Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 15. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Pertemuan Tak Terduga


 


Saat berjalan Lintani melepas sepatu boot dan menggantinya dengan sepatu flat miliknya sendiri, melepas topi dan sarung tangan yang disimpannya di dalam sebuah kantong plastik berwarna hitam. Dia terus berjalan dengan cepat, khawatir terlalu malam untuk sampai di apartemen.


Gadis itu tidak menemukan bis atau taxi di jalanan yang dilaluinya. Pantas saja para wanita tadi dijemput beberapa orang saat pulang. Namun, untuk apa mengeluh kalau sejak kecil dia sudah di paksa untuk tetap bertahan hidup di dalam mulut harimau yang sedang mengunyah.


Sebenarnya tubuhnya sudah terlalu letih saat berjalan, tapi dia harus kuat sebab Elliyat membutuhkan dirinya. Dia merasa berhutang budi hingga ingin terus membahagiakannya sepanjang sisa umurnya, jika mungkin dia ingin membuat hidup wanita tua itu lebih panjang.


Tiba-tiba Lintani berhenti melangkah bersamaan dengan suara klakson mobil yang mendekat ke arahnya dari arah depan, semula dia berpikir bahwa, sebentar lagi akan tiada karena kasus tabrak lari. Memangnya siapa yang peduli dengan mayat gadis miskin berpakaian Kumal penuh debu yang tergeletak di jalanan? Tidak ada.


“Astagah Lin! Kau kah itu?” kata suara seorang wanita yang berteriak, sambil membuka pintu mobil. Wanita itu Rauja dan Haifa. Secara kebetulan tadi mereka lewat sepulang dari sebuah pesta dan melihat seseorang yang dikenal. Membuat mereka mendekat dan menghampirinya.


Lintani diam mematung, keadaan dirinya saat ini jauh lebih buruk saat dia tengah mengemis atau menjadi badut hingga pantas saja kalau kedua wanita itu tertawa.


“Lihat, Bu! Aku tidak salah, kan? Kalau dia lebih buruk dari sejak saat itu?” kata Haifa.


Lintani tetap mematung karena begitu terkejutnya dia bertemu dengan dua wanita, yang tidak ingin dijumpainya di mana pun berada.


“Hai! Lin, dari mana saja kau ini? Seperti inilah kalau kau berusaha lari dariku!” kata Rauja dengan wajah penuh kebencian.


“Kau tahu, aku sudah bersumpah pada ibumu kalau aku akan mengurusmu dengan baik, tapi, aku tidak bisa kalau kau tidak menurut padaku!”

__ADS_1


Mendengar ibunya di sebut, Lintani mengangkat alisnya, dia sudah memutuskan untuk tidak peduli dengan ibunya lagi sejak dia sadar kalau keberadaan wanita itulah yang membuat keluarga Lux memanfaatkannya. Jadi, kini dia bisa menyimpulkan kalau sebelumnya alamat tempat tinggal ibunya itu tidak pernah ada di tangan mereka.


“Sekarang kalian tidak perlu mengurusku, aku akan mengurus diriku sendiri dan jangan kuatir aku tidak akan menyusahkan kalian lagi!”


Saat berkata, Lintani menepiskan tangan Haifa yang menempel padanya.


“Ah! Lihat, Bu! Baru satu bulan dia pergi dan tidak mengemis, rupanya dia punya pekerjaan lebih buruk! Apa kau pemecah batu?” Haifa berkata sambil mengusap tangannya seolah gatal dan terkena alergi mematikan saat bersentuhan dengan tangan Lintani.


Ibu dan anak itu menatap Lintani dengan jijik, selama ini mereka pikir gadis itu sudah lenyap di pinggiran kota, namun nyatanya sekarang, yang mereka lihat adalah seorang gadis polos dengan kecantikan alami baru saja keluar dari celah bebatuan yang, walaupun berlumpur tapi, tetap memancarkan sinar keasliannya.


