Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 122. Petra Dan Gelangnya


__ADS_3

Petra Dan Gelangnya


Petra melihat ke arah pria itu sejenak, dia sendiri heran, karena tidak biasanya mau meladeni orang yang kurang waras di tepi jalan. Akhirnya dia menerima ucapan permintaan maaf orang gila itu.


Setelah mengetahui ada ukiran nama Shaw di bagian dalam gelang itu, Petra menemui Yasmin. Lalu, menceritakan tentang apa yang ditemukannya, pada gadis yang sudah berkawan dengannya walau tidak begitu akrab.


Yasmin tentu saja menyadari sesuatu, dan setelah tahu Petra memiliki gelang itu, Yasmin menawarkan diri padanya dan, sejak saat itulah mereka menjadi pasangan kekasih. Semua keluarga dari kedua belah pihak pun sudah saling menyetujui hubungan mereka. Bahkan meminta agar segera menikah dan memiliki anak.


Kalau soal berhubungan badan seperti saat itu di hotel, tentu saja mereka sudah sering melakukannya.


Sepasang kekasih itu hendak mengklaim kepemilikan bukit Shaw tanpa menunggu Aston tiada. Kalau dia bisa memiliki hak, maka semua keluarga akan menghormati keduanya bak raja-raja. Ini akan sangat menyenangkan.


“Siapa manusia yang tidak senang diperlakukan seperti raja dan putri, dicintai banyak orang memiliki kekayaan tak terbatas, dan bisa memerintahkan sesuka hati?” kata Petra suatu kali pada Yasmin, saat wanita itu untuk pertama kalinya menceritakan riwayat Bukit Shaw. Dia begitu bersemangat.


“Ini seperti kekuatan Tuhan, Pet ... di mana manusia pasti tidak akan sesempurna itu dalam mendapatkannya. Gelang saja tidak cukup!” Yasmin menyahut dengan rendah.


Bukankah manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan penuh kekurangan, sekuat apa pun manusia pasti membutuhkan dukungan dari manusia lainnya, bahkan dia tetap membutuhkan makanan.


“Apa maksudmu, Yas?” tanya Petra gelisah waktu itu.


“Kata Kakek, ada satu benda lagi yang harus dibawa kalau ingin memiliki emas itu sebelum dia mati!”


“Apa itu?”


“Sebuah stempel!”


Yasmin pun mengatakan tentang stempel yang bisa saja di lihat melalui sebuah tato, kalau tidak ada stempel besi itu.


“Kau bisa membuat tato itu bukan?”


“Ya! Tapi aku tidak tahu bagaimana gambarnya!”


“Ah ya! Kau benar.”

__ADS_1


Pembicaraan mereka berakhir sampai di situ.


Tidak ada sesuatu yang lebih membuat mereka bahagia selain harta saat itu, mereka sudah memiliki uang, tapi belum memiliki kekuasaan dan kewenangan. Petra sebagai pemilik perusahaan batu bata terbesar di kota saja belum cukup, karena sang ayah masih menuntut sesuatu yang lebih. Orang tuanya tidak mempunyai kepuasan untuk apa pun yang sudah dimilikinya saat ini.


Kehormatan bagi sebagian orang tua lebih penting lagi. Dia tidak tahu apakah semua orang tua, akan bersikap seperti ini pada anaknya. Tapi, dia sudah cukup terbiasa. Lalu, setelah mengetahui semua informasi tentang adanya kekayaan tersembunyi di kotanya, membuat Petra begitu bersemangat mendapatkannya.


Oleh karena itu dia begitu mencintai Yasmin, apalagi wanita itu begitu cantik, elegan dan juga berkelas. Sangat berbeda dengan Lintani, wanita lugu yang dulu pernah menarik hatinya.


Setelah cukup beristirahat, kedua manusia yang saling mencintai karena harta itu pun keluar kamar untuk mencari makan malam.


Sesampainya di restoran yang terletak di lantai dasar hotel itu, sepasang kekasih itu memesan makanan setelah duduk di salah satu meja.


Sebuah kebetulan jika saat tengah menikmati makanan, kemudian mereka bertemu dengan Haifa. Gadis itu tertarik untuk mendekati dan menyapa keduanya, setelah melihat gelang berukiran bunga Cruise yang melingkar di tangan Petra. Seingat Haifa, gelang seperti itu pernah ada di antara barang yang dimiliki Lintani, yang di buang ibunya ke tempat sampah, bersama dengan beberapa barang tidak berguna milik Lintani lainnya.


