
Biarkan Aku Pergi
Hari-hari di vila berlalu tanpa menunggu, sementara Lintani terus sibuk berlatih, tapi, dia mulai mahir merakit dan mengisi peluru senjata yang pas dengannya. Dia selalu memilih soft gun yang mudah di bawa, dengan jenis Airgun BB bullet cal kaliber 4,5.
Setelah berlatih hari itu, dia memilih berjalan-jalan di pantai tanpa alas kaki, sambil menunggu matahari tenggelam. Askelan tidak menamaninya hari ini, karena menuju akhir persiapan dan besok mereka akan segera berangkat ke Rasevan.
Kemarin, sebelum dia memutuskan untuk pergi ke danau itu, suaminya sudah mengatakan semuanya yang terjadi di sana. Awalnya Lintani sempat terkejut dan tidak percaya tapi, Askelan menyampaikannya sesuai dengan informasi dan bukti yang ada.
Saat Askelan mengatakannya, dia sempat merasakan tempatnya berpijak seolah runtuh ke dasar dan udara menjadi sedikit hingga susah mengambil napas. Dia tahu, maksud dari semua yang disampaikan Askelan beserta bukti itu ditunjukkan agar dia membatalkan kepergiannya, mengingat ada seseorang yang menginginkan dirinya.
“Apa kau akan tetap pergi ke sana?” tanya Askelan berulang kali.
Dan, Lintani selalu menjawab dengan tegas pula, jika dia akan tetap pergi ke sana.
“Ya, aku ingin melihat seperti apa keadaan mata air, pinggiran danau dan pohon apelku, apa hancur juga?”
“Aku tidak tahu, aku tidak bisa memastikan kau aman atau tidak!”
“Biarkan aku pergi!” kata Lintani sambil memohon, dan menciumi pipi Askelan untuk meluluhkan hatinya.
“Baiklah, tapi, berjanjilah kau akan kuat nanti, oke?”
“Oke!”
Lintani kini sadar, mengapa Askelan melindunginya sedemikian rupa. Saat ini pun dia memaklumi jika hanya berjalan-jalan saja, ada delapan pengawal yang mengikuti di sekitarnya.
Semula dia merasa sungkan dengan adanya banyak pengawal, tapi, setelah mengetahuinya, gadis itu pun terbiasa. Apalagi di Rasevan, di mana nyawanya lebih terancam. Dia harus benar-benar menyiapkan hatinya. Tidak ada kabar yang lebih menghancurkan lagi setelah ini, kan? Demikian pikirnya.
“Halo Bibi ...” Lintani berkata pada Mo melalui sambungan telepon saat dia berjalan di sekitar vila, membiarkan air laut membasahi kakinya.
“Nona Lin, apa kabar? Aku sangat merindukanmu! Kapan kalian pulang, aku kesepian!” kata Mo beruntun, dengan suara serak di seberang sana, dia terdengar seperti orang yang sedang menahan tangisnya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu sekarang pun sudah tahu tentang Lintani, karena Askelan sudah mengatakan semuanya. Wajarlah kalau sekarang dia pun begitu khawatir.
“Aku baik, bagaimana dengan Bibi? Aku juga rindu, tapi, Tuan Askel menahanku di sini!”
“Tetaplah berada di sisi Tuan, karena berada di dekatnya adalah tempat yang paling aman, dia tidak akan membiarkanmu terluka. Percayalah, Nona!”
“Ya, aku tahu sekarang. Kenapa Bibi tidak pergi ke sini?”
“Tidak, kalau aku ke sana, Tuan akan lebih sulit lagi, menjaga dua orang sekaligus akan lebih merepotkan. Tidak ada yang membahayakan aku di sini!”
“Tapi, kau tetap dijaga pengawal, bukan?” Lintani berkata seperti itu karena dia tahu, Mo termasuk orang yang disayangi Askelan karena ibunya pun menyayangi wanita tua itu.
“Tentu, banyak penjaga di sini, seperti biasanya, kau tidak perlu kuatir, Nona!”
Lintani mengakhiri panggilannya setelah berpesan pada Mo agar wanita itu menjaga kesehatannya. Dia merentangkan kedua tangannya setelah meletakkan ponsel pada saku celana pendeknya. Dia hanya memakai tank top yang dilengkapi dengan syal tipis.
“Viana!”
Lintani mendengar seseorang menerikkan nama ibunya, ini untuk yang kedua kalinya setelah dia mendengar teriakan orang memanggil dengan nama yang sama. Namun, sebelum dia sempat menoleh waktu itu, para pengawal sudah mengusirnya.
Pengawal menggeledah tubuh orang itu secara paksa walaupun, pria itu memberontak. Setelah dipastikan aman, maka pengawal membiarkan orang itu mendekat.
Laki-laki itu langsung berlutut, membuat Lintani terkejut, hingga dia mundur beberapa langkah ke belakang, karena heran.
