
Apa Dia Marah
Askelan menatap Lintani dengan tatapan mata tidak terbaca tapi, sinarnya menunjukkan kepedulian yang luar biasa. Dia bersandar setelah menyimpan sendok, dan mengusap mulutnya dengan tisu.
“Apa kau benar-benar mau tahu? Untuk apa?” tanyanya kemudian dengan lembut.
“Ya! Aku akan balas dendam padanya karena telah menghancurkan kampungku!”
Askelan mendekat, menyimpan satu tangan ke belakang sandaran kursi yang diduduki oleh Lintani, kemudian berkata, di dekat telinganya “Tenanglah, aku akan membalaskan dendammu pada orang itu!”
Lintani merasakan napas Askelan di lehernya hingga bulu kuduknya meremang, dia menengok ke sisi di mana kepala pria itu kini berada di pundaknya, dan berkata, “Katakan siapa dia!”
“Semua masih belum jelas, aku masih menyelidikinya!”
Lintani diam, mencium rambut Askelan dan memegang tangan dan menjabatnya erat. Setelah itu dia berkata, “Berjanjilah kau akan memberitahuku, ya?”
“Ya, aku janji. Kau tidak perlu repot, kau ingin membalas dengan cara seperti apa, aku akan melakukannya untukmu!” kata Askelan, sambil mencium tangan Lintani.
Mendengar ucapan itu, Lintani merasa banyak bunga bersemi di hatinya. Dia melukis senyum dan mengangkat kepala Askelan perlahan dari pundaknya.
“Ayo! Ikut aku ke kamar!” katanya sambil berdiri.
Askelan mengikutinya dengan pikiran yang masih berkecamuk, tentang memberitahukan nama pelaku pelenyapan. Jika dia mengatakannya sekarang, maka wanita yang kini berjalan sambil menggandeng tangannya itu, akan lebih penasaran lagi.
Sementara dia pun belum tahu, apa motif Marka melakukan pelenyapan pada semua keluarga Syahrain di sana. Tidak ada yang bisa dimintai keterangan dalam hal ini, karena anak buahnya pun belum tahu siapa saja yang terlibat selain pria tua itu.
Askelan baru akan merencanakan menangkap Marka atau anak buahnya yang terlibat pada pembunuhan 29 tahun yang lalu, setelah semua bukti siap seluruhnya. Sedangkan kasus sudah di tutup untuk sebuah persidangan, karena melewati batas penyelidikan selama beberapa tahun.
Jadi, pihaknya pun kekurangan bahan untuk mencari berkasnya pada pihak keamanan kota, tentang lenyapnya keluarga itu. Sementara informasi yang ada pada data Base kependudukan, keluarga itu tidak ada, dan menurut pemerintah semua tewas karena badai.
Keluarga Harrad belum memiliki pengaruh sekuat sekarang pada pemerintah kota, apalagi waktu itu, mereka sama sekali tidak memiliki kepentingan apa pun mengenai rekayasa gelombang besar di danau Rasevan.
Berbeda dengan sekarang, sang pimpinan keluargalah yang berkepentingan secara langsung, dengan semua data dan informasi itu, tapi, yang ditemukan oleh para penyidiknya, hanya sebuah kesimpulan yang dangkal.
Harapan Askelan hanyalah pada hasil data forensik dari semua tulang belulang yang berhasil dikumpulkan oleh anak buahnya. Banyak bagian tubuh yang sudah hancur namun beberapa tulang yang tersisa itu saja sudah cukup untuk menjadi sampel dalam mengambil kesimpulan berikutnya. Setelah itu, Askelan akan melakukan pengadilannya dan, menghukum dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar, Lintani memeluk dengan manja pada Askelan dan memintanya untuk menggendong sampai ke tempat tidur. Pria itu melakukannya dengan senang hati dan bersemangat. Gairahnya muncul setelah menahannya selama beberapa hari.
“Apa kau menginginkan aku?” tanya Lintani, sambil tersenyum malu-malu, sedangkan Askelan sudah menciumi pipinya begitu tubuh wanita itu dibaringkan.
“Sangat, apa kau juga merindukan aku?”
“Tidak, kita setiap hari bertemu, bagaimana aku bisa rindu?” Ucapan Lintani membuat Askelan menghentikan aktivitasnya mencium.
Dia duduk, dan melepas sepatu dan kemejanya dalam diam. Wajahnya di tekuk. Dia berharap Lintani pun menginginkan dirinya, tapi jawaban wanita itu membuatnya patah hati.
Lintani ingin tertawa melihat sikap suaminya, dia menahan tawa dengan menutup mulutnya. Dia ingin tahu seperti apa sikap pria itu kalau marah, tapi, dia yakin kemarahan Askelan tidak akan menyakitkan sebab sudah berulang kali pria itu mengumbar kata cinta.
Askelan sudah selesai melepas pakaiannya dan turun dari tempat tidur, dia hendak pergi ke kamar mandi. Dan, di saat yang bersamaan, Lintani bertanya padanya.
“Apa kau marah?”
