Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 153. Cinta Setinggi Pengorbanannya 2


__ADS_3

Cinta Setinggi Pengorbanannya 2


Satu bulan kemudian, di kamar Askelan.


Lintani turun dari tempat tidur dengan perlahan, agar tidak membangun Askelan yang tampak pulas. Dia ingin segera membereskan perlengkapan bayi yang akan dibawanya ke tempat pesta nanti. Namun, usahanya sia-sia karena pria itu kembali menarik tubuhnya yang masih tanpa busana, mendekat.


Askelan menciumi wajahnya beberapa kali, dan terus turun ke dadanya.


“Ah! Lihat, dia mengeluarkan susu lagi!” katanya.


“Ah! Kau kan menghisapnya, pastilah keluar air susunya. Ssh ...!” Keluar suara rintihan lembut Lintani karena Askelan menggigit kecil buah dadanya.


“Sudah cukup Elan! Kau mau melakukan sampai berapa kali? Ini sudah pagi!” Lintani mendorong Askelan sekuat tenaga, hingga terbaring ke samping.


“Memangnya kenapa kalau sudah pagi, aku belum menggenapi sampai lunas, selama kita tidak bersama.”


Lintani menoleh sambil duduk. Tidak mengerti dengan maksud suaminya itu.


“Menggenapi apa, maksudmu?”


“Aku sudah menghitung, berapa kali aku biasa melakukannya selama satu bulan ... dan aku sudah memberi diskon, hanya satu bulan sekali. Kau ingat, kita tidak melakukannya setelah enam bulan ... dan kita baru melakukan empat kali, jadi, kita harus melakukannya dua kali lagi!”


“Apa kau gila? Aku bisa mati, tahu?”


“Ck! Mana mungkin, aku masih ingat berapa kali aku melakukannya denganmu, untuk pertama kali waktu itu! Dan, kau masih hidup sampai sekarang, kan?”


“Kau!” Lintani melempar Askelan dengan bantal.


“Haha!” Askelan tertawa dan menangkap bantal dari Lintani padanya.


“Aku sudah berbaik hati padamu, dan kau memanfaatkan aku?”


“Haish! Aku sudah jatuh cinta padamu mulai saat itu,

__ADS_1


“Baiklah, baiklah!”


Setelah mendapatkan kesempatan, Askelan pun melancarkan serangan lagi, lebih cepat dan langsung ke sasaran.


“Jadi, hanya sekali lagi saja, atau aku tidak akan memberimu jatah lagi!”


Lintani berkata di sela-sela aktivitas Askelan di atas tubuhnya, membuat pria itu menghentikan gerakan dengan cemberut.


“Tapi, kalau kau menurut, kita bisa mengulanginya lagi lain waktu, oke?”


Askelan tersenyum dan meneruskan kesenangannya setelah menghujani Lintani dengan ciuman penuh kasih sayang.


Di ruang tamu, Jordan bersama Mo dan baby Ceryo, yang tampak tenang dalam kereta bayi.


“Mo! Apa kau tidak bisa membuat bayi itu menangis!” kata Jordan. Dia berdiri dengan gelisah, mondar-mandir dari tadi menunggu tuan dan nyonya keluar dari kamar.


“Kau tega sekali, Jode. Aku tidak tega!”


“Kalau mereka tidak keluar juga satu jam lagi, maka rencanaku akan berantakan!”


“Sialan! Bos tidak tahu diri, dia yang buat masalah kenapa aku harus menanggungnya seperti ini. Dia menyuruhku datang lebih pagi, tapi dia sendiri ... Akh!” kata Jordan sambil mengacak rambutnya sendiri.


“Aku akan bilang, kau mengumpatnya, Jode!”


“Aku pikir kau pun pernah mengumpatnya, kan?”


“Haha! Iya, kau benar!”


“Jangan salahkan aku!”


“Ya ... Paling tidak ... Kalau aku mengumpat Tuan, aku tidak akan digantung sendirian di salah satu markas kalian!”


Tiba-tiba, Jordan menarik benda lucu di mulut baby boy yang terbuat dari karet yang lembut.

__ADS_1


Seketika ...


Suara tangis bayi nyaring terdengar.


“Jode! Awas kau, ya!” teriak Mo, kesal.


“Mo, dengar ... Dukung aku sekali lagi! Kau harus tahu, aku membuat pesta di tiga tempat, di pantai Loyola, di Rasevan, dan hotel Hardo. Semua lampu, alarm dan lonceng akan berbunyi tepat jam delapan malam nanti!”


“Lalu?”


“Kalau mereka datang terlambat di pantai, maka rusak semua rencana itu!”


“Ya, kau bunyikan saja jam delapan sendirian!”


“Apa kau gila? Semua itu akan terhubung saat mereka memotong kue pernikahan! Tombolnya ada di pisau kue mereka!”


“Wah! Itu rencana yang bagus, baiklah aku akan mengetuk pintu kamar mereka sekarang!”


Sementara di dalam kamar, Askelan sudah selesai tapi, mulutnya masih asyik di atas dada Lintani yang semakin menarik di matanya.


“Elan, anak kita menangis, apa kau dengar itu?” kata Lintani sambil memegang kepala Askelan dan menghentikannya lalu, dia pun duduk.


“Aku baru saja semalam menyentuhnya, tapi, Ryo sudah setiap hari, Sayang!”


Lintani tidak mendengar ucapan suaminya dan segera berpakaian. Dia keluar kamar, menghampiri Mo untuk menggendong dan menenangkan bayinya.


Dia melihat Jordan yang sudah siap di ruang tamu, dan berkata, “Tunggulah sebentar, kami akan segera siap!”


Di saat yang sama, Jordan sudah menghubungi Max untuk membawa helikopter, karena menggunakan mobil akan membuat mereka terlambat. Apalagi Lintani belum dirias. Tugasnya sangat melelahkan akhir-akhir ini. Dia hanya berharap, acaranya berjalan dengan lancar.


Setelah satu jam kemudian barulah apa yang dikatakan Lintani untuk segera siap, sudah terlaksana. Kedua pasangan itu keluar dan menyantap sarapan mereka, sebelum berangkat ke pesta.


Bersambung

__ADS_1


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2