Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 127. Dia Pria Kidal


__ADS_3

Dia Pria Kidal


Lintani berhenti dan menoleh sambil mengangguk cepat, lupa sudah kemarahan dan rasa kesal, karena nama anaknya pada Aklekan. Pria itu pun tersenyum, karena merasa keberuntungan berpihak padanya.


“Itu dia orangnya!” Kata Askelan sambil menunjuk rombongan kecil itu dengan dagunya, “Kalau kau mau menemuinya, Ayo! Aku akan menemanimu!”


Lintani menurut, saat Askelan menuntunnya mendekati rombongan yang kini berbelok menuju ruang rawat inap VVIP tak jauh dari sana.


Lintani melihat orang di kursi roda itu sekilas, mereka hanya berpapasan sebentar karena berada pada koridor yang berbeda. Namun, tiba-tiba jantungnya berdetak sedikit lebih kuat. Wajah orang itu sangat mirip dengan kakeknya! Seperti ada perasaan aneh yang menyita perhatian dan keinginan besar untuk menemuinya.


Askelan berbincang sebentar dengan pengawal yang berjaga di kamar Aston. Setelah diperbolehkan untuk bertemu, dengan berbagai alasan. Akhirnya, sepasang suami istri itu masuk secara perlahan.


Lintani melihat seorang pria tua yang terbaring di atas brankar dengan mata tertutup. Wajah itu benar-benar seperti sang kakek. Dia mendekat, duduk di kursi yang ada di sebalah tempat tidur lalu, mengusap punggung tangannya yang keriput.


Pria tua itu merasakan sentuhan yang berbeda, dia tidak pernah disentuh seperti ini sejak sekian lamanya, atau sejak istri dan anak perempuannya tiada. Sementara, Yasmin—Cucunya, tidak pernah bersikap lembut, bahkan selalu melihat dengan tatapan jijik padanya. Oleh karena itu tangan lemah Aston merespon dengan gerakan perlahan.


“Linie ... kau kah itu?” katanya lirih, sambil membuka mata secara perlahan.


“Bukan, aku bukan Linie, aku Lintani!”


Lintani berkata sambil menitikkan air mata, karena perasaannya terharu atau apa. Jika benar apa yang diceritakan Pinot padanya, berarti pria yang kini terbaring lemah itu adalah saudara kakeknya. Ya, dia kakak dari Syahrain Shaw. Sang kakek yang mengasingkan diri, oleh karena itu tidak lagi menggunakan nama belakang keluarga Shaw di Rasevan.


Keadaan Aston memprihatinkan, tubuhnya kurus, baik rambut dan janggutnya semua memutih. Wajahnya pucat dan matanya sayu tak bercahaya. Kulit keriputnya yang putih, mengadakan usia dan penyakitnya.


Kini mereka saling menatap dengan sendu, perasaan sedih tiba-tiba menyelimuti ruangan itu. Aston mengusap punggung tangan Lintani yang memegang tangannya, hingga tangan mereka kini saling menumpuk.


Sementara itu Askelan diam di samping Lintani, menyaksikan pertemuan mengharukan antara dua orang yang memiliki ikatan persaudaraan itu dengan perasaan tidak menentu.


“Lintani ... apa kita pernah kenal sebelumnya?”


“Tidak! Maaf saya mengganggu Anda!”


“Tidak apa-apa, jarang sekali orang yang mau menengokku.”


“Wajah Anda mirip Kakekku!” kata Lintani sambil mengusap setitik air mata yang memenuhi pelupuk matanya.


“Oh, ya? Siapa nama Kakekmu? Apa aku mengenalnya?”

__ADS_1


“Mungkin saja .... Namanya Syahrain!” Lintani berkata masih dengan air mata yang mengalir, “Tapi, Kakekku sudah tiada!”


Mendengar nama itu di sebut, Aston seketika mengangkat kepala ingin melihat Lintani lebih jelas, lalu, memanggil anak buahnya yang berjaga di luar pintu. Seseorang masuk dengan cepat, dia seperti mengerti dengan keinginan pria tua itu dan langsung membantu menegakkan punggungnya.


“Lintani?” tanya Aston, dia kini sudah duduk sambil bersandar pada tempat tidur yang sudah diatur sedemikian rupa.


“Ya, itu namaku, Kakek juga yang memberikan nama itu padaku, Lintani Syahrain!” kata gadis itu sambil tersenyum, “Anda tahu, wajah kalian sangat mirip. Apa Anda pernah mengenalnya?” Lintani mencoba mencari sebuah kebenaran.


“Di mana kalian tinggal selama ini? Apa dia memberimu sebuah ciri khusus?”


“Ciri seperti apa yang Anda maksud, kami hanya tinggal di pulau kecil di tengah Danau Rasevan! Kau harus melihatnya, tempat kami tinggal sangat indah!”


Aston tersenyum dan berkata, “Jadi, seperti itu rupanya, dia tinggal di daerah yang indah, lalu menikahi wanitanya dan melahirkan seorang anak dan cucu yang cantik! Seperti apa Syahrain itu dan istrinya, katakan padaku!”


