Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 93. Sesuai Petunjuk


__ADS_3

 


 


❤️jangan lupa like, komen,  dan hadiahnya 🙏❤️


 


Sesuai Petunjuk


 


“Halo! Bibi, ada apa menghubungiku, apa istriku baik-baik saja, atau ada sesuatu yang terjadi padanya? Cepat katakan!” Suara Askelan terdengar gusar dari balik telepon.


“Ini aku ....” kata Lintani dengan nada lembut dan dia tersenyum, terasa jika Askelan mengkhawatirkannya membuat hatinya hangat.


Askelan bernapas lega, mendengar istrinya baik-baik saja dan tengah bicara walaupun melalui sambungan telepon.


“Ada apa ....?” Askelan menjawab dengan suara lembut dan terdengar tenang.


“Aku mau beli hp, merek apa yang bagus, aku belum pernah tahu barang bagus selama ini.”


“Kau tidak usah beli, biar aku saja!”


“Tidak mau, kau bilang aku harus menghabiskan uangku, kan?”


“Memang, tapi, bukankah kau mau membuat perahu? Aku membeli kapal dan uangmu yang kita bagi dua waktu itu, masih kurang .... Jadi, biar aku yang akan membelikan ponsel untukmu!”


Askelan hanya beralasan, padahal uang Lintani masih utuh dalam brankasnya. Mereka membagi dua uang itu, karena ingin membuat sebuah perahu. Padahal dia sudah memiliki armada untuk bisa pergi ke Rasevan. Tidak perlu membuat perahu,. Seperti yang ada dalam pikiran Lintani, yaitu kendaraan air yang biasa dipakai penduduk kalangan biasa , untuk menyeberang danau.


Namun, untuk soal membeli barang yang Lintani inginkan adalah hal yang berbeda. Tentunya Askelan ingin membelikan ponsel yang sudah dia modifikasi, bukan barang dari toko biasa.


Lintani tetap menolak, negosiasi yang terjadi antara dua orang itu sangat alot, hingga Askelan pada akhirnya mengizinkannya.


“Ya, sudah, beli saja. Bilang pada mereka aku yang menyuruhmu, dan minta pada mereka barang terbaru dan paling bagus kualitasnya!”


“Oke!” Akhirnya Lintani tersenyum gembira dan mengatakan pada pelayan toko, sesuai petunjuk Askelan.


Pelayan toko berbincang sebentar pada seseorang yang duduk di belakang meja, dengan cepat kedua orang itu menuju sebuah Etalase dan mengambil beberapa ponsel yang sama tapi warna berbeda.


“Ini ponsel Anda, Nona ...  sesuai petunjuk Tuan Askelan. Anda hanya perlu memilih warnanya saja, yang paling Anda suka.”

__ADS_1


Lintani memilih yang berwarna putih, kesukaannya. Setelah itu, pemilik toko mengambil beberapa barang sebagai hadiah berupa aksesoris, dan pelengkap smart phone lainnya, lalu, memasukkannya ke dalam sebuah paper bag.


“Berapa semuanya?” tanya Lintani kemudian.


Kedua orang yang melayani Lintani saling berpandangan lalu, mereka tersenyum ramah dan menjawab dengan lembut.


“Tidak perlu, Nona. Kunjungan Anda kemari sudah sangat menyenangkan bagi kami.”


Lalu, sebuah paper bag mereka serahkan dan mau tidak mau Lintani menerimanya.


Setelah selesai, rombongan kecil itu keluar dari mal menuju kendaraan mereka untuk pulang. Sepanjang perjalanan ke rumah, Lintani tidak banyak bicara, dia merenung memikirkan semua yang terjadi padanya hari ini, tentang ucapan Askelan, ucapan Haifa di toilet, dan juga ucapan pelayan toko yang tidak masuk akal.


Askelan mengatakan jika dia bukan membuat perahu tapi sebuah kapal, kapal seperti apa yang dibuat oleh orang seperti Askelan? Kamar saja penuh dengan jebakan, mobil juga mempunyai tirai pembatas, hal yang baru pertama kali Lintani lihat, apalagi benda seperti kapal?


‘Apa kendaraan itu juga punya senjata?’ pikirnya.


Lalu, ucapan Haifa yang mengatakan jika Askelan sudah mengetahui semua tentang kebohongan sedangkan Lintani sama sekali tidak pernah membicarakan tentang hal yang sebenarnya.


‘Jadi, bagaimana dia bisa tahu, atau jangan-jangan Haifa sendiri yang membocorkan rahasianya?’ Pikir Lintani lagi. ‘Ah! Seharusnya dia tidak perlu pura-pura hamil dan keguguran!’


Lintani langsung pergi ke dapur, begitu sampai di rumah, dia memasak makanan yang disukainya sejak kecil, baru kali ini dia menemukan ikan bersirip merah. Dia memisahkan daging dengan tulangnya, di bantu seorang asisten, lalu memotong dagingnya menjadi kecil-kecil dan menggorengnya. Setelah matang barulah ditaburi garam dan dicampur dengan paprika masak.


