
Gaun Pengantin
Lintani hampir tak percaya jika baju berwarna lembut dengan model pakaian ceongsam itu adalah pemberian Askelan, pria yang suka sekali memerintah itu.
Bibi Mo membantu Lintani menuruni tempat tidur karena tubuhnya kaku dan pegal, lalu, menunjukkan isi lemari besar yang ada di kamar tidurnya. Banyak sekali baju berbagai warna, corak dan model ada di sana. Dia bisa memakainya kapan saja, lengkap dengan pakaian dalam juga.
Pakaian itu memang sengaja disediakan oleh Askelan jauh-jauh hari sebelum, Lintani menempati rumah itu karena dia membeli untuk wanita di pondok kayu, bila suatu saat dia menemukannya. Jadi, pakaian itu dia pilih dari beberapa model terbaru setiap tahun. Askelan cukup menayangkan gadis itu dan menyebutkan berapa ukurannya.
Bibi Mo tentu saja tidak tahu untuk siapa pakaian itu disediakan, tapi karena melihat Lintani yang tidur dalam pelukan Askelan, hingga di mengira pakaian itu untuk dirnya.
Lintani segera mengucapkan terima kasih, dia membersihkan diri dan segera mengenakan pakaiannya. Saat menikmati sarapan, dia mendengar banyak hal tentang Askelan dan kebiasaannya dari Bibi Mo hingga membuatnya menilai jika pria itu sebenarnya seorang yang penyayang dan sangat menghargai ibunya.
Setelah sarapan, dia langsung menemui Elliyat dengan mobil jemputan yang disediakan Askelan seperti biasanya. Namun, sopir itu tidak membawa Lintani ke Villa melainkan ke rumah sakit hingga dia bertanya-tanya ada apa dengan ibu angkatnya selama di penjara itu. Begitu sampai di rumah sakit, s JJ
“Lin! Kau datang?” kata Elliyat dengan suara yang lemah, di tangannya tersambung dengan selang infus sedangkan, di hidungnya terdapat penutup oksigen.
__ADS_1
Lintani mendekat tanpa melihat pada Askelan, dia sedih dengan keadaan ibunya semasa di penjara itu. Dialah satu-satunya keluarga baginya saat ini dan tidak ada lagi orang yang menyayangi dirinya seperti Elliyat menyayanginya.
“Ibu, ada apa denganmu, aku tidak tahu kau sakit, maafkan aku!” sahut Lintani sambil menyentuh kaki dan memijitnya.
“Kau ini bicara apa, aku justru tidak ingin ada orang yang tahu tentang penyakitku. Aku tidak mau orang bersedih karena aku.”
“Baiklah, Ibu. Aku tidak akan bersedih kalau itu akan membuatmu bahagia. Katakan! Apa lagi yang kau ingin untuk aku lakukan!”
Elliyat menarik tangan Lintani dan Askelan secara bersamaan dengan tangannya yang lemah dan gemetar. Lalu, menyatukan tangan mereka dalam genggamannya. Tatapannya penuh harapan pada dua manusia yang ada di hadapannya.
“Ibu, kami sudah menikah, aku sudah menunjukkan suratnya padamu, kan?” kata Askelan kembali menggenggam tangan ibunya.
“Tidak, bukan seperti itu, aku ingin melihat Lin memakai gaun pengantin dan mengucap janji pernikahan bersamamu.”
Elliyat merasa nyawanya tidak akan bertahan lama lagi, sel kmancer di tubuhnya mulai menyebar, dia pura-pura terlihat kuat selama ini demi anaknya, tapi, sekarang dia sudah tidak perlu lagi mengkhawatirkan Askelan karena dia sudah memiliki banyak properti dan tabungan, logam mulia yang disimpannya pun ada beberapa. Apalagi sekarang dia sudah memiliki wanita yang akan membuatnya hidup bahagia.
__ADS_1
Dia ingin melihat Lintani, menantunya memakai gaun pengantin miliknya yang tidak pernah sempat untuk dia kenakan di haru pernikahan dengan Yardo Harrad, suaminya. Biar bagaimanapun juga berjalan ke pelaminan dengan memakai gaun pengantin yang indah, adalah impian seorang wanita.
“Kalau aku tidak bisa memakai gaunku, maka Lintani harus memakainya. Aku ingin gaun rancanganku sendiri, di pakai oleh seorang wanita, dan wanita itu adalah Lin. Jadi, pergilah ... aku ingin melihat kalian bersanding bersama sebelum aku tiada.”
“Ibu, kau akan panjang umur, dan aku rasa pernikahan dengan gaun pengantin itu tidak perlu.” Lintani berkata begitu demi membela harga diri Askelan, pria itu tidak ingin seluruh dunia tahu tentang pernikahan terpaksa nya itu.
“Lin, aku sakit parah, dan mungkin hidupku tidak lama lagi.”
“Ibu, bertahanlah, kau akan sehat dan melihat cucumu, lahir dari rahimku!”
Ucapan Lintani membuat Askelan mengerutkan alis karena berpikir, apakah itu artinya Lintani mau memiliki anak bernamanya dan tiba-tiba sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang hampir terbit begitu saja.
“Hai! Anak bodoh!” Elliyat menepuk lengan Askelan, dan kembali berkata, “Ayo! Bujuk istrimu biar mau memakai baju pengantinku!”
Bersambung
__ADS_1