
Sebuah Hadiah
Beberapa hari berjalan Lintani hanya bisa melihat Elliyat dari luar pada jendela kaca. Dia hanya di beri kesempatan melihat selama beberapa menit saja, karena tidak boleh terlalu lama berada dalam ruangan steril itu. Apalagi dia harus bergantian dengan Askelan dan keluarga Harrad lainnya. Terkadang satu dari kerabat dan kolega masih saja ada yang datang. Mereka memperlihatkan kepedulian saat wanita itu sudah sekarat.
Askelan melakukan segala aktivitas seperti tak bernyawa, walaupun, dia mempunyai kesempatan melihat ibunya lebih lama, tetap saja tidak boleh lebih dari satu jam saja. Semua orang tidak boleh terlalu lama berada di kamar ICU itu selama jam besuk berlangsung.
Sering sekali Lintani melihat pria itu duduk di samping ibunya, bahkan terkadang sampai tertidur dalam ruangan itu sendiri. Dia selalu memegangi tangan Elliyat dan menempelkannya di pipi.
Lintani tahu bagaimana rasanya kehilangan hingga dia bisa memahami perasaan Askelan. Wajar saja jika akhir-akhir ini pria itu sering meninggalkan pekerjaannya dan hanya fokus menemani Elliyat, yang tidak bergerak sama sekali, tapi, putra satu-satunya itu ingin menghabiskan waktu bersamanya tanpa penyesalan.
Lintani melihat Askelan dari luar jendela kaca sambil mengingat masa lalunya. Saat dia digendong oleh ibunya dengan terburu-buru tanpa sepatah kata pun.
Saat dia bertanya, “Kita akan ke mana Mami?” wanita itu tidak pernah menjawab bahkan sampai dia pergi.
Ibunya hanya menciumnya berulang kali dan menangis. Anak kecil itu tidak pernah tahu apa yang menyebabkan wanita itu menangis.
Dia dibawa menaiki perahu mesin hingga tiba di seberang pulau, di sana ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan ibunya saat itu, karena tengah mengejar kupu-kupu. Tiba-tiba seorang wanita memanggil namanya dengan lembut, dia menghampiri wanita itu, tapi, di saat yang sama, ibunya pergi meninggalkannya, setelah memberikan tas besar berisi pakaian dan juga mainannya.
Dia melihat perahu itu menjauh meninggalkan dirinya yang menangis, dan sekeras apa pun dia memanggil, percuma saja, karena ibunya tidak pernah kembali sampai sekarang.
Saat dia dibawa naik mobil oleh keluarga Lux, dia melihat dan mendengar sebuah ledakan besar di tengah pulau, itu tempat seluruh keluarganya berkumpul.
Di dalam mobil itu dia melihat anak perempuan kecil yang ingusan tapi, berwajah cantik, dia berambut ikal dan berkulit putih, anak itu adalah Haifa. Itu adalah pertemuan pertama mereka.
Pada akhirnya dia hanya bisa menangis, betapa mengerikannya melihat asap hitam tebal yang, membumbung tinggi ke angkasa. Sejak saat itu, dia tidak pernah tahu bagaimana kabar dari seluruh anggota keluarganya.
__ADS_1
Lalu, tinggal satu rumah bersama Luxor dan Rauja. Mereka selalu mengatakan kalau ibunya pergi, setelah menjualnya.
“Kau itu anak yang dijual Ibumu!” Selalu itu yang dikatakan oleh Rauja, Luxor dan Haifa.
“Kau harus bersyukur kami mau membeli dirimu dengan harga mahal, dari pada kau jadi seorang gelandangan!” Itu kata mereka setiap kali memberi Lintani makanan.
Lintani masih disebut dengan namanya, di rumah itu, tapi, dia tidak lagi mendengar nama ayah dan ibunya di sebutkan oleh mereka. Dia masih kecil, tidak berani bicara banyak pada Rauja dan Lux yang kemudian memperkenalkan diri sebagai orang tua angkatnya, hanya itu yang ada dalam ingatannya.
Setelah hari itu, tidak ada kebahagiaan yang menghampiri dirinya bahkan sampai hari ini, saat dia hanya bisa melihat Elliyat dan Askelan berdua di dalam ruangan itu tanpa dirinya.
“Pulanglah, tidak ada yang bisa kulakukan di sini.” Selalu seperti itu yang dikatakan Askelan jika melihat dirinya berada di dalam bersama Elliyat.
“Tapi, aku masih ingin di sini!”
Mau tidak mau, Lintani menurutinya.
Askelan pun menempati tempat duduk Lintani di sisi bangsal, setelah gadis itu pergi. Walaupun, apa yang dikatakan pria itu benar bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan untuk ibunya, tapi, dia juga ingin menghabiskan waktu bersama tanpa penyesalan.