Makanan yang sederhana, tapi dia sangat menyukainya.


“Aku tidak tahu, aku tidak pernah memasak waktu kecil dulu. Seingatku, Ibuku selalu memanjakanku!”


“Anda sangat beruntung memiliki Ibu seperti itu!”


“Ya.”


Namun, dia heran, mengapa ibunya menjualnya pada keluarga Lux, dan wanita itu tidak mengatakan apa pun saat kembali ke perahu, seolah sengaja agar Lintani membencinya.


Tanpa diketahui Lintani, Viana bersikap demikian karena saat itu dia setengah mati menahan tangis. Oleh karena itu dia tidak melihat pada anaknya. Ibu Lintani hanya tidak ingin melemahkan dirinya sendiri, hingga batal melepaskannya.


Semua hidangan yang di masak bersama Mo, sudah tersaji di meja dan selama melakukannya, Lintani selalu menutup hidung. Mo berulang kali memintanya untuk istirahat di kamar, tapi dia selalu mengatakan bosan. Hal ini wajar, karena gadis itu tidak pernah duduk diam terlalu lama, dia selalu penuh dengan kesibukan sepanjang hari, kecuali sedang sakit.


Lintani duduk di sofa dekat ruang tengah menunggu Askelan untuk makan siang, karena ingin disuapi, sambil mengutak-atik ponsel baru, dan memikirkan nama yang tepat untuk pria itu di ponselnya.


Saat Askelan datang, Lintani menyambut dengan riang, dia menghampiri sambil merentangkan tangan dan, memeluknya.


“Aku tidak menyangka kau akan sesenang ini menyambutku datang!” kata Askelan seraya membalas pelukan Lintani dan mencium ubun-ubunnya.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Jordan melewati mereka untuk mengambil minuman di lemari pendingin yang, terletak tidak jauh dari keduanya. Askelan melirik pada sahabatnya itu, sambil memberi senyum, memamerkan adegan mesra yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya pada siapa pun.


“Terima kasih kau sudah datang, aku sudah lapar!” kata Lintani sambil melepaskan pelukannya dan menggamit tangan Askelan menuju meja makan.


“Jadi, kau menungguku hanya karena kau lapar, dan aku harus menyuapimu?”


“Ya! Untuk apa lagi, memangnya?”


Jordan yang belum jauh dari sana, tak pelak lagi mendengar ucapan Lintani, membuat pria itu menahan tawa, lalu, setelah berada di luar rumah, barulah dia melepaskan tawanya  dia menghubungi Pit dan menceritakan hal lucu yang dia alami barusan, sambil terus tertawa keras. Namun, tak lama setelah mengakhiri panggilannya dia mendapatkan pesan dari Askelan.


“Awas kalau kau ketahuan menertawakan aku lagi! Akan kujadikan kau papan latihan tembak!”


Membaca pesan itu, Jordan menelan ludahnya kasar terlihat dari jakunnya yang turun naik.


“Seandainya aku tidak menjadi asistennya!” gumamnya lirih sambil meneguk minumannya, yang tiba-tiba terasa hambar.


Sementara di ruang makan, Askelan sedang menyuapi Lintani, begitu juga Lintani pun menyuapi suaminya. Dua manusia yang sedang jatuh cinta itu seperti tidak sadar keberadaannya. Mereka tidak banyak bicara hanya saling pandang dan melemparkan senyum termanis.


Awal yang hubungan yang sulit berhasil mereka lalui, setelah sebelumnya, mereka tidak saling mengenal, tidak saling menyayangi bahkan membenci satu sama lain. Namun, sekarang mereka menjadi seorang yang saling mencintai. Tidak penting siapa yang memulai untuk mencintai lebih dulu, karena yang terpenting adalah saat ini mereka memiliki rasa yang sama.


Ternyata begitu tipisnya perbedaan dan jarak antara benci dan cinta antara marah dan maaf. Perasaan manusia tidak bisa ditebak, bagaikan angin yang tidak tahu ke mana arahnya akan bertiup.


Askelan yang semula tidak menyadari perasaannya sendiri, hanya tersedot oleh sesuatu yang membawanya untuk terus menjatuhkan hatinya pada Lintani, gadis yang sebenarnya menyerahkan diri secara utuh. Tanpa disadari sebenarnya mereka sudah bersatu sejak awal mereka bertemu.


“Kau mau melihat perahumu?” tanya Askelan setelah mereka selesai makan dan perut sudah kenyang.


“Apa sudah selesai?” tanya Lintani sambil mengusap bibirnya dengan tisu.


Askelan menarik tangannya hingga  berdiri dan membawanya dalam pangkuannya.


“Belum, mungkin sebulan lagi!”


“Kenapa lama sekali?”


“Ada syaratnya kalau kau ingin cepat selesai.”


“Apa?”


“Cium aku!”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2