Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 140. Merindumu


__ADS_3

Merindumu


Betapa terkejut dia melihat pesan pada kolom cat di mana nama Askelan tertera di sana. Ada ribuan pesan yang belum dibaca, semua berasal dari Askelan, yang menanyakan keadaannya. Setetes air matanya jatuh, membaca satu persatu pesan, dan yang terakhir membuatnya benar-benar menangis. Memang, kata-katanya hampir mirip satu sama lain, tapi, semua kata-kata itu menunjukkan permohonan maaf dan kesedihan mendalam.


“Apa kau baik-baik saja, apa kabar anak kita? Sayang, aku merindukanmu. Aku ingin membelai perutmu, apa kita sudah boleh bertemu?”


Sampai malam hari pun, cuaca masih buruk, walau sudah tidak hujan lagi. Namun, Lintani tidak mungkin pergi ke rumah sakit. Sementara itu, Mo sudah mengabarkan semua kejadian pada Askelan.


Kini, pria itu pun tahu, mengapa Lintani tidak ingin memotong rambutnya, membuatnya sadar, sebesar apa kebencian wanita itu pada orang yang sudah menghancurkannya malam itu.


Lintani sudah hampir memejamkan mata, saat ponselnya berbunyi, menandakan adanya pesan masuk pada aplikasi chat-nya. Doa langsung membaca pesan yang ternyata dari suaminya.


“Kalau kau memang tidak bisa memaafkan aku, maka kau tidak perlu maafkan dan teruslah hidup dalam kebencian itu, tapi, jadilah lebih kuat. Jaga bayi kita sebaik-baiknya, karena aku tahu kau mampu, Sayang. Aku akan tetap akan mencintaimu. Kau boleh tinggal di mana pun kau mau, dan aku akan pergi kalau kau tidak ingin bertemu lagi.”


Lintani membaca pesan yang berbeda kali ini menunjukkan keputus asaan yang dalam. Dia tahu, Askelan cukup pengertian karena tidak memaksakan diri untuk terus bertemu, pria itu benar-benar tahu diri, walaupun dia sudah melakukan banyak hal.


Dia ingat bagaimana Askelan melindunginya saat mereka di serang kelompok bersenjata, atau saat membalas Pinot, lalu saat berada di Rasevan, atau membuatkan kapal, dan yang terakhir, dia melindungi dengan tangannya sendiri dan rela tertusuk belati.


Lintani kembali menangis, lama kelamaan di tertidur sisa air mata masih tergenang di sudut matanya. Tanpa sengaja saat bergerak, tangannya menyentuh tombol panggilan pada ponsel pada pesan yang di kirim Askelan.


Di tempat yang berbeda, Askelan begitu bersemangat mengangkat panggilan dari Lintani, padahal saat itu sudah sangat larut malam dan dia belum juga tidur.

__ADS_1


Dia buru-buru mengangkat ponsel, tapi, sebanyak apa pun dia memanggil nama istrinya, tetap tidak ada jawaban, hingga dia mendengar suara gumaman lembut, juga suara yang tidak jelas diiringi napas yang teratur. Dari sana dia tahu jika Lintani sedang tertidur dan tidak sengaja melakukan panggilan padanya.


Meskipun demikian, dia tetap tersenyum dan merasa bahagia, lalu memanfaatkan ketidaksengajaan itu untuk bicara pada Lintani seolah wanita itu bisa mendengar.


“Apa kau tidur, Sayang? Kau pasti memimpikan aku, kan? Aku tahu kau membenciku, tapi, anak kita tidak begitu ... kasihan Ceriyo kalau kau tidak mempertemukannya denganku. Aku yakin kau juga rindu, kan?”


Askelan seperti orang yang beru saja jatuh cinta. Dia bicara sendiri pada telepon yang menyala tanpa sengaja.


“Aku sangat merasa bersalah padamu, tapi percayalah aku mencintaimu tulus bukan karena rasa bersalahku. Kau tahu? Kemungkinan aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali menyentuhmu di bukit itu. Sebab aku selalu mengingatmu, bahkan aku tidak bisa tidur, kau selalu menjadi bayanganku dan aku tersiksa dengan itu padahal aku tidak bisa melihatmu!”


“Sayang, aku ingin memelukmu, menciummu, boleh? Boleh ya ... ah ... aku ingin apa lagi, ya ... aku ingin dirimu, Sayang! Kau sangat manis dan lucu, aku suka aroma tubuhmu, senyummu, semuanya aku suka ... Sayang, aku pasti hancur tanpamu!”


Keesokan harinya Lintani terbangun dengan tidak menyadari jika ponselnya masih terhubung, meskipun layarnya sudah padam. Askelan sengaja tidak mematikannya, hingga semalaman, dan pagi ini secara tidak sengaja semua suara dari kamar Lintani, ketika gadis itu bangun lalu melakukan aktivitasnya, semua didengar oleh Askelan di seberang sana.


“Bibi, sekarang langit sudah cerah, apa kita bisa ke rumah sakit?” kata Lintani kepada Mo, suaranya terdengar serak, karena hampir semalam dia menangis.


Mo masuk ke kamar itu untuk membereskan tempat tidur. Ponsel Lintani ada di atasnya dan wanita itu hanya memindahkan saja.


“Tentu Nona, sebaiknya sarapan dulu dan biar sopir menyiapkan mobilnya untukmu!”


Lintani hanya mengangguk. Dia mengambil beberapa pakaian di lemari, lalu mencobanya di depan cermin.

__ADS_1


“Bibi, apa Pearl suka kalau aku memakai baju ini?”


“Ya! Sebaiknya pakai yang tertutup, Nona, udara masih sangat dingin. Pearl pasti tidak suka kalau Ibu dan adiknya sakit!”


“Ah, kau benar!”


Lintani memakai pakaian yang tertutup dan panjang, dilapisi jaket, sepatu boot dan syal. Tak lupa sebuah topi yang menghangatkan kepalanya saat berada di luar nanti.


Sementara di tempat yang berbeda, ada seorang pria yang dari semalam mendekatkan ponsel di telinga, sambil mengusap satu tetes air mata yang jatuh di pipinya.


Pria itu segera bersiap secepat yang dia bisa, membersihkan diri, berpakaian rapi dan menyisir rambutnya, menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Mirip seperti orang yang kasmaran dan akan menemui sang pujaan hati.


Lintani berdiri di depan pusara, di mana anaknya yang bernama Pearl dikuburkan di sana. Tempat itu bukanlah seperti pemakaman pada umumnya, melainkan sebuah tanah, yang sengaja disediakan oleh pihak rumah sakit untuk menguburkan jenazah yang meninggal, tanpa identitas atau tidak ada keluarganya yang mengambilnya, termasuk bayi-bayi karena keguguran atau belum memiliki anggota tubuh yang lengkap.


Waktu delapan tahun adalah waktu yang cukup untuk hancurnya sebuah jasad yang dikuburkan di dalam tanah. Lintani tidak berharap apabila makam anaknya akan menjadi sebuah makam cantik dan, dinamai seperti yang dilihatnya pada saat ini.


Lintani tidak tahu bagaimana ada batu nisan kecil dengan tulisan Pearl ada di sana. Dia ingat betul di sanalah posisi bayi itu dikuburkan. Tidak ada yang tahu saat itu kecuali dirinya dan seorang yang, ditugaskan untuk menanam tubuh kecil anak itu.


“Apa orang itu yang melakukannya? Rasanya tidak mungkin!” gumam Lintani lirih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2