Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 121. Akhir Pembalasan Dendam (21+)


__ADS_3

Akhir Pembalasan Dendam (21+)


“Kenapa kau mau menghapusnya?” Askelan mengulang pertanyaannya, karena Lintani hanya diam.


“Aku hanya ingin saja!” Saat menjawab, Lintani mengamati wajah Askelan lekat-lekat, dia seperti menunggu perubahan raut wajah suaminya itu.


“Kau mau menghapusnya atau tidak itu keputusanmu, aku tidak berhak ikut campur, tapi, aku tidak tahu caranya!”


“Kau tidak berbohong, kan? Kalau kau tidak tahu caranya?”


“Ya, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghilangkan sebuah tato dikulit kita!”


“Apa kau juga mempunyai tato?”


“Tidak! Apa aku perlu membuka pakaianku di sini?” Askelan berkata sambil memegang dagu Lintani dan berbicara cukup dekat, “Aku sudah sering membuka semua pakaian di depanmu tapi, kau masih tidak tahu?”


Lintani tertawa, sambil melepaskan tangan Askelan dari dagunya lalu, dia berkata, “Ya! Aku tahu, kau tidak perlu membuka pakaian di sini! Ada-ada saja!”


“Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti mentato kulitku, aku terlalu sibuk!” kata Askelan sambil merengkuh pundak Lintani dan berjalan mendekati kendaraan mereka.


“Oh ya? Aku tidak percaya kalau kau terlalu sibuk setiap hari!”


“Kau selalu menggodaku! Ayo! Kita pulang!”


“Untuk apa pulang? Di sini menyenangkan!”


“Kita belum memiliki tempat istirahat, nanti akan kubangunkan rumahmu dulu di sini!”


“Tidak perlu! Lain kali kita bisa membawa tenda!”


“Idemu boleh juga!” kata Askelan sambil mencolek kecil ujung hidung Lintani, kemudian mengendarai motornya menuju halaman gudang, di mana mobil mereka terparkir.


Askelan sengaja membawa Lintani ke sana karena dia tidak ingin istrinya melihat proses kepergian Marka yang tidak berbusana, dan di masukkan ke dalam mobil berlapis kawat baja.

__ADS_1


Saat dia kembali, ke gudang semua anak buahnya sudah tidak ada, hanya ada Jordan, bersama dua orang sahabatnya, Pit dan Greg, yang menyambut kedatangan majikan mereka dengan penuh penghormatan.


Dua pria itu sangat berterima kasih pada Lintani yang sudah bekerja sama dengan baik dalam urusan Marka. Di antara sahabat lainnya, mereka berdua adalah orang-orang yang mendapat akibat paling buruk atas kejahatan Marka di masa lalu.


Selain itu, Pit yang sejak semula meragukan Lintani pun meminta maaf, karena dia pernah menganggap jika Lintani akan menghambat rencana balas dendam. Namun, hingga masalah ini berakhir, dia tidak menyangka jika akhir hidup yang diberikan Lintani bagi Marka sangat memuaskannya.


“Terima kasih Nona, atas kerja samanya, semoga hari-hari Nona di masa yang akan datang selalu menyenangkan!” kata Pit, saat Lintani hendak memasuki mobil, dan gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


“Sama-sama, sekarang semua sudah berakhir, aku juga tidak akan bisa melakukannya tanpa kalian!” sahut Lintani, setelah duduk di sisi Askelan.


“Hati-hati Nona!” kata Greg kemudian, sambil menutup pintu untuk Askelan dan Lintani. Mereka menatap dengan penuh haru, ke arah mobil yang terus melaju sampai kendaraan itu menghilang.


“Aneh, mengapa mereka tidak berterima kasih padaku?” tanya Askelan, “Padahal kau tidak melakukan apa-apa untuk mereka!”


Lintani tertawa dan berkata, “Apa kau cemburu, sekarang akan aku katakan pada mereka kalau harus berterima kasih juga kepadamu!”


“Tidak perlu, kau yang harus berterima kasih padaku!”


Lintani menoleh dengan wajah ceria dan dia meraih wajah Askelan dengan kedua telapak tangan, mencium bibirnya lalu, berkata, “Terima kasih, Elan Sayang!”


*****


“Ah ...! Kau luar biasa Sayang!” kata sebuah suara dari balik kamar hotel berbintang lima yang tertutup rapat.


