
Wanita Yang Tidak Ternilai
“Hai! Lin, kau di sini? Ah! Betapa senangnya aku karena kau bukan istri Askelanku lagi! Apa dia mengusirmu, bahkan sejak dari rumah sakit?” tanya Haifa sambil berjalan mengelilingi dan menelisik penampilan Lintani dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia mencibir dengan tatapan jijik.
‘Bagaimana dia bisa tahu?’ pikir Lintani.
“Ah, aku tidak melihatmu di pemakaman ibunya kemarin, kau istri yang tidak sopan!”
Lintani tetap diam.
“Seharusnya kau ada di sana dan menenangkan suamimu, untungnya ada aku aku yang menjadi kekasihnya! Jadi, aku yang memeluk dan menenangkannya selama proses peti mati dikuburkan! Tapi, aku pikir wajar kau tidak ada di sana, karena dia tidak mencintaimu!”
“Kau sudah menipunya, Haifa! Apa kau sadar itu? Kau menggunakan aku sebagai alibimu hamil, padahal entah anak siapa yang ada dalam perutmu!”
Haifa merasa sesak dan marah mendengar ucapan saudara angkatnya dan ingin memukulnya.
Hap! Lintani menahan tangan Haifa saat gadis itu hendak menampar wajahnya.
“Ingat! Kalian sudah menerima uang dariku dan berjanji tidak akan menggangu! Jadi, jangan coba-coba menamparku!”
“Kau?” kata Haifa sambil menepis tangan Lintani, kemudian tertawa, setelah itu dia berkata lagi, “Apa kau akan pergi ke kampungmu? Ya! Pergi saja kau dari sini! Seharusnya kau mati bersama keluargamu yang lain!” kata Haifa sambil berlalu setelah mengibaskan rambutnya kasar.
Lintani ingin bertanya sesuatu tentang apa yang baru saja diucapkan Haifa, tapi, di saat yang bersamaan, bis yang menuju Rasevan pun datang.
*****
Sampai menjelang sore dan jam kerjanya habis, pria penjaga gedung apartemen tidak melihat Askelan ataupun asistennya melintasi pos keamanan, di mana pria itu bekerja. Sejenak dia bingung karena akan segera pulang. Lalu, dia berinisiatif untuk datang ke rumah Askelan yang terletak di lantai paling atas gedung. Hal yang sangat mudah menemukannya karena semua rumah di lantai itu adalah miliknya.
Dia mengetuk pintu berulang kali, dan dengan sabar menunggu hingga akhirnya terbuka. Dia tidak mengerti apa yang menjadi alasan pria berkuasa di hadapannya ini, tidak keluar dari rumah seharian.
“Tuan, maaf mengganggu, ada titipan untuk Anda!” kata penjaga dengan sopan. “Aku kira Anda tidak ada di rumah, jadi, aku membiarkan dia menitipkan benda itu di pos penjaga.”
“Ini dari siapa?” tanya Assiapa dengan gelisah.
“Maaf, Tuan. Saya tidak tanya siapa namanya, tapi dia seorang wanita!”
Kemudian Askelan mengatakan beberapa ciri-ciri Lintani dengan detail dan penjaga pun mengangguk, dengan cepat membenarkan bahwa, wanita itu seperti yang digambarkan Askelan padanya.
__ADS_1
“Sekarang di mana dia?” kata Askelan sambil berlari menuju lift dan segera turun, meninggalkan pria penjaga keamanan gedung yang bengong. Dia baru saja akan mengatakan jika benda itu sudah dititipkan Lintani sejak pagi.
Saat berada di bawah dan berjalan mondar-mandir ke jalanan sekitar, Askelan hanya mendapatkan tempat yang mulai gelap dan sepi.
“Maaf, Tuan. Sebenarnya gadis itu sudah pergi sejak pagi!”
Askelan tidak memedulikan orang itu saat bertemu kembali di pintu masuk, karena kesal pada dirinya sendiri, ditambah dengan telepon genggam Lintani yang tidak dapat dihubungi. Dia kembali ke rumahnya sambil berdecak dan mengusap rambutnya kasar.
Saat Askelan sudah berada di rumah, dia menerima panggilan dari salah satu pamannya yang dulu pernah di informasikan Jordan, memiliki foto Lintani dan Ibunya. Dia ketua kedua.
“Apa kau masih bersama dengan istrimu?” tanya Ketua saat Askelan sudah menerima panggilannya.
“Tidak!” jawab Askelan jujur.
“Dasar bodoh!”
“Aku tidak akan takut menamparmu kalau kau mengatakan aku bodoh lagi, setelah Harrad Tower sudah menguntungkan tujuh kali lipat di tanganku!”
“Ya, aku percaya soal itu, tapi, jangan salah sola gadis itu, aku akan menikahkannya dengan Alex kalau kau benar-benar membuangnya!”