“Aku tidak pernah bertemu dengan Nenek, kata Ibuku dia meninggalkan kami saat usiaku baru satu bulan ... Kakek orang yang baik dan luar biasa, dia memilik lesung pipi di sebelah kiri dan gigi yang gingsul di sebelah kana, dan dia orang yang kidal! Tapi, dia senang sekali menggendongku, lalu, bercerita tentang gunung emas, dia bilang akulah ratunya. Dia juga mengajariku bagaimana menyuling tanah!” kata Lintani sambil tertawa.


“Jadi, apa Anda pernah mengenal orang seperti itu?” tanya Lintani lagi.


Aston tidak menjawab, tapi mengusap kepala Lintani lembut, dia pun menitikkan air mata. Semua ciri tubuh sudah disebutkan Lintani dengan benar. Pria yang di ceritakan Lintani adalah adiknya sendiri, Syahrain Shaw.


“Kau beruntung memiliki Kakek seperti dirinya!” katanya.


“Ya! Sayangnya ... aku tidak bisa melihatnya sejak umurku sembilan tahun, takdir memisahkan kami ... bolehkah aku memelukmu?” tanya Lintani memohon.


Aston sekali lagi tidak menjawab, dia termangu mendengar kabar duka dari wanita yang baru saja dikenalnya. Selama ini tidak ada yang tahu keberadaan adiknya itu.


Setelah itu dia merentangkan tangan lemahnya yang gemetar dan Lintani menyambutnya dengan hangat.


Sejenak kemudian, Aston melepaskan pelukannya, lalu melihat Lintani lebih dekat dan menelisik ke seluruh tubuhnya. Dia tidak melihat Lintani memakai sebuah ciri khas yang diinginkannya.


“Apa kau sedang hamil?” Aston bertanya sambil menatap Lintani dan Askelan secara bergantian.


“Ya, aku hamil bayi laki-laki dan sekarang usianya sudah lima bulan!”


Aston mengangguk.


“Apa dia suamimu? Dia Tuan Askelan dari keluarga Harrad, apa aku benar?” tanya Aston lagi.

__ADS_1


“Ya! Anda benar Tuan Shaw. Senang bertemu denganmu hari ini, bagaimana kabarmu?” tanya Askelan yang sejak tadi hanya diam, sambil mengulurkan tangannya dan mereka saling berjabat erat.


“Aku tidak pernah lebih baik dari hari ini, aku senang ada orang yang mau datang menengokku, kuharap kalian bisa tinggal lebih lama di sini!”


“Oh! Aku pikir kami akan mengganggu istirahatmu, Tuan Shaw! Istriku ini sangat cerewet, aku khawatir dia akan membuatmu tidak bisa tidur!” kata Askelan berbasa-basi dengan menggunakan Lintani sebagai alasannya, padahal dia ingin segera pergi.


Kini percakapan hanya terjadi antara dua orang, sedangkan Aston hanya melihatnya dengan raut wajah datar. Dia tidak tahu bagaimana Lintani dan Askelan bisa bertemu, tapi, dari bahasa tubuh sepasang suami istri itu, dia bisa melihat betapa mereka sebenarnya saling mencintai.


“Apa kau bilang? Aku cerewet? Bukannya kau yang lebih cerewet dariku?” Lintani menyahut sambil berdiri.


“Aku cerewet karena demi kebaikanmu!” Askelan berkata sambil memegang dagu Lintani agar menghadap ke wajahnya dan mencium bibirnya sekilas, tidak peduli orang yang ada di dekatnya sedang mengamati interaksi mereka berdua.


“Aku pikir itu hanya alasan saja!” Kata Lintani sambil menepis tangan Askelan dari dagunya.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan mengganti istilah kecerewetanmu, dengan istri yang banyak maunya dan banyak bicara!”


“Kau yang banyak maunya bukan Aku!”


“Kau! Lalu apa istilahnya untuk keinginanmu yang kemarin-kemarin itu?”


“Aku tidak pernah memaksamu untuk menuruti keinginanku, kan?”


“Aku menuruti itu karena aku mencintaimu apa itu salah?”


“Ya, sudah! Kalau memang itu alasannya ... kenapa kau mengungkit-ungkitnya, seharusnya tidak perlu bilang aku cerewet! Kau lebih cerewet dariku,” kata Lintani sambil duduk kembali.


Aston tersenyum lebar, itu senyuman yang belum pernah terlihat sejak dia sakit, karena usia.


“Kakek, maafkan aku! Silakan beristirahat ... maafkan suamiku, dia cerewet sekali ... Maaf!” Lintani seakan kehilangan kecanggungan, dan seolah Aston adalah kakeknya sendiri. Dia berdiri untuk berpamitan, sambil meraih tangan Askelan yang cemberut.


Namun, dilain sisi, Aston merasa terhibur dengan perdebatan lucu pasangan itu.


“Datanglah ke rumahku lusa, aku akan pulang untuk mengundang kalian makan siang bersama keluargaku!”


Bersambung


❤️Dukungan kalian adalah penyemangatku!❤️

__ADS_1


__ADS_2