Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 23. Hai Badut Kecil


__ADS_3

Hai Badut Kecil


Dia ingin ke percetakan batu bata langsung dari rumah sakit, tapi, uang yang kemarin dia dapatkan, akan digunakan untuk makan malam, dan tidak akan cukup kalau harus menumpang bis. Kalau jarak rumah sakit sedekat jarak dari apartemen, maka dia bisa berjalan kaki tapi, tidak kali ini. Akhirnya dia putuskan untuk tidak pergi ke pabrik, melainkan dia menunggu sampai waktu makan siang tiba dan pergi ke rumah keluarga Lux, akan menghemat uang untuk makan malam.


Seandainya ada uang lebih, maka, lebih baik dia gunakan untuk membeli alat tes kehamilan atau pergi ke dokter sekarang juga, tapi, dia tidak memiliki uang. Selama menunggu, Lintani menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, demi menghindari melihat kemesraan Haifa bersama pria yang sudah sah menjadi suaminya secara hukum. Dia menertawakan nasibnya sendiri hingga dia tidak akan peduli, pada Askelan atau siapa pun juga, selain mencari uang.


‘’Ah, uang kompensasi pernikahan bodoh, seharusnya aku memintanya di awal, setelah menunjukkan surat nikah, aku bisa kabur darinya!” gumam Lintani sambil berjalan sendiri.


Namun, seburuk-buruknya dia berpikir untuk kabur, dia tidak tega mengabaikan Elliyat, wanita yang sudah begitu baik padanya saat di penjara. Dialah satu-satunya keluarga.


Lintani tidak menyadari jika dia sudah berjalan cukup jauh dari rumah sakit hingga sampai di depan minimarket di sisi jalan. Lintani berpikir untuk membeli kertas dan pensil yang bisa dia gunakan melukis desain, seperti yang pernah Elliyat ajarkan padanya, ini akan menyenangkan sambil mengisi waktu luang. Apalagi dia bisa membeli kertas yang paling murah. Jadi, dia tidak akan kehabisan uang.


Setelah selesai membeli kertas dan pensil yang hanya berharga tiga dolar, dia keluar dari sana dengan wajah riang dan sebuah kantong plastik kecil di tangannya.


“Hai! Bukankah itu dirimu, badut kecil?” Itu suara seorang pria yang berdiri dengan bersandar di samping mobil sport miliknya.


Lintani mendongak dan melihat seorang pria berwajah oval, berkulit putih dengan rambut sedikit giondrong. Pakaiannua mewah seolah dia akan pergi ke pesta setiap hari. Dia memiliki senyum yang manis dengan bibir agak tebal begitu mewah untuk sebuah ciuman hangat.


“Kau?” kata Lintani sambil berpikir sejenak dia sedikit ingat wajah itu, wajah milik seorang laki-laki remaja yang pernah memanggilnya cantik, padahal dia tengah berdandan begitu mencolok mirip seperti badut!


“Ya, aku tahu itu kamu, kan?”


Dia Petra Makra, putra mahkota dari Club’ Barseba, sebuah club pelatihan bela diri, tinju, karate, dan segala jenis olahraga kekerasan lainnya yang terbesar di kota Hill. Dia putra pertama Noul Barseba, dialah raja promotor tinju dan pertandingan lain yang sudah melanglang buana ke berbagai negara, pria hebat berdarah dingin dalam melambungkan nama-nama pemain handal, dia begitu terkenal seantero kota.


Pria itu menyukai Lintani sejak dulu, sejak mereka masih sering bertemu. Lintani pernah melihatnya saat berkeliling mencari uang dengan menjadi badut. Petra pernah melihat wajah Lintani yang polos tanpa riasan tebal dan dia begitu menyukainya, sampai sekarang pun dia masih ingat.


“Maaf, Tuan. Anda salah orang!” kata Lintani, dia mencoba menghindar.


“Tidak, aku yakin tidak salah. Aku kebetulan melihatmu tadi, sejak dulu aku ingin tahu namamu.”

__ADS_1


“Anda hanya ingin tahu namaku? Di mana kita pernah bertemu?”


“Kau sering datang di Mall Bulbul, kan? Kita beberapa kali bertemu di sana!”


Lintani terkejut, ada orang di masa lalu yang mengenalnya, padahal dia selalu keluar rumah dengan riasan tebal. Kecuali jika dia hendak sekolah. Itu pun Lux selalu menjemputnya.


