
Jangan Kurang Ajar
Lintani mendongak melihat pada wajah Askelan yang tinggi badannya melebihi dirinya. Lalu, gadis itu mundur satu langkah.
Belum juga dia sempat mengumpat kesal karena pria itu menghalangi jalannya, tangannya di tarik oleh seseorang ke samping, padahal, dia masih ingin mengusap hidungnya yang sakit karena menabrak dada Askelan.
“Hati-hati langkahmu, Lin! Jangan kurang ajar padanya! Dia itu bukan orang yang sembarangan dan akan segera menjadi pasangan Kakakmu!” kata Rauja di dekat kepala Lintani, dia berjalan sambil menggiringnya dengan kasar, menuju ke dalam.
Semua orang yang ada di sana tidak tahu jika Lintani adalah istri sah orang yang dimaksud Rauja. Sementara Lintani, orang yang tidak tahu jika pria yang pernah meniduri dirinya sebanyak dua kali itu adalah seorang yang paling berkuasa di kota.
Sesampainya di salah satu ruangan, wanita itu memperingatkan agar berhati-hati dalam bersikap dan tidak membuat keluarga malu karena Askelan, calon suami Haifa ada di antara mereka.
Susah payah keluarga itu akhirnya berhasil mengundang Askelan, seorang pria yang begitu sibuk, baik waktu dan juga tubuhnya sangat berharga. Sebuah kesuksesan besar, apabila keluarga Lux bisa mengundangnya datang ke rumah hanya untuk makan siang.
Askelan mengunjungi rumah itu karena menghargai wanita yang sudah menolong dan menyelamatkannya dan, saat ini dia tengah duduk di sofa besar ruang tamu berbincang dengan Lux, dia memakai perekat pendingin suhu di keningnya, memperlihatkan bahwa dia sedang sakit keras.
Luxor dan Rauja tidak tahu kedatangan Lintani kalau Haifa tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit pagi itu. Apabila mereka tahu sebelumnya, mungkin sandiwara mereka akan lebih baik lagi.
Sebelum kedatangan Askelan, Haifa menghubungi ibunya yang ada di rumah, melalui sambungan telepon.
“Ibu, pokoknya kau harus mengambil gambarku saat aku dan Askelan bermesraan di sofa atau saat makan siang!”
__ADS_1
“Tentu, aku juga akan mengambil video kalian berdua, biar semua orang tahu kau kesayangannya,” jawab Rauja dari seberang telepon.
“Ya, aku harus tetap menjadi seorang wanita satu-satunya baginya Bu! Tapi, kau harus menjaga Lin, jangan sampai dia mengacau!”
Mereka hendak membuat sebuah konten di media sosial demi nama baik dan dia tidak akan melewatkan saat-saat di mana seorang penguasa mau datang ke rumah orang biasa seperti dirinya.
Setelah tiba waktunya hidangan besar di siapkan di atas meja, Lintani begitu bersemangat, dia belum pernah makan banyak dan semewah itu sejak tinggal di rumah Lux.
Namun, saat membawa Lintani masuk tadi, Rauja sudah berpesan padanya agar tidak membuat masalah kalau tidak ingin membayar jasa, telah membesarkan dan membiayai sekolahnya. Lintani kemudian bertekad harus mendapatkan uang 50 ribu dollar itu agar keluarga Lux tidak lagi mengganggunya.
Lintani berpikir jika lebih baik dirinya tidak bergabung untuk makan siang. Dia mengatakan kalau dirinya tidak pantas untuk bersama dengan mereka, padahal dalam hati dia sudah sangat muak, dengan kebohongan dan sandiwara yang dilakukan keluarga Lux.
Saat makan siang itu, empat orang sedang menikmati makan siang penuh dengan kehangatan. Haifa dan Rauja terus berbincang, mengelu-alukan Askelan dan memujinya. Lintani duduk agak jauh dari mereka, tapi sebentar melirik suaminya yang juga tengah meliriknya pula.
Penilaiannya seperti sedang membelah sebuah kaca yang memang sudah retak sebelumnya. Dia sudah menilai Lintani sebagai wanita pemeras, gila kasih sayang dan pernikahan, lalu, sekarang berbohong mengenai ikatan keluarga, bahkan gadis itu pernah bilang kalau kemungkinan dia hamil.