“Hallo! Pet, Yas! Kalian di sini?”


Haifa merasa sial, setelah dia selalu datang untuk memenuhi keinginan dan napsu Marka di tempat tidur, justru kini pria itu hilang entah ke mana. Dia ingin memiliki tanah yang mengandung emas yang dijanjikan pria tua itu, dan akan lebih mudah jika dia memiliki gelang atau tanda stempel Shaw. Bahkan, pria itu menjanjikan akan melakukan pemaksaan jika sampai Aston tidak mau memberikan haknya sebagai cucu dari keluargnya sendiri.


“Ya! Apa kalian sudah makan? Boleh, kan, aku bergabung?”


“Tentu!” kata Petra dan Yasmin secara bersamaan, “Silakan!”


“Sebenarnya aku tidak lama, aku hanya tertarik pada gelangmu, Pet! Bukankah ini lucu, sebuah gelang seperti terbuat dari kayu! Bagaimana orang bisa mengukir dan membentuk bulatan seperti itu?” kata Haifa sambil duduk di antara Petra dan Yasmin.


“Ya! Ini memang tidak biasa!” kata Petra penuh semangat, sambil menyentuh gelangnya dan tersenyum, sementara Yasmin bermuka masam, dia kesal karena Petra tidak juga memberikan gelang itu padanya.


“Berapa kau akan menjualnya? Aku ingin membelinya!”


“Aku tidak menjualnya, Hai. Ini sangat unik!”


“Dari mana kau mendapatkannya?”


“Aku menemukannya, di jalanan!”

__ADS_1


“Oh ya?”


Dalam hati Haifa mengutuk ibunya, sembarangan saja membuang benda yang ternyata sangat berharga.


Lalu, dia melirik Yasmin, seraya berpikir kalau Yasmin pasti tahu soal gelang itu, hingga begitu mendadak menjadikan Petra sebagai pacarnya. Ahk! Yang benar saja.


Namun, setelah melihat sendiri jika gelang Lintani sudah menjadi milik orang lain, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah. Dia tahu, pasti Petra dan Yasmin yang duduk di depannya itu sudah memiliki rencana tertentu.


Apalagi, Marka sebagai sekutu Haifa kini sudah menghilang, bahkan beberapa anak buah yang dipercaya pun tidak tahu ke mana kepergian pria tua itu, setelah terakhir kali dia terlihat pergi bersama beberapa orang secara diam-diam di pagi buta.


“Oh! Kau sangat beruntung, Pet! Memiliki barang antik itu!” kata Haifa, membuat Petra menarik sudut bibirnya.


“Apa kau mau memesan makanan, biar kami yang membayarnya untukmu!” kata Yasmin setelah sekian lama diam. Dia hanya berbasa-basi, padahal dia ingin agar Haifa segera pergi.


“Tidak perlu, terima kasih atas tawaran kalian!”


“Tidak masalah, aku pikir Askelan masih bersamamu, pantas saja kau menolak!” kata Yasmin, sebenarnya dia sedang menjatuhkan Haifa.


Haifa mencibir dirinya sendiri, sejak diputuskan Askelan secara sepihak, kartu debit yang ada di tangannya pun diblokir, dia seakan-akan menjadi miskin secara mendadak. Semua karena Lintani. Tiba-tiba dendamnya pada wanita itu kembali muncul setelah mencoba memadamkannya setengah mati. Tekadnya percuma saja, saudara angkatnya itu bagai hantu, menjadi tak tersentuh sekarang.


Sesal dan kecewa yang dimiliki seseorang bisa membuat satu rasa yang lain. Ya, dua rasa itulah yang kemudian berubah menjadi satu rasa yang di sebut dendam.


“Bukan begitu! Oh ya, Petra ... apa yang akan kau lakukan dengan gelang unik itu?”


“Itu urusanku, kau tidak perlu tahu!” tukas Petra, sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


“Begitukah? Apa yang seharusnya kau lakukan pada gelang itu, aku tahu!” kata Haifa sambil bersedekap.


Tiba-tiba Yasmin dan Petra saling melempar pandangan, menatap penuh keheranan, bagaimana mungkin Haifa tahu, sebab masalah bukit Shaw adalah rahasia keluarga. Sementara Haifa hanyalah orang luar bagi mereka.


“Apa yang kau tahu?” Saat bicara, Yasmin dan Petra sudah berdiri dari duduknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2