Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 36. Membantu Elliyat


__ADS_3

Membantu Elliyat Menjadi Fotografer


Lintani menikmati supnya sambil menyesali apa yang terjadi hari ini karena dia tidak bisa lagi melihat Mo, untuk mengucapkan terima kasih karena sudah memasak sup untuknya. Mungkin Wanita itu sudah kembali ke rumahnya.


Setelah supnya habis dia pun kembali ke kamarnya dengan perasaan sangat menyesal karena hari ini tidak bisa melihat ibunya di rumah sakit. Bagaimana keadaan wanita itu pun dia ragu, untuk menanyakannya kepada Askelan. Dia takut, bila pria itu marah, karena dia mengabaikan tugasnya untuk mengajak Elliyat berbincang. Semua gara-gara kartu sialan itu.


Lintani mengunci pintunya dan dia berusaha untuk tidur meskipun, tidak bisa karena sudah sepanjang siang dia terlelap, akibat mencium aroma yang mengandung obat penenang hingga dia mirip orang yang pingsan.


Kejadian tadi pagi di kamar, membuatnya bertanya-tanya. Jadi, siapa sebenarnya Askelan, dia hanya tahu dari Haifa jika kedudukan pria itu sangatlah penting di kota dan tidak sembarang orang bisa berurusan dengannya. Apalah arti dirinya kalau begitu, hanya gadis seperti Haifa yang berharga, yang bisa menjadi pendamping hidupnya.


Dia memandang surat nikahnya dengan tatapan kosong, dia tidak pernah berniat untuk tahu isinya karena tidak ada gunanya. Dia akan membuang surat itu setelah perjanjian selesai. Namun sekarang dia membuka untuk pertama kalinya.


Saat mengisi formulir waktu itu, Lintani tidak membohongi siapa pun tentang identitasnya, dia seorang wanita pengangguran yang tidak memiliki keluarga.


Ya, dia tidak punya keluarga, kalau pun ada, itu dulu. Dia pernah membaca sebuah berita di koran lama bahwa, keluarga Syahrain adalah satu-satunya keluarga yang seluruh anggotanya tewas saat badai. Keluarga Syahrain adalah keluarganya.


Namun, dia menjadi anak dari keluarga Lux, setelah dia dipenjara keluarga itu menghapusnya dari daftar dan kini dia mempunyai identitas baru sebagai istri Askelan Harrad. Sebenarnya dia bisa dipanggil Nyonya Harrad. Dalam mimpi Lintani. Tiba-tiba gadis itu tersenyum. Satu-satunya yang menghibur saat dia membaca surat itu adalah tanggal lahir Askelan yang ternyata jauh lebih tua dari usianya, pria itu menginjak usia 36, tahun ini. Dia pikir pria itu lebih muda atau sebaya dengannya.


Lintani bercermin, mengapa wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya yang menginjak 28 tahun. Apa karena dia mengalami masa-masa sulit selama delapan tahun di penjara?


Dia mulai mengoleskan cream wajah yang tersedia di meja rias yang sebelumnya tidak pernah dia sentuh. Lalu, tak lama setelah itu dia akhirnya terlelap juga.


Di luar kamar, Jordan datang dengan membawa kabar bahwa tugasnya telah selesai. Lalu dia membawa sebuah undangan.


“Apa ini?” kata Askelan tanpa menyentuh benda berwarna kuning, dengan logo emas dan tampilan bungkus yang mewah itu di meja di hadapannya.


“Ini undangan dari Tetua Harrad untuk Anda Tuan!” kata Jordan sambil membukanya lalu menunjukkan tanggal dan hari di mana Aslan harus datang sebagai tamu kehormatan mereka. “Saya tadi mau mengambilnya dari kantor!”


“Kau pikir aku mau datang ke acara bodoh seperti itu?”