“Ya!” jawab Lintani tidak ingin mengungkapkan siapa dirinya saat ini.


Lintani berjalan menjauhi dua wanita yang masih belum puas memaki dan menyudutkannya disertai sumpah serapah mereka. Namun, setiap kali mereka berkata dia selalu mencibir dan memalingkan muka.


“Apa kalian sudah puas? Sekarang sudah malam, aku harus merias diriku untuk mencari mangsa pria kaya seperti yang kalian tuduhkan!” kata Lintani menggertak.


“Oh! Aku hanya membenarkan kalian, karena aku kasihan saja! Bagaimana kalau benar, aku ternyata seorang menantu dari keluarga kaya?” kata Lintani terus mendesak tubuh Haifa.


“Siapa memangnya yang mau memungutmu menjadi menantu, hah?” sahut Rauja menarik tangan Lintani agar tidak menyudutkan anaknya.


“Nah, kalian ini! Aku bilang mau mencari mangsa salah, mau menjadi menantu orang kaya juga salah! Jadi, apa mau kalian sebenarnya, apa aku harus menjadi seorang pembunuh?” kata Lintani menepiskan tangan Rauja.


Tanpa Lintani sadari sebuah mobil Bentley hitam berhenti di dekat mobil yang dikendarai oleh Rauja dan Haifa. Saat itu pula Haifa tersungkur di dekat Rauja yang tiba-tiba terjatuh.

__ADS_1


Lintani heran dengan sikap mereka yang tiba-tiba menangis.


“Ibu, bersabarlah dengan sikapnya, dia tidak akan puas sebelum kita tiada,” kata Haifa dengan nada memelas dan lemah lembut.


‘Hai! Kalian, berhentilah berpura-pura, ke mana wajah durhaka yang kalian sembunyikan, trik kotor macam apa lagi yang akan kalian mainkan? Menjijikkan!’ batin Lintani sambil melipat kedua tangannya.


“Sudah, lah, Sayang, kita tidak apa-apa, dia memang seperti itu,” sahut Rauja sambil menangis bercucuran air mata dan berpelukan dengan Haifa.


“Ayo! Bangunlah! Kenapa kalian berdua sampai seperti ini?” kata seorang pria yang langsung membungkuk lalu, mengangkat tubuh Haifa dari tanah dan membantunya membersihkan pakaian yang terkena debu.


Pria itu Askelan, yang datang dari arah berlawanan, secara tidak sengaja dia melihat kendaraan Haifa ada di sana, dan melihat gadis itu bersama ibunya tengah bersitegang dengan seorang wanita. Dia tidak melihat siapa perempuan yang menjadi lawan bicaranya, tapi, saat dia turun dari mobil tadi, jelas sekali dia mendengar wanita itu mengatakan tentang pembunuhan.


Setelah selesai membantu Haifa dan ibunya berdiri, Askelan menoleh pada wanita yang ada di sebelahnya hingga kemudian kedua matanya melihat Lintani yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang rumit, mereka beradu pandang.


Lintani masih berdiri kaku di sana karena sempat terkejut, dia memalingkan muka dengan senyuman mencibir di bibirnya. Sementara hatinya penuh keheranan karena pria itu begitu lembut membantu dua wanita selebritis di depannya.


Saat itu, Lintani menganggap para juri bagi aktor dan aktris itu salah menilai dan salah memberikan trofi sebab sampai sekarang Haifa belum pernah mendapatkan penghargaan atas kehebatan aktingnya! Lalu, ingatan gadis itu berputar sampai pada pengakuan Askelan yang mengatakan jika dia memiliki seorang kekasih.


‘Haifa, kah, dia? Ah yang benar saja!’ kata hatinya.


Askelan tidak mengatakan apa pun atau membela dari kedua belah pihak sebab dia tidak tahu permasalahan yang membuat mereka berseteru.


“Apa kau mengenalnya?” tanya Askelan dengan lembut dan, Haifa segera menghamburkan diri dalam pelukannya.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2