
Jawaban Dari Rasa Penasaran
Pertanyaan Lintani adalah satu dari sekian pertanyaan yang sudah diajukan semua anak buah Askelan. Mereka mempertanyakan atas apa yang dilakukan Marka pada keluarga ataupun, harta benda orang lain di masa lalunya.
Selama disekap, pria itu menjawab semua pertanyaan dengan benar, karena dia sudah putus asa untuk berbohong. Dalam hati dia menyesali kenapa dahulu, melakukan penghancuran dan menyakiti orang lain tanpa berpikir panjang.
Marka membuka matanya dengan sempurna ingatannya melayang pada perbuatannya di pulau terpencil itu. Dia menyeringai, wajahnya kini tampak mengerikan, ada banyak luka lebam yang masih ada.
“Apa mereka saudaramu? Semua orang yang ada di sana bodoh! Mereka tidak mau mengatakan di mana barang yang aku cari, padahal kalau mereka mau mengatakannya, mereka akan menjadi pemilik kerajaan tapi, mereka semua bilang tidak tahu!”
“Apa yang kau cari?”
“Aku mencari seorang anak kecil yang tubuhnya ditato, sebuah gelang dan stempel besi tua. Aku sudah menculik semua anak, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memilikinya! Ah ....! Apalagi si tua itu, dia tidak mau memberikan benda sialan itu padaku! Padahal aku sudah mengancamnya! Aku heran kenapa dia tidak menginginkan harta, dia munafik!”
Marka tertawa pelan, karena tidak punya tenaga lagi. Dia terlihat sangat menyedihkan sekarang. Sementara Askelan khawatir jika Lintani menjadi kasihan padanya, sebab pria seperti ini pandai berbohong.
“Apa kau mengancamnya dengan meledakkan pulau, dan melenyapkan semua orang?” tanya Lintani lagi.
“Ya! Mereka pantas mendapatkan semua itu karena kebodohannya dan, anehnya setelah semua keluarga Syahrain lenyap satu persatu, masih ada seorang anaknya lagi justru menghilang entah ke mana, seharusnya dia bisa hidup mewah, tapi ternyata Si Tua itu lebih memilih tiada!”
“Bukankah kamu yang lebih bodoh, hanya karena benda jelek, kau justru melenyapkan semua keluarga Ayahmu!”
“Aku tidak bodoh! Aku benar! Persetan dengan kalian, persetan dengan Syahrain gila! Aku dan ayahku, tidak pernah memiliki saudara yang bodoh seperti mereka!”
“Nyatanya, sekuat apa pun kau tidak mengakui mereka sebagai saudaramu, hubungan darah itu tidak bisa menipu karena mereka, tetap akan menjadi keluarga besarmu!”
“Ah! Bodohnya aku! Seharusnya aku melihat daftar nama cucunya, Syahrain hanya akan memberikan nama belakang dengan namanya, pada cucu yang memiliki tato!” kata Marka hampir menangis, dia seolah sangat menyesal.
Lalu, dia melihat Lintani dengan tatapan yang berbeda dan berkata, “Kalau begitu sekarang ... aku ingin melihat tubuhmu, anak manis ...! Ayo! Tunjukkan tatomu yang cantik itu padaku!”
Plak! Plak! Lintani menampar Marka sekuat tenaga. Dia sangat marah dengan ucapan kasar Marka padahal, dia sudah sekarat. Namun, pria itu masih saja tertawa, dengan menyisakan seringaian.
Dia kembali bicara, “ Jangan seperti saudara atau kakekmu yang bodoh ... aku tahu itu kau Lintani Syahrain? Kau bilang darah keluarga tidak akan hilang, kan? Jadi ... lepaskan pamanmu ini sekarang. Ayo! Kita miliki emas itu bersama sebelum Aston tiada, sebab kalau dia mati, maka kekayaan itu akan jatuh ke tangan cucunya!”
“Aku tidak tahu apa yang kamu katakan dan aku tidak Sudi!”
“Jangan bilang kau munafik juga! Dasar Bodoh! Ah! Seharusnya aku nikahi saja Ibumu waktu itu ... aku bisa memiliki wanita dan emas itu sekaligus!”
__ADS_1
Ucapan Marka terdengar begitu serakah dan menjijikkan di telinga Lintani. Dia kembali menoleh pada Askelan.
“Kalau begitu buka semua pakaiannya dan ikat dia di tepi tebing, biarkan dia menjadi makanan burung bangkai di sana dalam keadaan hidup-hidup!”
Semua orang yang ada di sekitar termasuk para pengawal yang, tetap waspada dengan senjata mereka di tempat itu, mendengar ucapan Lintani. Mereka saling berpandangan dan mengedikkan bahu. Mereka tidak mengira jika akhir hidup yang diberikan oleh Lintani pada Marka, membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Sekuat itukah dendam hingga melenyapkan kasih sayang yang ada dan menutupi hati dengan kegelapannya.