__ADS_1


“Apa Tuan tidak tahu maksud dari para Tetua Harrad membuat acara ini? Kan, ini biasa digunakan untuk mencarikan para menantu mereka pasangan.”


“Lalu?”


“Mungkin saja maksud mereka, salah satunya adalah mencarikan Anda seorang pasangan dari para bangsawan kota, benar begitu, bukan?”


“Bukan! Kau salah!”


“Ya, terserah, tapi, ini adalah salah satu cara menunjukkan bahwa Anda memiliki pasangan sendiri, daripada nanti, dijodohkan dengan pilihan Tetua!”


“Ah, terserah!”


“Oh, ya, Tuan. Bagaimana dengan keadaan Nona, apa dia baik-baik saja?”


“Baik, ada aku, kau tidak perlu memikirkannya!”


“Ya! Saya percaya Anda akan merawatnya dengan baik ... bahan saya yakin Anda menciumnya karena dia kedinginan!”


“Ya! Baik-baik ... pertahankan terus ego Anda itu, saya akan pulang sekarang, dan sebaiknya Anda membawa seorang wanita yang tepat di pesta itu, kalau Anda ingin baik-baik saja!”


“Siapa yang berani melukaiku?”


“Ya, ya, tidak ada. Tapi, jangan bawa Nona Haifa, dia sangat tidak cocok berada di antara keluarga Harrad yang pendiam!”


“Jangan campuri urusanku!”


Jordan pergi, sebelum Askelan benar-benar mencabut senjata berperedam yang selalu ada di pinggangnya.


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, Lintani sudah berada di samping brankar tempat Elliyat berbaring sambil berpegangan tangan, mereka mulai berbincang.


“Ibu, maafkan aku, kemarin tidak bisa menengok karena aku tidak enak badan.”


“Apa kau hamil?”


Lintani tidak hamil tapi dia mau tidak mau harus mengaku hamil karena yang akan dihadapkan pada Elliyat kelak, bukanlah anak yang lahir dari rahimnya, melainkan anak dari Haifa yang merupakan benih Askelan.


“Aku belum memeriksanya lagi, Bu!” kata Lintani sambil tertawa kecil, wajahnya memperlihatkan raut yang malu-malu. Membuat Elia tertawa juga.


“Kenapa harus malu kalau kau ternyata memang hamil cucuku?”


“Ibu ... jangan keras-keras mengatakan kalau aku hamil, padahal aku baru beberapa hari saja menikah dengan putramu!”


“Bukankah itu hebat, anakku luar biasa bukan?”


“Ibu, kau sudah berulang kali mengatakannya, jangan sampai dia tahu kalau kau memujinya sekali lagi, maka aku akan habis malam ini!”


Kembali Eliat tertawa dan suaranya itu terdengar cukup keras sampai keluar bangsal perawatan, dan disaat itu pula Askelan sudah berada di depan pintu. Dia melihat Lintani dengan tatapan sinis karena kembali cemburu, dia tidak tahu apa yang membuat Ibunya bisa tertawa seperti itu.


“Apa yang kalian bicarakan?” demikian sorot matanya bicara kepada ibunya dan juga Lintani, kedua wanita itu tengah menatap ke arah dirinya.


“Oh, iya, sayang. Apa kau tahu ada undangan pesta dari keluarga Harrad?” Elliyat berkata sambil menggenggam tangan Lintani.


“Ibu ... anakmu itu, aku!” kata Askelan tapi, Elliyat mengabaikannya.


“Datanglah ke sana demi aku, dapatkan foto atau video mereka, aku ingin tahu wajah-wajah mereka satu persatu. Apa kau mau? Askel putraku tidak mungkin melakukannya. Tapi, kau bisa berpura-pura melakukan swafoto bersamanya!”


“Tentu!” kata Lintani tanpa berpikir panjang, membuat Askelan melebarkan matanya ke arah gadis yang, tidak merasa sama sekali kalau dirinya tengah dipelototi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2