“Kau juga, Pet! Kau tahan lama, kan?”


“Ya! Jangan kuatir aku bisa memuaskanmu berapa kali pun kau mau!” kata suara itu lagi, terdengar dari seorang pria dan wanita yang saling menimpali.


Suara-suara erotisme yang keluar dari dalam kamar hotel terus bersahutan, seirama dengan aktivitas panas di dalamnya.


Mereka adalah dua orang manusia, Petra dan Yasmin yang masih memadu kasih mencari kepuasan, bersama Petra, karena sebuah rencana dan kesepakatan hingga mereka bisa berada di kamar yang sama.


Peluh dan napas saling memburu meningkahi ciuman dan belaian tangan.

__ADS_1


“Ayo! Teruskan sekarang. Apa kau masih mau bertahan?” tanya Yasmin, sambil merebahkan diri, di sisi Petra dia terlihat sudah kelelahan, karena sejak awal aktivitas dia menguasai permainan, dan sudah mencapai titik tertinggi beberapa kali.


“Tidak, aku akan mengakhirinya sekarang!” Petra berkata sambil bergerak mengambil kendali lalu, tak lama setelah itu, dia melakukan pelepasan dan akhirnya merebahkan diri juga di samping Yasmin yang terpejam sambil mengatur napasnya.


“Ahk, kau senang kali ini? Aku tidak akan menganggapnya sebagai balas budi!” kata Yasmin, sambil menarik selimut hingga sebatas dada, menutupi tubuhnya yang tanpa busana.


“Tidak. Ini adalah kerja sama kita, kan? Jadi, tidak ada balas Budi, tidak perlu saling menuntut!” sahut Petra menarik selimut yang sama, lalu memeluk Yasmin dengan tangannya memainkan dada.


“Ya! Aku tahu, tapi, kita harus menunggu Kakekku keluar dari rumah sakit untuk menunjukkan gelang itu!”


“Bukankah tidak masalah kau menyerahkannya di sana? Menurutku, lebih cepat lebih baik!”


“Kau tidak sabar, ya! Ah ... kau ini!”


“Bukan begitu, kau juga akan lebih senang kalau kau bisa memiliki bukit emas itu secepatnya, bukan?”


“Ya!”


“Aku mencintaimu! Aku baru tahu, ada hal semacam itu di dunia! Buyutmu itu orang yang aneh!”


Yasmin menghela napas berat, lalu berkata sambil memejamkan mata, “Besok saja kalau begitu kita mengunjungi Kakek, sekarang aku lelah! Aku juga ingin tahu banyak tentang gelang dan semua teka-tekinya!”


“Tidurlah, kau sudah bekerja keras tadi!” kata Petra sambil mengecup kening Yasmin lembut. Dia mengusap kepala gadis itu secara perlahan, sedangkan di tangannya ada sebuah gelang kayu berukir bunga Cruise yang unik dan khas, ada tulisan Shaw di lapisan bagian dalamnya.


Petra menemukan gelang itu secara tidak sengaja, saat hujan, dia hampir saja mengalami kecelakaan karena jalanan licin, sekitar dua bulan yang lalu. Mobilnya sempat berputar sekali lalu, berhenti tepat di depan sebuah pohon. Ada seorang yang berjalan kaki, tengah berjongkok di pinggir jalan itu, seolah terluka dekat tempat sampah, tapi, ternyata dia hanya menunduk sambil mengusap-usap sebuah gelang yang baru saja terjatuh.


Hal itu sangat mengejutkan Petra, yang mengira pria itu terluka karena dirinya. Ternyata, dia adalah seorang lelaki yang gila.


Petra memarahinya, tapi kemudian, dia tertegun ketika orang gila itu berkata meminta maaf seolah Petra adalah seorang raja. Orang gila itu lalu, memberikan benda yang paling berharga yang dimilikinya, sebagai bentuk permintaan maafnya.


“Di mana, kau mendapatkan gelang ini?” tanya Petra waktu itu dan anehnya, pria gila itu mengatakan dengan lugas seolah dia orang yang waras.


“Aku menemukannya secara tidak sengaja, gelang ini bagus, sepertinya punya nilai seni yang sangat tinggi, lihatlah ukiran di dalamnya! Bagus bukan? Ambillah, Raja. Maafkan kesalahanku!” setelah berkata seperti itu, orang gila itu pun pergi.

__ADS_1


Bersambung


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2