
Di Tepi Pantai Loyola 2
“Ayo! Kita turun di sini kita sudah sampai.” Askelan berkata sambil melepaskan sabuk pengaman pada dirinya dan Lintani. Lalu, turun lebih dahulu, diikuti Lintani dan tangannya melindungi kepala wanita itu agar tidak terantuk.
“Aku juga punya penginapan di sini, kita akan bermalam. Anggap saja kita bulan madu, sambil menunggu perahumu selesai.” Askelan berkata sambil berjalan menyusuri pantai.
Mereka masuk ke area pantai Loyola, melalui jalur pribadi yang tidak diperuntukkan bagi pengunjung pantai Lainnya. Villa milik Askelan adalah tepat di mana mobilnya terparkir. Seluruh anak buah yang ikut, sudah menyebar di tempat itu guna memastikan bahwa semua baik-baik saja dan agenda tuannya berjalan dengan baik.
Loyola menjadi sebuah Resort yang terkenal di kota Hill, yang bisa ditempuh selama dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil, dari kediaman mereka di Villa Hardo, seperti yang dilakukan Askelan dan Lintani saat ini.
Villa mereka menghadap ke Laut yang menyajikan pemandangan matahari tenggelam. Di Loyola, bukan hanya keluarga Harrad saja yang memiliki bangunan-bangunan Villa seperti itu, banyak dari keluarga kaya di kota pun memilikinya. Lokasi pantai yang strategis, indah, sejuk dan datar, membuat kawasan itu cocok dijadikan tempat wisata dan juga tempat peristirahatan.
Askelan tidak akan memiliki bagian dari resort itu kalau bukan karena surat wasiat ayahnya. Dia bahkan tidak pernah berpikir tentang hal menakjubkan yang dimilikinya sejak kecil, karena hidupnya dahulu dihabiskan untuk sekolah dan mencari uang.
Dia hanya bekerja sebagai tenaga kasar sebuah perusahaan konstruksi, uangnya habis untuk biaya sekolah, dan hasil kerja ibunya habis untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Tentunya dia tidak berpikir untuk memiliki sebuah vila dan di pantai. Karena tempat seperti itu hanya dimiliki oleh orang kalangan atas saja.
Saat ini, Askelan merasa aman, karena tidak ada lagi, orang yang berkepentingan terhadap jabatannya di perusahaan Harrad Tower, hingga bisa mengancam nyawanya. Namun, apabila kelak dia akan berniat pensiun, maka dia bisa menilai beberapa kandidat yang bagus kinerjanya, dari para keturunan Harrad dan menunjuk mereka berdasarkan kesepakatan seperti dia di tunjuk sebelumnya.
Akan tetapi, Lintani—istrinya, yang tidak aman untuk saat ini dan nyawanya bisa terancam kapan saja.
Mereka tiba di Vila ketika hari sudah sore, hingga sekarang kedua orang itu sedang duduk saling memegang tangan di depan Vila, menatap ke laut lepas, di mana matahari akan tenggelam.
Suara Askelan tiba-tiba memecah kesunyian, “Jadi, kau tidak pernah melihat Ayahmu, sejak kecil?” dia bertanya setelah mencium ubun-ubun Lintani beberapa kali.
Gadis itu mendongak, lalu mengangguk, dengan wajah yang cemberut.
“Aku, juga .... kita punya nasib yang sama!” Kata Askelan sambil mengusap pipi istrinya.
“Tapi, Bibi Elle hidup setidaknya sampai kau dewasa dan menikah dengan wanita yang jadi pilihannya. Dia sudah sempat bahagia, tapi aku—“
“Kau memiliki aku sekarang, jangan sedih. Aku akan menjagamu.”
“Berjanjilah, kita harus tetap hidup sampai Skay dewasa nanti!”
__ADS_1
“Siapa Skay?”
“Anak kita. Aku ambil namanya dari nama benda yang tinggi di angkasa, sky—langit.” Lintani berkata sambil mengusap perutnya, “Mungkin saja dia laki-laki seperti dirimu!”
“ Bagaimana kalau dia perempuan?”
“Mungkin aku akan memberinya nama Seeyea, sebab sudah ada Pearl yang lebih dahulu punya nama, tentang benda berharga dari dasar laut!”
“Apa kau yakin akan jenis kelam minnya?”
Lintani menggeleng, lalu tersenyum seraya berkata, “Aku hanya menebak saja, apa pun dia baik laki-laki atau perempuan, jangan sampai mengalami nasib seperti kita .... kehilangan Ayah dan Ibunya.”
“Tidak ... dia akan hidup seperti dirimu, Tuan Putri!” Askelan berkata sambil mengusap bibir Lintani dengan ibu jari dan menciumnya.