Lintani pun pergi ke toko dengan pengawalan seperti biasanya, sebenarnya dia sedikit heran, mengapa Askelan masih melakukan hal itu padanya, tapi, dia tidak bisa bertanya.
Bukankah sebentar lagi perjanjian mereka berakhir, bukankah dia juga sudah tidak ada gunanya berada di sisi Elliyat, wanita itu sudah tidak bisa lagi diajaknya bicara. Jadi, untuk apa? Oleh karena itu dia sadar bila Askelan mengusirnya.
Lintani bekerja seperti biasanya dan sepulang dari toko hari ini, dia mencari hadiah untuk Elliyat, ke pasar tradisional. Dia akan membeli sebuah guci kecil wadah koin yang bisa di tutup rapat. Benda itu terbuat dari tanah liat dan di lukis dengan gambar yang bagus. Dia pernah melihatnya dari seorang penjaja kerajinan tangan.
Kalau uangnya cukup, dia ingin memberi baju tidur juga untuk Elliyat dengan bermotif kelinci kesukaannya, yang bisa digunakan untuk tidur nanti. Namun, setelah berpikir kembali, tidak ada gunanya membeli baju itu, hingga dia akan membeli sesuatu untuk Askelan saja.
__ADS_1
Pria itu memang sudah memiliki segalanya, dan tidak ada lagi yang dia butuhkan, karena mobil saja dia ganti setiap hari. Namun, hadiah yang akan dia berikan merupakan ucapan terima kasih karena sudah meminjamkan uang 50 ribu dolar, sudah melindunginya dari tembakan penjahat dan dia sudah menolong saat Lintani kedinginan di kamar.
“Apa yang bisa aku berikan untuk pria seperti dia?” batin Lintani sambil berdiri di depan sebuah etalase toko, di pasar tradisional yang menjual aksesoris pria. Saat itu, dia sudah memegang sebuah guci kecil yang cantik, untuk dihadiahkan pada Elliyat.
“Apa kau ingin memberi hadiah untuk pacarmu?” tanya pemilik toko dan Lintani tersenyum malu-malu, dia berharap jika orang itu akan membantu dirinya memilih sesuatu yang bagus.
Sementara uang di sakunya mungkin cukup untuk memberi beberapa hadiah dengan harga di bawah 500 dolar saja. Dia mengumpulkan uang itu selama bekerja di toko Shane. Uang gajinya kadang sedikit, kadang banyak hingga dia berhasil mengumpulkan uang sebanyak 1500 dolar. Itu uang yang sangat banyak baginya.
Guci kecil dia beli dengan harga 90 dolar dan harga-harga yang ada di toko aksesoris itu masih terjangkau. Kalau pun dia membeli hadiah dengan harga 300 dolar, dia masih memiliki sisa uang untuk perjalanan pulang ke Rasevan. Dia ingin meninggalkan kota Hill dan kembali ke sana menggunakan bis.
Itu satu -satunya cara agar bisa sampai ke tujuan dengan keterbatasan uangnya. Dia tidak akan mengambil uang kompensasi dari Askelan karena dia menikahnya dengan tulus, apalagi dia sudah berjanji saat di penjara.
“Kau bisa memberinya ini untuk dia, kalau dia seorang petualang,” kata pelayan toko menyodorkan sebuah ikat pinggang dengan gambar kuda di pangkalnya.
“Aku rasa cocok, kalau dia orang yang romantis, kau bisa memberinya dasi,” kata pelayan itu lagi.
“Atau cerutu ini kalau dia suka merokok!” kata pria itu, sambil memberinya sebuah filter dengan harga 200 dolar. Lintani pikir itu berlebihan tapi, dia juga tidak pernah melihat Askelan merokok.
Hadiah lainnya yang ditawarkan pemilik toko semakin mahal, seperti sepatu dan kemeja. Lintani Sebenarnya melirik kemeja warna biru tua, yang dia pikir akan sangat menarik jika Askelan memakainya tanpa jas. Tapi harganya tidak akan cukup dengan uang yang dimilikinya. Akhirnya, dia memilih ikat pinggang dengan harga 300 dolar. Itu barang yang cukup mahal baginya.
Lintani membungkus hadiah itu dengan rapi menggunakan kertas jagung polos, lalu, menyimpan dalam tas dan akan dia berikan di saat yang tepat.
Setelah itu, dia kembali ke rumah sakit, dengan perasaan puas dan penuh harapan bisa memberikan hadiah untuk Elliyat. Namun, yang kemudian dia dengar saat masuk ke rumah sakit adalah, berita tentang kematiannya.
Bersambung
__ADS_1