“Tidak!” jawab Askelan sambil menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh.
“Jangan pergi! Aku—“ ucapan Lintani terhenti di tenggorokan.
“Kau ingin apa?” Askelan berkata sambil berbalik menghadap ke tempat tidur, sambil menaik turunkan alisnya.
Dada mereka yang tidak terhalang oleh apa pun saling menempel.
“Aku menginginkanmu .... Elan ... aku tidak rindu pada dirimu, tapi aku rindu kita bercumbu di tempat tidur!” Lintani berbisik di telinga Askelan yang sudah melingkarkan satu tangan di pinggang, sedangkan tangan lainnya bergerak ke segala arah menyusuri setiap lekukan di tubuh istrinya.
Askelan merasa mendapat angin segar, dia tidak menjawab, tapi kembali melakukan aktivitas sebelumnya. Menciumi wajah, dan bibir yang dipersatukan cukup lama. Lalu dia mencium leher Lintani dan lambat laun ciumannya turun ke dada dan bermain di sana untuk beberapa lama juga.
Lintani mengeluarkan suara khas saat merasakan sentuhan-sentuhan lembut dan menggoda itu pada pucuk dadanya, yang dilakukan oleh mulut Askelan dengan begitu lincah. Setelah puas bermesraan dengan cara itu, Askelan kembali mengangkat Lintani dan membaringkan wanita itu secara perlahan ke tempat tidur, seperti meletakkan benda yang paling berharga.
Dia melepaskan pakaian terakhirnya untuk bisa membebaskan diri melakukan sesuatu yang lain lagi pada tubuh istrinya.
“Ah ... Elan, kau harus pelan-pelan ....” kata Lintani begitu Askelan memulainya.
“Hmm ....” pria itu mengangguk, menatap Lintani dengan mata yang sayu karena dipenuhi dengan hasrat.
__ADS_1
Bagi Askelan, tubuh istrinya lebih berharga dari dirinya sendiri, dia menyadari mengapa dia tidak mual dan begitu mendamba gadis itu karena sejak awal, ternyata Lintani adalah wanita yang bisa membuatnya kuat melakukan percintaan, hingga beberapa kali. Padahal dia dalam pengaruh obat yang bisa melenyapkan nyawanya saat itu juga.
Oleh karena itu, sesuai ucapannya, dia menyentuh dan mencumbui Lintani lalu, melepaskan semua kerinduan dengan penuh kelembutan. Sura yang keluar dari mulut mereka menunjukkan seberapa besar hasrat yang ada, saat mereka melakukan penyatuan, hingga mencapai kepuasan bersama.
“Terima kasih, Sayang ....” kata Askelan setelah selesai, sambil mencium bibir Lintani yang masih memejamkan mata karena merasakan kenikmatan yang tersisa.
“Tidurlah ...!” kata Askelan sambil menyelimuti tubuh istrinya dan, Lintani pun mengangguk.
“Hmm ....” gumamnya, dia sangat hati-hati saat bergerak, karena khawatir setelah aktivitas tadi, akan mengganggu calon bayi dalam rahimnya.
Askelan merebahkan diri di samping Lintani, karena tubuhnya juga lemas setelah melakukan pelepasan, dia menutup mata dan tidur untuk memulihkan tenaga.
Sementara di luar vila, masih di dekat api unggun yang menyala, dua pria tengah menatap layar laptop dengan raut wajah yang serius.
Jordan dan Pit saling bertatapan saat membaca surel, pada email resmi yang sengaja mereka buat untuk, keperluan penyelidikan. Mereka gencar menyelusuri setiap informasi dari kejadian yang ada, sejak mengetahui Lintani hendak pergi ke Rasevan, tepatnya, setelah Elliyat tiada dan ternyata gadis itu disekap tanpa diketahui maksudnya.
“Apa kira-kira tanggapan Nona nanti kalau mengetahui hal ini?” kata Jordan.
“Entahlah, mungkin pingsan!” sahut Pit seolah tanpa beban, sambil mengedikkan bahunya.
“Kau ini! Kalau Nona pingsan, mungkin kita yang akan di cekik Tuan!”
“Tidak mungkin, Tuan tidak akan berani melakukan itu pada kita, walaupun dia memiliki nasib lebih baik, hingga bisa jadi atasan, kita tetaplah bagian dari perjuangannya!”
“Ya, kau benar, tapi, Tuan punya Nona Lin sekarang, dan dia lebih berarti dari dirimu!”
“Ya, aku tahu, tapi, kejadian soal keluarga Nona, sama sekali bukan salah kita! Jadi, kenapa harus takut Tuan Askel marah?” Pit berkata sambil memalingkan muka.
“Dia tidak akan marah, hanya saja—“ Jordan berkata sambil mengetikkan jarinya di atas paha.
“Apa?”
“Kalau Nona marah, maka Tuan akan lebih marah!”
“Hmm ....”
__ADS_1
❤️masih suka yang uwu apa gak? komen ya! terimakasih atas dukungannya 🙏❤️
Bersambung