Alex adalah anak kedua dari Ketua, anak pertamanya perempuan dan usia Alex lebih muda dari Lintani beberapa tahun. Askelan tidak bisa menerimanya, karena keluarga itu pasti akan memperlakukan istrinya dengan buruk.
Sekarang semuanya seolah lebih jelas dengan apa yang dikatakan Elliyat berulang kali kepadanya tentang Lintani.
“Askel Sayang, dia adalah wanita terbaik untukmu, percayalah pada Ibu. Kalian pasangan yang serasi!” Begitu kata Elliyat setiap malam sebelum mereka tidur, setelah wanita itu bebas dari penjara.
“Dia cantik, dan sangat peduli padaku, dia yang selalu menanggung semua tugasku di kamar tahanan! Jadi, kalau dia bebas nanti, menikahlah dengannya, kau pasti akan bahagia!” kalimat itu juga yang sekarang selalu terngiang di telinga, seolah Elliyat baru saja berbisik di sampingnya.
Ibunya terus saja mengulangi ucapan yang sama, setiap ada kesempatan membuat Askelan bosan, bahkan membenci Lintani walaupun, belum melihatnya sama sekali.
Elliyat juga mengatakan kejahatan yang sudah dituduhkan pada Lintani, hingga dia dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang, tidak pernah dilakukannya. Saat itu Askelan berpikir jika hukum negara tidak akan salah dalam menilai sebuah perbuatan seseorang, karena hukum tidak akan berlaku tanpa adanya bukti.
Sekarang, Askelan tersadar bagaimana dia bisa melupakan satu garis merah yang begitu jelas. Mereka tidak akan melakukan semua itu kalau Lintani hanya orang biasa.
“Cari istriku sekarang juga, dan jangan kembali kalau belum menemukannya!”
Askelan menghubungi Jordan membuat sang asisten heran, dia pikir majikannya itu sudah tidak peduli dengan Lintani, yang bahkan diusir saat kematian ibunya di rumah sakit. Namun, mendapatkan perintah seperti itu, mau tidak mau dia kembali menggerakkan orang-orangnya lagi untuk mencari.
__ADS_1
Jordan mencari jejaknya pertama kali dengan melacak ponsel milik Lintani dan terakhir benda itu berfungsi di rumah Askelan sendiri.
Dia segera menelepon Bos-nya dan meminta pria itu memeriksa kamar istrinya. Ternyata benar, benda itu ditinggalkan Lintani di sana.
Sudah pasti dia tidak membawanya karena dia pikir, benda itu bukanlah miliknya.
“Dasar bodoh!” gumam Askelan sambil membanting ponsel itu ke lantai.
Askelan segera mengganti pakaian yang sejak dari kemarin dia pakai, lalu, berlari keluar rumah setelah menggenggam kunci mobil. Dia akan menyusuri jejak gafi itu mulai dari makam, di mana dia pernah melihatnya terakhir kali.
Dia menemukan sebuah motel murahan di sekitar tempat itu, yang bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki dari pemakaman. Kemungkinan gadis itu beristirahat di sana karena saat itu hampir helap. Dia bertanya ke sana dan menunjukkan ciri-ciri Lintani, tapi, pihak motel tidak ingat.
Lalu, dia pergi ke toko Shane dan menemui toko itu sudah tutup, dia mengetuk pintunya dengan putus asa. Walaupun tidak sopan, karena ini sudah larut malam, tapi, dia tidak perduli.
“Siapa, Anda?” tanya Shane saat melihat Askelan di depan pintu tokonya.
“Aku suaminya!”
Tentu saja jawabannya membuat wanita itu heran, bagaimana mungkin Lintani mempunyai seorang suami yang begitu berwibawa dan tampak mulia seperti ini, tapi masih bekerja menjadi buruh kasar di tokonya?
“Anda jangan menipuku, Tuan!” kata Shane seraya tersenyum kecil.
“Aku tidak bohong! Aku menelantarkannya selama ini, dan aku ingin minta maaf, aku menyesal telah bersikap tidak baik padanya!” Itu adalah alasan Askelan.
“Oh, pantas saja!”
“Jadi, apa dia mengatakan padamu tujuan kepergiannya?”
“Ya! Dia bilang akan kembali ke kampung halamannya. Dia ingin hidup tenang di sana jauh dari keramaian kota!”
“Apa dia bilang, di mana kampungnya?”
“Kalau soal itu, aku tidak tahu!”
Askelan mengakhiri percakapannya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kacau, karena dia tidak berhasil memperoleh informasi tentang keberadaan Lintani.
Perasaannya semakin penuh dengan penyesalan, mengingat saat dia tidak berhasil mengorek keterangan dari para tawanan saat itu, hingga berakhir dengan kematian pun mereka tetap bungkam. Sampai sekarang dia tidak tahu, siapa yang telah menjadi dalang dari pengejaran dirinya beserta penyebabnya.
__ADS_1
Bersambung