Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 83. Jangan Ganggu Dia Lagi


__ADS_3

Jangan Ganggu Dia Lagi


Askelan menatap nanar pada dua wanita di dalam kamar perawatan. Dia tadi mendengar sendiri apa yang di bicarakan oleh Rauja dan Haifa dengan leluasa, karena menganggap tidak ada yang mendengar.


Saat Rauja datang tadi, Askelan keluar ruangan dengan mendorong kursi rodanya sendiri. Dia memberi kesempatan dan kebebasan pada kedua ibu dan anak itu untuk bertemu.


Selain itu memang dia sengaja ingin tahu tentang apa saja yang dibicarakan oleh kedua wanita itu jika sedang berdua saja.


Seseorang terkadang butuh waktu sendiri untuk mencerna kehidupan yang dia jalani, tapi, banyak juga seseorang yang menghabiskan waktu, dengan menjadi orang lain untuk mencari kebahagiaan. Padahal kita hanya perlu menjadi diri sendiri, dengan begitu kebahagiaan akan datang.


“Sayang, apa yang kau lakukan, apa kau benar-benar keguguran dan kehilangan bayimu?” Tanya Rauja tak percaya, dengan suara tertahan setelah Askelan pergi tadi.


“Ya! Aku terpaksa kehilangan dia, Bu. Semua karena Lin!”


“Dasara anak itu!” Rauja berkata sambil mengepalkan tangannya, “Lalu, bagaimana kalau Tuan Askel gagal menikahimu?”


“Tidak akan, dia sudah berjanji akan menikahiku!”


“Tapi, Sayang ... Bukankah selama ini dia begitu sulit di dekati dan selalu membuatmu kesal?”


“Bu, percayalah! Aku yakin ini akan berhasil karena dia sangat merasa bersalah. Lagi pula aku lelah kalau harus selalu mencari wanita hamil, setiap kali akan memeriksakan kandungan!”


Rauja sangat terkejut dengan penuturan anak perempuannya.


“Dasar bodoh! Apa yang baru saja kau katakan, apa selama ini kau hanya pura-pura?” kata Rauja, yang tidak menyangka jika Haifa membohonginya juga. Dia pikir selama ini kehamilan anaknya benar dan, hanya kurang sesuai waktunya saja dengan kejadian di mobil saat itu.


Kalau memang benar, maka, kehamilan seharusnya berusia sekitar 15 Minggu, sedangkan anaknya hamil sekitar usia 8 Minggu.


“Sudahlah, Bu! Lagi pula bayi itu memang tidak pernah ada, siapa yang Sudi punya bayi itu merepotkan!”


“Apa? Jadi, kau berbohong padaku juga?”


“Aku terpaksa, Bu!”


Rauja memalingkan muka, lalu, menyeringai, dan berkata, “Padahal Itu mudah, aku pasti akan membantumu mencari wanita hamil yang anaknya bisa kita beli! Demi Tuan Askel ... tapi, kau sekarang justru kehilangan kesempatan itu ....” Rauja tampak bersedih, dia benar-benar menyesal, telah gagal mendapatkan seorang cucu, yang pasti akan bisa dimanfaatkan dan membuatnya menjadi nenek kaya raya.

__ADS_1


Brakk!


Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu kamar perawatan yang terbuka dengan paksa. Itu Askelan yang datang sambil melemparkan foto hasil USG, dari rahim seseorang.


Rauja yang duduk dekat brankar, langsung berdiri dan mengambil foto serta melihatnya.


“Apa ini, Tuan?” tanyanya dengan wajah ketakutan dan tangan yang gemetar.


Sementara Jordan yang ada di belakang Askelan, hanya menatap kejadian itu dengan datar. Dialah yang sudah memberikan foto itu semua palsu.


“Itu foto perut anakmu, apa kalian pikir aku bodoh? Aku selama ini diam hanya demi mengumpulkan bukti!”


“Askel Sayang, aku ben—“ suara Haifa terputus.


“Cukup!” bentak Askelan sambil mengangkat tangannya.


Haifa beringsut dari tempat tidur dan berlutut di kaki Askelan sambil menangis.


“Sayang, kau berjanji akan menikahiku, kan, aku akan melakukan apa pun agar kau memaafkan aku dan ibuku, soal kehamilan ini, aku benar-benar hamil, tapi Lin me—“


“Berhenti menyalahkan istriku!”


