Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 16. Pintu Yang Rusak


__ADS_3

Pintu Yang Rusak


“Ya, aku kenal dengan dia!” kata Haifa.


“Hmm ....” Gumam Askelan.


“Askel, Sayang. Dia perempuan yang pernah aku ceritakan, dialah saudara angkatku yang tak tahu malu dan melemparkan diri di jalanan, untuk mencari pria hidung belang!”


“Benarkah?” kata Askelan, sejak tadi tatapan matanya tidak beralih dari wajah Lintani.


Haifa mengangguk, “Ya, dia melakukannya setiap malam!” sambil berkata, dia mendongak pada wajah Askelan yang ternyata sedang menatap Lintani dengan pandangan yang sulit diartikan. Menyadari hal itu, dia mengepalkan kedua tangannya.


“Sayang, aku lapar! Aku takut anak kita kelaparan.” Haifa berkata sambil menarik tangan Askelan agar mengusap perutnya yang rata.


Seketika pria itu menunduk dan melihat pada perut Haifa lalu, mengangguk.


“Apa kau tadi tidak makan di pesta itu?” tanyanya sambil melepaskan pegangan Haifa dari pergelangan tangannya, seolah merasa jijik.


“Tidak, aku mual tadi. Jadi, aku tidak makan apa pun.”


Jawaban Haifa membuat Askelan mengerutkan alisnya, dia hadir juga pada pesta keluarga Kamoora tadi, tapi dia sama sekali tidak menghampiri gadis itu. Dia tidak senang jika dekat dengannya yang pasti akan bersikap manja. Lebih tepatnya Haifa tidak bisa menghilangkan rasa rindunya pada gadis di pondok kayu. Aroma wangi perpaduan antara bunga lili dan daun cemara yang dia hirup saat itu, tidak bisa dilupakan sampai sekarang.


Namun, Askelan bertemu dengan Haifa, di depan hotel di mana Jordan membawanya. Waktu itu, dia baru saja terbangun setelah kelelahan mengeluarkan efek obat dengan memadu cinta di dalam mobil, dengan seorang wanita berwajah badut.


Saat itu dia melihat seorang gadis dengan wajah badut yang sama, yang ternyata dia adalah Haifa. Wanita itu menangis dan menanyakan apakah Askelan seorang pria yang ada di pondok kayu? Tentu saja pria itu mengakuinya, begitu pula Haifa pun mengakui sesuatu yang sama. Begitulah hingga akhirnya Askelan memintanya untuk menjadi kekasihnya.


Akan tetapi anehnya, setiap kali berdekatan dengannya, Askelan tidak pernah bisa menghilangkan rasa muak pada setiap gadis yang mendekatinya. Seperti itu yang selalu terjadi sejak delapan tahun yang lalu itu, dia selalu mual jika memeluk atau berdekatan dengan wanita lain, dia hanya merindukan perempuan itu selama bertahun-tahun.


“Askel Sayang, apa kau mendengarkan?” tanya Haifa lagi membuyarkan ingatan Askelan pada kejadian sebulan yang lalu, saat pertama kali dia bertemu dengan Haifa.


Askelan mengeluarkan lembaran uang yang sangat banyak dari dompetnya dan memberikannya pada Haifa.


“Beli makanan yang banyak untuk anak kita,” kata Askelan, membuat Haifa menjadi muram.


Keinginan Haifa adalah pergi berdua dengan pria gagah, yang bernama Askelan, demi membuat Lintani cemburu setengah mati. Dia ingin menunjukkan padanya jika pacarnya adalah pria yang paling berkuasa di kota Hill dan tidak ada yang bisa meremehkannya, apa lagi Lintani.


Sementara Lintani hanya diam melihat betapa bagusnya drama yang sedang tayang di depan matanya. Dia tengah melihat dua pembohong beraksi. Si pria adalah orang yang tidak mau mengaku jika ada istrinya yang sah di dekatnya sedangkan si wanita berbohong dengan mengatakan jika orang lain adalah wanita malam. Sebuah drama yang menyedihkan.


