
Tidak Tahu Balas Budi
Sementara Lintani sudah selesai membungkus makanan di bantu oleh seorang asisten rumah tangga.
“Pap Lux, Mama, Haifa, aku permisi, terima kasih atas makannya hari ini!” kata Lintani, saat gadis itu melintas di deretan sofa yang diduduki Askelan, Luxor, Rauja dan Haifa.
“Papa, semoga kau cepat sembuh!”
“Lin, tinggalah di sini ... jangan begini, kami masih merindukanmu!” kata Haifa seraya berdiri dan menggenggam tangan Lintani, tapi genggaman tangan itu seperti menyakiti.
“Tidak terima kasih!” kata Lintani sambil melepaskan pegangan tangan dari Haifa dengan kasar.
“Kau ini, seperti orang asing saja! Pantas kalau kau masuk penjara!” kata Rauja.
Askelan mengerut alisnya lalu, bekata, “Hai! Bukankah Haifa juga pernah masuk penjara? Apa kalian lupa?” Askelan yang lebih banyak diam itu, tiba-tiba bersuara.
“Ah, iya! Maaf aku lupa!” kata Rauja sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dia melirik anaknya penuh rasa bersalah karena keceplosan.
Lintani semakin tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan Askelan. Bagaimana mungkin Haifa bisa dipenjara? Yang pernah dipenjara adalah dirinya karena dituduh membunuh seseorang. Bahkan dia tidak tahu siapa namanya.
Lintani kemudian menoleh pada Haifa yang masih berdiri di sampingnya, dia bertanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
“Benarkah Kau pernah dipenjara? Kapan, apa kau berada di dalam penjara yang sama denganku, tapi, kenapa aku tidak pernah melihatmu?”
Haifa kemudian tertawa kecil lalu menepuk-tepuk punggung Lintani dengan lemah lembut sambil berkata, “Aku di penjara tidak lama karena itu hanya kesalahpahaman saja!”
__ADS_1
Sebenarnya Haifa mengaku di depan Askelan bahwa, dia harus dipenjara setelah menolongnya malam itu.
“Oh, jadi kupikir kau sama denganku ... ah! Tentu saja kita berbeda, ya! Aku bahkan harus menanggung beban orang lain padahal aku tidak bersalah sama sekali. Oh ya, Papa Lux, malam itu juga aku melihatmu di sana, aku pikir kau tahu sesuatu, aku ingin memanggilmu tapi polisi menahanku dan bilang bahwa, aku tidak memiliki hak untuk bicara kecuali di depan pengadilan!”
Lintani hampir saja menertawakan dirinya sendiri karena tidak mungkin orang-orang seperti Rauja dan Luxor akan membantu atau menyelamatkan dirinya, bahkan mungkin laki-laki itu ingin dia tiada bersama laki-laki yang mati malam itu.
Suasana di sana tiba-tiba menjadi tegang setelah Lintani selesai bicara, gadis itu sangat terasa kecewa karena sejak mulai pertama dia menjalani pengadilan sampai dikeluarkan dari penjara, tidak ada satu pun keluarga Luk yang menjenguknya.
Luxor dan Askelan secara bersamaan menegakkan punggungnya.
“Memangnya apa yang terjadi waktu itu, kau ada di mana? Apa maksud ucapanmu, Lin? Jangan permalukan keluarga kita sudah cukup kau berbuat hal yang memalukan di luar sana!” kata Rauja, dalam hati dia khawatir kalau Lintani mengacaukan makan siang kali ini, dengan ucapan ataupun pengakuannya.
“Ah ya! Memang, itu tidak penting, itu sudah terjadi delapan tahun yang lalu dan kalaupun aku mengakui sesuatu, tidak akan merubah apa yang sudah aku lewati selama delapan tahun di dalam penjara, bukan?” kata Lintani.
Terlihat Rauja maupun Luxor terlihat bernapas lega, sementara Haifa kembali menyentuh tangan Lintani sambil berkata, “Apa yang kau bawa ini, Lin? Apa kau membawa makanan dari kami? Kenapa kau tidak membawa semuanya saja? Sepertinya kau hanya membawa sedikit.” Haifa berkata untuk menyudutkan dan mengejek tapi, hanya Lintani yang merasakannya.
“Tidak, sama sekali tidak, kalau kau mau, tinggal di sini saja, kembalilah pada kami!” kata Haifa.
“Tidak, aku akan merepotkan kalian, bukan?”
“Sudahlah, Haifa ... biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya! Kau terlalu baik!” kata Rauja saat Haifa berusaha kembali membujuk agar lintani mau tinggal bersama mereka.
Askelan menoleh pada Rauja dan Lux yang duduk di sofa dekat Haifa. “Apakah dia bagian dari keluarga ini?” tanya pria itu.
Mereka pernah bertemu di malam seusai pesta, Askelan belum sempat menanyakan apa hubungan antara Lintani dengan keluarga Luxor. Dia hanya bertanya pada Lintani dan gadis itu menjawab bahwa, dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya mereka.
“Tuan Askel, dia bukan siapa-siapa, tapi kami sudah merawatnya selama 11 tahun dengan penuh kasih sayang. Dia anak yang malang, dia dibiarkan oleh ibunya begitu saja. Kami tidak menyangka kalau anak ini durhaka! Anda bisa melihat sendiri kan bagaimana sikapnya?” kata Luxor sambil memijit kepalanya, dia masih sakit dan membuat Askelan merasa iba hingga mau memenuhi undangannya.
__ADS_1
Luxor kemudian berdiri dia meraih bahu Haifa, kemudian membawanya duduk kembali ke samping Askelan, sambil berkata, “Haifa putri kami yang sangat berharga, lemah lembut dan penyayang kepadanya, tetapi, gadis itu tidak mengerti tentang balas budi, sebaiknya kalau Anda bertemu dengan wanita seperti dia, abaikan saja.”
Haifa menoleh pada Luxor dan berkata, “Tidak, Ayah... kasihan ... biar bagaimanapun dia adalah saudaraku!”
“Tuan Askel, lihatlah ... wanita seperti Haifa, anakku ini yang sangat manis! Bagaimana mungkin dilukai? Dia begitu lembut dan juga penyayang, dia layak menjadi seorang bintang terkenal. Apabila Anda memperkenalkannya pada seorang produser ataupun seorang yang berpengaruh di dunia hiburan, pasti akan sangat membantunya!”
Raja berkata dengan sungguh-sungguh dan mata yang berbinar-binar mengharapkan pertolongan Askelan agar putrinya bisa lebih terkenal.
“Ya, tentu saja, apa pun akan aku lakukan untuk Haifa,” sahut Askelan.
“Bagus! Ya, aku juga mendukungmu mudah-mudahan tahun ini kau akan mendapatkan penghargaan!” kata Haifa dengan nada penuh ejekan.
“Lin, terima kasih kau sudah mendoakan aku!” kata Haifa.
Setelah itu Rauja pun berdiri dan menuntun Lintani untuk keluar dari rumah. Setelah sampai di halaman yang agak jauh dari pintu, dia berkata, “Cepat pergilah dari sini kau hampir saja mengacaukan makan siang kami!”
“Ah itu belum seberapa, dibandingkan kalian yang mengacaukan masa depanku!”
“Dasar gadis tidak tahu balas budi, pergi sana!”
“Anakmu yang mengundangku, kenapa kau yang mengusirku? Siapa sebenarnya yang tidak tahu balas budi, aku, atau kalian semua?”
“Apa maksudmu?”
Bersambung
__ADS_1