“Apa kalian semua mendengar ucapan istriku? Lakukan apa yang diinginkannya, buka semua pakaian jahanam itu sekarang juga dan bahwa dia ke celah tebing!”
Mendengar perintah Askelan, beberapa anak buah maju, tapi sebelum sempat semua orang itu menyentuhnya, Marka berdehem cukup keras. Suaranya sedikit parau karena selama berhari-hari menahan rasa sakit tanpa diberi pengobatan apa pun dan, makan hanya sekali. Namun, suara itu masih terdengar jelas.
Dia terlihat pasrah dan hanya menunggu kematian dengan cara apa pun juga. Tidak mungkin dia menolak, karena semua adalah balasan dari perbuatannya selama ini. Padahal sekarang saja dia sudah cukup tersiksa, di usianya yang sudah senja, dengan kaki dan tangannya yang terikat dan hanya dibebaskan saat dia akan membuang hajat saja.
“Hai, Nak! Kau sudah besar sekarang, Sayang?” katanya sambil tersenyum yang menunjukkan rasa putus asa, “Kemarilah sebentar, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku mati!”
Lintani yang sudah melangkah membelakanginya, dan menggamit tangan Askelan pun, berhenti dan menoleh tanpa melihat padanya.
Askelan melihat Lintani dengan alis yang berkerut, berpikir jika Lintani akan mengampuni pria itu.
“Apa hak-mu, memanggilku dengan sebutan seperti itu? Kalau kau menganggapku sebagai anakmu, kenapa kau menghancurkan saudaraku yang lain, bukankah itu artinya kau juga telah membunuh anakmu sendiri?”
Dua orang itu keluar dan, tidak lagi menghiraukan suara teriakan memilukan dari balik gedung tua itu. Jordan pun tetap berada di dalam, karena dia ingin ikut andil dalam menyaksikan bagaimana sahabat-sahabatnya memuaskan diri untuk terakhir kali pada Marka. Sepertinya sebentar lagi celah tebing Aung di Rasevan, akan memiliki seorang penghuni.
Askelan mengajak Lintani ke kebun yang baru digarapnya beberapa bulan yang lalu, dengan menggunakan ATV, kendaraan bermotor yang biasa di pakainya di kebun saat ingin berkeliling. Dia telah membabat habis semua pohon dan semak belukar yang tumbuh di sekitarnya dan, menggantinya dengan tanaman palawija.
“Kau akan menanam apa di sini, Elan?” tanya Lintani.
“Aku ingin menanam anggur! Katakan kau ingin menanam apa, aku akan mengurusnya untukmu!”
“Apel hijau! Seperti buah yang aku tanam di makam Ayahku!”
“Baiklah, itu mudah. Apa kau suka Apel?”
“Ya!”
“Buah itu cukup bagus untuk nama anak kita!”
__ADS_1
Lintani tersenyum mendengar rencana Askelan menamai anak mereka dengan nama buah-buahan. Dia belum berpikir sejauh itu, usia kandungannya saja baru menginjak tiga bulan.
Askelan menghentikan motornya dan turun, diikuti Lintani. Mereka melihat beberapa pekerja memasukkan beberapa biji-bijian pada tanah yang sudah dilubangi dengan menggunakan alat otomatis yang terpasang pada sepeda motor.
“Apa di sini akan di tanam anggur juga?”
“Bukan, ini jagung!”
Tiba-tiba Askelan menarik Lintani ke balik sebuah pohon dan mencium bibirnya di sana.
“Apa dia baik-baik saja?” tanyanya setelah selesai dengan ciumannya dan mengusap perut Lintani dengan lembut, “Aku dengar saat hamil biasanya wanita akan punya banyak keinginan, apa dia tidak mau sesuatu sekarang?”
“Tidak, untuk hari ini, keinginan terbesarku sudah terpenuhi.”
“Baiklah, katakan kalau kau ingin sesuatu yang lain lagi!”
“Tapi, aku hanya ingin bertanya.”
“Apa itu, aku akan menjawabnya kalau aku bisa!”
“Apa kau tahu soal harta yang dibicarakan Marka?”
“Aku tidak tahu!”
“Apa kau mengenal orang yang bernama Aston?”
“Tidak!”
“Apa kau tahu soal tatoku berhubungan dengan sesuatu?” tanya Lintani dan Askelan pun menjatuhkan tatapannya ke arah pinggul. Dia menyibakkan kemeja itu dan mengusapnya dengan lembut.
“Aku tidak tahu! Tapi, itu tato yang bagus, aku suka sejak pertama kali melihatnya!” kata Askelan sambil kembali mencium bibir Lintani, sekilas, dia membayangkan saat pertama kali melihat gambar itu di pinggul istrinya.
“Bagaimana cara menghilangkannya?” tanya Lintani kemudian.
“Kenapa kau ingin menghilangkannya?”
Bersambung
__ADS_1
❤️ Selesai sudah masalah dendam Lintani, tapi, apa kira-kira dia akhirnya mencari bukit emas itu atau tidak?
Mohon dukungannya dengan like, komen, vote, dan giftnya 🙂🙏❤️