“Apa kau tidak mau menemaniku?” tanya Haifa sambil bergelayut manja di lengan Askelan, tapi sekali lagi pria itu melepaskan rangkulannya.


“Tidak, aku sudah kenyang. Aku makan banyak di dengan Lowena Kamoora.” Askelan berkata tanpa rasa bersalah, walaupun, ucapannya seakan menjebak Haifa karena dia tahu bila Lowena adalah tuan rumah dari pesta Kamoora sedangkan, di pesta itu dia makan daging panggang yang sangat banyak.


“Apa kau juga hadir di pesta itu? Kenapa tidak menghampiriku?” Haifa bertanya seolah dia tidak tahu jika Askelan benar-benar menangkap basah dirinya yang sudah berbohong, tapi dengan tidak malu-malu dia tetap menerima uang yang diberikan oleh pria itu.

__ADS_1


“Aku hanya diundang makan di ruang privat, jadi aku tidak tahu apa dia tengah pasta atau bukan!” sahut Askelan membuat kegugupan Haifa berkurang.


Kemudian Askelan hanya meminta agar Haifa kembali ke mobilnya dan pulang, setelah membeli makanan yang banyak dan gadis itu menurut. Dia pergi sambil melirik Lintani penuh kebencian.


Sebenarnya Haifa ingin gadis itu pergi saat Askelan muncul tadi, tetapi, dilain sisi dia juga ingin menunjukkan betapa hebatnya kekasih yang dia miliki pada Lintani.


Setelah Haifa dan ibunya pergi Lintani menoleh pada Askelan sambil mengambil satu langkah lebih jauh darinya.


Gadis berkata, “Tuan Askel, apa kalau aku bilang aku lapar, kau juga akan memberi uang?”


Askelan menoleh dan menatap Lintani dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan berkata, “Memangnya kau dari mana, ha?” dia menganggap Lintani tidak akan kelaparan kalau hanya tinggal di rumah ibunya.


“Kau sendiri yang bilang kalau di antara kita tidak akan ikut campur urusan pribadi, kan? Jadi, kenapa kau bertanya?”


“Kau bertanya, kenapa aku bertanya?” tanya Askelan terlihat kesal.


“Ya!”


“Baik, kalau kau mau seperti itu, maka aku benar-benar tidak akan perduli padamu!”


Setelah berkata demikian, Askelan berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Lintani begitu saja


Gadis itu mendengus sambil memalingkan pandangannya sementara bibirnya tersenyum tipis, dia tahu bahwa laki-laki itu pasti akan bersikap demikian kepadanya. Dia pun tidak merasa heran dan berjalan dengan cepat menuju apartemen. Ini sudah menghabiskan hampir separuh dari waktu istirahatnya, sebelum besok dia harus kembali ke Villa dalam keadaan segar.


Jordan turun untuk menghadang langkah Lintani, sambil membuka pintu mobil bagian belakang, di mana Askelan duduk diam bersandar dengan tenang.


“Masuklah, Nona kita satu arah bukan? Jadi, jangan sungkan. Saya yang akan menjamin keamanan Anda di samping Tuan!” Pria itu berkata seperti mengisyaratkan sesuatu pada Askelan.


Lintani tidak menjawab dan hanya menoleh kepada suaminya yang hanya diam saja. Pria itu tidak melihat ke arahnya tapi melihat ke arah jendela seolah tak peduli. Begitu melihat tidak ada reaksi apa pun dari pria itu Lintani menganggap bahwa Askelan mengizinkannya hingga kemudian dia masuk dan duduk di sampingnya.


Sudah tidak terlalu jauh jarak dari sana sampai ke apartemen mereka hingga tidak ada yang perlu dibicarakan. Suasana canggung yang terjadi pun tidak terlalu lama karena beberapa menit kemudian, Jordan sudah menepikan mobilnya di halaman gedung apartemen. Dia membukakan pintu untuk Askelan sementara Lintani turun sendiri dan berjalan pun sendiri sampai di depan pintu apartemen.


