Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 70. Serangan Tak Terduga


__ADS_3

Serangan Tak Terduga


 


“Ah! Jangan!” teriak pengunjung itu, saat ponselnya di banting ke lantai secara kasar oleh pengawal. Namun, video yang dia buat sudah terlanjur tersebar ke dunia Maya.


Berbagai komentar masuk ke akun itu secara random, banyak yang mendukung Haifa, memuji kecantikan Yasmin, tapi ada pula yang mengomentari penampilan dan menilai Lintani dengan baik.


 


Sementara itu di barat daya kota, helikopter pun datang, bersamaan dengan berakhirnya video pertengkaran, antara Haifa sang artis yang manja melawan orang tak dikenal.


Max menoleh pada Askelan lalu berkata, “Apa kau sudah melihatnya, Tuan?” sambil mengulurkan ponselnya.


Askelan melihat hal itu, dan dia menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Dia tahu persis di mana kejadian itu berlangsung.


Mereka kini sudah berada di dalam helikopter, sementara Leo yang terluka, memilih pergi dengan bombim bersama Mat, karena dia harus pergi ke rumah sakit, untuk mengambil peluru yang bersarang di kaki dan tangannya.


“Tidak perlu, kita ke atap gedung Harrad Tower Mall! Sekarang!” perintah Askelan pada pilot. Max pun mengantongi handphone-nya kembali.


Jordan serta Pit berpikir keras, bagaimana mereka akan menurunkan semua senjata yang mereka bawa, kalau turun di sana?


Askelan seperti tahu apa yang mereka pikirkan, lalu, dia berkata, “Bawa saja soft gun, pistol, isi penuh pelurunya.”


Lalu dia menoleh pada pilot, “Kau, jangan pergi sebelum aku datang ke atap, oke?”


“Baik, Tuan!”


Di halaman parkir mal.


Dex meninju salah satu mobil di dekatnya dengan keras, tentu saja mobil itu tidak penyok sedikit pun melainkan tangannya yang sakit dan memerah. Dia sudah menerima sinyal dari ponselnya saat kaca berhasil di jebol. Dia marah, setelah tahu apa yang sudah terjadi di kubah putih, tanpa diberitahu siapa pun.


“Bawa perempuan sialan itu turun sekarang juga!” katanya setelah berhasil menghubungi penjaga perempuan di samping Lintani.


Dia sedikit menyesal kenapa menuruti Lintani atas nama cinta, ya! Agar gadis itu jatuh cinta kepadanya. Namun, dia bukan pria yang sabar demi seorang perempuan, dia akan memaksa Lintani sekarang.

__ADS_1


“Bos, dia masih ingin berbelanja!” sahut pengawal di ujung telepon.


“Damn!” rutuknya kesal, lalu, kembali ke mall dan menemukan Lintani masih mencoba beberapa gaun malam.


“Apa kau akan memakai semuanya?” kata Dex saat berada di sampingnya, “Ayo pergi!”


“Tunggu, aku masih mau mencoba satu lagi, ini sangat seksi. Aku akan memakainya untukmu malam ini!”


“Benarkah?”


“Benar!”


“Dasar wanita murahan!” gumam Dex sambil menyeringai. Dia sebenarnya menangkap kebohongan pada nada bicaranya dan mendapatkan firasat buruk secara bersamaan.


“Cepatlah, aku lapar!” kata Dex. Sebenarnya dia gelisah, karena dia tahu, jarak sebuah helikopter dari pesisir barat hingga sampai ke sana hanya butuh waktu 25 menit saja.


“Kenapa kau tidak makan saja, aku akan menunggumu di sini!”


“Aku mau makan di rumah saja!”


“Tidak juga!”


“Baiklah, kalau begitu, bayar dulu semua itu!” kata Lintani dengan tenang, padahal setengah mati dia menahan gelisah.


Setelah membayar, mereka pergi dengan cepat ke arah halaman parkir. Seorang penjaga perempuan menarik tangan Lintani dengan erat setengah menyeretnya.


Lintani merasa ada yang tidak beres, hingga dia mendengar lamat-lamat suara helikopter terbang di atas gedung.


“Apakah itu dia?” gumam Lintani dengan gerak bibirnya, yang tentu tidak bisa didengar oleh siapa pun.