“Viana, apa itu, kau?” tanyanya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dengan berurai air mata.
“Ya!” Lintani sengaja mengaku, karena ingin tahu apa yang akan dikatakan pria itu.
“Maafkan aku ... maafkan aku ... aku tidak tahu kalau orang itu akan berkhianat dan melakukan semua kejahatannya pada keluargamu ....!”
“Apa maksudmu? Kenapa kau melakukannya, aku sudah mempercayakan semua padamu, kan?” Lagi-lagi Lintani bicara seolah dirinya adalah Viana, padahal tidak mengenalnya sama sekali.
__ADS_1
Dia adalah Pinot, pembantu Viana, yang sering membantu keluarga Syahrain di kebun mereka, seperti menanam jagung atau memanennya. Kalau bukan karena pekerjaan itu, mungkin Pinot dan ibunya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan mereka. Menjadi buruh kebun, adalah pekerjaannya dan ibunya.
“Maafkan aku ... jangan hukum aku, aku sudah sengsara seperti ini sekarang, bahkan ibuku juga pergi ... dia mengusirku, dia menganggap aku anak tidak tahu diri, karena sudah membocorkan semua rahasia keluargamu pada Marka!”
Marka? Pikir Lintani, itu adalah nama yang dikatakan Askelan, orang itulah yang sudah melenyapkan seluruh keluarganya. Namun, belum tentu benar, sebab bukti lain sebagai penguat masih dibutuhkan suaminya. Akhirnya, Lintani merasa jika dia bisa mengorek informasi dari orang gila ini.
Ah! Entah benar-benar gila atau tidak, Lintani tidak peduli.
“Kita sudah lama tidak bertemu, ke mana saja kau? Bahkan aku lupa siapa namamu!”
“Maaf, Viana, dulu kita berteman, aku Pinot. Mungkin aku sekarang sudah sangat jelek, jadi kau lupa!” Pinot bicara dengan posisi tetap membungkuk.
“Ya, aku lupa! Katakan bagaimana kau bisa berbuat seperti itu, kau sungguh mengecewakan aku, Pinot!”
“Maafkan aku, sungguh, maafkan aku! Awalnya aku tidak berpikir buruk pada Marka, karena dia baik padaku, sekali lagi, maafkan aku!” pria itu menangis sambil membungkuk pada Lintani.
“Jadi, Ibumu masih hidup, sedangkan aku harus kehilangan seluruh keluargaku? Ini tidak adil! Jadi katakan semuanya sekarang, atau aku—“ ucapannya terhenti. Tiba-tiba Lintani merasakan sakit di hatinya, hingga dia mencabut pistol dan menodongkan di kepala Pinot, tanpa keraguan.
Dia menyimpulkan jika pria di hadapannya ini masih memiliki seorang ibu, sementara dirinya tidak. Lalu, dia tidak akan menyia-nyiakan informasi sekecil apa pun dan memintanya untuk menceritakan bagaimana pertemuannya dengan seseorang yang bernama Marka.
Pinot melihat pistol Lintani di atas kepalanya, hingga tangisnya pun semakin keras bagaikan anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi. Biasanya, seseorang akan sangat tahu apa yang diinginkan ketika tahu nyawanya akan segera melayang.
Pinot pun bercerita.
Marka bersikap baik padanya, menjadi teman dan banyak membantu, membelikannya sepeda gunung, sepatu dan pakaian bagus. Pertemanan mereka berlangsung begitu lama, hingga berbulan-bulan sampai akhirnya, Marka bertanya tentang keluarga Shahrain dan meminta Pinot untuk mencari semua rahasia kelurga itu.
Demi menuruti keinginan Marka, Pinot melakukan pengintaian pada Kakek Syahrain dan dia melihat sendiri bagaimana pria tua itu, secara sembunyi-sembunyi memberikan rajah rahasia pada keturunannya, yang memiliki tanda lahir seperti tailalat di tubuhnya.
Dia melihat anak kecil Viana ditempeli besi panas pada pinggulnya, hingga membentuk gambar yang melingkari tai lalatnya. Hanya anak perempuan itu yang mendapatkan rajah, sedangkan saudara laki-lakinya, tidak. Hal itu karena mereka mempunyai tanda di hidung atau di telinga, sehingga tidak bisa ditato dengan cara yang mengerikan di tubuh mereka.
Pinot melihat semuanya, saat Viana menangis memohon agar anak perempuannya tidak dirajah, dengan besi panas tapi, Syahrain tetap melakukannya. Dari peristiwa itu dia tahu apa yang menyebabkan setiap keturunan Syahrain akan mendapatkan hal mengerikan itu, karena berhubungan dengan warisan tanah yang mengandung emas di Bukit Cemiton Shaw.
__ADS_1
Bersambung
❤️Episode masa lalu lagi ya .... semoga kalian suka. Bantu like dan komentar 🙏❤️