Tidak lama kemudian, matahari pun tenggelam, semua yang melihat hal itu terdiam, seolah tersihir oleh alam dan kemegahannya, ciptaan indah tidak ada bandingnya. Sungguh manusia seolah begitu kecil dengan semua kesombongan dan harta yang dimilikinya.
Saat pelayan menyiapkan makan malam, Lintani berada di kamarnya untuk pergi ke toilet. Dia memastikan bila di kamar itu tidak memiliki jebakan seperti kamar Askelan lainnya, dia begitu waspada sejak saat itu.
Anehnya, begitu dia keluar dari toilet dan memeriksa keadaan, sudah tersedia beberapa baju sesuai ukurannya, di lemari pakaian. Lintani pun bertanya dalam hati, mengapa selalu terjadi hal seperti ini pada dirinya, membuatnya berpikir jika sebenarnya, Askelan sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan sebuah rencana.
Gadis itu menatap dirinya di depan cermin, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu di luar villa, Askelan bersama dengan Jordan dan Pit, duduk di atas kursi lipat, berbincang di dekat api unggun. Padahal di sana tidak gelap dan tidak begitu dingin, tapi, ketiga orang itu tetap membuat api agar terkesan lebih alami. Ini menyenangkan, bukan?
“Apa Nona mulai mencurigai sesuatu, Tuan?” tanya Jordan.
“Dia seperti mulai berpikir, tapi, tidak akan terlalu jauh!” kata Askelan.
“Sebaiknya jujur saja, Tuan!” Pit menimpali, sambil melempar kerikil ke arah api.
“Itu urusanku!”
“Dari pada Nona akan semakin sedih nanti!” Kata Jordan.
“Sudah kubilang, itu urusanku!”
__ADS_1
“Lebih baik mana, Tuan ...? Antara sedih sekarang, sebelum melihat semua keadaan di Rasevan dan Nona bisa berpikir ulang, atau nanti, Nona akan lebih hancur karena Anda tidak jujur?”
Jordan dan Pit merasa bersemangat, kapan lagi akan memberi perintah pada tuan mereka yang selalu memerintah mereka. Tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini, kalau bukan karena sang Nona Muda.
Askelan bukannya tidak mau jujur soal Rasevan, tapi, karena dia tidak ingin melihat istrinya bersedih.
“Tuan Askel!” teriak Lintani dengan keras, mengejutkan semua laki-laki yang tengah membicarakannya, dalam sebuah forum kecil yang terdiri dari tiga orang di sekeliling api unggun.
Askelan segera berdiri dan menyingkir dari kursinya agar Lintani duduk di sana. Jordan dan Pit pun menyingkir juga, memberi ruang pada kedua pasangan itu untuk mengobrol. Mereka tahu, gadis itu tampak marah, karena dia memanggil nama suaminya bukan dengan sebutan kesayangan.
Lintani menatap Askelan tidak berkedip seolah-olah mencari kejujuran di matanya. Dia berharap pria itu jujur padanya kali ini.
“Ada apa, Sayang?” tanya Askelan sambil menuntun Lintani agar duduk di kursinya, “Duduklah, baru bicara ... apa kau marah lagi padaku?”lll katanya lagi, sambil berlutut di hadapan Lintani dan menyimpan kedua tangan di atas pahanya.
Lintani diam, tiba-tiba saja semua kata kemarahan yang disusunnya sejak keluar dari kamar, hilang begitu saja melihat kelembutan yang ditunjukkan Askelan padanya.
“Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Lintani pada akhirnya. Kedua mata mereka masih saling menatap.
“Soal apa?”
“Rasevan dan Ibuku.”
“Aku tidak tahu soal Ibumu dan apa yang terjadi pada keluargamu di sana” Askelan menundukkan pandangan, dia memang tidak tahu tentang apa yang terjadi pada ibu Lintani.
Dia sudah melakukan semua penyelidikan dan usahanya memang berhenti pada pemusnahan pulau terpencil di tengah Danau Rasevan, serta siapa pelakunya. Sebanyak apa pun ahli yang dia datangkan, tidak bisa menyimpulkan, kecuali menunggu informasi dari ahli forensik keamanan, yang hasilnya, baru akan keluar beberapa hari lagi.
“Jadi, apa yang kau tahu?” tanya Lintani sambil memegang dagu Askelan agar melihat padanya.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Karena kau!”
“Aku?” Askelan berkata sambil berdiri.
“Ya!” Lintani ikut berdiri dan kini mereka berhadapan dengan sejajar, sedangkan mata saling mengunci.
__ADS_1
Bersambung