Lux dulu mengabaikan Lintani saat diserahkan ibunya untuk dirawat di keluarganya namun, saat dia semakin besar, Lintani tampak semakin cantik dengan matanya yang besar dan bulunya yang lentik seperti memagarinya dengan indah. Oleh karena itu, dia tidak cocok menjadi peminta-minta, lalu Rauja mendandaninya menjadi badut dan melatihnya beratraksi selucu mungkin.


Mereka pikir, akan sia-sia jika merawat Lintani tanpa menghasilkan uang, hingga Lintani dewasa pun, sikap mereka masih sama, menyuruhnya mencari uang dengan menari atau menyanyi di depan semua orang, terutama dari keluarga kaya.


“Oh, ya, itu dulu, Tuan. Sekarang saya bukan siapa-siapa lagi!”


“Kalau begitu, ayo! Kita berkenalan, namaku Petra Makra. Kau siapa?”


Lintani melihat Petra sambil tersenyum, “Panggil aku Lin!”


“Hai, Lin! Senang berkenalan denganmu!” Petra meraih tangan Lintani dengan erat, lalu membawa ke bibirnya dan menciumnya. Hal itu membuat Lintani tercengang hingga dia dengan cepat menarik tangannya kembali.


Lintani sekilas melihat mobil itu pergi dan dia melihat ke arah jam tangan mahal Patch Philip di tangan Petra.


“Tuan Petra, tolong beri tahu aku, jam berapa sekarang?”


“Ah, kau tidak perlu terlalu sopan seperti itu, aku bukan orang yang mudah marah.”


“Uem ... Baiklah. Aku akan bersikap biasa pada Anda. Apa itu artinya kau menganggapku sebagai teman?”


“Tentu, kita ini teman, dan sekarang jam dua belas! Apa kau mau pergi?”


“Ya. Maaf, aku harus pergi, permisi ...”

__ADS_1


Lintani memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah keluarga Lux, ini tidak terlalu jauh dan dia pasti kuat karena mendapatkan sarapan gratis tadi pagi. Saat makan siang nanti dia akan makan banyak sehingga saat di rumah tidak ada makanan, atau asisten rumah tangga itu tidak membuat makanan, dia tidak akan kelaparan.


Sementara Petra masih melihat Lintani yang terus berjalan ke satu arah, dia merasa heran dengan kelakuannya. Pria itu mengikuti ke mana arah gadis itu pergi dengan menjalankan mobil sportnya secara perlahan sekali.


Lama kelamaan dia tidak tahan, dan menarik Lintani masuk ke dalam, memaksanya duduk di sampingnya dan memasang sabuk pengaman. Semua dia lakukan dalam diam, tidak menghiraukan gadis keras kepala yang menolaknya. Dia tidak mungkin membiarkan Petra mengantarkan sampai ke rumah keluarga Lux, bagaimana kalau Askelan melihat dan marah padanya?


Setelah beberapa saat lamanya Lintani hanya diam walaupun Petra menanyakan arah tujuan berulang kali padanya.


“Jadi, kau tidak mau bicara? Baiklah, aku akan membawamu pulang ke rumahku!”


“Jangan! Baiklah, antarkan aku ke rumah Luxor Pama!”


“Apa? Luxor? Apa dia keluargamu?”


“Ya. Itu dulu, tapi sekarang aku bukan bagian dari mereka lagi!”


Petra merasa heran, keluarga Lux termasuk keluarga baik-baik dan tergolong kelas menengah yang mapan, tapi, dia heran saat menyadari pengemis kecil yang dulu dikenalnya, ternyata berasal dari keluarga itu. Ini tidak masuk akal.


“Bagaimana bisa kau berasal dari keluarga itu?” Petra bertanya dengan lugas.


Lintani berusaha menutupi kenyataan sebenarnya dengan berkata, “Aku dulu hanya menumpang di sana, mereka tidak mungkin memiliki anak yang dijadikan pengemis, bukan?”


“Ya.”


Setelah sampai di depan rumah Lux, Lintani turun dari mobil sport itu dengan cepat tanpa menunggu Petra membukakan pintu. Dia mengucapkan terima kasih yang tulus kepadanya.


“Terima kasih Pet! Kau sangat baik!” kata Lintani sambil melambaikan tangan dan Petra mengangguk disertai dengan senyuman.


Begitu Lintani membalikkan badannya, dia langsung berhadapan dengan Askelan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2