
Pengakuan Dex
Setelah keluar dari lift, Askelan berlari menuju tangga yang menghubungkan bagian atap gedung, membuka pintunya yang ternyata terkunci dari luar.
“Sial!” umpatnya tanpa berpikir panjang, lalu, menghancurkan pembuka pintu itu dengan peluru.
Setelah pintu berhasil dibuka, Askelan melihat pilotnya sudah tewas, di tangan pengawal perempuan yang kini menodongkan pistol, ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka secara paksa.
Kini mereka, Askelan, Dex dan sang pengawal perempuan, saling berhadap-hadapan dengan senjata masing-masing di tangan.
Lintani dalam pelukan Dex, wajahnya pucat mulutnya di bekap dan rambutnya sudah acak-acakan karena gadis itu terus memberontak.
“Turunkan senjatamu, atau ku bunuh perempuan ini sekarang juga!” kata Dex sambil menekan ujung pistol di leher Lintani.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sebanyak tiga kali yang artinya, jangan kuatir dia tidak akan berani melukaiku, jangan khawatir padaku dan pergilah, jangan mendekat ... aku tidak ingin kau mati karena aku!
Sedangkan Askelan melihat Lintani dengan mata yang basah, antara rindu dan kesal, antara aneh dan sakit hati, rasa di ulu hatinya seperti disayat dengan pecahan kaca.
“Bagaimana dia bisa tertangkap oleh Dex?” pikirnya.
Dengan perlahan pria itu menyimpan senjata ke lantai dengan perlahan.
“Tendang senjatamu kemari!” perintah Dex lagi. Dan, Askelan menurut, tanpa menghiraukan isyarat Lintani.
“Berlututlah!”
Askelan pun berlutut, sambil berkata, “Serahkan dia padaku!”
“Kau harus memberikan kedudukanmu, kalau mau dia kubebaskan!”
“Baiklah! Dan serahkan dia padaku!”
“Kau harus berjanji dulu!”
“Ya! Aku janji!”
Pengawal perempuan menyeringai dan kembali menyimpan senjata di pinggangnya, lalu, mendekati helikopter lagi. Dia yang akan menjadi pilotnya kali ini. Tanpa menyadari jika Askelan masih menyimpan satu senjata lagi.
Sementara Dex melangkah mendekat ke helikopter juga sambil menyeret Lintani, sepertinya dia tidak akan menyerahkan gadis itu dengan mudah. Dia mengambil ponsel tanpa melepaskan Lintani dari pelukannya. Dia akan membuat perjanjian dengan merekam pernyataan Askelan melalui telepon genggamnya.
Lintani berdiri di dekat helikopter, dia tidak bisa naik kecuali, dengan bantuan karena tangannya terikat. Dia terus menatap Askelan dengan tatapan yang rumit dan tampak putus asa.
‘Benarkan seorang pria kuat seolah tak tertandingi bisa menjadi lemah, hanya karena wanita yang dicintai? Tuan Askel, sungguh aku tak layak untuk mendapatkan pembelaanmu seperti ini, pergilah!’ Batin Lintani.
“Sebentar, aku harus mempunyai bukti kuat kalau kau menyerahkan kedudukanmu padaku!” kata Dex sambil menyalakan ponselnya.
Baru saja Dex selesai bicara, Askelan sudah berdiri dan menembak pengawal perempuan, yang tengah menarik tubuh pilot keluar dari kursinya, hingga tewas. Dia tertembak di punggung tapi, tepat mengenai jantung.
Saat menyadari hal itu, Dex menoleh dan mendapati Askelan yang menodongkan pistol ke arahnya.
Secepat kilat Dex kembali merapatkan tubuh Lintani menjadi perisai, sementara tangan yang lain menarik senjata dan menodongkannya ke arah Askelan. Punggungnya punggungnya menempel di badan helikopter, supaya lebih aman.
“Kau, berani menantangku, anak kecil? Kau belum tahu siapa aku, kan? Aku lebih licik darimu!” teriaknya.
__ADS_1
“Aku tahu siapa kau Paman!”
“Bagus kalau kau tahu, jadi aku tidak perlu repot-repot mengakui kalau akulah yang sudah menjebakmu dua kali! Haha!”
Dex tertawa.
“Ah! Ternyata aku salah! Kau bisa lolos dan menikmati permainanku, bahkan kau menikmati tubuh wanita murahan itu? Hah!”
Dex kembali tertawa. Askelan diam dan tetap waspada. Berulang kali dia mengumpat bodoh pada Lintani dalam hati, karena telah membuatnya dalam situasi seperti sekarang.
“Apa kau tahu, bagaimana aku memberimu obat, ha? Ini mudah ... aku hanya perlu mencampur dengan minumanmu dan menyuruh orang lain menyajikannya! Kau sok suci seperti Ayahmu! Dan sekarang kau juga sama saja seperti dia, mencintai wanita miskin ini!”
“Apa salahnya miskin?” tanya Askelan.
“Apa salahnya miskin? Apa salahnya miskin? Dia bahkan seorang mantan narapidana, jangan bilang kau menyukainya! Ah, aku tidak bisa percaya keturunan rendah seperti kalian bisa menjadi pimpinan Harrad!”
“Harrad tidak ada apa-apanya kecuali dengan kehormatan dan harga diri!”
“Lalu, kau pikir di mana harga dirimu setelah kau menyukai mantan napi?”
“Tidak ada yang membedakan seseorang terhormat atau tidak kecuali, dari perbuatannya, Paman! Dan perbuatanmu, tidak ada yang menunjukkan kehormatan!” teriak Askelan.
