasnya di meja dekat pintu, sambil melepaskan pakaiannya yang sudah acak-acakan. Dia membawa beberapa barang di dalamnya dan menunjukkannya pada Marka.
“Apa bagusnya barang itu, semua hanya mainan dan buku-buku. Aku tidak tahu barang apa milik gadis sialan itu, yang berharga bagimu!”
Marka memeriksa semuanya dengan kening yang berkerut, dia tampak kesal setelahnya.
“Apa kau tidak pernah melihat gelang yang terbuat dari kayu, ada di antara semua barang ini?” tanyanya.
“Tidak ada barang seperti itu!” kata Haifa sambil membelai punggung Marka dengan lembut, dia hanya memakai pakaian dalam saja, dan tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.
“Tidak! Apa gelang itu termasuk barang yang akan kau hancurkan agar kekayaan keluarga Shaw bisa menjadi milikmu?”
“Ya!”
“Lalu, kalau gelang itu ternyata tidak hancur, apa kau bisa mendapatkan emasnya?”
“Agak sulit, tapi aku akan mendapatkan bagaimanapun caranya.”
“Jangan lupakan bagianku, seperti janjimu dulu!”
“Tentu, padahal, aku akan memberimu bonus dari isi brankas-ku kalau kau membawa gelang itu padaku malam ini!”
Haifa menyesal, tapi, dia menutup kebenaran dari Marka. Dahulu dia dan Rauja pernah memeriksa isi kamar Lintani, membereskan semua barang dan membuangnya. Hanya sedikit barang yang masih bagus, seperti boneka kayu dan beberapa buku cerita anak. Rauja sengaja membiarkan barang itu, karena dia pikir buku dongeng bisa di manfaatkan suatu hari nanti jika memiliki seorang cucu.
“Tidak masalah kalau tidak ada, aku pikir mungkin barang itu ikut hancur di Rasevan karena Viana tidak memberikan pada anak perempuannya!” kata Marka, sambil melemparkan barang yang di bawa Haifa ke bawah tempat tidur.
__ADS_1
“Mungkin saja!” sahut Haifa sedikit lega.
Setelah itu, kedua manusia berbeda usia yang sudah dipenuhi napsu itu, kembali saling menyatukan bibir, melucuti pakaian yang tersisa dan, memadu hasrat di atas tempat tidur dalam keadaan lampu yang menyala.
“Kau pria tua yang nakal!” kata Haifa sambil terengah karena hentakan pinggang Marka di atas tubuhnya.
“Tapi, kau menyukainya, kan?” sahut pria itu sambil menghentikan gerakannya.
“Ya! Ayo! Jangan berhenti, kau sudah bilang mau memuaskan aku.”
Mendengar permintaan wanita itu, Marka membenamkan miliknya lebih dalam dan mempercepat gerakan.
“Selama ini, aku selalu memuaskanmu!”
“Ya! Aku tahu!”
Sesekali Haifa membusungkan dada sambil melenguh manja, meminta bergantian posisi dan mencari kepuasan sendiri, saat dia menjadi orang yang mengendalikan permainan.
Namun, di tengah kegiatan itu, terdengar suara telepon seluler yang mengganggu. Marka mengabaikannya dan baru meraih benda itu setelah selesai mendapatkan kepuasan. Dia mengusap layar ponselnya sambil melirik Haifa yang tergolek disisinya dengan sebuah senyuman, dia tampak senang walaupun, sedikit kelelahan.
Marka menempelkan telepon genggamnya ditelinga, tapi, tidak berkata apa-apa untuk sejenak.
“Baik, siapkan semua jam enam pagi besok!” katanya dengan cepat sambil berdecap kesal.
“Apa ada masalah?” tanya Haifa sambil menyandarkan kepala di pangkal lengan Marka, dia tidak menutupi tubuhnya yang polos dengan apa pun juga, begitu juga Marka.
“Tidak ada, aku hanya akan menjemput seseorang besok!”
“Apa istrimu akan pulang?”
“Tentu!” Bohong Marka.
Setelah itu mereka sama-sama tertidur, akan sangat melelahkan kalau tidak menggunakan sisa waktu untuk beristirahat. Aktivitas besok akan sangat menyita emosi dan pikiran.
Bersambung
__ADS_1
🙏 Maaf kalau bab ini bikin jengkel, tapi aku bikin cukup sopan 😅😅😅 karena tidak menyebutkan bagian sensitif dan tidak ada detailnya 🙏 silakan di komen aja 🥰❤️