
Bertemu Petra
“Kau bisa memakai kamera ini, Nona. Ini harga yang paling murah satu jamnya!” kata seorang asisten di sebuah toko tempat pemenyewaan kamera, sambil menunjukkan sebuah Kodak kecil dan sedikit usang, tidak masalah, yang penting dia bisa menuruti keinginan Elliyat.
“Baiklah, aku akan memberi jaminan, sepuluh dolar dan aku harap kalian tidak memberikannya pada orang selain aku!”
“Baiklah, isi formulirnya sekarang dan aku akan menyimpan kameramu!”
Lintani menurut dan dia memberikan uangnya yang hanya tersisa sedikit lalu, pergi setelah asisten itu menyimpan kamera pesanannya, dia sudah mengisi lengkap data bahwa dia akan memakainya beberapa hari ke depan.
Saat Lintani hendak pulang, dia melihat iring-iringan mobil jenazah yang membawa banyak sekali persembahan. Tiba-tiba dia berpikir tentang apa yang akan dia berikan pada Ibunya jika dia tiada kelak. Dia tidak memiliki uang untuk memberinya hadiah yang layak.
Di waktu yang bersamaan, dia melihat seorang wanita paruh baya tengah menyusun ikan-ikan di gerobaknya sendiri.
“Bibi, apa kau membutuhkan seseorang untuk membantumu, kulihat kamu begitu kerepotan?”
“Kau hanya kasihan padaku atau kau mengharapkan upah?”
“Apa aku boleh mengharapkan, upah? Aku akan bekerja untukmu dengan baik!”
Lintani seorang narapidana, tentu tidak mungkin mengharapkan pekerjaan bagus saat ini.
“Kalau kau mau, kau bisa membantu anakku, dia punya seorang bayi dan kerepotan menjaga tokonya sendiri!” kata wanita itu yang ternyata bernama Wang.
“Siapa namamu, Nak? Apa kau tidak punya keluarga?”
“Tidak Bibi, tapi aku menumpang di sebuah rumah, di bagian barat Eufrat!”
“Apa kau bercanda? Tidak ada orang miskin yang tinggal di kawasan itu!” kata Wang sambil mendorong gerobak ikannya dan Lintani ikut mendorong di belakangnya.
“Ada, aku buktinya!” kata Lintani sambil tertawa.
Tidak lama mereka berjalan hingga berhenti di sebuah toko sayur mayur dan ikan yang cukup besar.
“Nah, itu toko anakku! Masuklah dan bilang aku yang mengutusmu!”
Sungguh ini pekerjaan yang mudah, dan Lintani seketika merasa diberkati. Wang memperkenalkan Lintani pada seorang wanita kurus yang sibuk menimbang buncis, sedangkan seorang anak kecil yang montok ada di belakang punggungnya
__ADS_1
Wang meneruskan berkeliling menjajakan ikan, sedangkan Lintani membantu Shane anak perempuannya. Mereka bekerja sama sampai sore, sampai toko ikan dan sayuran itu tutup.
“Lin, ini upahmu, aku akan membayarmu sesuai pendapatanku, oke?” kata Shane ramah.
“Tidak masalah.”
“Oh, ya. Bisakah kau besok tidak memakai baju seperti ini lagi, itu terlalu bagus untuk bekerja.”
“Tentu.”
“Apa kau sebelumnya bekerja dan dipecat?”
“Bukan, tapi ... apa kalian keberatan kalau aku bekerja di sini karena tidak ada pekerjaan untukku, aku ini seorang narapidana.”
Shane terdiam, dia menatap Lintani dengan tatapan tidak berdaya, kini matanya berkaca-kaca. Setelah itu pun dia menangis sambil menceritakan jika suaminya pun sekarang, sedang dalam tahanan karena membunuh sang bos tempatnya bekerja.
Nasib malang tidak dapat di hindari karena Bosnya memukuli teman kerjanya dan suaminya pun membela, tapi, dia tidak menyangka jika pukulannya, akan mengakibatkan pendarahan dan Bos-nya meninggal keesokan harinya.
Saat itu dia tengah hamil dan sekarang anaknya sudah berumur dua tahun, lalu, dia pun tinggal bersama ibunya yang sebatang kara.