“Apa kau sudah membuat foto bayimu, Sayang?” tanya Rauja pada Haifa saat acara makan siang selesai. Sementara Lintani masih berada di tempatnya, dia berniat meminta pembantu rumah itu untuk membungkus makanan untuk dia bawa pulang. Sebab, kalau memang dia hamil, dia harus banyak makan untuk menutrisi bayinya.
“Sudah, Bu!” Haifa menjawab dengan lemah lembut dan manja, dia mengambil sebuah foto hasil ultra sonografi rahimnya. “Lihat, anak kita adalah yang terbaik dan sehat. Apa kau punya harapan yang sama denganku?” tanya Haifa pada Askelan.
Haifa tertawa kecil dan terlihat malu-malu, “Aku tidak menyangka kalau aku hamil padahal, kita melakukannya di dalam mobil sebulan yang lalu, kau begitu hebat, Sayang. Kau bisa membuatku hamil padahal tidak saling mengenal waktu itu bahkan aku berdandan seperti badut!” kata Haifa penuh semangat.
__ADS_1
Cerita yang keluar dari mulut Haifa itu sontak membuat Lintani tercengang karena dia telah melakukan hal yang sama, dengan seorang pria di dalam mobil dan berdandan seperti badut. Bedanya adalah Haifa hamil dengan orang yang telah tidur dengannya, sedangkan Lintani belum tahu bagaimana nasibnya.
“Kau tahu, aku lebih menyukai dirimu apa adanya seperti saat menjadi badut itu, dari pada dirimu yang sekarang.” Askelan berkata sambil melepaskan dekapan tangan Haifa di lengannya. Selama ini, dia hanya membiarkan Haifa bersikap seperti itu sebentar saja, sebab kalau terlalu lama, maka, bisa dipastikan pria itu akan muntah.
“Tapi sayang, aku tidak mungkin memakai riasan seperti itu, karena waktu itu aku sedang akting!” kata Haifa lagi.
“Benarkah?” tanya Askelan. Askelan berulang kali mendengar ucapan seperti ini dari Haifa seperti selalu mengingatkannya bahwa dialah penolongnya. Namun, anehnya dia tidak merasakan hal yang sama saat bertemu dengan wanita di dalam mobil, justru dia merasa jijik seperti ketika bertemu dengan wanita-wanita penggoda lainnya.
“Ya,” sahut Haifa singkat.
Askelan sejenak kembali mengingat saat dia pertama kali mengenal Haifa. Yaitu saat dia baru saja sadar dan terbangun dari tidurnya di dalam mobil. Jordan langsung mengantarkannya menuju hotel terdekat, untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Sialnya dia tidak menemukan wanita yang baru saja dia tiduri, dan dia hanya bisa mengumpat Jordan sepuasnya. Dia pikir asistennya itu akan mencegahnya pergi karena gadis itu bisa bersamanya sampai sekian lama tanpa merasakan mual.
Jordan sudah berulang kali meminta maaf tapi dia masih saja kesal. Sementara dia harus membuang mobilnya sekali lagi untuk menghilangkan jejak, dia tidak kembali dengan memakai mobil yang sama.
Kendaraan seperti miliknya hanya dimiliki oleh orang-orang kalangan atas dan identitas pribadinya dirahasiakan. Beberapa orang yang mencoba mencari siapa pemilik plat nomer mobilnya tidak bisa dilakukan, kecuali di kantor keamanan negara dan kalaupun bisa dilihat di internet, maka, orang hanya akan mendapatkan keterangan yang sedikit jika pemilik mobil seperti itu adalah orang yang spesial. Itu saja.
Setelah mobil khusus pesanannya datang dan menuju ke tempat parkir, secara tidak sengaja dia melihat gadis dengan dandanan yang sama dan telah melayaninya. Dia membawa gadis itu kembali ke lobi hotel, duduk di sofa yang ada di sana dan ingin mengenalnya lebih dalam. Kemudian gadis itu pun memperkenalkan dirinya sebagai Haifa.
“Askel Sayang, aku mencintaimu!” ucap Haifa seketika membiarkan lamunan Askelan saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung