
Kembali Menjadi Umpan
Keesokan harinya, Askelan yang sudah berpakaian rapi, tengah duduk di ruang tamu, sambil membaca email yang sampai pada mereka tadi malam. Surel itu adalah informasi dari hasil otopsi dari tulang belulang yang berhasil mereka kumpulkan. Di dalamnya tertulis secara jelas, baik penyebab kematian, waktu dan juga jenis kelamin para korban.
Penyelidikan pada tulang yang hancur, tidaklah mudah, yaitu mengikuti cara yang mirip guna menyelidiki tulang pada fosil dinosaurus. Meneliti penyebab kematian, waktu kematian dan jenis kelamin dan sebagainya.
Ada juga tulang kerangka yang ditemukan di tepi danau yang berjenis kelamin wanita. Satu tulang ini memiliki riwayat kematian yang berbeda. Semua tidak bisa dipastikan apakah itu benar milik seseorang karena benda yang menjadi bahan penyocokan dari hasil otopsi harus terlebih dahulu di lakukan tes DNA.
Semua pemilik tulang diduga berjenis kelamin pria, berkisar antara umur 12 tahun, 15 tahun, ada yang berusia 30 juga ada satu yang berumur sekitar 80 tahun. Sedang satunya tulang wanita itu berumur 40 tahun dan meninggal karena tenggelam atau kehabisan napas. Sedangkan selain itu, meninggal karena terkena hawa panas setelah mendapatkan penyiksaan. Informasi itu disimpulkan setelah melihat hasil pemeriksaan tulang yang dilakukan secara acak.
“Kenapa kira-kira mereka disiksa dengan cara sadis seperti itu?” Askelan berkata setelah membaca riwayat beberapa tulang yang ditemukan, sebelum kematiannya mendapatkan siksaan berat, terutama pada pria dewasa.
“Tuan, kita tidak akan pernah tahu motifnya, kalau tidak menangkap Marka dan orang yang terlibat di sana!” kata Pit yang duduk di hadapan Askelan.
“Makanya, Tuan, saya pikir, menjebaknya datang ke sana adalah cara yang tepat, dan menggunakan Nona sebagai umpan!” Jordan menimpali.
Lagi-lagi Jordan menggunakan kesempatan memerintah tuannya atas nama Lintani, kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Pikirnya.
“Apa kau gila? Istriku sudah menjadi umpan delapan tahun yang lalu, diumpankan lagi setelah dia baru saja bebas dari penjara, dan sekarang kau akan menggunakannya untuk memancing musuh?”
“Bukan begitu, Tuan. Kita susun rencana dulu, dengan baik mulai dari sekarang. Bukankah Tuan berjanji akan mengajak Nona beberapa hari lagi?” Sahut Pit, hati-hati.
“Ya, kuharap dia berubah pikiran, setelah beberapa hari!”
Jordan dan Pit mengatakan usul mereka, karena hanya ini kesempatan untuk mengetahui motif penyiksaan dengan jelas. Menggunakan Lintani sebagai umpan bukan berarti melepaskan wanita itu begitu saja, melainkan memancing keingintahuan pihak lawan.
Mereka akan menempatkan beberapa kapal di area danau, sebagai sebagai altileri. Sementara helikopter siap selam 24 jam menjaga dari kejauhan, di tempat yang berbeda. Sementara amunisi di pusatkan pada beberapa kapal barang, yang seperti kapal nelayan biasa.
Nanti, mereka akan berangkat dengan satu kapal kecil, untuk mengelabuhi pihak lawan agar mereka tidak membawa banyak pasukan, karena berpikir jika Askelan datang tanpa persiapan.
__ADS_1
Meskipun begitu, perahu mesin biasa itu tetaplah memiliki senjata rahasia juga.
“Nona akan tetap berada di sisi Anda, Tuan!” kata Jordan di sela-sela rencana, “Anda hanya akan bertanggung jawab pada keselamatan Nona, dan sisanya, serahkan pada kami!”