Jordan tidak ikut naik dan mengantarkan Askelan sampai di pintu apartemen, seperti biasanya karena ada Lintani di sana hingga dia sengaja memberi jarak pada mereka.


Saat Askelan sudah sampai di depan pintu dia melihat Lintani masih sibuk memasangkan kartu akses untuk membuka pintu yang tidak juga terbuka.


Askelan ikut membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lintani yang masih berusaha membuka pintu. Laki-laki itu berbicara tepat di telinganya dengan suara yang rendah tapi terdengar mengejek.


“Wah, kau dari tadi belum berhasil membuka pintunya? Apa jangan-jangan pintu ini tidak mau terbuka untukmu atau pintu ini sudah rusak?”


Lintani segera menegakkan punggung lalu menatap Askelan dengan heran.


Gadis itu pun mengerutkan alis dan berkata, sambil melihat pada kartunya dengan tatapan yang lugu seolah dia tengah berpikir keras. Ekspresi wajah itu terlihat lucu di mata Askelan.

__ADS_1


“Rusak?” Kata Lintani, “lalu, bagaimana kalau rusak, apakah pintu seperti ini bisa didobrak begitu saja?”


“Tidak!” kata Askelan sambil menahan senyum, dia menghadap pada Lintani dan kedua tangannya berada di saku celana sambil menggelengkan kepala. “Kalau satu pintu ini rusak maka satu gedung harus dihancurkan untuk membetulkannya!”


“Benarkah, apakah separah itu? Kau tidak bohong, kan?”


“Ya, tentu saja aku tidak bohong. Jadi, kau harus bertanggung jawab karena pintu ini tidak bisa dibuka!”


Sejenak Lintani melihat seringaian tipis di sudut bibir Askelan hingga dia menyimpulkan jika pria ini sedang mengerjainya. Tiba-tiba Dia teringat masa lalunya saat dia sering sekali dikerjai, betapa bodoh dengan semua hal itu.


“Apa kau pikir aku bodoh, tidak mungkin membenarkan satu pintu harus menghancurkan satu gedung, kan?”


Askelan tergelak pada akhirnya.


“Kalau kau tahu dan merasa kau pintar, kenapa kau tidak bisa membukanya dari tadi? Lihat!”


Lintani mencoba mengingat bagaimana dia bisa membuka pintu saat tadi pagi dia pergi, dia tidak memperhatikannya.


Askelan meraih kartu yang ada di tangan Lintani lalu, mengibas-ibaskannya, sambil berkata, “Tadi itu salah, kau memasangnya dengan cara terbalik.”


Lintani heran sebab dia dari tadi juga sudah membolak-balikkan dengan posisi yang berbeda-beda, tapi tetap saja pintu itu tidak mau terbuka.


“Ah! Pasti kau mengerjaiku, ya?” Lintani berkata sambil menggoyangkan jari telunjuknya.


Askelen tersenyum karena melihat senyum lucu yang menghiasi bibir Lintani saat ini dan, sedang menebak jika dirinya tengah dikerjai.


“Apa kau senang kalau aku yang mengerjaimu?” tanya Askelan.


Lintani mencibir, “Ah! Tentu saja tidak!” katanya sambil cemberut, “ayo! Buka pintunya!”


Askelan tidak juga membuka pintu dan hanya memainkan kartu itu sejak tadi, padahal dia sudah mengatakan bahwa dia meletakkan kartunya secara terbalik.


“Kau harus membayarku kalau aku bisa membukakan pintu, oke?”


“Memangnya apa yang bisa aku bayar padamu, kau sudah punya segalanya dan aku tidak punya uang, tolong ... cepatlah aku ingin cepat istirahat, aku lelah!”


“Ada yang bisa kau lakukan!”


“Apa? Apa yang bisa kulakukan?”


“Kau harus memijitku!”


“Apa? Aku tidak mau!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2