“Kau bilang kehormatan? Apa terhormatnya dengan menolong gadis residivis ini? Ha!” Kata Dex kembali terbahak, tanpa mengendurkan sedikit pun dekapan tangannya pada Lintani, yang sudah kesulitan bernapas, karena lehernya ditekan pistol dan dadanya diimpit tangan besar Dex.
Askelan marah melihatnya dan maju satu langkah semakin mendekat. Dia tidak mungkin menembak karena jika gegabah, maka, tangan Dex akan menekan pelatuk senjata, yang menempel di leher Lintani saat itu juga. Kalau gadis itu tiada, untuk apa dia susah-susah hingga berada dititik itu sekarang.
Dor! Dor! Tiba-tiba dua tembakan sekaligus melesak ke kaki Askelan karena dia hendak melangkah lagi.
“Hah! Kau pikir aku menggertak?” bentak Dex.
Askelan hanya meringis sedikit, lalu berusaha meraih pistolnya kembali.
Melihat Askelan lemah, Dex berkata, “Kau lihat!” sambil merobek baju bagian belakang Lintani, hingga pundaknya terbuka. Dia kembali tertawa seraya berkata, “Kau lihat apa dia benar-benar terhormat? Bahkan Marka Si Tua itu melarangku memakainya, apa istimewanya dia?”
Baju terus dirobek paksa, memperlihatkan punggungnya.
Lintani memberontak sekuat tenaga, ingin menolong pria yang di matanya sungguh terlihat lemah. Dia menekuk lutut, hingga tubuhnya melorot dengan cepat dan, dia bisa terlepas. Namun, saat dia mencoba berlari, Dex menarik tangannya yang terikat. Sambil menodongkan pistol di kepala Askelan yang masih dalam posisi berlutut.
Dan, tiba-tiba ....
Dor!
Suara tembakan terdengar begitu dekat dan ternyata, mengenai punggung Dex membuat pria itu tersungkur, bersamaan dengan tubuh Lintani yang terjatuh karena tidak seimbang saat dia berdiri.
Tembakan itu dilakukan oleh seseorang dari arah belakang helikopter, sama seperti yang dilakukan Askelan pada pengawal perempuan tadi, tembakan di punggung yang tepat mengenai jantung.
Anehnya, Dex masih mampu mengangkat pistolnya dan hendak melakukan tembakan. Askelan menyadarinya dan secepat kilat dia menembakkan peluru tepat di kepala pamannya itu, hingga akhirnya menutup mata.
Askelan menyeret tubuhnya mendekati Lintani yang tidak bergerak. Entah siapa yang menembak sedangkan, dia tak mampu berjalan, kedua peluru bersarang di betis dan dekat mata kakinya dan mengeluarkan banyak darah.
Dia membalikkan tubuh Lintani yang pingsan. Ternyata, pelipis gadis itu terluka karena tersungkur dengan tangan terikat. Askelan mengulurkan tangan meraih Lintani dalam pangkuannya.
Seseorang mendekat, menendang tubuh Dex hingga telentang, menempelkan tangan ke leher guna memastikan jika pria itu sudah tiada. Lalu, menoleh pada Askelan yang tengah melepaskan ikatan di tangan Lintani, dan mengusap darah di pelipisnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
“Tuan! Apa kau baik-baik saja?” teriak seorang wanita yang kini berlutut di hadapan Askelan sambil menyelipkan soft gun di pinggangnya.
Askelan menoleh padanya dengan alis yang berkerut.
“Kau?”
“Kau masih ingat aku?” kata seorang gadis, sambil melepaskan jaketnya dan menyelimuti punggung Lintani yang terbuka. Dia tersenyum melihat luka di kaki Askelan, lalu, melepas kemeja dan menyisakan tank top hitam serta celana jeans di tubuhnya.
Gadis itu merobek kemeja menjadi dua lalu, membebat luka itu dengan kemejanya. Mencegah agar darah tidak terlalu banyak keluar.
“Tentu aku ingat! Terima kasih!”
“Aku pergi, dan jangan katakan apa pun pada Jode soal ini,” kata gadis itu lagi sambil berdiri.
“Dia menyayangimu!”
“Tapi, dia akan membunuhku kalau tahu.”
“Ya, aku mengerti!” kata Askelan.
Wanita itu melirik Lintani, lalu berkata, “Apa dia kekasihmu?”
Askelan diam.
“Dia cantik, sepertinya dia wanita yang sangat berharga sampai menjadi tawanan laki-laki brengsek itu!”
“Hmm ....” Askelan bergumam seraya mengangguk.
“Kalau aku tidak ke atap, mungkin selamanya aku tidak bisa membalas dendam padanya! Mork dulu bekerja padanya, kan?”
Askelan mengangguk lagi.
“Tuan, akan aku kirim rekaman percakapan tadi lewat surel. Siapa tahu kau membutuhkan, biar jadi alibi bahwa bukan kau yang membunuhnya!”
“Tentu! Terima kasih!”
“Tuan, tidak perlu berterima kasih, anggap ini sebagai balas jasa atas kebaikanmu, tanpa bantuanmu, mungkin selamanya aku tidak akan bisa berjalan!”
“Tidak masalah, aku senang bisa membantumu!”
“Tuan, bagaimana kira-kira kau akan pulang, apa kau bisa membawa heli?”
“Tidak!”
“Kalau begitu, tunggu sebentar!”
Gadis itu bersiul, lalu keluarlah seorang perempuan lain, dengan penampilan yang hampir sama, berambut pendek, memiliki banyak tindik di telinga serta celak mata yang tebal.
“Ayo! Apa kau siap terbang?” kata Gadis itu lagi pada temannya.
“Tentu!”
Dua wanita itu mengangkat Lintani lebih dulu ke atas helikopter lalu, memapah Askelan, hingga duduk dengan nyaman.
__ADS_1
Bersambung