Haifa berdiri dengan tenang, sambil mengusap air matanya kasar dan bersedekap dada.


“Kalau soal kehamilan aku akui, aku berbohong ... Askel Sayang, semua aku lakukan karena aku mencintaimu! Aku ingin kau meninggalkan Lin, dan segera menikah denganku, karena itu janjimu sendiri sebagai balasan, aku sudah menolongmu! Ingat itu ...!”


Askelan tersenyum di salah satu sudut bibirnya. Lalu, dia berkata, “Menolong dengan apa? Dengan tubuh orang lain?”


“Askel! Akulah orang yang sudah bercinta denganmu di mobil itu!”


“Apa kau berusaha membohongiku lagi?” tanya Askelan sambil melihat ke arah dua wanita di hadapannya.


“Askel Sayang, aku tidak bohong kalau soal itu!” kata Haifa kembali berlutut di kaki Askelan yang tertutup selimut.


“Berhenti memanggil Sayang, dan berhenti merengek! Aku bisa membatalkan janjiku karena bukan kau yang melayaniku waktu itu!”

__ADS_1


“Tapi, akulah orang yang akan kau jadikan pengantin, bukankah seorang pria sukses sepertimu pantang mengingkari janji?”


“Ya! Kau benar, janji bagiku adalah tali yang mengikat di leherku, tapi aku punya alasan kuat untuk tidak melakukannya kali ini!”


“Kau juga pembohong! Kau tidak ada bedanya denganku Askel!” Haifa berkata sambil memukul paha Askelan dengan kuat, seketika Jordan mendorongnya ke belakang, tapi Rauja menahannya, hingga tubuh Haifa tidak jatuh ke belakang.


“Pergi dari kota ini dan jangan ganggu kehidupan istriku, kalau kalian masih ingin tetap hidup!”


“Baiklah, kalau kau tidak mau melakukan janjimu. Tapi ingat, aankku juga yang pernah membantumu di rumah kayu itu, kau masih berhutang Budi pada kami Askel?” Tiba-tiba Rauja bicara.


Askelan berpikir jika kali ini mereka bisa membohonginya, besar kemungkinan, tentang hal itu pun mereka bisa berbohong juga. Sangat jelas wanita yang terasa dalam pelukannya bukanlah Haifa, tapi, siapa?


Akhirnya dia pun berkata, “Bukankah kalian sudah mendapatkan bayaran yang bagus dari Dex? Tanyakan saja pada Lux, dia tahu semuanya. Jadi, aku tidak punya alasan untuk merasa berhutang Budi pada kalian lagi!”


Jordan mendorong kursi Askelan keluar ruangan, sementara Askelan mengambil ponsel. Dia segera menempelkannya di telinga setelah melihat siapa yang menghubungi.


Sudah sejak tadi benda itu berbunyi namun dia abaikan karena masih membicarakan hal penting.


“Halo, Bibi ... apa ada yang tidak beres?”


Biasanya Mo jarang sekali menghubunginya kecuali ada masalah yang serius.


Askelan diam saat mendengar Mo berbicara, tapi wajahnya menegang seketika. Setelah itu dia menutup telepon secara sepihak.


“Ayo! Cepat pulang, istriku sakit!”


“Oh iya, maafkan saya Tuan, seharusnya saya bilang sejak tadi, kalau Nona mengeluh sakit kepala.”


Askelan tidak menjawab, dia bisa sedikit tenang sebab setidaknya sudah ada dokter yang memeriksa keadaannya.


Malam telah melewati kegelapannya ketika Askelan tiba di rumah, dan dia melihat Lintani yang tidur meringkuk di atas tempat tidur di kamar mereka.


Mo menghampirinya dan menjabat tangan Askelan sambil tersenyum.


“Selamat, Tuan. Nona hamil!” setelah berkata begitu, Mo beranjak pergi dengan menyisakan senyum puas di bibirnya. Dia akan mengatakan semuanya tadi, tapi, Askelan terlanjur menutup telepon lebih dahulu seperti biasanya.

__ADS_1


Bersambung


❤️Alur cerita memang maju mundur cantik, kalau ada yang tidak puas, silakan di komen saja. Semoga mudah dimengerti, ya ... Jangan lupa like!🙏❤️


__ADS_2