“Jadi, tidak masalah bagiku kau bekerja di sini walaupun kau seorang narapidana. Datang lagi besok! Aku senang kau membantuku!” kata Shane sambil menutup tokonya.
*****
Hari-hari selanjutnya Lintani mulai melakukan aktivitas yang teratur. Pagi-pagi dia akan memasak di apartemen, lalu membagi dua masakannya separuh dia sisakan di rumah dan separuh darinya untuk Elliyat dan dirinya sendiri.
Saat dia menemani Elliyat di rumah sakit, mereka akan makan bersama, tapi, tidak lama karena dia harus ke toko tempatnya bekerja.
Lintani sering datang sendiri, hingga membuat Ibu mertuanya itu akan menanyakan tentang keberadaan suaminya, tapi, gadis itu selalu menjawab Askelan sibuk, padahal dia tidak tahu menahu urusan pria itu karena sejak di rumah keluarga Lux, mereka belum pernah bertemu.
Besok adalah hari di mana undangan pesta dansa keluarga Harrad akan dilangsungkan, Lintani berpikir bagaimana caranya datang ke sana, sebab Askelan sama sekali tidak mengajaknya. Akhirnya dia bertekad akan datang dengan menyamar menjadi seorang pelayan, itu jauh lebih baik dari pada datang dengan cara menjadi tamu undangan tidak resmi, ini akan memalukan.
Jadi, hari ini dia akan memakai baju pelayan yang biasa digunakan Mo di dapur, setelah mencucinya.
Dia akan pulang setelah bekerja dan mengambil kamera yang disewa.
Lintani baru saja memasukkan kamera ke dalam tas saat seseorang menyapanya, dengan suara yang ramah dan lembut. Selama ini, hanya hanya ada satu orang saja yang dia kenal memiliki suara seperti itu, Petra!
__ADS_1
“Hai! Lin! Kau di sini?” Petra heran, sebab tempat itu adalah pusat pertokoan masyarakat yang jarang di datangi oleh orang seperti Askelan.
Petra baru saja melihat-lihat perhiasan di toko barang antik, untuk mencari hadiah yang akan dia berikan pada Tetua Harrad nanti malam.
“Hai! Pet! Apa kabar?” Lintani menjawab dengan ramah pula.
“Aku baik, ada keperluan apa kau di tempat seperti ini?”
“Aku Cuma jalan-jalan saja, sepertinya tempat ini asyik.”
Petra dengan jelas melihat Lintani memasukkan sebuah kamera kecil ke dalam tasnya. Sekali lagi dia heran, ada seorang seperti Askelan di sisi gadis ini, tapi, dia masih membawa kamera murahan. Pakaian yang dikwnakan pun itu mirip seperti pekerja kasar di pabrik batu bata miliknya. Namun, dia tidak ingin menduga-duga.
“Apa ada yang menarik di sini?” tanya Petra lagi.
“Ada! Kamera untuk merekam video, aku ingin memakainya karena kamera ponselku rusak.”
“Oh, begitu?” Petra mengerutkan alisnya lebih dalam lagi. Bukankah dia bisa memintanya pada Askelan?
“Oh, ya. Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Lintani seraya berdiri dengan serius menatap Petra.
“Tentu, apa itu?”
“Aku pernah berjalan malam itu bersamamu, lalu aku pingsan, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Apa yang kau lihat setelah kau sadar?”
“Aku ada di kamarku sendiri.” Lintani berbohong.
“Aku pikir kau ada di kamar Askelan, sebab dia yang menyelamatkanmu dan aku juga!”
“Kau? Siapa yang berani menyekapmu bersamaku?” Lintani tidak percaya, dia pikir Petra yang sudah berkomplot dengan seseorang.
“Entahlah, mereka mungkin mengira kita membawa harta berharga lalu menjarahnya!”
“Ya. Bisa jadi, begitu.”
Lintani masih tidak percaya jika Askelan yang menyelamatkan mereka berdua. Dia membayangkan betapa gagahnya laki-laki itu, saat membuat para penjahat akhirnya bertekuk lutut.
__ADS_1
‘Apakah dia juga menciumku diam-diam, seperti saat aku membeku di kamarnya?’ batin Lintani. Jelas sekali dia merasa ada bibir lain sedang menumpu pada bibirnya yang beku waktu itu, dan ketika dia sadar sudah berada di kamar Askelan.
Bersambung