Dex dan para pengawal mendongak ke atas, mencabut senjatanya masing-masing sambil berlari ke arah mobil, yang akan membawa mereka pergi menuju landasan helikopter rahasia sewaan mereka.


Lintani terjatuh, pengawal menghentikan langkah, lalu berlutut guna memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


Target penyelamatan dengan kode alpa satu adalah Lintani, dan alpa dua adalah kode bagi Dex. Karena mereka sebenarnya bekerja untuk Marka. Jadi, Lintani adalah yang utama.

__ADS_1


Sebuah mobil Van hitam dengan cepat mendekat, pengawal perempuan menggendong Lintani, dan masuk ke dalamnya. Dia perempuan tapi, justru yang terkuat yang di pilih Marka untuk melindungi targetnya.


Di seberang sana, pria itu sudah mendapatkan laporan situasi kubah putih, hingga dia membanting semua benda yang ada di sekitarnya. Ruang kerja Marka, seketika menjadi berantakan bagai diamuk badai.


Kembali pada situasi di sekitar mal. Sesampainya di dalam mobil, Lintani di bekap mulut dan tangan diikat oleh Dex. Sementara kendaraan terus melaju. Namun, tak lama mobil itu turun di sisi belakang gedung. Dex yang membawa Lintani naik ke atas melalui tangga darurat, bersama pengawal perempuan.


“Beri aku isyarat, saat kalian lihat rombongan Askelan berada di luar mal! Apa kalian mengerti?”


“Ya!” kata pengawal yang lain. Setelah itu, mereka pergi lagi, sedangkan Lintani tidak bisa apa-apa, karena tangannya pun terikat dan mulutnya dibekap.


Dari atas, Jordan melihat iring-iringan mobil Dex dan para pengawalnya keluar dari mall, sementara Pit dan Askelan mengarahkan senjata sniper untuk menembak ban mobil mereka hingga dua mobil itu berhenti.


Suara ban kempes segera terdengar, musuh tahu itu perbuatan Askelan, hingga mereka segera turun dari mobil dan mencari posisi aman untuk melakukan pertempuran.


Masih dari atas, Askelan, Pit, Max dan Greg yang kini ikut bersama rombongan inti, ikut menembak setiap kali ada orang yang keluar dari pintu mobil Van. Senjata yang mereka gunakan adalah jenis Barret M82 AS, semi otomatis dengan akurasi tembakan ekstrim. Setiap penjaga yang keluar dan hampir menembak ke arah atas di mana helikopter tetap terbang, mereka selalu tewas seketika sebelum sempat melakukan apa-apa.


“Tuan! Nona tidak keluar, atau masih ada dalam mobil?” kata Jordan yang ditugaskan memantau melalui teropong. Dia melihat sudah tidak ada lagi yang keluar dari Van itu dan semua sudah berhasil mereka lumpuhkan.


“Apa?”


“Mungkin masih di sekap dan menunggu kedatangan Anda!” kata Jordan lagi.


Askelan segera turun dari helikopter, yang kemudian mendarat di atas gedung. Mereka bergegas menuju tempat parkir, menggunakan lift, dengan setengah berlari karena rombongan itu, tidak ingin kehilangan kesempatan.


Setelah berada di bawah, dan memeriksa mobil yang kosong, mereka tampak kecewa.


 “Dasar bodoh!” teriak Askelan, sambil mendongak ke atas, dia kembali ke dalam mal sambil berlari, di saat yang bersamaan ....


Dor!


Sebuah tembakan lain mengenai lengan atas Pit, hingga dia lemas dan berdarah. Anak buah yang lain pun segera berbalik, batal mengikuti Askelan kembali. Mereka mendapatkan serangan lain dari arah mobil yang tiba-tiba mendekat. Greg dan Jordan segera berlari mencari perlindungan dan melakukan serangan balik.


Pit yang terluka pun masih bisa melakukan perlawanan. Dia tidak akan membiarkan dirinya hanya berdiam diri dan mati konyol hanya karena satu tembakan.


Sementara Askelan seorang diri tengah gelisah menaiki lift menuju ke lantai paling atas gedung.

__ADS_1


 


__ADS_2