
Tarian Erotis Lintani
“Menarilah untukku!”
Lintani heran dengan perkataan Askelan ini, hingga dia diam dan bingung, apakah dia harus menangis atau tertawa.
Askelan tidak melepaskan tatapannya pada Lintani yang masih mematung, sambil menggeser kursi rodanya ke sisi tempat tidur, lalu berusaha memindahkan tubuhnya.
“Apa kau butuh bantuan?”
“Tidak usah!” suara Askelan meninggi, sepertinya dia kesal dengan kondisinya saat ini.
Askelan berdiri sebentar, lalu dengan cepat mengangkat bokongnya ke sisi tempat tidur dan menggeser tubuhnya secara perlahan hingga berada dalam posisi yang nyaman, dia kini bersandar di ujung tempat tidur yang luas.
“Ayo! Menarilah!” kata Askelan lagi, dia terlihat sangat bosan.
“Apa kau punya ponsel?”
Askelan hanya menoleh ke arah meja kecil di sisi tempat tidur dan menggerakkan dagu, sebagai isyarat di sanalah benda yang diinginkan Lintani berada.
Lintani mengambil benda itu.
“Apa polanya?” tanya Lintani sambil menunjukkan layar ponsel Askelan yang menunjukkan sandi berupa pola.
Tiba-tiba dia ingat ponsel lamanya yang hancur, di sana ada satu-satunya foto diri dan ibunya. Ponsel itu adalah satu benda yang diselipkan Viana di saku bajunya, sebelum kembali ke perahu, tanpa sedikit pun senyuman dan kata-kata. Lintani merasa ibunya begitu membencinya.
Tanpa gadis itu sadari, Viana saat itu tengah mencoba tegar untuk tidak menangis di hadapan anaknya. Lebih baik dia membenci selamanya dari pada dia berniat untuk pulang.
Setelah layar ponsel terbuka, Lintani mencari aplikasi musik dan menyetel sebuah lagu yang mendayu, lembut tapi, ada sedikit hentakan bass yang kuat.
Lintani merubah posisi satu sofa hingga menghadap ke tempat tidur. Dia duduk dengan hanya sedikit bagian bokongnya, lalu, membuka kedua pahanya lebar-lebar dan mengangkat kedua tangan ke atas. Memperlihatkan seluruh bagian tangannya yang terbuka karena dia memakai dress tanpa lengan.
Setelah itu tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama musik. Hanya tangan dan posisi tubuh yang kadang ke depan, ke samping atau membungkuk. Dalam beberapa posisi, dia terlihat begitu seksi dan erotis, memperlihatkan belahan dada karena leher bajunya cukup rendah.
Rambutnya yang tergerai itu semakin acak-acakan, tapi justru membuat pria di atas tempat tidur terpesona.
Tiba-tiba dia mematikan musik, seraya berkata, “Kemarilah!”
Askelan menepuk kasur di sisinya yang kosong. Lintani diam, kedua pahanya masih terbuka lebar dan tangannya sibuk merapikan rambutnya.
“Tidurlah di sini, temani aku!”
Lintani beranjak dari kursinya dan mendekat ke sisi tempat tidur.
__ADS_1
“Apa ini akan menjadi kamarku juga?” Saat berkata, Lintani ingat kamar lama Askelan yang hampir melenyapkan nyawanya.
“Menurutmu? Aku akan memberimu tempat yang lain kalau kau tidak mau tidur bersamaku!”
Askelan berkata sambil mengulurkan tangan, melingkar di pinggang dan menarik Lintani hingga terjerembap di atas tubuhnya. Kini tangannya bergerak ke belakang tengkuk lalu, menekan hingga bibir mereka saling bertemu. Pria itu menjilati bibir gadis di atasnya sebentar.
“Jangan pergi mulai dari sekarang, dan hanya aku yang boleh memutuskan kapan hubungan kita berakhir, oke?”
“Lalu, bagaimana dengan Haifa? Bukankah kalian akan men— Ah!”
Ucapan Lintani terputus, karena Askelan menggigit bibir bawahnya.
“Jangan bicarakan orang lain selagi kita masih berdua, apa kau mengerti?”
Lintani mengangguk. Tatapan mata masih bertemu, sedangkan tangan Askelan sudah bergerak ke belakang, merem mas pinggul serta bokongnya, merambat naik ke dada lalu ke leher dan kembali menyatukan bibir, hingga ciuman semakin panas.
Tubuh Lintani menegang, merasakan sesuatu yang mengeras di bawah perutnya. Sejenak mereka berhenti untuk mengambil napas, tapi, Askelan kembali menumpu bibirnya dengan kuat.
Askelan tiba-tiba melepaskan pagutan, saat dia bicara.
“Apa kau merindukanku?” tanyanya, mengulangi pertanyaan sebelumnya.
Lintani kembali menjawab dengan jawaban yang sama, tapi, sepertinya jawaban itu salah, hingga membuat Askelan merobek baju bagian depan, membuat bagian dadanya terbuka.
“Diam!”