Pit mengangguk, tentu saja semua teman yang lain akan siap, sebab rencana itu mereka lakukan sambil melakukan panggilan video Dengan Max, Greg, Leo dan Mat. Mereka kelak yang akan menjadi pemimpin masing-masing divisi sesuai rencana.
Askelan masih diam, dia khawatir jika ternyata Marka sudah memiliki rencana berbeda pada istrinya. Namun, dia menyetujui muslihat Jordan dan Pit untuk memancing Marka keluar dari persembunyiannya selama ini. Hanya saja yang memberanikan dirinya adalah melibatkan Lintani yang sangat beresiko tinggi, apalagi wanita itu tengah hamil.
“Apa Tuan masih meragukan Nona?” tanya Jordan.
“Tidak ... Aku akan menyiapkan istriku kalau ke sana. Oh ya! Siapkan juga keperluan medis dalam satu kapal untuk berjaga-jaga!” Kata Askelan membuat Jordan dan Pit senang, karena itu artinya Askelan setuju dengan rencana mereka.
Askelan masuk kembali ke vila setelah Lintani bangun, bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Gadis itu merasakan sedikit mual dan dia sudah memuntahkan isi perutnya saat membersihkan diri. Namun, saat Askelan tiba di kamarnya, dia sudah selesai mengganti pakaian.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Askelan saat melihat wajah Lintani yang pucat.
“Kenapa, apa kau muntah?”
“Ya. Tidak usah peduli padaku! Urus saja pekerjaanmu!”
“Tentu saja aku peduli, makanya aku cepat ke sini.”
“Kau bohong, ke mana kau tadi kalau memang peduli padaku?”
“Maaf, ada sesuatu yang harus ku urus soal Rasevan dan aku harus tahu secepatnya.”
“Lalu?”
“Kau harus sarapan dulu, nanti aku akan melatih mu!”
__ADS_1
“Melatih untuk apa?” Lintani heran.
“Memegang senjata!”
“Aku tidak mau, bukankah ada dirimu? Kau bilang akan melindungiku, kan?”
“Ya! Tapi, kau tetap harus bisa menggunakannya untuk berjaga-jaga kalau aku tidak ada.”
Lintani diam, dia yang sedari tadi duduk di depan meja rias, menatap Askelan dari balik kaca dengan tatapan mata tidak percaya. Seperti apa sebenarnya keadaan di sana, apa benar-benar begitu menghawatirkan hingga aku harus bisa memegang senjata? Pikirnya.
Askelan mendekat tanpa melepaskan tatapan matanya, dari balik kaca yang sama, membungkuk untuk memeluk Lintani dari belakang dan, mencium pipi sebelah kanannya.
“Kau selalu, cantik dan aku suka dengan rambut panjangmu.”
“Aku juga suka, karena itu aku enggan memotongnya!”
Tiba-tiba hati Askelan berdenyut nyeri.
“Tidak perlu, biarkan saja rambutmu seperti itu. Ayo! Kita sarapan dulu!” katanya.
Mereka berjalan ke luar kamar dengan bergandengan tangan, dan duduk di ruang makan saling berhadapan agar mereka mudah untuk saling menyuapi.
Setelah selesai makan, Askelan mengajaknya ke suatu tempat, yang cukup jauh dari pantai Loyola. Itu adalah markas pertama yang dibangun menggunakan uang hasil jerih payahnya, selama setahun penuh, setelah mendapatkan warisan dari ayahnya.
Waktu itu dia belum mempunyai banyak uang, karena harus membagi uang dari hasil sahamnya, untuk keperluan sehari-hari, sebagian ditabung sebagai modal usaha dan sisanya, digunakan untuk membuat rumah bagi teman-temannya. Itulah rumah yang ditempati Jordan saat ini. Mereka memiliki gudang senjata di sana, dan Jordan di tunjuk sebagai penanggung jawabnya.
Bersambung
❤️ Terima kasih dukungannya, jangan lupa like dan hadiahnya 🙏❤️
__ADS_1