Askelan tampak tidak suka, dia terus membuka pakaian Lintani dengan satu tangan, dan tangan lainnya menekan tubuh gadis itu agar tetap berada di atasnya.
Askelan kembali mencium bibir Lintani sekilas, lalu, menyibakkan anak rambut di pipi dan menyelipkan di belakang telinganya dengan lembut.
Kini Lintani tak berbusana, lalu, Askelan membuka kedua paha Lintani lebar-lebar di atas perut dengan tangannya.
“Kau ingin melakukannya sekarang? Tuan, kakimu masih sakit ....” kata Lintani sambil menegakkan punggung.
“Bukan aku yang akan melakukannya, tapi kau! Dan panggil aku Sayang saat kau ingin mande sah!” kata Askelan, sambil mengeluarkan miliknya sendiri.
Lintani memejamkan mata, saat Askelan menekan pinggulnya ke bawah, untuk menyatukan mereka dan membantunya bergerak, berusaha mendapatkan kepuasan. Setelah itu terjadilah apa yang mesti terjadi lagi.
Sementara di luar sana, hujan gerimis terus turun bagai di sengaja menemani dua manusia, di dalam kamar yang akhirnya tertidur setelah selesai melepaskan gairah mereka masing-masing.
Askelan membiarkan wanita itu tertidur di lengannya, dengan wajah yang terlihat lelah. Kali ini dia yang pertama kali membuka mata, setelah beberapa jam kemudian, pikirannya sedikit tidak tenang karena cerita Lintani padanya.
Dia mengangkat kepala Lintani secara perlahan agar tidak membangunkannya, lalu, dia duduk di sisi tempat tidur setelah membetulkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua. Dia menghubungi Jordan.
__ADS_1
“Hallo, Tuan. Apa ini saatnya kau menggangguku?” kata Jordan terdengar dari ujung telepon. Dia masih sangat sibuk saat itu dan dia baru saja menikmati makan siangnya di kantor Askelan.
“Berapa uang yang kau berikan pada gadis bermuka badut waktu itu?”
Askelan tampak tidak memedulikan keluhan anak buahnya yang terdengar bicara sambil mengunyah makanan, sedangkan Jordan tampak berpikir keras lalu mencoba menebak arah pembicaraan tuannya.
“Apa kau mencurigai Haifa? Aku memberinya seratus ribu dan apartemen di Brolau!”
“Kenapa kau memberinya apartemen?”
“Tuan, para wanita yang ada di sana rata-rata tunawisma, dan Haifa waktu itu berbohong dengan mengatakan jika dirinya baru saja di buang oleh ibu dan saudaranya ke jalanan, bahkan dia mengaku kalau dia bukan wanita murahan, huh, lucu sekali, kan?”
“Selidiki apartemen itu sekarang, masih ditempati atau tidak?”
“Jawabannya tentu tidak Tuan. Selama ini aku hampir tidak pernah melihatnya ke sana. Itu hanyalah apartemen biasa yang aku pikir, kalau Tuan cocok dengannya, maka Tuan bisa mengunjunginya kapan pun saat menginginkannya! Siapa yang menyangka kalau dia adalah Haifa. Bahkan dia seorang artis walau tidak terkenal.”
“Ya, aku tahu cerita selanjutnya. Selidiki tentang apartemen itu sekarang!”
Askelan menutup ponselnya secara sepihak, membuat Jordan di tempat yang berbeda mendecak kesal, sambil menatap ponselnya yang layarnya mulai menggelap.
Mencari informasi apartemen miliknya, itu hal mudah dan Jordan langsung menghubungi seseorang
Setelah tiga puluh menit kemudian, dia menerima kabar dari orang suruhannya itu, yang mendapat informasi dari pihak pengelola gedung dan mengatakan bahwa, seorang wanita telah menjual apartemen itu, sekitar lima bulan yang lalu dengan harga yang lumayan. Kini sudah ditempati oleh seseorang.
“Apa kau bertanya pada orang itu, siapa yang sudah menjualnya?”
“Ya, bahkan dia menunjukkan kuitansi pembayarannya!”
“Siapa?”
“Nama yang aku lihat di sana, bukti itu ditandatangani oleh orang yang bernama Rauja!”
“Baik, terima kasih atas informasinya!”
“Tentu, Bos! Jangan sungkan.”
Jordan segera kembali ke kantor, karena sudah selesai makan siang dan mengirimkan pesan pada Askelan. Dia tidak tahu jika kabar yang dikirimnya dengan cepat itu, membuat bos nya puas sekaligus marah.
Sementara Askelan yang masih menikmati aktivitasnya menatap dan membelai pipi kekasihnya itu, tiba-tiba wajahnya berubah masam, setelah membaca pesan dari Jordan.
Dia menatap Lintani sambil mengepalkan tangan, dia marah pada keadaan, karena cerita yang dikatakan gadis itu lebih cocok dengan kenyataan. Lalu, apa yang dia lakukan selama ini, menyakitinya? Walaupun, dia memang tidak tahu kalau Haifa berbohong, seharusnya dia lebih peka jika gadis itulah yang tidak membuatnya mual, bukannya Haifa.
Bersambung
__ADS_1